
“Jangan suka ikut campur urusan orang kalau tidak tahu masalahnya !”
Dengan wajah ditekuk, bibir mengerucut dan tatapan siap perang, Gaby mengomeli Joni yang sedang berbincang dengan Danu dan Bimbim di mejanya. Satu benda kecil dihempaskan dengan kasar persis di depan Joni.
“Gab..”
Bukan hanya ketiga cowok itu terkejut dengan sikap Gaby, beberapa teman mereka yang ada dekat situ ikut menoleh.
Danu langsung menarik tangan Gaby keluar kelas, memberi isyarat pada Joni dan Bimbim untuk ikut keluar kelas. Masih ada waktu 15 menit sebelum bel masuk.
Mimi dan Raina yang baru tiba saling menatap dan menyusul ketiga cowok itu yang membawa Gaby ke lorong di ujung lantai 3.
“Kita semua berharap elo nggak berpisah sama Pak Nathan. Ini semua hanya salah paham, Pak Nathan nggak pernah mengkhianati elo,” ujar Danu.
“Pak Nathan cinta banget sama elo, Gab. Semua ini demi ketenangan elo dan perusahaan pun aman,” timpal Mimi.
Gaby menatap wajah temannya satu persatu dengan tatapan kesal, beberapa kali ia menghela nafas untuk menahan emosinya.
“Gue hargai perhatian kalian tapi tolong hargai privasi gue, please. Ada masalah yang nggak bisa gue ceritain sama elo pada sekarang ini. Gue butuh waktu sendiri dan sekarang semuanya berantakan gara-gara Pak Nathan udah tahu dimana gue tinggal,” Gaby menatap Joni dengan bibir mengerucut.
“Sorry, Gab,” ujar Joni sambil tertawa canggung.
“Udah kejadian, nggak bisa diperbaiki tapi jangan diulangi lagi,” sahut Gaby sambil tersenyum tipis.
“Jangan pindah tempat tinggal karena udah ketahuan Pak Nathan apalagi sembunyi lagi, Gab,” ujar Raina.
“Gue butuh ketenangan untuk berpikir. Kalau tinggal serumah biar nggak sekamar sama Pak Nathan, emosi gue naik turun kayak roller coaster.”
“Ada mertua elo yang sedih banget karena keputusan elo, Gab. Di depan gue, Om Sofian, Kak Kendra dan mertua elo, Pak Nathan berani bersumpah kalau dia nggak lebih dari pegangan tangan sama Bu Maya. Pak Nathan selalu menghindar kontak fisik lebih dari itu karena dia ingat kalau punya istri di rumah,” ujar Mimi.
“Sekali ini tolong kalian percaya dan menghargai keputusan gue,” tegas Gaby yang tetap bersikeras dengan keputusannya.
Gadis itu pun meninggalkan kelima sahabatnya karena tidak ingin memperpanjang perdebatan.
***
Kelima sahabat Gaby hanya bisa menghela nafas saat gadis itu bergegas keluar sendiri meninggalkan kelas. Mereka tidak mau memaksa Gaby yang masih dalam kondisi bad mood.
__ADS_1
20 menit setelahnya, Gaby sudah sampai di depan rumah yang ditinggalkannya sejak 10 hari yang lalu. Kalau bukan Jenny yang minta tolong, rasanya Gaby malas datang karena enggan bertemu dengan Jonathan yang ternyata siang ini tidak ada di rumah.
“Mama,” Gaby masuk ke ruang tengah dan melongok ke dapur, tidak ada tanda-tanda Mama Hani di sana.
Gaby langsung melangkah ke kamar Mama dan tanpa mengetuk pintu, perlahan Gaby membuka pintu takut membangunkan Mama yang mungkin sedag tidur.
Alis Gaby menaut saat melihat punggung mama bergerak naik turun dengan posisi membelakangi pintu sedang duduk di pinggir ranjang. Ada rasa bersalah dalam hati Gaby karena tahu kalau mama sedang menangis.
“Ma,” sapa Gaby dengan suara pelan .
“Kamu kemari, sayang ?” Mama Hani menghapus air matanya sebelum bertatapan dengan Gaby.
“Maaf Gaby nggak ketuk pintu, takut Mama lagi tidur. Gaby masih pegang kunci rumah, jadi nggak ngebel juga.”
“Nggak apa-apa, setiap hari Mama selalu menunggu kamu pulang. Sampai kapan pun kamu adalah bagian dari rumah ini jadi pintu rumah akan selalu terbuka untukmu. Rumah ini sepi sejak kamu pergi.”
Gaby langsung memeluk Mama Hani yang kembali meneteskan air mata.
