
Hari Senin pagi, tanpa firasat apa pun Gaby memarkirkan motornya di tempat biasa. Ia terkejut saat Marsha, Pingkan, Lita, Arman dan Julian sudah menunggunya di parkiran dengan wajah garang dan sebagian melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ada masalah ?” tanya Gaby dengan dahi berkerut.
“Bi**tch !” Marsha, gadis idola sekolah itu langsung menarik ekor kuda dan membawa Gaby ke arah gerbang sekolah.
Gaby berusaha memberontak namun kedua tangannya dipegang oleh Pingkan dan Lita.
Mimi yang baru sampai di gerbang utama sekolah langsung berlari mendekati Gaby dan di belakangnya Danu serta Bimbim yang baru datang ikut menyusul di belakang Mimi.
Dengan kasar Marsha mendorong Gaby hingga tersungkur persis di bagian dalam gedung SMA. Gaby meringis karena lututnya langsung bergesek dengan semen, begitu juga tangannya yang berusaha menahan tubuh supaya kepalanya tidak membentur semen.
“Apa-apaan kalian begini ?” Mimi berusaha mendekati Gaby namun Pingkan dan Lita menghalanginya.
Raina yang baru saja turun dari lantai 3 langsung membantu Gaby bangun, tapi sayangnya Gaby jatuh lagi karena ternyata mata kakinya terkilir.
“Kalian kenapa seenaknya begini ?” tanya Danu yang sudah berdiri di belakang Mimi yang masih berusaha melepaskan diri dari Pingkan dan Lita.
“Mau sok jagoan di sini ?” tantang Arman dengan wajah songongnya sengaja menyenggol bahu Danu dengan kasar.
Banyak siswa yang baru datang bahkan yang sudah datang mulai ramai berkerumun namun tidak ada yang berani menolong Raina yang berusaha mengangkat Gaby.
“Nggak salah elo nanya begitu ke gue ?” ejek Danu sambil tersenyum sinis.
Julian mengeluarkan handphone dan memperlihatkan satu foto di layar handphonenya.
“Ngaku ketua kelas tapi berita terbaru soal bi**tch di kelas elo aja nggak tahu,” ejek Julian.
Bimbim, Mimi dan Danu langsung mengeluarkan handphone mereka. Ketiganya langsung terkejut saat di wa grup tersebar foto-foto Gaby dan Jonathan.
Terlihat keduanya bukan seperti guru dan murid tapi sepasang kekasih yang sedang berkencan. Raina dan Gaby yang ikut membuka handphone masing-masing ikut membelalakan mata, masalahnya di postingan terakhir muncul video saat Tante Anita menampar Gaby di mal.
“Udah tahu kan sekarang ?” Nada Arman masih penuh dengan ejekan dan senyuman sinis belum hilang dari wajahnya.
“Perempuan kayak begini nggak pantas bersekolah di sini !” pekik Marsha yang berusaha menampar Gaby namun ditangkis oleh Raina.
“Heh cewek sok cakep !” Raina berdiri sambil bertolak pinggang berhadapan dengan Marsha.
__ADS_1
“Apa elo nggak malu sama cowok-cowok yang mengidolakan elo ? Bilangnya anak orang kaya dan pintar tapi menghadapi masalah begini pakai cara main hakim sendiri. Apa nggak pernah belajar dari bokap elo yang katanya hakim ?”
“Jangan bawa-bawa bokap gue !” Marsha bertolak pinggang dan wajah mendongak menantang balik Raina.
Tidak lama Pak Liman dan Pak Anjas turun mendekati mereka. Di belakangnya ada Pak Irvan, Bu Winda dan Miss Lili, guru Bahasa Inggris.
“Elo pikir…”
“Ada apa ini ?” suara Pak Liman yang berat dan tegas membuat Marsha tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Bukannya takut, Marsha yang selama ini memang terkenal sebagai anak orang kaya dan ayahnya seorang hakim di Jakarta mendorong Raina dengan bahunya dan mendekati Pak Liman sambil memperlihatkan handphonenya.
“Jadi ini yang membuat Pak Nathan tiba-tiba keluar dari sekolah ini, Pak ? Kenapa bukan “ayam” seperti dia yang disuruh keluar ? Siswi seperti itu hanya bisa bikin malu sekolah, Pak. Kenapa sebagai kepala sekolah Bapak malah menyuruh Pak Nathan yang keluar ?”
“Sebaiknya masalah ini dibicarakan di ruangan saya. Silakan kalian berlima ke ruangan saya. Raina, Mimi dan Danu, bisa tolong bantu Gaby ikut ke ruangan saya.”
“Kenapa tidak Bapak bicarakan saja di sini ?” Marsha menyeringai licik menatap Gaby sambil melihat berkeliling pada banyak siswa yang sudah berkerumun.
“Jangan bilang kalau ada yang ditutupi sekolah soal murid sekolah ini yang ternyata punya sampingan sebagai pe**cur di luar,” lanjut Marsha.
“Iya Pak, kalau memang tidak ada yang ditutupi oleh pihak sekolah kenapa tidak langsung dijelaskan di depan semua siswa yang ada di sini ?” imbuh Pingkan.
