Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Buang Dendammu !


__ADS_3

Maya duduk termenung di balik meja kerjanya sambil memegang amplop yang berisi hasil pemeriksaan pagi ini. Maya positif hamil. Sebetulnya Maya tidak menunjukkan gejala apapun tapi sejak mendengar cerita Martin, Mama memaksa Maya untuk memastikan kondisinya.


Maya menghela nafas dan memijat pelipisnya. Ia hanya bisa menyesal dan sejujurnya juga khawatir. Menyesal karena hidupnya terlalu bebas dan khawatir kalau anak yang dikandungnya bukan benih Leo. Sahabat Martin bukanlah laki-laki pertama dan terakhir dalam hidup Maya.


“Ibu memanggil saya ?”


Sibuk melamun, Maya sampai tidak sadar kalau Jihan mengetuk pintu dan sekarang sudah berada di dalam ruangannya.


“Kamu masih sibuk mencari cara untuk menjatuhkan adik tirimu ?”


“Sementara usaha di sekolah tidak berhasil, teman-temannya yang biasa membantu saya tidak mau lanjut karena mereka takut tersandung kasus hukum.”


“Hentikan semua rencanamu dan lupakan rasa benci pada adik tirimu. Aku pun sedang merelakan Jonathan yang akhirnya lebih memilih dia daripadaku.”


“Kenapa Ibu harus berhenti ? Bukannya Pak Nathan sudah menyatakan menyesal dengan keputusannya menikahi Gaby dan ingin kembali pada Ibu ?”


Maya tersenyum getir dan mengangkat amplop dengan lambang rumah sakit. Jihan mengerutkan dahi, menebak-nebak apa isi amplop itu.


“Jojo hanya memanfaatkanku supaya bisa bertemu dengan Daddy, itupun bukan untuk melamarku tapi menjelaskan soal pernikahannya dengan adik tirimu bahkan dia mengatajan kalau ia rela menanggung kemarahan Mommy dan Daddy asal istrinya tidak disakiti.”


“Dasar laki-laki, begitu dikasih kuasa dan harta, menjual harga diri dan cinta tidak masalah,” geram Jihan sambil mengepalkan kedua tangannya.


“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan saat Jojo datang hari Sabtu lalu ?”


“Ibu tidak perlu menjelaskan karena saya sangat mengerti bagaimana perasaan Ibu yang sakit karena dibohongi lagi.”


“Bukan, bukan itu, Ji,” Maya menggeleng sambil tersenyum getir.


“Selama 3 tahun kami pacaran, sudah sering Jojo bilang cinta padaku tapi belum pernah aku melihat pijar cinta yang begitu tulus dan dalam seperti saat dia bilang pada Daddy kalau dia sangat mencintai istrinya. Bagaimana tatapan matanya begitu tulusmemohon supaya istrinya jangan disakiti. Rasanya sakit, Ji, tapi kejadian itu membuat aku sadar kalau mungkin saja ini adalah karma atas perbuatanku sendiri. Selama pacaran, aku sudah sering membohongi Jojo dan menjalankan hidup bebas dengan pria lain. Aku sering menduakan Jojo karena hubungan kami terlalu lurus hingga sering membuatku bosan.


Aku sempat bertemu dengan Kendra, sahabat Jojo saat sedang kencan dengan pria lain. Aku yakin kalau Kendra melaporkannya pada Jojo, tapi pria itu tidak pernah bertanya, mencecarku atau mencari tahu apakah aku berbohong atau tidak.”


“Jangan-jangan semua itu karena Pak Nathan tidak tulus mencintai Ibu.”


“Jojo adalah pria yang baik, Ji. Tuhan memang adil karena setelah Jojo bisa melepaskan ikatan denganku, ia diberi pendamping hidup yang masih belia. Aku yakin kalau kehidupan adikmu juga sama lurusnya dengan Jojo.”

__ADS_1


“Tapi Bu…”


“Aku hamil, Ji.” Mata Jihan langsung membola saay mendengar ucapan bossnya.


“Tapi bukan anak Jojo. Sejujurnya aku tidak tahu anak siapa ini dan keluargaku tahunya benih ini adalah anak Leo, sahabat Martin. Semoga Tuhan masih berbaik hati dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki hidup dengan cara menjadikan benih ini memang anak Leo.”


Jihan terdiam menatap Maya yang menghela nafas beberapa kali.


“Belajarlah untuk melepas semua rasa marah dan benci dari dalam hatimu, Ji, jangan sampai kamu hidup dalam penyesalan seperti yang aku alami sekarang ini.”


“Rasanya masih sulit, Bu.”


Jihan merogoh saku blazernya untuk mengambil handphone. Sudah sejak tadi handphonenya bergetar tiada henti, dan dahinya langsung berkerut saat melihat nama Lisa di layar.


