Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Yang Pertama


__ADS_3

Jam 10 pagi Jonathan dan Gaby tiba di kantor polisi. Bukan hanya Kendra yang sudah menunggu mereka tapi 3 orang kuasa hukum dari perusahaan ikut datang juga.


“Kebeneran banget kamu datang, Gab. Perusahaan sudah melaporkan staf divisi hukum yang membocorkan dokumen permohonan cerai kalian. Namanya Hasbi, statusnya masih karyawan kontrak di perusahaan.”


“Berarti Jihan akan dipanggil juga ?”


“Kemungkinan besar begitu karena Jihan adalah penerima dokumennya.”


“Terus Gaby harus ngapain ?”


“Kamu kan korbannya jadi polisi akan mengajukan pertanyaan sama kamu,” sahut Kendra.


“Gue nggak kasih Gaby ditanya-tanya sendirian. Kasus surat itu melibatkan gue juga, jadi Gaby nggak boleh sendirian.”


“Gaby kan didampingi sama orang hukum juga, Nath.”


“Nggak bisa, gue nggak kasih ijin !”


Kendra menghela nafas dan meminta staf hukum untuk membicarakan permintaan Jonathan pada petugas yang menangani masalah Hasbi.


Hampir 3 jam mereka berada di kantor polisi. Keduanya terlihat lelah karena cukup banyak pertanyaan yang diajukan sehubungan dengan kasus Hasbi.


Usai makan siang bersama Kendra dan staf divisi hukum, Jonathan memilih mengajak Gaby pulang.


“Jadi Mas Nathan sudah tahu kalau Leo adalah otak pelaku pembakaran ?” tanya Gaby dalam perjalanan pulang.


“Sebetulnya masih belum jelas antara Martin atau Leo pelakunya. Mereka sahabat baik dan dua-duanya berusaha saling melindungi karena Maya.”


“Maksudnya ?”


“Martin melindungi Leo karena dia adalah ayah dari bayi yang dikandung Maya.”


“Beneran ? Bu Maya hamil sebelum nikah ?”


“Kamu baru tahu ? Bukannya aku udah sempat cerita waktu aku menjelaskan soal sandiwara dengan Maya ?”


”Lupa,” ujar Gaby sambil menggerakan kedua bahunya. “Waktu itu terlalu emosi sampai nggak ingat semua penjelasan Mas Nathan.”


“Jangan-jangan kamu juga lupa kalau aku sering bilang cinta sama kamu ?” ujar Jonathan sambil mencubit pipi Gaby sebelah.


“Mana mungkin lupa karena Mas Nathan ngucapinnya udah kayak minum obat aja sampai Gaby bosan mendengarnya,” sahut Gaby sambil terkekeh.


“Beneran bosan ?” Jonathan mengangkat alisnya sebelah sambil melirik Gaby.


“Kepo !”


“Kalau begitu aku akan berhenti sering-sering ngomong cinta sama kamu,” gerutu Jonathan dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Gaby mengacungkan jempol lalu membaliknya ke arah bawah sambil tertawa.


“Lemah banget sih !” Jonathan diam dengan wajah makin ditekuk membuat Gaby tambah tertawa.


“Bahagia banget bikin orang kesal !” gerutu Jonathan.


“Bukannya Gaby udah sering bikin Mas Nathan kesal waktu masih jadi guru ? Dan rasanya memang bahagia kalau melihat Pak Jonathan sudah mulai cemberut dan wajahnya ditekuk.”


“Dasar murid nakal !” Jonathan kembali mencubit pipi Gaby dengan gemas.


****


“Mama balik aja ke Jakarta, aku beneran udah nggak apa-apa. Nggak enak kelamaan numpang di rumah Tante Ratih, aku mau balik ke kost aja.”


“Kenapa kamu harus nggak enak sih, Jen ?” Tante Ratih, sepupu mama Hani menyahut dari dalam rumah, ikut bergabung dengan mama Hani dan Jenni di teras depan.


“Kamu tahu kan gimana Tante kesepian sejak om meninggal sementara Hanum dan Danang tinggal di luar kota. Kalau kamu mau, nggak usah kost, tinggal sama Tante aja di sini sekalian temani tante.”


“Sudah aku bilang berkali-kali sama Jenny tapi dia tetap pilih jadi anak kost.”


“Kamu takut nggak bebas ya ? Memangnya kamu sudah punya pacar ? Takut Tante laporan terus sama mamamu ?” tanya Tante Ratih sambil tertawa.


“Aku belum punya pacar kok, Tan. Bukannya takut dilaporin sama Mama, tapi takut merepotkan Tante. Jujur aja kalau aku tuh nggak pintar jadi orang rumahan, nanti malah bikin tante kesal melihat aku yang pulang kuliah banyakan tidur daripada kerja rumahtangga.”


“Kamu tuh Jen, ya mumpung tinggal di rumah tantemu sekalian belajar soal urusan rumah. Kakak iparmu aja yang baru 18 tahun udah pintar kerja dan mengurus suami.”


“Gaby kan memang beda, Ma. Sejak kecil dia diperlakukan kayak pembantu di rumah sendiri. Kak Nathan aja sempat tidak menganggapnya sebagai istri tapi asisten rumahtangganya Mama.”


