Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Sakit


__ADS_3

“Kalian mau kemana ?” tanya Jonathan dengan suara galak.


Sudah waktunya ia mengajar di kelas XII IPA-2 di 2 jam terakhir, tapi kedua murid kelas itu malah berjalan keluar kelas.


“Maaf, Pak. Emergency !” Mimi hanya berhenti sejenak sambil menoleh dan mengangkat tangannya sedangkan Gaby sudah duluan menuruni tangga.


Sejak semalam, Jonathan belum bicara dengan istrinya. Setelah mama melarangnya melihat Gaby, sejak pagi gadis itu selalu menghindari Jonathan.


“Kenapa Gaby dan Mimi malah keluar kelas ?” tanya Jonathan saat masuk kelas dan mendapati Danu serta Riana ada di depan papan tulis.


Riana memperlihatkan tisu yang dipakainya untuk membersihkan lantai tanpa menjawab apapun.


“Darah siapa ?”


“Gaby mimisan, Pak. Saya yang minta Mimi menemaninya ke UKS. Maaf kalau saya tidak minta ijin Bapak dulu,” ujar Danu menjelaskan.


“Kalau begitu bagikan latihan soal ini. Saya lihat kondisi Gaby dulu.”


Jonathan langsung menyerahkan satu plastik putih yang berisi fotokopian latihan soal dan bergegas keluar kelas menuju UKS yang ada di lantai 1.


Beberapa murid menautkan alis, bingung dengan reaksi Jonathan pada teman mereka. Tidak biasanya seorang guru sampai sepanik itu saat mendengar muridnya sakit.


Sampai di depan ruang UKS, Jonathan langsung membuka pintu dan melihat Gaby sedang duduk di atas tempat tidur.


“Bagaimana keadaan Gaby, Bu Irma ?” tanya Jonathan langsung berlutut di depan Gaby.


Gaby masih menutupi hidungnya dengan tisu. Wajahnya memerah, saat Jonathan menyentuh tangannya, suhu tubuh Gaby terasa panas.


”Sudah lebih baik, Pak Nathan. Sepertinya karena demamnya cukup tinggi, tadi saya ukur di 39.1 derajat. Tapi Gaby luar biasa karena masih cukup kuat untuk bisa sampai kemari. Sudah saya beri obay penurun panas juga,” sahut Bu Irma, penanggungjawab UKS.


“Tolong kamu kembali ke kelas dan ambilkan tas Gaby sekalian minta ijin guru piket. Saya akan bawa Gaby ke rumah sakit sekarang,” pinta Jonathan.


“Nggak usah, Pak. Saya tidur di UKS dulu, nanti juga sembuh,” Gaby menggeleng dan berusaha melepaskan tangan Jonathan yang menggenggam jemarinya.


“Nggak ada penolakan ! Kamu harus nurutt ! Sebentar saya ijin sama Pak Liman dulu sekalian ambil tas.”


Gaby tidak bisa banyak melawan, tubuhnya lemas sejak pagi dan matanya berair karena panas. Sebetulnya sudah sejak semalam badannya demam dan karena hari ini ada 2 ulangan, Gaby memaksa masuk sekolah meski mama sudah melarangnya.


Saat bel pergantian pelajaran berbunyi, Jonathan kembali ke UKS dan melihat Mimi sedang menemani sahabatnya. Tas sekolah Gaby sudah ada di atas kursi di depan meja Bu Irma.

__ADS_1


“Terima kasih bantuannya, Bu Irma. Saya antar Gaby pulang dulu.”


Tanpa sungkan Jonathan langsung menggendong Gaby yang masih tertidur pulas karena pengaruh obat.


Sebuah mobil sudah menunggu di depan gerbang, mobil yang pernah menjemput Gaby dan Jonathan saat papi dikabarkan masuk rumah sakit.


Mimi yang ikut membawakan tas sekoah Gaby, mengetuk jendela sebelum mobil bergerak maju.


“Pak Nathan, di dunia ini, Gaby hanya punya bapak sebagai keluarga terdekatnya. Dia bahagia karena bisa memiliki ibu dan kakak perempuan tapi jarang menyebut bapak dalam cerita bahagianya. Saya tahu bukan karena Gaby tidak peduli tapi dia takut memasukkan nama bapak dalam catatan hidupnya karena Pak Nathan selalu menekankan kalau pernikahan ini hanya sekedar kewajiban di atas kertas.


Kemarin saat melihat bagaimana Gaby kecewa untuk kedua kalinya, saya sudah bicara pada orangtua saya. Mereka bersedia memberikan tempat tinggal sementara untuk Gaby sampai kami lulus SMA.”


Jonathan menghela nafas dan tersenyum tipis.


