
Gaby baru saja selesai mengangkat nasi goreng dari wajan saat Jonathan mengambil air dari dalam kulkas.
“Mas Nathan mau kemana ?” tanya Gaby sambil menautkan alisnya karena melihat Jonathan sudah mandi dan berpakaian rapi.
Hari Minggu seperti ini biasanya selesai berolahraga dan mandi, Jonathan suka bersantai di rumah dan sesekali mengajak Gaby dan Mama jalan-jalan ke mal atau supermarket.
”Nggak sarapan dulu ? Nasi gorengnya sudah matang.”
Jonathan menggeleng dan meletakkan gelasnya di atas meja.
“Aku janji mau sarapan pagi dengan teman.”
“Kok nggak bilang dari semalam kalau hari ini Mas Nathan ada janji lagi ?”
“Pas aku pulang kamu sudah tidur.”
“Kan bisa bilang sebelum lari pagi,” protes Gaby dengan wajah cemberut.
“Lupa. Aku jalan dulu, sudah telat.”
Tanpa menunggu jawaban Gaby, Jonathan sudah melesat keluar bahkan tidak menunggu Mama yang sedang mandi.
“Tolong bilangin Mama,” teriak Jonathan dari pintu utama.
Gaby menghela nafas, hatinya kesal karena sejak Jumat, Jonathan selalu pulang malam dengan alasan mengurus pekerjaan. Semalam entah pulang jam berapa karena Gaby tertidur setelah matanya memastikan waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Hati Gaby sedikit tidak tenang, masalahnya selama lembur, Jonathan jarang membalas wa nya bahkan tidak pernah mengangkat panggilan telepon Gaby.
Bukan tidak mau mengerti kesibukan suami usai kebakaran gudang, tapi Gaby juga butuh teman untuk tukar pikiran soal temuan Joni dan Danu.
“Nathan belum selesai mandi ?” tanya Mama menghampiri Gaby di dapur.
“Sudah pergi lagi, Ma, ngurus kerjaan,” sahut Gaby dengan wajah masih kesal.
Mama menghela nafas, beliau paham kalau Gaby kesal karena sikap Jonathan sedikit mencurigakan.
Usai sarapan pagi, Gaby balik ke kamar untuk mengambil handphone dan langsung menekan nomor Kendra.
Dengan alasan nomor Jonathan di luar jangkauan, Gaby minta tolong pada Kendra untuk meminjamkan handphonenya pada Jonathan.
“Aku nggak bareng sama Nathan. Memangnya dia bilang mau pergi sama aku ?”
“Hmmm nggak sih, cuma bilang mau pergi sama teman jadi Gaby kira perginya sama Kak Kendra.”
“Aku aja baru melek nih, Gab.”
“Kenapa ? Semalam habis lembur kemana hayo ?”
__ADS_1
“Dari kemarin aku flu, Gab. Jam 4 udah cabut sama Nathan dari kantor. Suami kamu sekarang agak-agak menggelikan, pulang pagi juga bilangnya mau kelonan sama kamu.”
Deg !
Jantung Gaby langsung berdegup kencang. Jam 18.30 Jonathan baru mengabarkan kalau masih harus lembur mengurus kerjaan hingga tidak bisa makan malam di rumah.
“Gab, kok diam aja ? Masih keingetan sama kehebatan Jonathan semalam ?”
“Haiiss Kak Kendra tahu aja,” Gaby tertawa pelan menutupi hatinya yang sedang gundah gulana.
“Lanjut tidur aja, deh. Kalau besok nggak masuk, Gaby minta Om Sofian potong gaji.”
“Tega benar sih, Gab.” Gaby hanya tertawa dan menit berikutnya ia sudah mengakhiri percakapannya dengan Kendra.
Gaby menghela nafas. Firasatnya mengatakan kalau Jonathan sudah membohonginya. Kakinya ingin mengejar pria itu dan menanyakan langsung, tapi Gaby tidak tahu harus mencari Jonathan kemana.
***
“Mau ngapain ?” tanya Jonathan saat Gaby mengikutinya ke mobil.
“Mau minta anterin ke sekolah, motor Gaby ngadat.”
Jonathan berdecak sambil melihat jam tangannya. Waktu baru menunjukkan pukul 6, seharusnya masih sempat mengantar Gaby ke sekolah karena jalannya masih searah.
“Aku ada janji breakfast meeting hari ini, takut telat kalau melipir dulu.”
“Naik ojol aja, ya ?”
Gaby menggeleng dan bergegas masuk ke kursi penumpang depan lalu memasang sabuk pengaman.
