
Setelah dirawat semalam, Gaby sudah diperbolehkan pulang. Dokter bilang kondisi Gaby baik-baik saja, hasil tes dan laboratorium menyatakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.
“Bapak ngapain pakai acara bolos segala sih ? Kemarin aja Bu Irma udah nanya-nanya dengan tatapan curiga gitu. Gosip bertebaran gara-gara Bapak gendong saya sampai ke mobil.”
“Kok kamu tahu kalau saya gendong kamu ? Kamu sengaja pura-pura tidur ?” Jonathan melirik sambil tersenyum.
Keduanya sudah meninggalkan kamar, hendak turun ke bawah. Gaby tidak sadar kalau Jonathan menggengam tangannya.
Gaby mengeluarkan handphone dan menunjukkan foto yang dikirim oleh Mimi.
“Ada paparazzi dan langsung beredar di grup sekolah. Besok kita harus siap-siap menjawab rasa ingin tahu satu sekolah.”
“Tinggal dijawab,” sahut Jonathan santai. Tangannya menekan angka yang ada di dalam lift.
“Pak Liman nggak hubungi bapak soal foto ini ?”
“Nggak. Pak Liman ikut mengantar saya membawa kamu ke mobil dan jadi saksi kalau saat itu kamu memang kayak orang pingsan.”
“Bukan pingsan, Pak, saya beneran tidur. Nggak tahu Bu Irma kasih parasetamol apa obat tidur.”
“Hussh jangan asal ngomong,” Jonathan menyentil kening Gaby membuat gadis itu merenggut.
Di depan lobby, mobil yang kemarin menjemput Gaby di sekolah sudah menanti. Hanya sopir yang menunggu, tidak ada mama atau Om Sofian apalagi Kendra.
Di dalam mobil, keduanya duduk berjarak, masing-masing menempel ke pintu. Jonathan sibuk dengan handphonenya. Sebetulnya ia agak terkejut meihat foto yang ditunjukkan Gaby, meski ada alasan yang kuat tapi ia khawatir akan dampaknya pada Gaby.
Sementara Gaby yang menyenderkan kepalanya pada pintu tidak bisa menepis ingatannya tentang sikap Jonathan semalam.
“Bapak kenapa nggak pulang bareng mama ? Kan saya bilang kalau semuanya pasti baik-baik aja. Udah sering kayak begini.”
Jonathan yang baru saja selesai mandi terlihat sangat tampan dengan rambut yang basah, mengenakan celana training dan kaos lengan panjang.
“Sudah jadi tanggungjawab saya sebagai suami untuk mengurus istrinya yang sedang sakit.”
“Suami ?” Gaby tertawa getir. “Sejak kapan ? Perasaan matahari masih normal, terbit di timur dan terbenam di barat.”
“Saya menyerah sama gadis imut yang sukanya mendebat ucapan saya. Ketulusannya membuat saya jatuh cinta dan susah move on,” ujar Jonathan sambil tertawa.
Jonathan mendekati ranjang dimana Gaby sedang setengah berbaring. Mata Gaby membola saat wajah Jonathan begitu dekat di hadapannya.
“Mulai sekarang saya akan belajar menjadi suami yang sesungguhnya. Saya tidak akan membiarkan Maya atau Kendra menjadi orang ketiga dalam pernikahan kita.”
__ADS_1
“Jangan gampang mengobral janji, Pak,” ujar Gaby sambil tersenyum getir.
“Saya nggak mengobral janji, justru saya mau belajar jujur sama kamu, tidak mau melarikan diri lagi. Saya mau bilang kalau hati ini ternyata mulai mencintai kamu. Saya sungguh-sungguh mencintai kamu, bukan karena wasiat atau kewajiban balas budi, bukan karena takut kehilangan posisi yang saya jalankan saat ini, tapi karena kamu sudah membuat hati saya lebih hangat dari sebelumnya. Ternyata kamulah matahari yang terbit dari barat dalam hidup saya, membuat saya cemburu dan takut kehilangan kamu.”
Gaby langsung memalingkan wajahnya yang terasa panas dan merah padam. Ucapan Jonathan lebih mirip gombalan tapi hati Gaby dibuat berdebar tidak karuan.
“Lebay ! Alay !” gumam Gaby sambil mencibir.
”Tapi yang alay dan lebay ini bisa membuat wajah kamu merona dan tersipu. Saya yakin jantung kamu juga berdebar tidak karuan. Saya juga sama, nih tangan saya sampai dingin.”
Gaby tersenyum saat jemari kekar yang terasa dingin itu menyentuh lengannya.
