
“Bapak ngapain sih ? Saya berasa jadi kayak emaknya koala,” omel Gaby dengan wajah ditekuk.
Sudah 3 hari ini Gaby kembali ke rumah Mama meski belum memindahkan semua barang miliknya. Selama 3 hari itu pula, Jonathan tidak pernah membiarkan Gaby jauh-jauh darinya saat pria itu sedang ada di rumah.
Di hari Sabtu ini, usai olahraga pagi mengelilingi komplek, Jonathan mengikuti kemana pun Gaby melangkah dan duduk manis di meja makan saat gadis itu sibuk merapikan bekas sarapan.
“Aku hanya ingin memastikan kamu tidak menghilang lagi begitu aku mengedipkan mata.”
“Lebay banget, sih !” gerutu Gaby. “Kalau begini caranya saya beneran balik ke apartemen lagi. Bapak ngeselin, nyebelin dan bikin saya berasa kayak tahanan rumah.”
“Kamu memang sudah mencuri sebagian hatiku, Bi. Jadi supaya hatiku aman, aku harus memastikan kamu ada di dekatku,” sahut Jonathan sambil senyum-senyum.
Gaby menutar bola matanya karena kesal, ia mencebik saat bertatapan dengan Jonathan yang mengedipkan sebelah matanya.
“Jangan over gitu, Pak, bikin perut saya mendadak mules dan pingin muntah.”
“Belum aku apa-apain kamu udah kayak orang hamil. Gimana kalau aku buat hamil beneran aja ?”
Gaby melotot dan mengepalkan satu tangannya di udara ke arah Jonathan. Dia menggerutu sambil menjauhi dapur tapi dengan sigap Jonathan mendahuluinya berdiri di depan pintu kamar Mama untuk mencegah gadis itu masuk.
“Pindah kamarnya dong, Bi. Kamu nggak kasihan sama suami yang kesepian tiap malam ? Kamu nggak takut suamimu ini mencari kehangatan di luar ?”
Gaby langsung melotot dan bertolak pinggang.
“Bapak tinggal lanjutin surat cerai yang sudah saya tandatangani, setelah itu Bapak bebas mau cari kehangatan model apapun di luar, mau CLBK lagi juga boleh.”
Mateng deh, kayaknya gue salah nyusun kalimat, batin Jonathan.
“Kok aku mencium bau-bau cemburu gitu ? Kamu udah cinta juga sama aku kan, Bi ? Tinggal bilang love you too kok susah banget sih, Bi ?” Jonathan tersenyum sambil menaikturunkan alisnya.
Gaby memutar bola matanya, ia membalikan badan namun Jonathan kembali sigap menariknya hingga Gaby jatuh ke dalam pelukannya.
“Aku senang melihat wajah kamu yang cemberut gitu, Bi soalnya kelihatan banget kalau lagi cemburu. Kata orang cemburu itu tandanya cinta.”
“Bapak dengerin aja kata orang, yang penting bukan kata saya !” Gaby berusaha melepaskan pelukan Jonathan namun pria itu malah semakin erat memeluknya dan sengaja menempelkan bibirnya pada Gaby yang sulit menghindar.
“I love you, Gabriela,” bisik Jonathan usai mencium bibir Gaby, membuat wajah gadis itu langsung merona.
“Kalau mau ciuman pergi ke kamar sana nanti kebiasaan. Kamu tuh suka banget nyosor di tempat umum, Nathan,” tegur Mama dari belakang Gaby.
“Maunya sih gitu, Ma. Tapi Gaby malu-malu, katanya takut kedengeran sama Mama,” sahut Jonathan sambil cekikikan.
__ADS_1
“Ya udah Mama tinggal dulu ke rumah Bu Ramli biar Gaby tenang, tapi Ingat jangan sampai kedengeran tetangga sebelah.”
“Gaby ikut, Ma,” ujar Gaby sambil berusaha menjauhkan Jonathan yang memeluknya.
“Nggak usah, Mama bakalan lama, lebih baik kamu kelonin suami kamu yang udah mulai butek gara-gara nggak dipoles,” ledek Mama sambil tertawa.
Mata Gaby langsung membola. Ucapan Jonathan bukan omong kosong, Mama sangat mendukung keinginan anaknya bahkan kemarin Mama sempat menyinggung soal cucu.
“Mama pergi dulu.”
Gaby sudah mau membuka mulut untuk membujuk Mama tapi lagi-lagi bibir Jonathan langsung membungkamnya.
“Jangan ngambek terus, nanti kita ada undangan makan malam sama Mama. Kamu mau aku anterin ke salon nggak ?”
Gaby menghela nafas, kesal tapi merasa sia-sia terus memberontak hingga akhirnya ia hanya pasrah dipeluk Jonathan.
