Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Istrinya Pak Nathan


__ADS_3

Jonathan baru teringat kalau ia diantar oleh Andin, guru PKN berwajah manis yang masih getol mengejarnya.


“Lupa aku kenalin ke kamu. Ini Bu Andin, rekan guru di sekolah dan Bu Andin, kenalkan ini Gabriela, istri saya yang suka saya ceritakan pada Ibu.”


Andin tersenyum kikuk sekaligus kecewa karena mendapati Gaby begitu sigap datang menemui suaminya yang terjatuh di lapangan saat bertanding futsal dengan tim inti sekolah.


“Andin.”


“Gaby.”


“Mas Nathan hanya patah tangan ? Yang lainnya nggak apa-apa ?”


“Bi, patah tangan aja udah cukup merepotkan apalagi kalau ada tambahan yang lainnya,” sahut Jonathan sambil terkekeh.


“Terus hasil pemeriksaaannya dimana ?”


Lagi-lagi Andin dengan canggung menyerahkan satu tas spunbon yang berisi hasil rontgen dan catatan medis lainnya tentang kondisi Jonathan.


“Di dalamnya juga ada obat yang perlu dikonsumsi Nath… maksud saya Pak Nathan.”


Andin tidak berani menatap lama wajah Gaby yang memasang muka perang.


“Kalau begitu biar saya antar.”


“Nggak usah ! Saya bawa mobil kemari. Terima kasih sudah membawa suami saya ke rumah sakit.”


Suara Gaby yang semakin ketus malah membuat Jonathan makin berbunga-bunga dan tersenyum.


”Terima kasih sudah repot membawa saya kemari Bu Andin. Sampai ketemu besok di sekolah. Kami pamit duluan.”


Hati Gaby makin panas, wajahnya makin ditekuk saat mendengar suara manis Jonathan yang berjanji akan bertemu lagi dengan guru yang kelihatan benar punya hati dengan suaminya itu.


Sampai di depan mobil, Gaby menepis tangan Jonathan dan berjalan ke pintu pengemudi.


“Bi, tangan kiri aku sakit loh, kamu nggak bukain pintu buatku ?”


“Yang patah sebelah doang kan ? Atau mau dibuat patah dua-duanya supaya dibantu masuk ke mobil ?”


Jonathan tersenyum dan akhirnya masuk ke dalam mobil sedikit lebih lambat karena kondisi tangan kirinya yang menggunakan penyangga.


“Kamu kok galak banget sih, Bi ?”


“Bawaan bayi !”


“Jadi dari kecil kamu udah galak begini ? Kok waktu baru nikah, kamu manis banget. Apa…”


“Bawel deh ! Mau diantar kemana ? Ke rumah mama atau tempat Kak Kendra ?”


“Aku harus pulang ke kost-an dulu, Bi, besok anak-anak terima raport jadi nggak mungkin aku nggak datang ke sekolah. Aku jadi walikelas, Bi.”


“Di mana alamatnya ?”


Jonathan merogoh kantong celananya ternyata nihil semua.


“Sepertinya dompet dan handphoneku terbawa Andin. Tadi waktu lagi rontgen semuanya aku titipkan sama dia.”

__ADS_1


Gaby mengomel tidak jelas dan meraih handphonenya lalu menatap Jonathan dengan wajah galak.


“Ooo jadi biasa panggil nama aja ?” sinis Gaby. “Alamat bapak dimana ?”


Jonathan menghela nafas lalu menyebutkan lokasi yang bisa dilacak lewat aplikasi dan tanpa bertanya apa-apa lagi, Gaby melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


“Kamu kok tahu aku dibawa ke rumah sakit ?”


“Nggak perlu orang pintar untuk menjawab pertanyaan Bapak,” ketus Gaby.


“Kok bapak lagi ? Tadi udah panggil Mas Nathan.”


Gaby hanya diam dengan wajah masih cemberut. Ternyata lokasi kost Jonathan cukup dekat dari rumah sakit hingga 15 menit kemudian mobil Gaby sudah berhenti di depannya.


“Kamu mau temani aku malam ini, Bi ? Dengan kondisi tangan begini, aku nggak mungkin bisa ganti baju sendiri.”


“Memangnya boleh ?” tanya Gaby sambil melirik tulisan yang ada di depan pagar.


KOST KHUSUS PRIA


”Boleh. Ibu Atik, pemilik kost sudah tahu kalau aku pria beristri bahkan aku pernah menunjukkan fotomu padanya, jadi nggak masalah kalau kamu nginap malam ini. Kamu bawa baju kayak biasa kan, Bi ?”


Gaby terdiam, Jonathan masih ingat kalau Gaby selalu menyiapkan tas pakaian ganti untuk jaga-jaga kalau harus lembur atau kehujanan.


“Bawa.”


“Parkir mobil kamu di sini nggak apa-apa, nanti aku titip satpam. Tuh kebetulan Bu Atik sama suaminya lagi datang.”


Gaby pun menurut dan mengambil satu tas cadangannya dari dalam bagasi.


“Pantas saja Jojo bangga banget sama istrinya ternyata memang masih imut dan cantik,” puji Bu Atik saat Jonathan mengenalkan Gaby padanya.


