
“Jadi semua sudah paham dengan tugasnya ?” tanya Jonathan usai berbincang dengan mantan murid-muridnya membahas masalah foto dirinya dan Gaby.
“Ini bukan di kelas Pak Nathan, bukan jam matematika juga,” ledek Gaby sambil tertawa.
“Maklum Gab, kebiasaan 3 tahun belum bisa mengalahkan tugas yang baru 3 bulan. Asal jangan lupa aja kalau sekarang udah punya istri yang masih bau kencur,” sahut Bimbim.
“Kalau masalah istri lupa, kamu pecat aja Nathan jadi suami,” timpal Kendra.
“Bagaimana lupa sama istri, tiap malam udah jadi guling hidup,” ujar Jonathan sambil tertawa.
Gaby langsung melotot menatap suaminya dengan wajah merona.
“Jangan bikin saya melehoy sekaligus patah hati Pak Nathan. Guru yang biasa galak dan jaim ternyata bisa romantis juga,” ujar Raina dengan sedikit lebay.uiiooiooo
”Saya juga patah hati nih, Pak, cinta saya keduluan Pak Nathan,” ujar Joni.
“Mau juga Doni yang patah hati,” ujar Danu. “Ngejar Gaby dari kelas 10, baru dapat angin segar bisa duduk sebangku, tahu-tahu bakal dapat berita tambatan hatinya udah nikah aja.”
“Tugas kamu bilangin sama Doni supaya jangan berharap lagi sama Gabriela. Udah jadi milik saya dan nggak bisa dipindahtangankan,” tegas Jonathan membuat Kendra mencibir sambil tertawa pelan.
“Memang beda auranya kalau pak guru yang bicara,” canda Bimbim sambil tertawa.
“Kalau begitu saya ajak Gaby jalan duluan, mau ajak pacaran. Kalian terusin aja makan siangnya, mau nambah juga boleh, nggak usah takut disuruh bayar. Nanti Mimi dan Raina akan diantar pulang sama sopir.”
Jonathan beranjak bangun dan mengulurkan tangan mengajak Gaby ikut pulang bersamanya. Gadis itu pura-pura tidak melihat dengan wajah merona.
“Udah jangan malu-malu, kita semua mengerti kok,” ledek Mimi sambil menyenggol lengan Gaby.
“Saya percayakan Gaby sama kalian berlima. Tolong jaga istri saya sampai kalian lulus karena Jihan dan teman-temannya termasuk Marsha nggak akan berhenti mencoba menjatuhkan Gaby. Saya benar-benar minta tolong sama kalian.”
“Tenang aja, Pak. Kami mengerti dan pasti akan menjaga Gaby,” sahut Danu.
“Apalagi kalau pakai acara sering dibayarin makan kayak begini, Pak,” timpal Bimbim sambil menyantap potongan sosis goreng.
“Elo kapan menolak kalau bayarannya makanan,” cibir Mimi yang ditanggapi dengan tawa Raina, Joni dan Danu.
Dengan wajah tambah merona, Gaby menurut saat Jonathan menggenggam tangannya. Hanya Jonathan yang berpamitan sementara Gaby bersembunyi di balik punggung pria itu dengan wajah malu-malu karena kelima sahabatnya tidak berhenti menggodanya.
***
“Ikut ke kantor dulu, ya ?” tanya Jonathan saat mereka sudah berdiri di samping mobil.
“Tas sekolah Gaby masih di sana.”
__ADS_1
“Sudah dipindah kemari sama sopir.”
Gaby mengangguk-angguk dan masuk ke dalam mobil saat Jonathan membukakan pintu. Kendra duduk di kursi pengemudi sedangkan Jonathan duduk di belakang menemani istrinya.
“Mau kemana Tuan dan Nyonya ?” ledek Kendra saat mobil perlahan meninggalkan parkiran.
“Ke hotel,” sahut Jonathan tertawa.
“Awas kalian uwu-uwuan di belakang dan lupa kalau sopir eksekutif ini masih jomblo,” gerutu Kendra.
“Nggak ada yang suruh elo jomblo terus kan ?” cibir Jonathan sambil tertawa.
“Kita mau ngapain ke kantor ?” tanya Gaby saat mobil sudah membelah jalan raya.
Jonathan terdiam sejenak dan menghela nafas sebelum menjawab Gaby.
“Sepertinya masalah di perkebunan kopi ada hubungannya dengan Maya dan Jihan,” ujar Jonathan.
“Jadi kita harus bagaimana ?”
“Kita akan mrmbahasnya bersama Om Sofian. Mas Nathan ingin kamu terlibat karena sesudah ini Maya dan Jihan pasti akan mencari cara untuk membuat kita salah paham.”
“Sebetulnya Gaby mau memberikan rumah itu pada mama Gina. Siapa tahu Jihan akan berhenti mengganggu kita.”
