Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Dia Istriku


__ADS_3

“Kami gabung dengan mereka,” ujar Jonathan pada pelayan yang berdiri di pintu.


Tanpa menunggu jawaban pelayan atau bertanya pada Maya, Jonathan bergegas menyusul ketiganya dan Maya masih enggan melepas tangannya.


“Kalian mau ngapain ? Kita nggak terima tambahan,” tolak Kendra yang diangguki oleh Gaby.


Tapi Jonathan tidak peduli, ia malah menarik kursi di samping Gaby membuat gadis itu batal duduk dan memilih di samping Kendra.


Akhirnya meja yang disiapkan untuk 4 orang itu terpaksa ditambah hingga cukup untuk 6 orang.


Wajah Jonathan bukan saja berubah tegang, tapi tatapannya terlihat kesal melihat sikap Gaby yang bermanja dan tertawa dengan Kendra.


Seolah Jonathan dan Maya tidak terlihat makan sayu meja, ketiga orang itu berbincang dan tertawa tanpa peduli dengan dua orang yang memaksa duduk di situ.


Maya yang semula merasa di atas angin karena sudah berhasil membuat Gaby sangat kesal berubah jadi kesal sendiri karena sejak awal Jonathan hanya fokus menatap gadis yang persis di depannya.


Jonathan mengepalkan tangannya saat Kendra memaksa membayar semua biaya makan begitu mereka selesai dan berjalan bertiga bersama Mimi dan Gaby dengan posisi istrinya di tengah-tengah.


Bahkan ketiganya tidak berpamitan saat pulang, hanya melambaikan tangan sebelum memisahkan diri dari Maya dan Jonathan.


“Mau kemana ?” Maya menahan lengan Jonathan yang berniat turun eskalator mengikuti Kendra, Mimi dan Gaby.


“Mau menyusul mereka,” sahut Jonathan dengan nada kesal dan tangan Maya pun dihempaskannya dengan sedikit kasar.


“Untuk apa ? Memangnya kamu keberatan kalau Gaby akhirnya mendapat penggantimu ? Bukankah itu lebih baik supaya tidak terlalu menyakitkan bagi Gaby saat ia bercerai darimu dan melihat kita kembali bersama lagi ?


Jonathan menyugar rambutnya dengan wajah memerah karena kesal.


“Aku tahu kamu sengaja ingin membuat Gaby kesal karena dia adalah istriku. Aku menyesal sudah mengakuinya sebagai sepupu di depan ibumu. Sekarang aku yakin dan ingin menegaskan padamu kalau hubungan kita benar-benar sudah berakhir dan tidak mungkin kembali lagi seperti dulu.


Aku akan fokus untuk belajar mencintai Gaby sepenuh hati dan menerima pernikahan kami. Tolong jangan berharap padaku lagi dan carilah pria yang lebih baik, yang setara secara sosial ekonomi denganmu. Aku pergi dulu.”


“Jo, soal kerjasama yang aku sampaikan di telepon bukan bohongan. Sudah lama daddy ingin bekerjasama dengan perusahaan keluarga Gaby. Dan masalah Gaby adalah istrimu, aku sudah bilang sebelumnya kalau aku sudah lama tahu, sejak dia memelukmu di depan rumah.”


“Ya aku tidak lupa kalau saat itu juga kamu langsung menyelidiki siapa Gaby.”


“Apa kamu tahu alasan Gaby datang ke rumahmu sore itu ? Dia baru saja kepergok sedang menggoda kekasih Jihan lalu saat ketahuan Gaby malah mengaku kalau ia mau diperkosa.”


Jonathan menghela nafas lalu menatap Maya dengan wajah dinginnya.


“Apalagi yang kamu ketahui soal Gaby ?”

__ADS_1


“Gaby tidak sebaik yang kamu kira. Apa kamu tidak lihat bagaimana sikapnya pada Kendra, tidak terlihat seperti gadis polos dan lugu. Semula aku tidak langsung percaya begitu saja pada cerita Jihan, tapi saat melihatnya langsung, sepertinya Gaby memang sudah terbiasa untuk merayu laki-laki.”


“Aku tidak peduli dengan pandanganmu soal Gaby. Yang pasti alasan aku memutuskan hubungan kita tidak sepernuhnya disebabkan oleh pernikahanku dengan Gaby, tapi semuanya tentang kita sendiri, tentang kekuranganku dan status sosial kita. Jangan pernah lagi menyalahkan Gaby dalam masalah kita.”


Jonathan enggan melanjutkan perdebatannya dengan Maya dan ia bergegas turun lewat eskalaltor. Ia terus mencoba menghubungi nomor Gaby, tapi semuanya sia-sia dan langsung masuk ke kotak suara.”


