
“Benar-benar dokter aneh ! Maya punya suami sah sendiri kenapa malah suruh suami orang yang mencoba berbicara padanya.”
Jonathan tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah Gaby ditekuk dan bibirnya mengerucut sejak keluar dari ruang dokter sampai di dalam mobil.
“Sayang, sekarang kamu ngerti kan kenapa aku malas berurusan dengan Maya dan keluarganya juga.”
“Tapi beneran Mas Nathan nggak pernah begituan sama Mbak Maya sampai bikin dia hamidun kan ?”
Mata Gaby menyipit, melirik suaminya yang duduk di kursi penumpang depan sedangkan ia sendiri masih bertugas sebagai sopir.
”Begituan apa ? Ciuman, pegangan tangan ?” ledek Jonathan di sela tawanya.
“Jangan pura-pura bego deh !” omel Gaby yang kembali cemberut.
“Bibi sayang, kamu nggak ingat bagaimana ekspresi wajah puas dan bahagia saat melepas keperjakaanku denganmu ? Aku memang pernah mencintai Maya dan beberapa kali ia menggodaku dengan menawarkan dirinya tapi aku masih pria kolot, ogah celup sana sini, bisa-bisa tanpa sengaja bibit unggulku terbuang begitu saja.”
“Awas aja kalau omongan Mas Nathan gombal !” Gaby mengangkat tangannya yang terkepal. “Bukan cuma bogem yang Mas Nathan dapat, kali ini Gaby akan membuat Mas Nathan merasakan hidup enggan mati pun susah.”
“Istriku galak banget sejak hamil nih.” Jonathan mengacak rambut Gaby dengan gemas.
“Mas Nathan iihh… Gaby kan lagi setir,” gerutu wanita itu sambil mencoba menjauhkan tangan Jonathan
“Gimana kalau aku trakir istriku yang galak ini makan siang di tempat spesial ?”
“Dimana ?” Gaby mengerutkan dahi dengan tatapan fokus ke depan.
“Kamu ada request mau makan apa nggak ?”
“Apa aja asal sama Mas Nathan yang nggak enak pun jadi nikmat, asal jangan kasih Gaby makan batu dan angin.”
“Ya ampun Bi, ternyata selain tambah galak kamu jadi pintar gombal juga.”
“Efek punya suami guru sekolah jadi bawaannya mau belajar sama suami terus.”
“Muji atau nyindir ?”
__ADS_1
“Suka-suka Mas Nathan.”
Jonathan tertawa, setiap Gaby mengucapkan kalimat itu, Jonathan sering teringat dengan hari pertama pernikahan mereka.
****
“Aku mau bertemu Jojo, Mom. Aku mau memberitahu kalau anak kami sudah lahir,” lirih Maya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
Obat penenang yang diberikan dokter hanya membuatnya terlelap selama 1 jam dan saat terbangun, Maya kembali memanggil-manggil Jonathan.
“Cukup Maya !” bentak Leo yang baru saja masuk usai menemui dokter.
Mommy Anita dan Mario tampak terkejut namunMartin yang berdiri di belakang Leo memberi isyarat pada kakaknya untuk membiarkan Leo bertindak.
Daddy Harry pun memberi isyarat pada istrinya untuk beranjak dari sebelah Maya.
“Berhentilah membuat orang hanya fokus pada dirimu Maya ! Aku tahu kalau sebagian sikapmu adalah sandIwara. Sejak kapan Jonathan menjadi ayah dari anakmu ? Kalau benar begitu mana mungkin kamu akan melepaskan kesempatan langka seperti itu ? Kamu pasti akan menyimpan bukti-bukti yang akan mengikat Jonathan karena sejak awal yang ada dalam hati dan pikiranmu hanya ingin menghancurkan pernikahannya. Bukalah mata hatimu Maya ! Kamu menginginkan Jonathan karena tidak terima pria yang tergila-gila padamu dan berada di bawah kendalimu tiba-tiba mencampakanmu untuk seorang bocah yang biasa-biasa saja seperti Gabriela.”
“Aku tidak…”
Aku berpikir dengan ketulusan cintaku kamu akan lebih bahagia. Aku tidak peduli berapa lama aku harus menunggu hingga kamu melihatku dan merasakan cintaku. Tapi sepertinya pemikiranku salah besar, Aku tidak ada bedanya denganmu jika hanya memaksakan dirimu untuk jatuh cinta padaku. Aku akan berhenti Maya, berhenti memaksakan perasaanku padamu.”
