
Jonathan menghentikan mobilnya di lobby kantor dan menyerahkan kunci pada petugas sekuriti yang ada di situ.
Bergegas ia ke ruang meeting yang ada lantai 5 karena Kendra sudah menunggunya di sana.
“Leo ?” mata Jonathan membola saat melihat sosok pria yang ditemuinya di rumah keluarga Maya.
“Kita bertemu lagi Jonathan,” Leo tersenyum tipis dan tetap duduk di kursinya.
“Kalian udah saling kenal ?” tanya Kendra dengan alis menaut.
“Jangan bilang kedatangan anda kemari untuk mengaku kalau andalah otak di balik pembakaran gudang. Begitu cintanya anda sama Maya sampai mau menggantikan posisi Martin ?” tanya Jonathan sambil tersenyum tipis.
”Martin tidak tahu apapun persoalan kebakaran. Akulah yang merencanakan semuanya karena aku sangat membencimu. Kamu sudah membuat Maya sakit hati dan menangisi laki-laki egois sepertimu.”
Jonathan malah tertawa pelan, tidak menunjukkan emosi sedikit pun malahan Kendra yang langsung geram karena tahu seperti apa sosok Maya.
“Bukannya Maya memang menggunakan air mata untuk meluluhkan hati orang ? Entah seberapa sering dia menangis untuk membuat orang mengalah dan menuruti kemauannya. Orang bilang air mata buaya,” ujar Jonathan sambil tertawa pelan membuat Leo makin emosi.
Kendra menyela, memperlihatkan satu pesan masuk dari resepsionis dan Jonathan langsung mengangguk mengiyakan.
“Jemput dia di depan lift,” ujar Jonathan dengan suara pelan. Kendra langsung beranjak bangun dan meninggalkan ruang rapat.
“Jangan lagi memanfaatkan Maya untuk tujuan apapun karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya berkali-kali,” tegas Leo.
“Seharusnya saya yang marah dan kecewa karena Maya menerima kembali cinta saya padahal dia sudah tidur dengan laki-laki lain dan saya yakin kalau anda bukan yang pertama baginya.”
“Jangan menghina Maya lagi !” bentak Leo sampai menggebrak meja.
“Saya sudah sering mendengarnya sejak lama, tapi seperti anda, saya menyangkalnya dan menganggap Maya bukanlah wanita semcam itu. Sayangnya sikap Maya…”
“Cukup !” Leo kembali menggebrak meja sambil beranjak bangun.
Tepat saat itu pintu ruangan kembali terbuka dan bukan hanya Kendra yang muncul tapi seorang pria lain berdiri di belakangnya.
“Martin ?”
“Leo ? Elo ngapain ada di sini ?”
Jonathan tersenyum tipis, rasanya lucu karena ia yakin kedua pria di depannya ini akan berdebat soal siapa yang akan menjadi otak pelaku pembakaran.
__ADS_1
“Jangan dengarkan pengakuan dia karena semuanya itu hanya untuk menarik simpati Maya,” ujar Martin sambil menatap Jonathan yang mengangguk.
“Tapi memang gue yang memberikan ide dan mengeksekusi rencana kita,” tegas Leo.
Kendra menggelengkan kepala dengan dahi berkerut melihat perdebatan yang membuang-buang waktu.
“Maaf kalau saya menyela, tapi saya yakin kalau maksud kedatangan anda berdua kemari bukan untuk membahas siapa otak pelaku pembakaran. Masalah ini sudah kami serahkan pada pihak yang berwajib, jadi biar mereka yang menentukan siapa pelakunya.” Martin dan Leo sama-sama menatap Jonathan.
“Aku ingin bicara denganmu, empat mata,” tegas Martin menatap Jonathan dengan wajah datar.
“Martin, elo…” Martin hanya melirik Leo sedangkan Jonathan memberi isyarat pada Kendra untuk mengajak Leo keluar.
“Maya positif hamil dan Leo belum tahu soal ini,” ujar Martin saat mereka tinggal berdua di dalam ruangan.
“Jadi Leo otak pelakunya ?”
“Gue nggak mau keponakan gue lahir waktu ayahnya di penjara.”
“Bukan saya yang memutuskan siapa yang bersalah, jadi saya tidak bisa menjawab permintaan anda. Kita sama-sama orang bisnis jadi anda pasti mengerti kalau kerugian yang harus ditanggung bukan hanya dari segi materi saja.”
Martin diam sejenak, raut wajahnya terlihat kusut dan sedang dilema dengan situasi yang dihadapinya. Beberapa kali terlihat ia menghela nafas.
“Aku minta tolong padamu,” ujar Martin dengan suara pelan.
“Semoga Maya bisa berubah setelah hamil dan lebih menghargai orang-orang yang sudah rela berkorban demi kebahagiaannya. Tapi untuk menentukan siapa yang bertanggungjawab, maaf saya tidak bisa memenuhi permintaan anda. Apalagi saya yakin kalau anda juga tahu kalau perusahaan ini sepenuhnya milik istri saya, jadi semua keputusan saya harus dibicarakan dengan banyak pihak terutama istri saya.”