“Maksudnya ?” Gaby menautkan alisnya.
“Mama Gina tidak ingin kehilangan rumah yang ditempatinya, jadi sudah pasti dia akan berusaha membuat suasana hatimu selalu baik. Tidak mungkin mama Gina akan diam saja kalau Jihan cari gara-gara sama kamu. Kalau rumah itu diserahkan sekarang, sudah pasti Mama Gina akan membiarkan Jihan berbuat seenaknya.”
“Lalu bagaimana dengan perkebunan ? Kenapa Bu Maya sampai berpikiran sampai ke sana ?”
“Panggil Maya aja, Gab, nggak perlu terlalu sopan sama cewek begitu. Dia nggak bakal puas selama kamu dan Nathan masih bersama,” gerutu Kendra dengan wajah kesal.
“Iya panggil Maya aja, Mas Nathan nggak keberatan,” timpal Jonathan.
“Nggak tahan Mas Nathan,” ledek Kendra sambil tersenyum mengejek.
“Biar beda sama elo. Dengar elo ngomong aku kamu jadi berasa nggak spesial.”
“Dasar cowok posesif,” cebik Kendra.
“Nanti elo bakal ngerasain kalau udah punya istri, apalagi masih muda dan imut kayak Gaby. Iya kan, sayang ?”
Jonathan menatap Gaby sambil mengedipkan sebelah matanya membuat Gaby tertawa.
__ADS_1
Keduanya turun dari mobil yang sudah parkir di pelataran gedung kantor Yuanyang Grup, perusahaan yang sudah dirintis oleh keluarga mami Anna sejak 40 tahun lalu. Bergerak di bidang produksi kopi dan teh yang dipanen dari perkebunan sendiri. Nama Yuanyang memiliki makna minuman campuran kopi dan teh untuk menambah energi yang secara harafiah memiliki arti keseimbangan antara perempuan dan laki-laki.
“Terus aja pamer,” sindir Kendra saat Jonathan menggandeng Gaby dengan posesif masuk ke dalam gedung.
Jonathan hanya tertawa dan membalas sapaan karyawan yang papasan dengannya.
“Mereka pasti berpikir elo habis culik anak orang. Bukannya Gaby disuruh ganti baju dulu,” ujar Kendra yang berjalan di belakang suami istri itu.
“Biar mereka nggak lupa kalau Gaby datang kemari.”
“Om Sofian udah pernah ngenalin Gaby sama pak satpam dan mbak yang jaga di resepsionis,” sahut Gaby.
“Sebetulnya tujuan Pak Direktur tuh mau pamerin kamu, Gab. Bangga dia udah om-om bisa punya istri anak sekolah,” ledek Kendra.
“Asem lo bilang gue om-om, kayak sendiri lebih muda aja. Nggak punya cermin di rumah ?” Gaby tertawa melihat Jonathan cemberut saat dikatai om-om oleh Kendra.
“Cucok juga sih, Mas. Gaby jadi berasa kayak sugar baby.”
“Jangan dengar hasutan Kendra. Udah lama dia iri sama Mas Nathan.”
“Malah aku bilang sama Nathan kalau nggak bisa cinta sama kamu, aku bersedia menggantikan posisi Nathan jadi suami kamu, Gab. Pokoknya kutunggu jandamu.”
“Boleh juga sih,” ujar Gaby sambil terkekeh.
“Jangan harap !” tegas Jonathan menarik Gaby masuk ke dalam lift.
Gaby dan Kendra tertawa melihat wajah tegas Jonathan yang melirik Kendra dengan kesal.
Begitu sampai di ruangan Jonathan ternyata Om Sofian sudah duduk di depan meja sekretaris, seorang wanita berumur 30 tahunan. Ia menyapa Gaby dengan ramah.
“Kenalkan ini Tiwi, sekretarisnya MAS NATHAN,” ujar Kendra penuh penekanan.
Jonathan memutar bola matanya dengan sebal sedangkan Gaby langsung menyalami Tiwi sambil menyebutkan namanya.
Sesudah itu, berempat masuk ke dalam ruangan Jonathan.
“Kenapa lagi ?” tanya Gaby saat melihat dahi Jonathan berkerut dan wajahnya berubah kusut.
Satu pesan masuk ke handphonenya yang langsung mengganggu pikirannya. Kendra dan Om Sofian menerima pesan yang sama.
“Bukan hanya perkebunan kopi yang diserang hama, sekarang perkebunan teh juga diserang hama.”
Gaby ikut menghela nafas. Rasanya ingin menemui Maya dan menanyakan langsung apa yang diinginkan perempuan itu. Dengan kondisinya yang nyaris sempurna, tidak sulit bagi Maya untuk mendapatkan pria yang lebih hebat dari Jonathan. Kenapa tidak mencari kekasih baru saja daripada mengganggu hidup orang lain ?
__ADS_1