
“Ada masalah apalagi ?” tanya Leo saat menemui Martin yang mengunjunginya di lapas.
Tanpa menjawab, Martin menyodorkan satu amplop dengan logo lembaga medis. Leo tersenyum tipis saat membacanya.
“Akhirnya kalian mencari tahu dengan cara seperti ini,” ujarnya sambil menarik satu sudut bibirnya.
“Jangan bilang elo udah tahu !” mata Martin membola, ia sampai mencondongkan tubuhnya ke arah Leo.
“Jauh sebelum pernikahan gue dan Maya disahkan.”
“Kenapa nggak bilang ?”
“Kenapa ? Kalian menyesal kalau akhirnya suami Maya adalah seorang terpidana karena hanya akan membuat malu nama besar Tuan Harry Pramudya ?”
“Bukan begitu, justru sebaliknya. Terutama gue dan daddy merasa nggak enak karena elo harus menanggung perbuatan Maya. Daddy tidak keberatan kalau elo mau bercerai dan daddy akan mengusahakan supaya elo bebas dari kasus ini dan elo bebas menentukan mau kemana setelah semuanya beres.”
Leo menatap Martin dengan wajah kecewa dan tertawa getir.
“Ternyata di mata kalian terutama elo, gue hanya sebatas teman yang layak ditempatkan sebagai orang kepercayaan di perusahaan. Gue hanya salah satu karyawan yang biasa menyelesaikan masalah-masalah berat demi nama baik perusahaan terutama keluarga kalian.”
“Bukan begitu maksud omongan gue Leo.”
“Kalau memang perceraian adalah yang terbaik untuk Maya dan kalian, silakan saja minta para pengacara memprosesnya, gue tinggal tandatangan.” Leo beranjak bangun dan belum sempat melangkah, tangan Martin langsung menahannya.
“Keluarga kami terutama gue minta maaf karena selama ini sudah membebani elo dengan banyak persoalan terutama masalah Maya. Gue nggak lupa kalau elo sudah lama menyukai dia tapi Josh pernah bilang ke gue kalau elo merasa nggak pantas buat Maya.”
“Karena begitulah faktanya,” sinis Leo.
“Tolong duduk dulu.” Leo menarik nafas dan menatap Martin yang memohon sebelum akhirnya ia duduk kembali.
“Bukan karena status ekonomi gue nggak mau membuka jalan buat elo mendekati Maya tapi karena gue tahu bagaimana sepak terjang adik gue itu sejak SMA. Elo orang yang sangat baik dan lurus, itu sebabnya gue nggak mau elo terjebak dengan perempuan seperti Maya karena elo layak mendapatkan perempuan yang lebih baik. Maya juga tahu kalau elo mencintainya dan yang buat gue kesal adalah sikapnya yang sering memanfaatkan perasaan elo untuk membereskan semua masalah yang dia buat.”
“Gue nggak pernah merasa keberatan.”
“Gue dan daddy akan sangat bahagia kalau elo yakin untuk mendampingi Maya selamanya.”
“Kalau memang gue nggak yakin, ngapain juga gue nikahin Maya meskipun udah tahu kalau janin itu bukanlah bibit gue. Masalahnya apa kalian yakin kalau gue bisa mencintai Maya setulus hati ?”
“Maaf soal kenyataan kalau anak Maya bukanlah anak kandung elo, Leo dan masalah ini baru kita bertiga yang tahu. Gue dan daddy akan sangat bahagia kalau elo memutuskan tetap menjadi suami Maya karena memang hanya elo yang mengerti dan bisa merubah hidup Maya. Terima kasih Leo, terima kasih.”
“Apa kondisi Maya masih belum membaik ?” Martin menggeleng.
“Dia pasti merasa bersalah banget sama elo.”
“Bisakah gue diberi kesempatan untuk menemui Maya ?”
__ADS_1
“Gue akan minta tim hukum untuk mengatur jadwal secepatnya.”
“Thanks.”
Leo kembali beranjak bangun, hendak kembali ke ruang tahanan.
“Leo !”
Martin mendekatinya dan langsung memeluk sahabat sekaligus adik iparnya itu.
“Terima kasih karena sudah menjadi sahabat terbaik dan mencintai adik gue yang nggak layak buat elo.”
Leo tersenyum tipis dan tangannya pun balas memeluk Martin sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
*****
Sidang lanjutan kasus pembakaran satu bangunan gudang dengan Leo dan 2 orang sebagai pelakunya kembali digelar.
Sayangnya hanya Om Sofian yang hadir hari ini. Gaby menolak hadir, Kendra masih tugas ke Batam dan Jonathan tidak bisa meninggalkan tugas mengajar.
Sedikit mengejutkan karena kasus di perkebunan yang sempat diangkat dalam beberapa sidang sebelumnya seolah menghilang. Informasi yang didapat dari kuasa hukum Yuanyang, Gaby sendiri yang meminta kasus itu dicabut dari berkas perkara.
