
Sudah beberapa hari ini Gabriela terlihat lebih pendiam. Liburan sekolah sudah dimulai tapi Jonathan masih harus datang ke sekolah untuk beberapa urusan sehubungan dengan tahun ajaran baru.
Yang membuat Gabriela sedikit khawatir karena selama seminggu ini pula, Jonathan selalu pulang malam, terkadang melewati jam makan malam di rumah.
Bayangan Maya dan Jonathan berpelukan membuat Gabriela tidak nyaman dan agak sakit hati meski ia tahu kalau Jonathan tidak pernah menganggapnya istri dan pernikahan mereka sekedar kontrak.
“Kamu kenapa ? Kangen sama suami ?” tanya Mama sambil membelai kepala menantu kecilnya saat mereka berdua sedang duduk menonton televisi.
“Nggak Ma, hanya suka gabut aja karena sudah masuk libur panjang. Apa aku boleh kerja selama liburan, Ma ?”
“Kerja ? Kamu kekurangan uang ?”
“Eh bukan karena kekurangan uang, Ma,” Gabriela buru-buru menggerakkan kedua tangannya. “Hanya untuk mengisi waktu luang selama liburan. Selama ini kiriman uang dari papi sudah lebih hdari cukup.”
“Jonathan tidak pernah memberi kamu uang jajan ?” tanya Mama dengan dahi berkerut.
Merasa salah bicara, Gabriela tertawa canggung, tidak siap untuk memberikan jawaban yang sebenarnya tapi juga tidak mau membohongi mama.
“Tidak perlu, Ma. Aku masih punya tabungan dan setiap bulan Papi masih mengirimkan uang jajan.”
“Nanti Mama bilang sama Nathan. Kamu ini istrinya, sudah sepantasnya dia menafkahi kamu minimal kasih uang jajan untukmu.”
“Tapi Pak Na… eh maksudku Mas Nathan sudah memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kan, Ma. Keperluanku di rumah ini sudah dipenuhi dan Mas Nathan nggak pernah mengeluh kalau harus menambah pengeluaran karena punya istri.”
Mama tersenyum tipis, ternyata Gabriela adalah sosok gadis belia yang di luar dugaannya. Meski terlahir dan hidup dalam keluarga kaya, tapi sifat dan pembawaannya jauh dari kata manja dan sombong.
“Kamu mau liburan ke Semarang ? Biar kali ini Jenny tidak usah pulang ke Jakarta.”
“Mau, Ma. Sudah lama aku nggak pergi liburan,” sahut Gabriela dengan penuh semangat.
“Memangnya kalian nggak pernah liburan bersama setiap tahun ?” mama Hani kembali mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Terakhir pas aku lulus SD, Ma. Papi ngajak kami sekeluarga ke Singapura dan membolehkan aku berbelanja keperluan sekolah di sana karena dapat ranking. Sesudah itu biasanya Mama Gina pergi berlibur hanya mengajak Kak Jihan dan Lisa sementara Papi sibuk dengan pekerjaannya.”
Mama kembali mengusap kepala Gabriela dengan penuh kasih sayang dan senyum keibuan. Rasanya miris mendengar cerita putri Anna, sahabatnya, yang ternyata jauh dari kata bahagia.
“Kapan kita pergi ke tempat Kak Jenny-nya, Ma ?”
“Seharusnya minggu depan Nathan sudah libur selama 2 mingguan. Nanti kita bicarakan dengan Nathan soal rencana ini.”
Gabriela mengangguk-angguk. Raut wajahnya menyiratkan kebahagiaan yang membuat hati Mama Hani justru semakin sedih.
***
Makan malam di hari Sabtu baru saja selesai. Tidak ada kencan atau makan malam di luar untuk Gabriela apalagi Nathan baru pulang sekitar jam 6 sore dengan wajah yang terlihat letih.
Gabriela langsung membereskan meja makan sementara Mama dan Jonathan masih duduk di situ.
“Tapi ini adalah liburan pertama Gaby bersama keluarga kita. Biasanya kamu hanya masuk seminggu setelah muridmu libur kenaikan kelas, kenapa kali ini nggak ada liburnya ?”
Gabriela tidak berani kembali ke meja makan. Ia sibuk merapikan makanan yang tersisa lalu mencuci piring dan perabotan lainnya.
Pikiran dan hatinya resah karena yakin kalau kesibukan Jonathan belakangan ini bukan karena pekerjaan tapi pria itu sedang menata ulang hubungannya dengan Maya.
Rasanya Gabriela ingin melupakan perasaannya pada Jonathan, namun kebersamaan mereka karena tinggal serumah membuat ia sulit menahan rasa sukanya pada Jonathan.
“Kamu bisa kan pergi berdua aja sama Mama ?”
“Aaww !”
Gabriela terkejut saat mendengar suara Jonathan di belakangnya hingga pisau yang sedang dicuci melukai tangannya.