“Saya setuju dengan Marsha, Pingkan dan Arman. Saya yakin kalau kalian semua juga ingin mendengar penjelasan langsung dari Bapak sebagai kepala sekolah. Bener nggak teman-teman ?”
Provokasi Julian mulai mendapat tanggapan dari siswa yang semula hanya berani kasak kusuk di belakang. Suara riuh yang minta Pak Liman memberikan penjelasan membuat Gaby hanya bisa menunduk, cemas kalau semua ini akan membuatnya tidak bisa meneruskan sekolah.
“Kalian semua harap tenang. Bukan begini caranya menyelesaikan masalah !” Pak Liman menatap para siswa yang berkerumun dengan tatapan tegas.
Para siswa perlahan mulai tenang dan tidak mempedulikan suara bel tanda masuk yang berbunyi. Para guru pun sebagian keluar dari ruang guru ikut menyaksikan kejadian itu.
“Saya lihat postingan itu,” Pak Liman mengulurkan tangan minta supaya Marsha menyerahkan handphonenya.
Gadis sombong itu hanya terdiam hingga akhirnya Raina menyerahkan handphonenya.
Pak Liman melihat foto-foto yang diposting di grup angkatan kelas 12. Mata Pak Liman langsung melihat nama yang terpampang.
“Pak Irvan, minta tolong beberapa anak mencari Dona, anak XII IPS !”
__ADS_1
“Apa hubungannya masalah ini dengan Dona, Pak ? protes Pingkan.
“Apa Bapak ingin membuat masalah ini bias ?” tanya Arman dengan senyuman sinis dan nada yang dibuat tinggi.
Niatnya sama dengan Pingkan, ingin membuat siswa lain terprovokasi lagi, tapi sayangnya siswa lainnya menunggu jawaban Pak Liman.
“Saya tanya pada kalian, terutama siswa kelas 12 yang ada di grup angkatan. Nama siapa yang memposting foto-foto itu ?”
Banyak siswa kelas 12 langsung melihat handphone dan menemukan nama Dona di bagian foto-foto yang terpampang di grup wa.
“Kita tanyakan pada Dona yang memposting foto dan video itu untuk dicocokan dengan penjelasan dari Gabriela.”
“Sudah pasti Gabriela tidak akan mengaku kalau foto-foto itu benar terjadi dan bukan rekayasa, Pak,” ujar Lita yang sejak tadi hanya mendengarkan.
“Apa kamu yakin kalau Gabriela akan melakukan hal itu ? Kalaupun iya, setidaknya kalian baru bisa menentukan langkah selanjutnya. Main hakim sendiri tidak dibenarkan dalam hukum di negara ini dan saya rasa papamu akan setuju dengan pendapat saya, bukan begitu Marsha ?”
Suara Pak Liman yang tenang bahkan disertai senyuman arifnya membuat Marsha sedikit gentar namun ia tutupi dengan sikap angkuhnya.
“Negara ini memiliki hukum yang jelas, bukan pengadilan massa seperti ini. Bahkan kalau Gaby kalian anggap tersangka, ia masih tetap memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari intimidari baik secara fisik maupun psikis. Saat Dona berani memposting foto-foto ini di grup berarti dia juga siap untuk dikonfirmasi, bukan malah menyembunyikan diri seperti ini.”
Marsha terdiam, enggan berdebat karena tahu kalau bagimana hubungan Pak Liman dengan papanya.
Biarpun selama ini Marsha cukup dimanja dan mendapatkan apapun yang diinginkannya, bukan berarti papanya akan langsung membela saat menghadapi masalah seperti ini.
Tidak lama Dona sudah dibawa ke area kerumunan di lantai 1 dekat gerbang sekolah. Tubuhnya gemetar dan keringat membasahi wajahnya.
“Bukan saya yang memasang foto-foto dan video itu di grup wa, Pak Liman. Saya berani sumpah demi apapun,” ujar Dona dengan wajah pucat dan mengangkat tangannya seperti orang bersumpah.
Semua siswa yang ada di situ saling menatap satu sama lain, begitu juga Marsha yang menatap keempat teman-temannya yang memulai semua ini.
“Beneran bukan gue, Gab,” Dona menatap ke arah Gaby yang masih duduk di lantai.
“Handphone saya hilang sejak kemarin siang, Pak. Saya pikir jatuh dan hilang entah dimana. Saya sudah mencarinya di tas dan laci meja kelas, tetap tidak ada. Tadi pagi entah bagaimana, handphone itu ada di dalam laci meja di kelas, padahal kemarin siang saya sudah memeriksanya beberapa kali.”
“Jangan bilang semua ini sandiwara doang, Don,”’ujar Arman dengan tatapan curiga.
“Jangan bilang kalau ada yang mengancam elo supaya orang jadi bertanya-tanya tentang kebenaran foto itu,” timpal Julian sambil melirik Gaby dengan senyuman sinis.
__ADS_1
“Silakan kalian periksa aja CCTV kelas untuk memastikan gue bohong atau nggak,” sahut Dona yang mulai sedikit tenang.
Semuanya terdiam, tidak ada yang berusaha menyangkal ucapan Dona karena memang itulah salah satu cara untuk memastikan ucapan murid yang sering bermasalah dengan guru BK itu, benar atau bohong.