Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Bukan Sepupu


__ADS_3

“Kamu suka nonton apa ?” tanya Jonathan menggandeng istrinya masuk ke area bioskop.


“Apa saja asal jangan horor, takut nggak bisa tidur,” sahut Gaby sambil melihat-lihat poster film yang berjajar terpasang rapi di dalam bingkai mika.


“Sekarang kan udah tidur berdua, jadi nggak masalah kalau kamu takut, tinggal aku peluk.”


“Modus,” cibir Gaby yang langsung dirangkul oleh Jonathan.


Gaby hanya bisa pasrah saat Jonathan benar-benar memilih film horor untuk kencan mereka malam ini.


“Jangan takut, cukup memelukku setiap kali kamu tidak ingin melihat adegannya dan nanti malam dengan senang hati aku akan memelukmu sampai pagi,” ujar Jonathan sambil menepuk bahunya sendiri.


Gaby memutar bola matanya dan mengerucutkan bibir meski dalam hatinya dia merasa senang karena punya alasan untuk memeluk Jonathan tanpa malu-malu.


“Awas ketagihan,” bisik Jonathan sambil terkekeh, bahkan ia sempat mencuri ciuman di pipi Gaby.


“Tapi aku nggak keberatan kalau kamu ketagihan berada di pelukanku.”


“Kenapa Mas Nathan jadi pria mesum sejak berhenti jadi guru ? Pak Jonathan yang saya kenal adalah guru matematika yang menyebalkan, sok cakep dan jutek.”


“Kalau cakep memang kenyataan, kalau menyebalkan itu karena kamu menyangkal perasaanmu yang sebetulnya suka sama aku.”


Gaby kembali memutar bola matanya karena sebal membuat Jonathan tertawa dan merengkuhnya dengan gemas. Ternyata punya istri yang masih belia tidak selalu merepotkan.


Keluar dari bioskop, Gaby terlihat cemberut karena terlalu banyak adegan yang membuat jantung berdebar karena tegang dan suara musik yang dibuat menyeramkan. Bahkan beberapa kali Gaby dibuat terkejut dengan mahluk menyeramkan yang muncul tiba-tiba.


Akibatnya, hampir sepanjang film, Gaby menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Jonathan.


“Jangan cemberut begitu. Setiap cowok yang mengajak cewek kencan selalu menjadikan film horor sebagai andalan mereka. Kapan lagi punya kesempatan peluk cewek yang ketakutan.”


Gaby memukul bahu Jonathan yang tertawa-tawa.


“Mas Nathan kan udah sering peluk cium saya di kamar jadi juga perlu kesempatan kayak tadi.”


“Rasanya beda antara di kamar sama dalam bioskop.”


“Haiiss, modus banget sih.”


Jonathan meraih jemari Gaby agar berpegangan pada lengannya. Keduanya berjalan menyusuri area mal tanpa perasaan khawatir seperti sebelumnya.

__ADS_1


“Jonathan.”


Keduanya berhenti dan membalikkan badan karena suara panggilan itu terdengar dari arah belakang mereka.


“Tante Anita,” sapa Jonathan sambil tersenyum. Satu tangannya menahan tangan Gaby yang ingin melepaskan pegangannya di lengan Jonathan.


Wanita paruh baya itu menyipitkan mata dan berjalan mendekati Gaby dan Jonathan yang masih berpegangan. Mata wanita yang dipanggil Tante Anita itu menelisik keduanya yang berpakaian couple dan lebih menajamkan tatapannya memandang Gaby dengan sinis.


“Bukannya kamu sepupunya Jonathan ?”


“Saya..”


“Dia istri saya, Tante. Maaf kalau hari itu saya berbohong. Saya sudah menikah 8 bulan yang lalu, jauh sebelum Maya masuk ke rumah sakit.”


“Apa maksudmu ? Kamu sendiri yang mengenalkan dia sebagai sepupumu.”


“Maaf Tante, saya akan menjelaskannya kalau memang Tante ingin mengetahuinya.”


Tante Anita mendekat, matanya menatap Gaby penuh emosi dan senyumannya penuh dengan ejekan.


Plak !


Jonathan langsung menarik Gaby ke belakang tubuhnya. Tangannya mengepal, kesal karena mama Maya sudah berani menampar istrinya di depan umum yang membuat beberapa pengunjung menghentikan aktivitas mereka dan menatap ke arah ketiganya dengan berbagai pikiran mereka.


“Jangan pernah menyakiti istri saya lagi atau kasus ini akan saya bawa ke jalur hukum,” tegas Jonathan dengan tatapan marah.