Hati Jonathan gelisah saat mendapati hujan deras turun di sore ini. Ia berharap Gaby masih ada di dalam mal atau menemukan tempat berteruh


Jonathan memacu kendaraanya meninggalkan mal sambil mencoba menghubungi Kendra, tapi sahabatnya itu tidak mau menjawab panggilan Jonathan hingga akhirnya ia menyerah.


Hampir 3 jam Jonathan baru sampai di rumah. Lalu lintas Jakarta di sore hari apalagi disertai hujan deras sangat padat.


Jonathan bergegas turun dari mobil begitu sampai di depan rumah. Hujan sudah berhenti. Ia menarik nafas lega saat melihat motor Gaby sudah ada di dalam garasi dalam keadaan basah.


“Gaby sudah lama pulang, Ma ?” tanya Jonathan begitu melihat mama baru saja keluar dari kamarnya.


“Sudah, lagi tidur di kamar mama. Katanya dia tidak suka sendirian saat hujan turun terutama kalau sedang banyak petir, makanya Gaby minta ijin tidur di kamar mama karena tidak tahu jam berapa kamu akan pulang.”


“Aku terjebak macet sejak jam 6 tadi, Ma.”


Mama melirik jam dinding yang ada di dekat teleivisi, sudah jam 9.15.


“Mandilah dulu, biar badanmu lebih segar. Sudah makan ?”


Pikirannya kemana-mana, ada sedikit rasa bersalah karena sempat membiarkan Maya bersikap seperti dulu, saat status mereka sepasang kekasih dan lagi-lagi Gaby melihatnya


Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Jonathan kembali ke kamar Mama untuk membawa Gaby kembali ke kamar.


“Kenapa ?” tanya Mama saat membukakan pintu untuk putranya.


Jonathan sempat mengerutkan dahi karena tidak biasanya mama mengunci pintu kamar. Sejak Jenny permah menemukan mama pingsan di kamar 4 tahun lalu, kedua kakak beradik ini minta mama supaya jangan mengunci kamar.


“Aku mau mengajak Gaby pindah ke atas.”


“Jangan dibangunkan, tidurnya sudah pulas banget.”


“Aku akan menggendongnya ke atas, Ma.”


“Biarkan malam ini Gaby tidur sama Mama. Sepertinya ia sedang merindukan maminya, sejak tadi beberapa kali sempat mengigau memanggil maminya.”


Jonathan sudah siap mendebat dan mencari alasan lagi supaya bisa membawa Gaby ke kamarnya.

__ADS_1


“Sebelumnya kamu juga biasa tidur sendiri, Mama hanya meminjam istrimu satu hari saja.”


“Kalau begitu biarkan aku melihatnya sebentar, Ma.”


“Nathan, mama hanya meminjam istrimu tidak sampai 24 jam, jadi biarkan Gaby istirahat dengan tenang malam ini. Kamu nggak percaya sama mama ?”


“Bukan tidak percaya, tapi aku…”


Mama menutup mulutnya yang sedang menguap.


“Mama udah ngantuk banget, besok aja kamu bertemu istrimu. Selamat malam Nathan.”


Mama langsung menutup pinntu dan menguncinya dari dalam. Jonathan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Sepertinya ia harus bersabar sampai menunggu fajar tiba.


*****


Terlalu lelah dengan banyak pikiran soal hubungannya dengan Gabriela, Jonathan baru bangun setelah mama menghubungi handphonenya berkali-kali.


Jam 5.45.


Seharusnya jam segini Jonathan sudah selesai sarapan dan siap berangkat ke sekolah apalagi sejak membawa mobil.


“Aku berangkat dulu, Ma,” Jonathan mencium pipi mama seperti biasanya.


Hari ini ia memutuskan untuk naik motor ke sekolah, tidak akan keburu kalau tetap membawa mobil seperti biasa.


“Ma,” Jonathan masuk kembali setelah mengeluarkan motor ke halaman.


“Gaby sekolah ? Kok motornya masih ada di garasi ?”


“Tadi pagi Kendra menjemput dan mengantarnya ke sekolah.”


Wajah Jonathan langsung berubah kesal tapi mama tidak bertanya apa-apa bahkan saat putranya itu pamit lagi.


(JONATHAN) Apa maksudmu menjemput dan mengantar Gaby hari ini ? Dia masih istriku dan jangan coba-coba berusaha merebutnya dariku.


Kendra yang masih diam di dalam mobilnya yang diparkir persis di seberang gerbang sekolah Gaby tersenyum sinis membaca pesan dari sahabatnya.


(KENDRA) Aku tidak pernah merebutnya darimu tapi mengambil saat kamu membuangnya dan menganggap Gaby tidak lebih berharga dari Maya.

__ADS_1


Jonathan tidak langsung membaca pesan balasan dari Kendra karena sudah memacu motornya, mengejar waktu supaya tidak terlambat sampai di sekolah.


__ADS_2