“Terima kasih kamu atas semua perhatianmu, Mimi, tidak salah Gaby memilihmu sebagai sahabatnya. Saat ini saya belum bisa menjanjikan kebahagiaan yang Gaby impikan, tapi satu hal yang saya bisa pastikan pada kamu dan semua orang kalau Gaby tidak membutuhkan tempat lain kecuali di sisi saya. Dia istri saya dan sampai maut menjemput, Gaby akan selalu menjadi istri saya, bukan karena perjodohan dan wasiat tapi karena saya akan belajar menjadi suami yang baik untuknya.”


“Tolong jangan sakiti Gaby karena cinta bapak yang mendua.”


“Saya akan melakukan yang terbaik untuk Gaby,” sahut Jonathan sambil tersenyum.


***


“Bapak bawa saya kemana ?” tanya Gaby yang membuka matanya saat mobil berhenti di lobby rumah sakit.


“Nggak usah, sekarang udah berhenti mimisannya. Lagipula nggak sering banget, Mimi aja yang lebay. Udah kita pulang aja.”


Jonathan mengabaikan permintaan Gaby dan turun dari mobil.


“Kamu mau saya gendong atau pakai kursi roda ?”


“Saya masih kuat jalan,” Gaby keluar dari mobil dan menolak saat perawat memintanya duduk di atas kursi roda.


“Maaf istri saya memang manja, Suster, maunya digendong sama suami.”


Wajah Gaby yang masih agak merah tambah merona saat Jonathan malah menggendongnya. Dua orang perawat yang menunggu mereka hanya mengangguk sambil senyum-senyum.


Jonathan sedang mengabarkan mama sambil menunggu Gaby menjalankan sejumlah pemeriksaan di area ruang tunggu yang ada di lantai 2.


Dahinya berkerut saat melihat Om Sofian datang bersama Kendra. Entah mengapa perasaannya kirang nyaman sejak perbincangan mereka kemarin dan tahu kalalu tadi pagi Gaby berangkat ke sekolah bersama Kendra.

__ADS_1


“Bisa pas banget Kendra ada di kantor, makanya Om ajak sekalian kemari. Bagaimana kondisi Gaby, Nathan ?”


“Badannya masih demam dan dokter belum memberi tambahan parasetamol. Rencananya nanti setelah di kamar rawat inap.”


“Om mau ketemu dokter sebentar, tinggal dulu, ya.”


Kendra dan Jonathan sama-sama mengangguk lalu keduanya duduk dengan berjarak 2 kursi.


“Buat apa elo datang kemari ? Belum cukup tadi pagi mengantar istri gue ke sekolah tanpa ijin ?”


“Masih perlu ijin ?” sahut Kendra sambil tersenyum sinis.


“Kita sudah bersahabat lama, Ken dan di luar sana masih banyak perempuan lain yang bisa elo kejar selain istri gue ?”


”Kenapa rasanya aneh mendengar lo makin sering mengatakan Gaby adalah istri lo ?”


“Karena Gaby memang istri gue!” tegas Jonathan dengan suara meninggi. Lagi-lagi Kendra hanya tertawa sinis.


”Gaby memang masih anak-anak tapi dia punya hak untuk menentukan pilihan hidupnya, jangan memaksa atau mengancamnya dengan dalih perusahaan. Gue yakin kalau Om Hendri sudah melihat kalau elo nggak akan pernah bisa mencintai putrinya, dan gue tahu kalau Om Hendri sudah mempersiapkan pilihan kedua untuk Gaby. Jadi jangan ragu untuk melepaskan Gaby dan kembali ke dalam pelukan Maya. Gue yang akan mengambil alih semuanya.”


“Jangan harap elo…”


“Kak Kendra ?” Gaby yang sedang didorong di atas kursi roda terlihat sumringah saat melihat sosok Kendra duduk di samping suaminya.


“Sudah lama ? Datang sendiri ?”


Jonathan mengepalkan tangannya di samping dan berusaha tersenyum meskipun Gaby mengabaikannya.


“Pertanyaannya borongan , Gab ? Program akhir pekan beli 2 gratis 1 ?” ledek Kendra sambil tertawa.


“Bisa aja Kak Kendra,” sahut Gaby sambil tertawa.


Wajahnya masih terlihat lemas, tapi mendengarnya tertawa lepas bersama Kendra membuat hati Jonathan tercubit, sakit.


“Istri saya perlu pemeriksaan apa lagi, Sus ?”


Jonathan yang sudah tidak tahan dengan sikap Kendra dan Gaby langsung berdiri dan menghampiri perawat yang berdiri di belakang kursi roda.


“Mau saya antar ke kamar di lantai 5, Pak.”

__ADS_1


“Biar saya yang dorong kursi rodanya.”


Gaby hanya tersenyum tipis saat melihat Kendra berdecih dan mengangkat satu sudut bibirnya. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibir Gaby saat Jonathan mendorongnya masuk ke dalam lift.


__ADS_2