
“Tato dimana Gab ?” tanya Raina sambil cekikikan.
“Iya keren, gue juga mau nih. Boleh share info, Gab ?” timpal Mimi ikut tertawa.
“Elo mau juga kayak gitu, Na. Tuh Bimbim bisa bantuin,” ujar Danu.
“Iihh ogah banget sama cewek galak kayak dia,” sahut Bimbim sambil mencibir ke arah Raina.
“Eh siapa juga yang mau sama gajah-gajahan kayak elo,” ketus Raina sambil melotot.
Para sahabat Gaby, Kendra, Mama dan Jenny sudah mulai menikmati makan malam dengan menu shabu-shabu yang disiapkan oleh tuan rumah.
“Jon, pupus sudah harapan kutunggu jandamu,” ledek Danu.
“Tak tergoyahkan hanya karena tato di leher Gaby, Nu. Sekali kutunggu tetap kutunggu,” sahut Joni sambil mengangkat tangannya memberi semangat.
“Nih !” Jonathan mengangkat kepalan tangannya. “Tinggal pilih bagian tubuh kamu yang mana mau dibuat remuk, patah atau babak belur.”
“Waduh pawangnya Gaby masih galak, Bro. Jadi berasa di kelas lagi nih. Gimana kalau kita kerjasama, Jon ? Peluang menangnya lebih besar kalau dua lawan satu.”
Doni yang diundang juga menyenggol bahu Joni yang duduk di sebelahnya, ikut memanasi Jonathan yang sudah memasang wajah galak.
“Boljug Don, terus kalau kita menang hasilnya gimana ? Bagi dua ?”
Gaby yang sejak tadi cemberut gara-gara dilarang Jonathan menggerai rambutnya mengambil potongan sawi mentah dan melemparkannya pada Joni dan Doni.
“Kayak gue mau aja sama elo berdua !” ketus Gaby sambil melotot.
“Awas bumil ngamuk,” Kendra ikut buka suara.
“Jadi Nathan ini terkenal sebagai guru galak ?” tanya Mama Hani yang langsung diangguki oleh mantan murid-murid putranya.
“Galak, jutek, jaim pula dan kalau di kelas kami nggak pernah absen berantem sama Gaby, Tan,” sahut Mimi melirik sahabat dan mantan gurunya.
“Gara-gara dikasih gelar guru paling cakep satu sekolah dan sering dikejar cewek-cewek idola , Mas Nathan songong banget, Ma. Kalau ngajar gayanya udah kayak cowok paling cakep sedunia,”
“Nyatanya kamu jatuh cinta juga kan sama aku sampai maksa minta dinikahin ?” Jonathan menoel dagu Gaby yang masih cemberut.
“Terpaksa !” ketus Gaby.
“Terpaksa tapi hobi di tato,” ledek Raina disambut gelak tawa lainnya.
“Ini juga dipaksa !” sahut Gaby masih dengan nada ketus.
“Dipaksa sampai melendung,” ledek Kendra.
Gaby langsung melotot membuat Jonathan makin gemas dan merangkul bahu Gaby lalu tanpa malu-malu mencium pipi istrinya di depan banyak orang. Mata Gaby membola, menatap Jonathan yang masih tertawa.
__ADS_1
“Mereka semua tuh iri sama kamu, Sayang. Jangankan nikah dan jadi calon ibu kayak kamu, punya pacar aja belum. Jadi biarkan saja mereka, Bi.”
“Eh gue udah nggak jones ya !” protes Kendra dan tangannya langsung merangkul bahu Mimi.
“Makanya kamu jangan sebel-sebel sama Bimbim loh Raina, nanti kejadian kayak Gaby dan Kak Nathan dari benci jadi cinta,” Jenny yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya ikut buat suara.
“Duh amit-amit !” Raina dan Bimbim saling menatap dan tangan mereka mengetuk-ngetuk meja.
“Tuh kan jodoh,” timpal Mama Hani sambil tertawa.
Obrolan masih berlanjut dan terasa akrab sambil menunggu malam pergantian tahun.
Gaby yang mendengar suara bel berjalan keluar sambil berpikir siapa tamu yang datang di jam 9 begini ? Tidak ada orang lain lagi yang mereka undang malam ini.
“Om Harry ?”
Mata Gaby membola saat melihat pria paruh baya itu berdiri di balik gerbang yang baru saja dibukanya.
*****
“Daddy kemana Mom ?” tanya Maya yang baru saja turun dari lantai 2 dan mendapati mommy Anita sedang duduk di meja makan.
Maya menghela nafas saat melihat mommy Anita mengambil tisu dan mengusap sudut matanya.
“Kamu mau makan sekarang ?”
“Handphone daddy-mu tidak aktif dan Martin mengabarkan kalau dia ada acara dengan teman-temannya.”
“Lalu untuk siapa Mommy menyediakan semua ini ?”
“Setiap tahun mommy berharap daddy akan memaafkan mommy dan membuka hatinya, tapi hubungan kami tidak ada yang berubah, tetap datar dan hambar. Kebahagiaan, keharmonisan yang dilihat orang hanyalah pencitraan tapi mommy tetap menghargai daddy yang bertahan di sisi mommy karena daddy-mu tidak ingin membuat mommy dan keluarga malu.”
