
“Nggak bisa ! Pokoknya aku nggak akan kasih kakak bertemu dengan Gaby. Kesehatan mama lebih penting daripada perasaan kakak !” tegas Jenny dengan wajah memerah karena emosi.
Sudah 5 hari mama Hani dirawat di rumah sakit karena lemas. Menurut diagnosa dokter, mama menderita depresi yang cukup berat dan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan selain istirahat dan dibuat bahagia.
“Kakak hanya ingin bertemu sebentar, tidak sampai 5 menit. Kakak hanya mau minta maaf pada Gaby, itu saja.”
“Kakak tahu bagaimana aku dan Kak Kendra bersusah payah untuk meyakinkan Gaby datang membesuk mama ? Apa kakak ingin Gaby kehilangan kepercayaan pada kami juga ? Kakak mau membuat Gaby memutuskan hubungan dengan aku dan mamama ?”
“Bukankah selama ini Gaby memang tidak lagi mau membalas pesan atau menerima telepon mama ? Sudah hampir 3 bulan Gaby mengabaikan mama, kamu dan Kendra, apa kalian yakin kali ini dia akan datang ?”
“Jangan samakan Gaby dengan kakak ! Aku lebih percaya omongan Gaby daripada ucapan kakak,” sinis Jenny.
“Apa maksudmu ?”
“Kakak terlalu pandai bersilat lidah, mencari alasan demi membenarkan perbuatan kakak, tapi apa pernah kakak pikirkan kalau keputusan sepihak yang kakak ambil menyakiti orang lain, bukan hanya satu tapi banyak orang ? Kali ini aku dan Kak Kendra akan melakukan apapun demi mencegah kakak bertemu Gaby. Jangan egois ! Kalau kakak masih mengharapkan mama sehat lagi, belajarlah untuk menekan ego !”
“Tentu saja aku ingin mama sembuh !” sahut Jonathan dengan nada yang tidak kalah emosi.
“Kalau begitu jangan coba-coba menunjukkan diri saat Gaby datang membesuk mama !”
Jonathan menyugar rsmbutnya dengan perasaan kesal, namun apa yang dikatakan Jenny benar, saat ini mama lebih membutuhkan kehadiran Gaby daripada dirinya sendiri.
***
“Yakin nggak mau ditemani ?” tanya Mimi saat mengantar Gaby ke rumah sakit.
Mereka sudah mulai kuliah sejak sebulan yang lalu dan hari ini Gaby sengaja tidak membawa mobil karena Kendra berjanji akan mengantar pulang usai membesuk mama Hani.
“Yakin ! Elo pulang aja. Thanks udah nganter sampai di sini.”
“Salam untuk Kak Jenny dan Tante Hani.”
“Nggak titip salam juga buat Kak Kendra ?” ledek Gaby sambil tertawa.
“Ganteng tapi gue sempat dengar kalau dia itu player, Gab.”
“Lebih baik player sebelum jadi pacar daripada setelah menikah,” sinis Gaby pada dirinya sendiri.
“Udah jangan diperpanjang !” Mimi mengangkat kedua tangannya memberi isyarat pada Gaby.
“Dan ingat kalau hari ini Tante Hani adalah sahabat baik nyokap lo bukan mantan mertua. Lagian Kak Kendra bilang rasa sayang Tante Hani ke elo mengalahkan cintanya sama Pak Nathan dan Kak Jenny.”
__ADS_1
“Tuh kan udah bebagi cerita sama Kak Kendra. Gas poll langsung kalau memang ada minat,”’ledek Gaby sambil terkekeh.
“Kalau memang jodoh nggak akan lari kemana.”
“Mulai deh sotoynya !” Gaby menoyor kening Mimi yang hanya cengengesan.
“Udah sana cepetan turun ! Bentaran lagi alamat diklakson sama mobil belakang.”
Gaby tertawa dan bergegas turun dari mobil lalu melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam rumah sakit.
Sebelum masuk, mata Gaby menelisik ke seluruh sudut ruangan memastikan kalau Jonathan tidak muncul tiba-tiba. Jenny dan Kendra memang sudah berjanji tidak akan ada Jonathan, tapi Gaby hafal dengan kebiasaan pria itu : keras kepala dan ngotot bila menginginkan sesuatu.
Gaby begegas naik dan kembali mengintip dari celah kaca yang ada di pintu, memastikan tidak ada Jonathan di dalam kamar.
Mama Hani dirawat di kamar kelas 2 dan 3 tempat tidur terisi pasien yang kesemuanya tertutup tirai.
“Apa kabar Kak Jenny ?” Gaby langsung memeluk mantan adik iparnya sambil tersenyum.