Jonathan berdecak kesal dan akhirnya mengikuti permintaan Gaby, mengantar gadis itu ke sekolah.
“Meetingnya sama Kak Kendra ?”
“Nggak !”
“Jutek amat jawabnya, lagi pms ?”
Jonathan mengabaikan ledekan Gaby dan berdecak sendiri karena jalan ke arah sekolah sedikit macet.
“Meeting soal kerjaan ? Kok nggak ditemani Kak Kendra atau Om Sofian ?”
“Kendra sempat sakit pas Jumat. Kalau Om Sofian, aku sudah memutuskan untuk belajar mempraktekkan ajaran beliau tanpa perlu diikuti.”
Jonathan menjawab tsnpa menoleh dan pria itu menghela nafas sambil melirik jam tangannya.
“Gaby turun di depan aja biar Mas Nathan bisa langsung belok ke kiri.” Gaby melepas sabuk pengaman dan mengambil tas ransel yang ada di kakinya.
__ADS_1
“Hati-hati.” Gaby mengangguk.
“Mas Nathan nggak lagi punya selingkuhan kan ? Atau malah CLBK sama Maya ?” Gaby urung turun dari mobil, menoleh dengan mata menyipit menatap Jonathan.
“Fokus sama ujian sekolah, jangan berpikir yang aneh-aneh.”
Gaby tersenyum getir karena cara bicara Jonathan terasa datar dan ekspresi wajahnya sama persis dengan kondisi mereka di awal pernikahan.
Tanpa bicara apa-apa lagu, Gaby turun dari mobil dan menutup pintu dengan cukup keras.
“Kenapa harus bohong kalau Mas Nathan mau ketemu Maya,” gumam Gaby pada dirinya sendiri.
Ia berlari kecil dan kedua tangannya memegang tali ransel yang tersandang di bahunya. Sekuat mungkin Gaby menahan diri untuk tidak menangis terutama di depan Jonathan.
Hatinya sakit, tapi bukti yang ada di tangannya bukan hasil jepretan kamera handphonenya, melainkan kiriman Lisa, yang tidak sengaja melihat Jonathan dan Maya sedang bergandengam tangan di kawasan pantai dekat restoran pada Jumat malam.
Foto yang terakhir dikirim paling menyakitkan. Gaby melihat Jonathan merangkul bahu Maya dan kamera Lisa juga menangkap beberapa adegan saat keduanya sedang tertawa lepas.
***
“Maaf aku terlambat,” ujar Jonathan saat Maya masuk ke dalam mobilnya.
Senin pagi ini Jonathan berjanji menjemput Maya yang memutuskan untuk tinggal di apartemen miliknya sementara waktu.
Pembicaraan Jumat malam menyimpulkan kalau mereka mau berusaha untuk merajut kembali cinta yang putus 10 bulan yang lalu sambil Jonathan memikirkan cara terbaik untuk berpisah dengan Gaby.
“Nggak apa-apa, masih cukup waktunya. Kenapa ? Istri atau mama kamu curiga ?”
“Nggak,” Jonathan buru-buru menggeleng. “Motor Gaby mendadak ngadat jadi dia minta antar ke sekolah tapi akhirnya nggak sampai depan gerbang karena jalanan ke sananya lagi macet.”
“Dia nggak nanya kenapa kamu berangkat ke kantornya pagi banget ?”
“Sempat nanya dan aku jawab ada morning meeting hari ini.” Maya mengangguk-angguk. Jonathan hanya tersenyum tipis dan tatapannya fokus ke jalan di depannya.
“Jo, kamu benar-benar yakin tidak mencintai istrimu ? Perasaanmu sungguh hanya karena kasihan ?” tanya Maya sambil menggenggam satu jemari Jonathan.
“Iya, ternyata cinta dan kasihan suka membuat bingung. Setelah menghadapi banyak masalah, mataku baru terbuka dan aku lihat Gaby pun sama. Kami sama-sama terpaksa menikah demi kepentingan pribadi dan keluarga kami.”
“Terima kasih karena kamu memilih untuk kembali padaku, Jo.”
Maya makin tersenyum lebar sementara jemarinya menggenggam erat jemari Jomathana.
“Hanya saja semuanya tidak akan semudah seperti sebelum aku menikah.”
“Aku akan sabar menunggu, Jo. Selama hatimu telah memutuskan untuk kembali padaku, aku tidak peduli berapa lama harus menunggu.”
“Terima kasih atas pengertianmu.”
__ADS_1
Jonathan melepaskan genggaman Maya dan meletakkan tangannya dari genggaman Gaby lalu memegang kenop persneling mobil..