Martin terdiam sambil mengetuk jari jemarinya di atas meja dan beberapa kali menghela nafas berat.
*****
Gaby baru saja kembali dari supermarket yang ada di seberang apartemen. Hidungnya mencium bau parfum yang biasa digunakan oleh Jonathan.
”Nggak boleh ! Nggak boleh !” ujar Gaby pada dirinya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
Ia langsung ke dapur untuk merapikan belanjaannya, matanya berkerut saat melihat ada botol air mineral dingin di atas meja makan.
Jantung Gaby langsung berdebar karena yakin kalau ada orang masuk ke dalam apartemennya. Ia mencari alat di dapur yang bisa digunakan untuk melindungi dirinya.
“Pak Nathan ?” matanya langsung membelalak saat melihat sosok pria yang dihindarinya tengah berbaring di sofa depan televisi.
__ADS_1
Jonathan yang sempat tertidur langsung terlonjak bangun dan mengerjapkan matanya lalu memijat peipisnya karena sedikit pusing akibat terkejut mendengar pekikan Gaby.
“Bapak ngapain di sini ? Darimana Bapak bisa tahu tempat tinggal saya dan bisa masuk kemari ?”
“Tanyanya satu-satu dong, Bi. Baru kali ini kamu bangunin aku pakai acara teriak begitu.”
“Sekarang Bapak keluar dari sini ! Kedatangan Pak Nathan sungguh-sungguh tidak diharapkan di sini.”
Gaby menarik lengan Jonathan namun bukannya berdiri, pria itu balik menarik Gaby hingga keduanya saling berpelukan di atas sofa.
“Lepasin nggak !” Gaby mencoba mendorong tubuh Jonathan yang mengukungnya.
“Bapak sudah melanggar aturan karena berani masuk ke apartemen orang tanpa ijin !” omel Gaby sambil terus berusaha menjauhkan Jonathan dari atas tubuhnya.
“Tidak ada suami yang dianggap melanggar saat masuk ke apartemen istri SAH-nya,” tegas Jonathan sambil tersenyum manis membuat Gaby memutar bola matanya dengan wajah sebal.
“Dan suamimu ini ingin menagih janjinya,” bisik Jonathan sambil meniup telinga Gaby.
“Bapak menjauh dari saya sekarang atau saya akan membenci Bapak seumur hidup,” ancam Gaby yang kali ini tidak lagi memberontak.
“Aku akan bangun setelah menghukummu karena masih memanggil suaminya sendiri Bapak !”
“Berani mencium saya jangan harap saya tidak akan memaafkan bapak seumur hidup !”
Jonathan tersenyum tipis dan beranjak bangun lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Gaby yang bergegas bangun. Keduanya sempat terdiam dalam suasana canggung.
“Jangan bilang kalau Pak Nathan menyuruh orang untuk membuntuti saya.”
“Ralat, bukan menyuruh orang tapi aku sendirilah yang membuntuti kamu karena aku sangat khawatir kamu menghilang dari semua orang selama 5 hari kemarin. Apartemen siapa ini ? Jangan bilang milik mantan pacarmu,” ujar Jonathan sambil tertawa getir.
Gaby masih diam sambil memainkan kedua jemarinya dengan wajah tertunduk. Jonathan melirik istrinya sambil tersenyum tipis.
”Maaf kalau aku sudah membuatmu sakit hati, Bi. Aku benar-benar hanya memanfaatkan Maya untuk bertemu dengan ayahnya termasuk sandiwara di restoran bertujuan untuk membuatnya semakin percaya padaku. Aku yang membayar orang untuk mengambil foto kami dan mengirimkannya padamu. Semuanya aku lakukan karena aku ingin Maya berhenti menganggu kita, mengacaukan perusahaan dan melepaskan aku dari obsesinya, bukan cinta. Aku sadar kalau sudah melakukan hal gila karena tidak melibatkanmu tapi sungguh, Bi, aku mencintaimu.”
Jonathan sedikit lega saat Gaby tidak menepiskan jemarinya yang menggenggam jemari gadis itu meski Gaby masih terdiam dan enggan menatap Jonathan.
Suasana kembali hening dalam suasana canggung meskipun kedua jemari mereka masih saling menggenggam.
“Apapun alasan Bapak, keputusan saya tidak berubah,” tegas Gaby sambil beranjak bangun dan melepaskan genggaman Jonathan.
__ADS_1
“Tolong tinggalkan tempat ini sekarang juga karena Bapak benar-benar membuat saya tidak nyaman.”
Jonathan menghela nafas saat mendengar Gaby membuka pintu. Ia pun beranjak bangun dan melihat gadis itu sudah menunggu di dekat pintu yang terbuka.