Ia segera menarik tangan Gaby dan membawanya ke parkiran yang ada di lantai basement. Satu tangannya mengambil handphone di saku celana panjangnya dan menekan nomor Om Sofian.


Jonathan langsung menceritakan kejadian yang baru saja dialami Gaby dan minta tolong pada Om Sofian untuk memastikan kalau tidak akan ada rekaman video peristiwa itu beredar di media sosial manapun.


“Maaf,” ujar Jonathan sambil membelai kepala Gaby dengan nada penuh penyesalan.


Mobil yang dikemudikannya sudah meninggalkan mal yang mereka datangi barusan.


”Nggak apa-apa, bukan salah Mas Nathan,” sahut Gaby pelan sambil tersenyum.


“Ini salahku. Kalau saja malam itu aku nggak memgakui kamu sebagai sepupuku dan bicara terus terang pada keluarga Maya, tidak akan ada kejadian ini. Maaf.”


“Waktu itu kondisi pernikahan kita memang sebatas perjanjian kontrak dan Mas Nathan berniat kembali pada Bu Maya setelah kewajiban Mas Nathan berakhir, jadi wajar kalau kalian masih menjaga hubungan baik dan tidak ingin orangtua Bu Maya mengetahui soal saya.”

__ADS_1


“Gabriela.”


Gaby meraih tangan Jonathan dan menggenggamnya sambil tersenyum.


“Jangan terlalu khawatir soal tamparan tadi. Saya sudah terbiasa menerima pukulan dari mama Gina dan Jihan, dan yang tadi belum seberapa.”


“Baru saja aku berjanji tidak akan membiarkan orang-orang seperti mama Gina dan Jihan menyakitimu, tapi yang terjadi malah Tante Anita menamparmu di depan mataku,” lirih Jonathan dengan wajah penuh penyesalan.


“Semua tidak disengaja, jangan terlalu sedih begitu. Hari ini kencan kita sangat istimewa dan nggak akan pernah saya lupakan karena Mas Nathan adalah cowok pertama yang membuat saya benar-benar merasa spesial. Bahkan papi tidak pernah menunjukkan kalau saya adalah putri yang istimewa seperti yang selalu papi ucapkan.”


Gaby menyentuh lengan Jonathan yang sedang memegang setir dan lebih banyak menatap ke depan. Bibirnya masih menyunggingkan senyum meski hatinya sedikit sakit.


“Hanya satu yang ingin saya pastikan. Apa Mas Nathan sungguh-sungguh mencintai saya dan tidak akan pernah meninggalkan saya sekalipun Bu Maya memohon pada Mas Nathan untuk kembali padanya ?”


“Tentu saja aku sungguh-sungguh mencintaimu dan tidak akan pernah lagi tergoda oleh Maya atau wanita lainnya.”


Gaby tersenyum tipis, hatinya tidak yakin dengan janji yang diucapkan Jonathan.


“Bagaimana kalau kondisi yang lalu terulang kembali ? Bu Maya dalam keadaan sekarat dan hanya Mas Nathan yang bisa membuatnya hidup. Apa Mas Nathan akan tetap memilih Ibu Maya seperti yang lalu atau Mas Nathan akan memenuhi permintaan saya yang meminta Mas Nathan tetap tinggal.”


“Aku akan memilih memenuhi permintaanmu,” sahut Jonathan dengan penuh keyakinan.


“Kalau begitu masalah yang tadi tidak usah diperpanjang lagi. Saya hanya perlu memastikan kalau Mas Nathan akan selalu berada di samping saya apapun yang terjadi.”


Setelah itu keduanya hanya diam dan mendengarkan suara lagu dan penyiar yang tedengar dari audio mobil.


Gaby menyadarkan kepala pada pintu dan memejamkan matanya, membiarkan Jonathan membawanya pulang ke rumah.


***


Pulang segera ! Ada yang mau mommy bicarakan denganmu.


Maya mengerutkan dahi saat membaca pesan yang dikirim mommy Anita. Perasaannya langsung tidak enak. Satu staf salon sedang merapikan rambutnya dan staf lainnya sedang mengerjakan perawatan kaki.


“Ada masalah apa, Mom ?” tanya Maya yang langsung menghubungi sang mommy lewat handphone.


“Terlalu panjang dan mommy mau bicara langsung denganmu di rumah. Kalau sudah beres di salon, jangan kemana-mana lagi !”


Belum sempat Maya bertanya lagi, Mommy Anita sudah memutuskan sambungan handphonenya Maya menghela nafas. Firasatnya mengatakan kalau ini semua ada hubungannya dengan Jonathan karena selama ini hanya masalah pria itu yang bisa membuat orangtuanya kesal.

__ADS_1


__ADS_2