Mata Maya sedikit membola saat Leo melepaskan cincin yang tersemat di jari manisnya.
“Maafkan saya Tuan dan Nyonya Harry. Maaf karena saya sudah melakukan kesalahan besar karena membuat putri anda semakin menderita. Saya akan mundur, terima kasih atas semua kebaikan yang sudah saya terima.”
Leo meletakkan cincin kawinnya di meja kecil yang ada di samping ranjang Maya dan bergegas keluar kamar. Di luar, seorang petugas polisi yang mengawasinya masih menunggu.
“Bawa saya kembali ke lapas atau kemana pun seharusnya saya berada,” lirih Leo.
Pria itu mengerutkan dahinya namun tetap mengikuti Leo masuk ke dalam lift.
Sementara di dalam kamar, Martin yang semula hendak mengejar Leo namun dilarang oleh Daddy akhirnya berbalik mendekati Maya.
Plak !
__ADS_1
“Martin !” pekik mommy Anita langsung berjalan mendekati putra keduanya.
“Kamu sudah gila ? Adikmu sedang sakit dan kamu….”
“Seharusnya sudah lama aku melakukannya Mom,” sahut Martin dengan wajah memerah.
Daddy menahan Mario yang berniat bangun dari sofa untuk mendekati kedua adikmya.
“Biarkan,” ujar daddy sambil menggeleng.
“Apa maksudmu, Martin ?” pekik mommy memeluk bahu Maya yang menunduk.
“Hanya itu yang bisa menyembuhkan Maya, Mom. Selama ini kita selalu menutup mata atas segala perbuatan gilanya, membenarkan yang salah dan mencoba melindungi Maya karena rasa sayang yang berlebihan. Apa mommy tidak sadar kalau sedikit banyak penyebab kegilaan Maya adalah mommy juga ? Mommy berani memaki anak orang lain yang sudah menyakiti putri mommy menurut cerita Maya, tapi apakah pernah mommy mencari faktanya sebelum menghakimi orang lain ?
Mommy dengar sendiri apa yang Leo katakan tadi ? Dia sahabatku, Mom, bahkan lebih daripada itu. Leo berani memberikan nyawanya untukku hanya karena daddy pernah menolongnya sekali. Hanya sekali, Mom dan itupun karena aku jugalah yang membuat Leo dikejar-kejar preman.
Sadarlah Maya, kamu bukan hanya telah dewasa tapi sudah menjadi seorang ibu. Suka atau tidak, anak yang tidak berdosa itu lahir karena kegilaanmu juga, kesalahanmu sendiri bukan Jonathan, Leo atau siapapun.
Kamu tahu Maya kalau sebenarnya kamu hanya seorang pengecut yang berlindung di bawah kehebatan orang lain. Akan datang waktunya kamu harus melepaskan diri dari cangkang kosongmu itu dan jika saatnya tiba berdoa saja semoga masih ada mommy dan daddy atau siapapun yang masih bisa membantumu.”
Maya terdiam dan menundukkan kepala, air mata mulai keluar dari kedua sudut matanya. Martin masih menatapnya dengan tajam, tidak ada rasa kasihan atau ingin melindungi adiknya seperti biasa.
“Aku tidak akan meminta Leo kembali padamu. Tanyakan pada dirimu sendiri dan berhentilah menjadi egois. Kalau memang status Leo hanya menjadi beban untukmu, minta daddy untuk mengurus perceraian kalian.”
Martin menghela nafas panjang lalu meninggalkan kamar. Daddy yang sejak tadi diam saja berdiri dan mendekati ranjang putrinya.
“Katakan pada Daddy kapan kamu siap bercerai dengan Leo !”
Mommy Anita yang masih merangkul putrinya tidak berani menegur ucapan daddy Harry, bahkan wanita itu diam saja saat suaminya ikut keluar kamar menyusul Martin.
”Terima kasih karena sudah mewakili Daddy memberi pelajaran pada adikmu. Maaf karena Daddy terlambat menyadari kesalahan daddy dalam membesarkan adikmu,” ujar Daddy Harry sambil merangkul putra sambungnya yang masih berdiri di depan lift.
Tanpa terduga Martin memeluk daddy Harry dengan erat.
“Terima kasih sudah menjadi ayah terbaik untukku, Dad.”
__ADS_1