“Mungkin juga karena daddy juga takut kehilangan semua yang didapat kalau menceraikan mommy.”
“Maya, terus terang mommy sedih melihat hidupmu saat ini. Kamu punya segalanya tapi kamu tidak pernah bahagia dan selalu merasa kekurangan.”
“Mom…”
Suara tangisan bayi memecah keheningan di rumah besar itu. Mommy Anita menatap putrinya yang masih bergeming.
“Tanyakan pada dirimu kebahagiaan apa yang ingin kamu cari. Jangan sampai kamu menjalani hidup seperti mommy karena kamu lebih beruntung, Leo sangat mencintaimu meski kamu menyakitinya berkali-kali.”
Mommy Anita beranjak bangun menuju kamar bayi yang ada di dekat kamarnya. Meski Maya tidak tahu siapa ayah kandung bayi itu bagi mommy Anita, Gavra, adalah cucu kandungnya.
Maya masih duduk di meja makan sambil mengutak-atik handphonenya. Semua pesan yang dikirim untuk Leo masih centang 1 berarti nomor Maya masih diblokir. Nomor daddy Harry juga tidak bisa dihubungi, langsung dijawab mesin otomatis.
Maya mengedarkan pandangannya, teringat akan masa-masa bahagia yang pernah dilewatinya saat malam tahun baru bersama mommy, daddy dan kedua kakak kandungnya. Rasanya begitu cepat waktu berlalu dan Maya tidak bisa mengulangnya kembali.
__ADS_1
Tangisan bayi yang semakin kencang membuyarkan lamunan indah Maya. Ia menoleh saat mendengar pintu kamar Gavra dibuka dan bayi itu sudah berada dalam gendongan Mommy Anita.
“Maya cepat siap-siap, badan Gavra panas tinggi, kita bawa ke rumah sakit sekarang.”
Maya berdiri namun tidak bergegas kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
“Cepat Maya !” bentak mommy Anita dengan mata melotot.
Maya terkejut karena baru pertama kali mommy Anita membentaknya begitu keras dan menatapnya dengan tajam.
”Iii..iya, Mom. Aku akan siap-siap.”
“Cepat, kamu akan sangat menyesal kalau nyawa putramu tidak bisa tertolong.”
***
“Senang rasanya mendengar kamu sedang hamil,” ujar Om Harry sambil mengusap kepala Gaby.
“Kemampuan Anna memang tidak pernah diragukan, ia sudah memilihkan suami yang tepat untukmu. Om sangat bahagia melihat kalian begitu saling mencintai.”
Gaby dan Jonathan terpaksa meninggalkan tamu mereka dan menemani Om Harry makan malam. Mama Hani ikut duduk juga di meja makan.
“Anna itu seperti cenayang. Aku sendiri sering ngeri mendengar dia bisa menerawang masa depan,” ujar mama Hani sambil tertawa.
“Dia beruntung memiliki sahabat sebaikmu, Han.”
“Kami sama-sama beruntung karena dipertemukan dan bisa menjadi sahabat.”
“Bagaimana kabar Maya, Om ?” tanya Gaby.
“Entahlah, sudah seminggu ini Om tinggal di apartemen dan belum berminat untuk berkomunikasi dengan mereka.”
Suasana hening dan sedikit canggung karena ketiga orang yang ada di meja makan bisa merasakan kegalauan dan kesedihan hati Om Harry.
“Sepertinya bukan waktu yang tepat untuk melow,” Om Harry menepuk pahanya dan beranjak bangun.
“Sebentar lagi tahun akan berganti dan banyak kebahagiaan yang bisa Om rasakan di rumah ini jadi lupakan soal kepahitan hidup yang dalam hitunhan menit akan jadi masa lalu.”
Gaby mengangguk dan ikut beranjak bangun sambil tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya pada Om Harry.
“Sepertinya Om datang ke tempat yang tepat. Teman-teman Gaby dan Mas Nathan paling pintar membuat hati yang galau jadi tambah kacau karena nggak bisa berhenti tertawa,” ujar Gaby sambil tertawa.
Kedua tangannya memegang lengan Om Harry seperti seorang anak yang sedang bermanja pada ayahnya sementara Jonathan membantu mama Hani membereskan meja makan.
“Sekarang kamu paham kenapa mami Anna memilihmu ? Gaby hanya terlihat kuat padahal ia sangat rapuh. Gaby membutuhkan orang yang lebih dewasa untuk membuatnya nyaman dan kuat untuk meneruskan hidupnya yang penuh dengan kepahitan.”
“Iya Ma, aku juga bersyukur karena berkat doa Mama aku bisa membuka mata hatiku dan lepas dari Maya. Aku sudah mencintai Gaby dan tidak pernah lagi menyesali perjodohan kami. Terima kasih, Ma.”
__ADS_1
Jonathan merangkul bahu Mama Hani yang tersenyum bahagia.