”Bapak apaan, sih ! Udah saya bilang….”
Baru kepala Gaby menoleh, bibir Jonathan sudah menempel sekilas di bibirnya.
Cup
“Sudah malam, besok kita bahas lagi.”
“Gab, Gaby !”
Gaby kembali tersadar saat tangan Jonathan menepuk-nepuk bahunya. Ingatan semalam benar-benar membuat dirinya tidak mendengar panggilan pria itu dan tidak sadar kalau mobil sudah berhenti di depan rumah.
“Udah sampai rumah.”
“Eh iya, maaf. Saya sempat tertidur sampai nggak sadar kalau udah sampai rumah.”
Gaby pun bergegas turun setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Munir yang mengantar jemputnya. Jonathan tersenyum melihat Gaby yang malu-malu sampai berbohong padanya.
Jonathan yakin kalau Gaby sedang melamun, teringat dengan kejadian semalam bersamanya.
Begitu Jonathan masuk ke ruang tamu, Gaby baru saja masuk ke dalam sambil berangkulan dengan mama.
“Mama repot-repot banget sampai masak begini banyak,” ujar Gaby saat masuk ke dapur dan memeriksa 3 panci yang ada di atas kompor.
“Nggak apa-apa, buat menantu Mama yang baru pulang dari rumah sakit biar cepat pulih dan sehat lagi.”
“Aku nggak apa-apa, Ma. Om Sofian dan Mas Nathan khawatirnya berlebihan. Sebelumnya aku memang suka mimisan, Ma, tapi nggak lama dan nggak sebanyak kemarin.”
“Keputusan mereka sudah tepat, lebih baik diperiksa untuk memastikan kalau mimisan yang kamu alami bukan karena penyakit berbahaya. Mama setuju kok dengan keputusan Nathan dan Pak Sofian.”
__ADS_1
“Tapi Ma…”
“Khawatir itu tanda sayang, Gaby. Mama bahagia karena Jonathan akhirnya mulai menerima takdir hidupnya dan mencintai kamu sebagai istrinya.”
Gaby tersenyum dengan wajah sedikit merona.
“Sekarang kamu istirahat dulu, nanti sore kita makan sama-sama. Rencananya Pak Sofian mau datang kemari.”
Gaby menurut dan naik ke lantai 2 langsung berbelok ke arah kamar Jenny. Dahinya berkerut saat pintu kamar itu tidak bisa dibuka. Mau bertanya pada mama rasanya tidak mungkin karena selama ini mama tidak tahu kalau Gaby tidur di kamar Jenny.
“Ngapain kamu berdiri di situ ?”
Gaby terkejut saat melihat Jonathan berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Bapak yang mengunci kamar Kak Jenny ?”
“Iya, karena mulai hari ini kamu nggak boleh lagi jadi penghuni gelap di kamar itu. Tempat kamu bukan di sana. Semua barang-barang kamu sudah saya pindahkan.”
“Tapi Pak…”
Jonathan menggandeng Gaby dan membawanya ke kamar miliknya.
“Saya sudah bilang semalam kalau mulai sekarang saya akan belajar menjadi suami yang sesungguhnya. Itu berarti kamu juga harus belajar menjadi istri saya.”
Gaby masih terpaku saat melihat di atas ranjang Jonathan bukan hanya sepasang bantal guling tapi ada 2 yang diletakkan di kedua sisi.
“Bed cover saya kemana ?” tanya Gaby saat matanya tidak menemukan bed cover kesayangannya.
“Sedang dicuci, nanti bisa dipakai lagi untuk selimut kita berdua.” Jonathan kembali menarik tangan Gaby dan mendudukan gadis itu di atas tempat tidur.
“Mau ganti baju dulu atau langsung tidur ?”
Tubuh Gaby menegang, rasanya canggung diperlakukan begini manis oleh Jonathan. Ia mencoba bangun namun Jonathan menahan bahunya.
“Sa..ya mau ganti dulu.” Gaby buru-buru bangun dengan sikap canggung. Jonathan tersenyum dan menahan Gaby saat gadis itu bersiap keluar sambil membawa baju ganti.
“Kamu ganti baju di sini, saya yang akan keluar. Kalau sudah selesai panggil saya lagi.”
“Tapi Pak…”
“Mas Nathan ! Mulai sekarang biasakan panggil saya Mas Nathan kecuali di sekolah. Satu ciuman di bibir sebagai hukumannya setiap kali kamu salah memanggil saya.”
__ADS_1
Gaby kembali tersipu saat Jonathan memencet hidungnya dan sambil tertawa pria itu meninggalkan Gaby di kamar.