“Masf Bu, saya harus angkat telepon dari adik saya.”


Maya hanya mengangguk dan menarik beberapa map berisi dokumen yang harus diperiksa dan ditandatanganinya.


Tidak sampai 5 menit, Jihan kembali masuk dengan wajah emosi.


“Saya bileh ijin pulang sekarang, Bu ? Baru saja adik saya diberi kabar oleh pelayan rumah kalau Mami pingsan.” Maya mengangguk.


Jihan berhenti persis di depan pintu dan menoleh menatap Maya.


“Dengarkan nasehatku, berhentilah membenci adik tirimu supaya hatimu lebih tenang untuk melangakah.”


Jihan hanya tersenyum tipis sambil menganggukan kepala.


***


Jihan bergegas lari ke dalam rumah menuju ke kamar mami. Ternyata wanita paruh baya itu tidak pingsan, hanya jatuh lemas di dekat ruang tamu setelah bertemu dengan 2 pria yang datang mewakili Gaby.


“Ada masalah apa lagi, Mi ?”


Jihan menggenggam jemari Mami yang duduk bersandar pada kepala ranjang.

__ADS_1


“Sudah ada surat permintaan dari kantor pengacara untuk mengosongkan tempat ini dalam waktu 60 hari.”


“Jadi anak itu benar-benar mengusir Mami dari rumah ini ? Kelewatan banget !”


Jihan yang beranjak bangun dengan penuh emosi ditahan oleh Mami Gina.


“Tidak usah memperpanjang masalah ini lagi, Ji, Mami juga sudah capek. Gaby hanya mengambil haknya karena kita melanggar perjanjian yang sudah disepakati bersama, lagipula ia masih berbaik hati karena tidak menghapus tunjangan bulanan dan kebutuhan sekolah Lisa masih dipenuhi sampai lulus kuliah hanya biaya kuliahmu saja yang dihentikan.”


“Mami masih bisa bilang anak durhaka itu baik hati pada Mami ?”


“Ji, tolong berhenti memupuk dendam dalam hatimu, karena bukannya membuatmu bahagia malah semakin menderita. Percayalah Ji, Mami sudah mengalaminya dan tidak ingin kamu merasakan hal yang sama. Mami adalah contoh nyata, Ji. Rasa marah, benci dan dendam itu tidak pernah berhasil membuat papi berhenti menyesali hidupnya dan mencintai Mami.”


Mami Gina mulai mengeluarkan air mata membuat Jihan menarik nafas dalam-dalam dan duduk di tepi ranjang.


”Aku tidak berjanji bisa berdamai dengan anak durhaka itu tapi demi Mami untuk sementara waktu aku akan membiarkannya merasa menang karena bisa mengusir Mami dari rumah ini. Mami jangan terlalu khawatir soal tempat tinggal, aku akan bicara dengan Bu Maya, kalau perlu aku akan mengusahakan agar Mami tidak perlu lagi mengemis padanya demi uang bulanan dan kebutuhan sekolah Lisa.”


Suara Jihan mulai melunak dan ia berusaha terseyum meski terlihat dipaksakan.


“Jihan, maafkan Mami karena sudah memberikan contoh jelek dalam hidupmu. Maafkan Mami yang sudah memanfaatkanmu dan Lisa untuk membuat Papi tetap berada di sisi Mami.”


“Mami jangan bilang begitu, Jihan dan Lisa tidak pernah berpikir kalau Mami memanfaatkan kami. Sekarang Mami istirahat dulu dan jangan terlalu membebani diri dengan masalah ini, aku pasti bisa memberikan yang lebih baik lagi.”


Handphone Jihan bergetar beberapa kali, hanya sederetan angka tanpa nama terlihat di layarnya. Jihan mengerutkan dahi dan ada 3 kali notifkasi panggilan tidak terjawab.


“Mi, aku keluar sebentar, sepertinya panggilan penting.”


Mami Gina mengangguk dan merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang.


“Halo,” sapa Jihan saat nomor itu kembali masuk ke handphonenya.


“…….”


Suara tidak dikenal itu balas menyapa Jihan dan memperkenalkan diri. Terlihat beberapa kali Jihan mengerutkan dahinya dan di akhir percakapannya senyuman licik langsung mengembang di wajahnya.


“Oke, sore ini kita ketemu jam 4 dan jangan lupa bawain gue bukti yang elo punya.”

__ADS_1


Jihan kembali menyeringai licik begitu panggilan teleponnya berakhir.


“Jangan pikir masalah kita selesai begitu saja, Gabriela,” ujar Jihan pada dirinya sendiri sambil tertawa.


__ADS_2