“Gabriela !”
“Tumben Om ada di sini ? Jangan bilang lagi melarikan diri lagi.”
Om Harry tertawa saat Gaby sudah berada di hadapannya.
“Apa kabarnya ? Baru pulang kuliah atau dari kantor ?”
“Dua-duanya, Om. Om sendiri sepertinya bukan dari kantor ?”
Mata Gaby memicing, menelisik penampilan Om Harry yang terlihat sedikit santai dengan celana bahan dan kaos berkerah.
“Mau ajak kamu makan malam, bisa ?”
Gaby melirik jam tangannya, hampir jam setengah tujuh. Kepalanya langsung mengangguk. Om Harry langsung memberi isyarat supaya Gaby mengikutinya ke parkiran mobil.
“Mau makan kemana Om ?”
“Mau Gaby yang pilih atau Om yang pilih ?”
“Saya ikut pilihan Om aja.”
Perlahan mobil Om Harry meninggalkan apartemen dan masuk jalan tol menuju restoran khas Sunda bernuansa telaga buatan. Tidak ada topik berat yang dibahas selama perjalanan, hanya seputar berita-berita yang sedang trend saat ini.
__ADS_1
“Om mau membahas soal Leo atau Maya ?” tanya Gaby saat keduanya sudah duduk di salah satu pondokan.
“Kamu itu sekarang lebih to the point, nggak pakai basa basi dulu,” sahut Om Harry sambil tertawa.
“Waktu semakin berharga Om. Tidak mudah membagi waktu kuliah dan bekerja dengan posisi yang sekarang. Tapi itulah hidup manusia, semakin dewasa, waktu untuk diri sendiri semakin sedikit.”
“Kamu benar-benar tumbuh dengan baik,” ujar Om Harry sambil mengusap kepala Gaby. “Anna pasti bangga dengan putri kesayangannya.”
“Jadi ?” Gaby mengangkat kedua alisnya.
“Terima kasih karena kamu sudah meringankan tuntutan untuk Leo dan mencabut masalah di perkebunan.”
“Mungkin saatnya hidup dimulai dengan berdamai dengan diri sendiri Om.”
“Apa itu berarti kamu akan kembali dengan Jonathan ?”
“Kenapa jadi membahas dia, Om ?”
“Kekecewaan terbesar dalam hidupmu bukanlah masalah papi atau ibu dan saudara tirimu tapi kemungkinan Jonathan masih mencintai Maya hingga dia membiarkan putri Om itu menciumnya.”
Gaby hanya diam dan meneguk es teh yang ada di depannya.
“Maya sudah mendapat karmanya karena masih berani mengganggu suami orang dengan kenyataan kalau anak yang dilahirkannya bukanlah anak Leo.”
“Maksud Om ada pria lain lagi yang pernah berhubungan dengan Maya setelah Leo ?” Om Harry mengangguk
“Entah kamu mau percaya atau tidak kalau Om bersyukur karena pria sebaik Jonathan mendapatkan istri sebaik kamu. Om tidak mengingkari kalau Maya bukanlah perempuan baik-baik dan hanya Jonathan yang mampu bertahan menjadi kekasihnya selama 2 tahun. Semula Om berpikir Jonathan akan menjadi lelaki terakhir dalam hidup Maya tapi ternyata pemikiran itu salah besar. Maya marah karena kamu sudah membuat Jonathan menyerah padanya dan sangat mencintaimu lebih dari cinta Jonathan pada Maya.”
Gaby hanya tersenyum getir dan melihat ke handphonenya. Sudah 2 hari ini ia membuka blokiran nomor Jonathan, tapi pria itu tidak pernah mengirimkan pesan apapun padanya.
“Om tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu. Malam ini Om hanya ingin berterima kasih atas kebaikan hatimu meskipun istri dan putri Om sudah menyakitimu berkali-kali. Semoga hal baik akan datang juga dalam hidupmu.”
“Bagaimana keadaan Maya sendiri Om ?”
“Dia masih harus didampingi psikiater dan sudah 2 hari ini perlu dirawat di rumah sakit.”
Gaby terdiam dan menikmati makanan yang mulai disajikan para pelayan. Melihat perubahan raut wajah Gaby, Om Harry tersenyum tipis.
Hingga usai makan, Om Harry lebih banyak bercerita tentang masa indahnya bersama mami Anna dan sesekali menceritakan kesedihannya tentang kondisi Maya yang menurut Om Harry sedang menuai hasil perbuatannya.
“Jangan dustai perasaanmu sendiri, Gabriela, ikuti kata hatimu. Sebagai sesama lelaki, Om bisa melihat kesungguhan cinta Jonathan padamu,” pesan Om Harry saat menurunkan Gaby di lobby apartemen.
“Terima kasih buat makan malamnya, Om,” sahut Gaby sambil tersenyum.
Om Harry mengangguk dan menunggu Gaby melewati pintu masuk lobby utama.
__ADS_1