“Kakakmu membenci Gaby karena Mama paksa menikah tapi sekarang udah cinta banget. Istilah kalian tuh bucin,” sahut mama sambil tertawa pelan.


“Makanya kamu tenang aja ninggalin Nathan sama istrinya, Han.”


“Biar mereka punya waktu berduaan, Tih. Setelah hampir bercerai, Gaby ndak mau tidur sekamar sama Nathan tapi sejak aku pergi akhirnya Gaby mau juga. Nathan membujuknya dengan alasan penghematan listrik.”


“Ya ampun kakakku yang satu itu,” ujar Jenny menepuk jidatnyaa sendiri.


“Nggak bisa cari alasan yang lebih baik sih, bukan bilang karena dia cinta banget sama Gaby malah masalah listrik yang jadi alasan.”


“Nyatanya berhasil dan semoga saja Nathan dan Gaby bisa menjadi suami istri yang sesungguhnya.”


“Maksud Mama ?” tanya Jenny dengan dahi berkerut.


“Jadi meski sudah setahun menikah, keduanya belum pernah malam pertama, Han ?”


Mata Jenny membola mendengar pertanyaan Tante Ratih yang diangguki oleh Mama Hani.


”Ya ampun Kak Nathan ! Payah banget sih jadi laki-laki,” ujar Jenny sambil menepuk jidatnya kembali.

__ADS_1


*****


“Kenapa pakai piyama panjang ? Kamu kan sudah janji kalau malam ini bakal pakai…”


Jonathan mengedarkan pandangannya, mencari pakaian kurang bahan yang sudah disiapkan Gaby sejak pagi.


“Memangnya Mas Nathan udah mau tidur ?”


Jonathan tidak menjawab, dengan wajah cemberut ia merebahkan dirinya di atas ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut sampai kepala.


Gaby tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Bukannya mendekati suaminya, Gaby mengunci pintu dsn memadamkan lampu kamar, menyisakan lampu kecil yang memberikan suasana temaram.


“Kok malah ngambek ?” tanya Gaby yang sudah ikutan merebahkan diri di atas ranjang.


Jonathan diam saja dengan posisi memunggungi istrinya. Gaby kembali tersenyum dan mendekatkan tubuhnya hingga menempel dengan Jonathan.


“Beneran ngambek ?”


Jonathan terdiam, kakinya merasa bersentuhan langsung dengan kulit Gaby padahal seingatnya gadis itu memakai piyama serba tertutup.


Perlahan Joanthan berbalik menghadap Gaby yang menyambutnya dengan senyuman dengan memakai pakaain kursng bahan berwarna biru dongker.


“Dasar murid nakal !”


“Mas Nathan guru jutek.”


“Akan aku buat kamu nggak bisa turun dari ranjang besok pagi,” ujar Joanthan dengan seringai licik langsung mengukung tubuh Gaby.


“Eh nggak jadi kalau begitu. Perjanjiannya…”


Jonathan membungkam mulut Gaby dengan ciuman panas membuat Gaby sempat tercengang. Jantungnya berdebar kencang namun Gaby memberanikan diri merangkul leher Jonathan dan membalas ciuman pris itu.


“Jangan harap aku menerima penolakan lagi malam ini ,” tegas Jonathan saat melepaskan ciumannya. Gaby mengangguk sambil tersenyum.


Jonathan pun kembali melanjutkan aksinya dengan jantung yang berdebar-debar karena peristiwa ini juga yang pertama baginya. Tangannya sempat dingin namun cepat menghangat terbakar gairah saat Gaby mulai bisa mengikuti permainannya dengan gerakan yang seimbang. Bahkan tanpa sadar, Gaby mengeluarkan suara-suara yang membuat Jonathan makin sulit menahan gelora hasratnya yang harus dipendamnya hampir setahun.


“Pelan-pelan Mas,” lirih Gaby saat Jonathan melakukan penyatuan untuk pertama kalinya.


“Maaf dan terima kasih karena kamu memberikannya untukku,” bisik Jonathan lalu mencium kening Gaby, lanjut ke mata dan kedua pipi lalu berakhir di bibir.


Gaby tersenyum bahagia karena bisa memberikan diri sepenuhnya sebagai seorang istri pada suaminya. Ia pun memberi isyarat pada Joanthan yang terlihat ragu untuk meneruskan adegan penting malam ini.


“Aku milikmu, Mas,” bisik Gaby dengan suara yang sangat merdu di telinga Jonathan.


Semangat Jonathan langsung naik kembali dan ia pun membuat Gaby melupakan rasa sakitnya dan menikmati cinta Jonathan dalam penyatuan mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, Jonathan pun berhasil menuntaskan hasratnya dan ambruk di samping Gaby. Tubuh keduanya basah oleh peluh namun rona bahagia terpancar di wajah keduanya.

__ADS_1


“Aku sangat mencintaimu Gabriela,” ujar Jonathan saat memeluk Gaby dan mencium kening istrinya.


“Aku juga mencintai Mas Nathan,” sahut Gaby sambil tersenyum dan menatap suaminya itu.


__ADS_2