”Kalau boleh jujur tidak baik, Gab. Sedih rasanya melihat Mama sakit tapi dokter bilang nggak ada obatnya kecuali membuatnya bahagia.”
Gaby hanya tersenyum dan mendekati Mama Hani yang sedang tidur dengan posisi setengah berbaring. 3 bulan tidak bertemu, mama terlihat sedikit kurus. Gaby pun menyentuh jemari mama yang terasa dingin.
“Gaby sayang.”
“Mama.”
Mama langsung menangis, Jenny pun mengalihkan pandangannya, air matanya ikut keluar.
“Maaf Gaby baru bisa menemui Mama sekarang.”
“Tidak apa-apa, kamu pasti tambah sibuk sekarang.”
Pelukan mereka terlepas. Meski air mata masih mengalir di wajah, mama masih tersenyum dsn tangannya mengusap pipi Gaby.
“Maafkan Mama karena tidak bisa mengajar Nathan dengan baik sampai kamu harus terluka seperti ini.”
“Bukan salah Mama, kok. Gaby nggak pernah menyalahkan siapapun. Apa yang dilakukan Jonathan adalah kehendaknya sendiri, dia melakukannya dengan sadar dan tanpa dipaksa oleh siapapun.”
Mama dan Jenny nampak terkejut saat Gaby menyebut nama mantan suaminya hanya dengan nama tidak dengan sebutan Pak atau Mas Nathan seperti biasanya.
“Gimana kamu sekarang ? Sudah mulai kuliah ?” Gaby mengangguk. Ia menoleh ke arah Jenny, baru teringat kalau mantan adik iparnya itu seharusnya juga sudah mulai kuliah.
__ADS_1
“Aku ijin 2 minggu, menunggu Tante Ratih menggantikan aku menjaga Mama,” ujar Jenny seolah mengerti arti tatapan Gaby yang mengangguk-angguk.
“Tidak usah merasa bersalah lagi dengan apa yang terjadi antara kami berdua, Ma. Mungkin takdir kami memang sesingkat ini.”
“Apakah tidak mungkin kalian rujuk kembali ?”
“Maaf sebelumnya, Ma, Gaby tidak ingin membahas apapun soal Jonathan.”
Mama sempat melirik Jenny yang menganggukan kepalanya, berharap Mama menuruti permintaan Gaby.
Tidak lama suara ceria Kendra menyapa ketiga wanita di hadapannya sambil menyerahkan seikat bunga mawar putih kesukaan Mama.
“Terima kasih, Ken,” ujar Mama sambil tersenyum saat Kendra mencium pipi wanita paruh baya itu.
“Udah lama, Gab ?”
“30 menit an.”
Kendra tersenyum tipis. Gaby sudah banyak berubah, sikapnya lebih kaku dan matanya menyiratkan rasa waspada yang sedikit berlebihan. Terlihat kalau Gaby tidak nyaman berada dalam kondisinya saat ini.
Perbincangan kembali dilanjutkan dan sesuai permintaan Gaby, tidak sekalipun nama Jonathan disebut hingga setelah 30 menit berikutnya, Gaby pamit pulang.
“Mama harus cepat sembuh. Kapan-kapan kita bisa janjian ketemu lagi.”
Jenny yang berdiri di belakang Gaby tersenyum getir. Ia pun melihat dan merasakan perubahan Gaby seperti Kendra. Gaby tidak menawarkan untuk mengunjungi mama tapi janjian bertemu yang artinya Gaby enggan datang ke rumah mama.
Usai pamit pada mama dan Jenny, Kendra pun memenuhi janjinya untuk mengantar Gaby pulang.
“Beneran Kak Kendra nggak janjian sama Jonathan kan ?”
Sama seperti mama dan Jenny, Kendra juga terkejut mendengar Gaby menyebut mantan suaminya hanya dengan nama.
“Kamu masih meragukan aku ?” tanya Kendra dengan nada kesal sambil menghela nafas.
“Hanya untuk memastikan karena biar bagaimana pun kalian adalah sahabat karib sejak masih sekolah.”
.Kendra hanya diam sampai lift mengantar mereka ke lantai dasar. Semula Kendra berniat mengajak Gaby makan malam tapi melihat wanita di sebelahnya ini tampak membentengi dirinya, Kendra sedikit malas dan batal mengajak Gaby.
“Kak Kendra bohong !” desis Gaby sambil mencengkram lengan pria di sampingnya.
Kendra menoleh dan matanya membola saat melihat Jonathan berdiri di depan pintu lobby sedang menatap ke arah mantan istrinya itu !
__ADS_1