Jonathan yang melihat ada darah menetes di bak cucian piring buru-buru mendekat. Diraihnya tangan Gabriela yang berdarah dan dibasuh di bawah kucuran air untuk membersihkan busa yang menutupi tangannya.
“Hati-hati kalau sedang pegang pisau,” omel Jonathan,
“Bapak bikin saya kaget. Nggak kedengaran langskahnya, tahu-tahu suara Bapak udah ada di belakang saya,” sahut Gabriela dengan wajah cemberut.
“Kamu pasti lagi melamun makanya kaget waktu dengar suara saya.”
__ADS_1
Mama Hani yang melihat putranya sedang memegang tangan Gabriela urung masuk ke dapur. Ia hanya tersenyum dan berharap hubungan keduanya semakin membaik.
“Saya nggak ngelamunin Bapak,” sahut Gabriela dengan ketus, Jonathan mengerutkan dshinya.
“Kamu barusan bilang apa ?”
“Saya bilang saya nggak lagi ngelamunin Bapak !” tegas Gabriela dengan gemas.
Jonathan tertawa dan menyentil kening Gabriela sementara satu tangannya masih menggenggam jemari gadis itu yang terluka.
“Saya nggak bilang kalau kamu sedang melamunkan saya, hanya bilang kalau kamu pasti lagi melamun.”
Gabriela membuang buka dengan wajah mulai merona, malu karena ternyata ia salah mengucapkan kalimat.
“Jangan bilang kamu mulai jatuh cinta sama saya dan diam-diam suka memikirkan saya ?“ Jonathan membungkukkan badan hingga posisi wajah mereka berdekatan.
Matanya menyipit membuat Gabriela semakin salah tingkah hingga tidak berani menatap langsung.
“Jangan asal nebak !” ketus Gabriela. “Sudah saya bilang kalau pengakuan saya waktu itu hanya pura-pura supaya Bapak mau menikahi saya.”
Jonathan menegakkan posisi tubuhnya dan tertawa. Sudah jelas kalau Gabriela sedang berbohong.
“Ayo kita obati lukamu.” Jonathan membawa Gabriela duduk di meja makan dan mengambil kotak obat.
***
Sudah 2 hari ini Gabriela berada di kota Semarang, menginap di hotel yang dipesankan oleh Jonathan hingga seminggu ke depan.
GABRIELA :
Bapak nggak salah pesan hotel ? Terlalu mewah dan pasti mahal. Bapak nggak sayang kalau sampai nggak bisa nabung ?
JONATHAN
Daripada saya bayar orang untuk menemani Mama lebih baik uangnya saya pakai untuk biaya hotel, istri kontrak ✌️✌️
Gabriela menarik nafas dalam-dalam untuk menahan rasa sakit dan kecewa karena di mata Jonathan dirinya hanyalah istri kontrak.
Sementara itu di Jakarta, Jonathan sedang senyum-senyum sendiri saat membaca pesan yang dikirim Gabriela dan melihat foto yang dikirim Mama kemarin saat berada di kereta. Terlihat Gabriela begitu bahagia karena kesempatan ini adalah pengalaman pertamanya.
“Kenapa senyum-senyum sendiri ?”
“Sepertinya Gaby lagi kesal padaku, Pi karena sudah menyiapkan hotel yang mewah untuknya. Pemborosan,” ujar Jonathan sambil terkekeh.
“Kamu nggak bilang kalau Papi yang memesan hotelnya, kan ?”
”Aman, Pi. Aku juga nggak bilang kalau sedang belajar sama Papi di perusahaan.”
”Kadang-kadang Papi kangen dengan omelannya saat dia tidak setuju dengan keputusan Papi. Ekspresi wajah nya lucu, terlihat masih kekanak-kanakan. Papi sempat menyesali karena sering tidak punya waktu untuknya.”
“Yang sudah lewat tidak bisa diulang kembali, Pi. Tapi ke depannya, Papi bisa memanfaatkan setiap kesempatan bersama Gaby. Termasuk rencana kita untuk menyusul Gaby hari Kamis lusa.”
“Papi semakih yakin mempercayakan Gaby padamu karena Papi melihat kalau kamu bisa membuatnya bahagia.”
Maafkan aku karena terlalu pandai bersandiwara, Pi. Semua ini aku lakukan hanya untuk membuat banyak orang bahagia meski hatiku justru menderita. Satu hal pasti yang bisa aku janjikan : Gaby sudah tumbuh menjadi wanita yang kuat dan mandiri saat aku melepaskannya.
Jonathan tersenyum sambil berjalan di samping Papi Hendri menuju ruang rapat untuk diperkenalkan sebagai suami Gabriela. Secara hukum, Jonathan lah yang akan menjadi pimpinan sementara sampai Gabriela cukup usia untuk menerima tongkat estafet sebagai Pemimpin Perusahaan.
__ADS_1