“Dalam rangka apa ? Ulangtahun atau kawinan ?”
“Bukan dua-duanya tapi lebih kayak reuni. Aku udah siapin baju couple.”
“Nggak usah ke salon segala.”
Gaby kembali melotot dan melayangkan tinju di bahu Jonathan.
“Bapak nggak usah macam-macam, keputusan saya masih belum berubah, saya mau pisah !”
Jonathan menghela nafas dan melepaskan pelukannya lalu berdiri berjarak dengan Gaby. Wajahnya terlihat sendu meski ia masih tersenyum tipis.
“Perasaanku juga nggak akan berubah, aku cinta sama kamu Gabriela.”
Gaby bergeming saat Jonathan melewatinya dan langsung naik ke lantai dua. Gaby mengutuki dirinya dalam hati, kenapa mendadak merasa bersalah melihat Jonathan sedih begitu.
***
“Kenapa Bapak pilih restoran ini, sih ? Dari ratusan rumah makan yang ada di Jakarta, kenapa harus yang ini ?” protes Gaby saat mobil Jonathan sudah parkir di depan restoran.
“Bukan aku yang pilih, Bi. Tanya tuh sama Mama kalau kamu nggak percaya,” sahut Jonathan dengan wajah serius. Ia langsung membuka pintu dan turun dari mobil.
Gaby menghela nafas menatap ke arah bangunan yang sebetulnya enggan didatanginya lagi. Kenangan tentang Jonathan dan Maya di ruang VIP masih menyisakan rasa tidak nyaman.
“Kamu kenapa, Gab ?” sentuhan Mama Hani yang menatapnya sambil mengerutkan dahi membuat Gaby tersenyum canggung.
__ADS_1
“Tempatnya jadul, ya ? Mungkin sudah 40 tahun bangunan ini berdiri dan jadi tempat makan favorit opa dan mami kamu.”
“Maksud Mama ?” Gaby menautkan alisnya dan terpaksa melangkah saat Mama Hani menggandeng lengannya. Jonathan sendiri hanya mengikuti dari belakang.
“Opa dan oma kamu sering mengajak kami kemari, banyak perisitiwa penting diabadikan di tempat ini termasuk perpisahan Anna dengan Harry lalu pertemuan Anna dan Hendri.”
Gaby melirik sekilas ke samping, tapi sosok Jonathan tidak tertangkap matanya.
Di tempat ini Gaby merasakan sakit hati dengan sandiwaranya, Ma. Tapi saat kejadian, rasanya tidak seperti sandiwara tapi kenyataan, batin Gaby.
Tubuh Gaby tegang dan langkahnya membeku membuat Mama Hani menatap gadis itu dengan dahi berkerut.
Mereka berdiri di depan ruangan yang sama, tempat yang dipakai oleh Jonathan dan Maya.
“Maaf,” bisik Jonathan yang sudah berdiri di samping Gaby, jemarinya langsung menggenggam gadis itu.
Gaby menoleh dan melihat Jonathan sedang tersenyum dan menganggukan kepala, gadis itu membiarkan tangan Jonathan menggandengnya.
”Kamu kenapa, Gab ?” tanya Mama Hani kembali.
“Gaby pernah melihat aku makan malam berdua dengan Maya di ruangan ini, Ma. Bagian dari sandiwara,” sahut Jonathan.
Mama Hani langsung melotot dan menggerutu kesal pada putranya yang hanya bisa mengusap tengkuknya.
“Jangan khawatir, kalau Nathan macam-macam lagi, Mama pecat jadi anak Mama.”
Gaby tersenyum tipis saat Mama Hani mengusap-usap punggungnya. Jonathan pun membuka pintu membuat orang-orang yang ada di dalam menoleh.
Gaby menghela nafas saat melihat Om Harry ada di situ bersama istri dan ketiga anaknya.
“Apa kabar Hani ?” sapa Om Harry yang beranjak dari kursi dan menghampiri tamunya.
Wajahnya tampak terperangah saat menatap Gaby yang berdiri tepat di belakang Mama Hani.
“Anna,” desis Om Harry dengan tatapan yang sulit diartikan.
Gaby terlihat canggung saat Om Harry bergeming sambil menatapnya begitu dalam dan pancaran matanya menyiratkan kerinduan yang begitu dalam.
“Saya Gaby, Om, bukan mami Anna.”
Om Harry hanya tersenyum tipis dan tetap fokus menatap Gaby masih dengan pandangan yang sama membuat Gaby jadi canggung. Jonathan yang paham akan rasa tidak nyaman istrinya hanya bisa mengeratkan genggamannya.
__ADS_1