“Maafkan Gaby, Ma. Maaf Gaby sudah membuat Mama kecewa.”
“Mama mengerti perasaanmu. Mama sudah marahin Nathan karena seenaknya membuat sandiwara nggak melibatkan kamu sebagai istrinya. Gaby balik tinggal di sini lagi, ya , tidurnya sama Mama aja sampai kamu bisa memaafkan Nathan.”
”Mama sudah makan ? Gaby masak dulu buat kita makan siang. Kak Jenny bilang Mama lagi sakit jadi nggak boleh terlambat makan.
Gaby enggan membahas soal itu dan Mama langsung mengajak Gaby keluar dengan wajah sedikit lebih cerah.
“Nggak usah masak, di kulkas banyak makanan. Dua hari sekali Mama masak makanan kesukaan kamu, berharap siapa tahu kamu pulang atau paling tidak menginap semalam dua malam di sini.”
Hati Gaby makin terenyuh saat membuka kulkas dan melihat banyak makanan tertata rapi dalam kotak penyimpanan berbahan kaca.
Gaby mengeluarkan salah satunya, semur daging plus tahu dan kentang kesukaan Gaby. Di meja makan sendiri sudah ada sayur tauge dan bakwan goreng.
“Mama duduk aja, biar Gaby yang siapin semua.”
Mama mengangguk sambil tersenyum, rasanya bahagia melihat menantunya ada di rumah lagi karena Gaby mampu membuat suasana rumah selalu ramai meski sesekali karena perdebatannya dengan Jonathan.
“Terima kasih sudah mau datang,” bisik Jonathan dari belakang membuat Gaby langsung bergeming di depan kompor.
__ADS_1
“Gab, makan yuk !” ajak Mama dari meja makan.
Gaby bingung dengan posisinya karena Jonathan berdiri persis di belakangnya dan Gaby yakin begitu ia berputar sudah pasti wajahnya menempel di dada Jonathan.
“Gaby,” panggil Mama sekali lagi
.”Eh iya, Ma. Bapak bisa geser sedikit, saya susah bergerak.”
“Masih bandel panggil saya Bapak ?”
Gaby memutar bola matanya dengan wajah kesal tapi tidak ada pilihan kalau mau menyuruh pria di belakangnya bergeser.
“Mas Nathan bisa geser sedikit ? Saya susah mau begerak.”
Jonathan tertawa pelan dan menggeser posisinya hingga Gaby bisa lebih leluasa membalikkan badan, namun tidak disangka Jonathan langsung memeluknya. Memalukan ! Wajah Gaby langsung merona karena yakin kalau Mama pasti melihat kelakuan putranya.
“Tersenyumlah, biarkan Mama senang dan tenang melihat kamu mungkin akan memaafkanku,” bisik Jonathan.
Dasar pria kurang ajar ! Selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, gerutu Gaby dengan emosi tingkat tinggi.
“Pelukannya dilanjutkan nanti lagi, sekarang makan dulu,” ujar Mama Hani sambil tertawa pelan membuat wajah Gaby kembali memerah.
Suasana makan siang terasa canggung bagi Gaby karena kehadiran Jonathan di tengah-tengah mereka. Konspirasi yang menyebalkan ! Jonathan pasti tahu kedatangan Gaby dari Jenny karena semalam Gaby sudah berjanji pada adik iparnya kalau ia akan menjenguk mama Hani sepulang sekolah.
“Kamu bisa kan membantu Gaby membawa kembali barang-barangnya kemari ?” Jonathan langsung mengangguk.
Pertanyaan mama Hani membuat mata Gaby membola dan tersedak dengan makanan yang sedang dikunyahnya. Seingat Gaby, tidak ada kalimat yang menyatakan kalau ia akan kembali ke rumah ini.
“Pelan-pelan makannya,” Jonathan mengambilkan gelas air putih dan tangan lainnya menepuk-nepuk punggung Gaby.
“Maaf Ma, Gaby…”
“Kamu tidur sama Mama dan tenang saja Mama nggak akan gampang jatuh kasihan dengan bujuk rayu Nathan. Dia nggak boleh tidur sama kamu sampai hatimu benar-benar memaafkannya.”
Gaby tertawa canggung lalu mencebik saat melirik Jonathan yang sedang menatapnya sambil senyum-senyum.
“Turuti saja permintaan Mama, Sayang,” ujar Jonathan sambil mengusap-usap punggung Gaby yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Gaby langsung menoleh dan melotot selebar-lebarnya, menatap sebal Jonathan yang mengedipkan sebelah mata dengan senyum bahagia.