Gaby terpaksa bersikap manis dan layaknya seorang istri Jonathan.


“Ada-ada aja mau libur pakai acara musibah begini.”


“Biar diperhatikan terus sama istri, Bu,” sahut Jonathan sambil terkekeh.


Usai berkenalan dan minta ijin, tanpa penolakan Jonathan menggandeng Gaby ke lantai 2, ke kamar yang disewanya 6 bulan ini.


Kamar yang cukup luas dengan satu tempat tidur berukuran 120x200 dan kamar mandi di dalam.


“Lebih besar dari kamar pengantin kita.”


Gaby tidak menyahut. Usai melepaskan sepatu, ia langsung meletakkan tasnya dan duduk di lantai.


“Aku mau mandi dulu, Bi, kotor. Tadi aku jatuh di lapangan pas lagi tanding sama anak-anak futsal, untung retaknya nggak parah, mungkin 2 atau 3 minggu sudah bisa normal.”


Gaby masih diam. Dengan menggunakan bangku kecil, Gaby membantu Jonathan melepas kaos olahraga yang memang kotor di bagian belakangnya.


Lalu tanpa malu-malu tangannya terulur hendak membuka celana olahraga yang dikenakan Jonathan.


“Kamu nggak apa-apa ?”


Gaby memutar bola matanya dan menatap Jonathan dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Jadi Pak Nathan lebih suka kalau si Andin itu tadi yang membantu ?”


“Bukan begitu, Bi, tapi kamu kan…”


“Kenapa selalu saya jadi alasannya ?” ketus Gaby. “Kita udah pernah melakukan lebih dari sekedar lihat-lihatan kan ? Malah…”


Gaby batal melanjutkan ucapannya dan tanpa basa basi langsung menurunkan celana olahraga Jonathan membuat mata pria itu langsung membola.


“Bapak mau saya bantuin mandi atau mandi sendiri ?”


“Kamu beneran mau mandiin aku ? Tentu aja aku nggak nolak !“


Gaby menggerutu dan ia langsung mengambil bangku plastik dan membawanya ke dalam kamar mandi tanpa bak air itu.


“Saya hitung sampai 3 atau….”


Jonathan bergegas masuk dengan wajah bahagia. Ia menurut saat Gaby memberi isyarat supaya Jonathan duduk di bangku plastik.


Tanpa canggung Gaby mulai membersihkan kepala hingga seluruh tubuh Jonathan, membuat pria ini merasa seperti mendapat undian lima milyar. Bahagianya sampai membuat Jonathan lupa berpijak pada tanah.


“Kok bagian itunya nggak sekalian, Bi ?” ledek Jonathan.


“Tunggu sampai tangan Pak Nathan patah dua-duanya.”


“Ya ampun, Bi. Ucapan kamu sama dengan doa seorang istri, Bi.”


“Udah cepetan ! Atau bapak silakan handukkan sendiri.”


Jonathan menurut dan tertawa meihat Gaby menutup matanya saat mengeringkan tubuhnya mulai dari bagian bawah perut sampai ke kaki.


“Bi, kamu kangen banget sama wangi tubuh aku, ya ?” ledek Jonathan saat Gaby langsung berbalik dan menutup wajahnya dengan handuk usai mengeringkan kaki Jonathan.


“Jangan ge-er. Mau saya panggil satpam depan untuk bantuin bapak pakai baju ?”


“Jangan dong ! Kamu rela membiarkan tubuh suami kamu yang seksi ini dilihat orang lain ? Baru kamu seorang yang melihat tubuh seksiku ini saat dewasa loh, Bi.”


“Gombal ! Saya yakin ada perempuan lain yang pernah melihat punya bapak.”


Jonathan mendadak diam, teringat akan kejadian malam itu di hotel.


“Bener kan ? Dasar laki-laki, nggak pernah cukup sama satu perempuan !”


Gaby terus menggerutu namun tangannya tetap membantu Jonathan berpakaian dan lagi-lagi matanya ditutup saat mengenakan pakaian dalam suaminya.


Suasana mendadak hening, tidak ada ledekan Jonathan seperti sebelumnya.


“Tugas saya sudah selesai. Saya nginap di hotel aja, besok pagi saya balik lagi untuk bantu bapak…”


Jonathan menarik Gaby ke dalam pelukannya dan sedikit mengejutkan karena istri kecilnya itu tidak menolak atau memberontak.


“Bisakah malam ini kamu menemani aku di sini ? Aku sangat merindukanmu. Tidak sekalipun aku berniat ingin mengkhianatimu karena aku sangat mencintaimu, Bi.”


Gaby menghela nafas dan dengan hati-hati melepaskan pelukan Jonathan.


“Saya mau mandi dulu.”

__ADS_1


Jonathan tersenyum tipis saat melihat Gaby bergegas masuk kamar mandi sambil membawa tasnya.


Rasanya ia ingin menjadi pria paling egois malam ini karena sebagian dirinya ingin ditemani Gaby dan menikmati kembali wajah yang selalu dirindukannya sampai puas sambil berharap ucapan Kendra tidak akan pernah jadi kenyataan.


__ADS_2