Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Yang Terburuk


__ADS_3

Gaby baru saja selesai menjemur pakaian di lantai 2 saat bel rumah berbunyi tiada henti.


“Nggak sabar banget, sih,” gerutu Gaby sambil berlari kecil membuka pintu utama.


“Tante Gina ?” gumam Gaby dengan dahi berkerut saat melihat mantan ibu tirinya berdiri di luar gerbang.


”Gaby, Tante mohon jangan biarkan mereka menangkap Jihan. Tante tahu kalau Jihan masih sering mengganggu hidupmu, tapi apakah haru sampai bawa-bawa polisi segala ? Biar bagaimana dia masih kakak kandungmu, kalian masih 1 ayah.”


Gaby hanya bisa menghela nafas karena Tante Gina tidak memberinya kesempatan untuk bicara. Dari yang bingung akhirnya Gaby mengerti duduk persoalan yang dibicarakan Tante Gina.


“Kita bicara di dalam biar lebih tenang, Tante.”


“Tapi saat ini Jihan…”


“Bukankah Tante bilang Jihan sudah dibawa ke kantor polisi, jadi lebih baik kita duduk dulu dan bicara dengan kepala dingin supaya tahu langkah apa yang harus diambil.”


Tante Gina menurut dan mengikuti Gaby masuk setelah menutup gerbang. Mata Gaby langsung membola begitu Tante Gina bersimpuh di depannya saat ia baru saja duduk di sofa


.”Tante jangan begini, saya tidak memerlukannya.”


”Tidak Gaby,” Tante Gina menggeleng, menolak permintaan Gaby.


“Tante tahu kalau Jihan masih belum bisa menerima keputusan papi kalian, dia masih berusaha mengganggu hidupmu dan Jonathan tapi Tante yakin kalai Jihan tidak berniat untuk membuat kalian celaka apalagi menghilangkan nyawa jadi tolong tidak usah libatkan polisi untuk masalah ini. Kita bisa membicarakannya secara kekeluargaan.”


Gaby menarik satu sudut bibirnya dan meminta Tante Gina untuk duduk di sebelahnya.


Kekeluargaan darimana ? Bahkan saat papi masih hidup kalian tidak pernah menganggapku sebagai keluarga, batin Gaby.


“Apa Jihan atau polisi bilang alasan Jihan dibawa ke kantor polisi ?” tanya Gaby.


“Menurut polisi Jihan terlibat konspirasi di perusahaan milikmu sedangkan menurut Jihan ini semua hanya karena surat cerai kalian menyebar di grup sekolah.”


“Polisi tidak akan berbohong dan sembarangan menangkap seseorang. Yang pasti saya dan Mas Nathan tidak bisa membatalkan kasus ini karena bukan kami yang melaporkan dan bukan Kak Jihan yang menjadi tersangka utamanya.”


“Tapi sebagai pemilik perusahaan, kamu pasti bisa menyuruh anak buahmu menghentikan kasusnya.”

__ADS_1


“Justru karena kasus ini melibatkan keluarga saya maka semua prosedur harus berjalan tanpa dispensasi khusus. Masalah ini akan menjadi pelajaran untuk karyawan lainnya supaya tidak mempermainkan aturan dan hukum.”


“Gaby, Tante mohon….”


“Saya dan Mas Nathan akan mengawasi prosesnya supaya adil untuk semua pihak tapi tidak menjamin Kak Jihan bisa lari dari tanggungjawabnya.”


Tante Gina terdiam dengan wajah tertunduk. Gaby menghela nafas, hati kecilnya merasa kasihan dengan situasi yang dialami oleh Tante Gina tapi tidak mungkin juga menutup perkara ini karena melibatkan karyawan di perusahaan miliknya.


“Maafkan perbuatan Tante dan Jihan selama ini. Tante menyesal karena tanpa sadar sudah menciptakan monster seperti Jihan.”


“Semuanya sudah terjadi, Tante. Kita hanya bisa berharap kalau kejadian ini akan membuat Kak Jihan sadar dan mau memperbaiki diri.”


Tante Gina pun pamit pulang, meninggalkan Gaby yang teringat pada Marsha. Sudah seminggu berlalu sejak pertemuan dengan musuhnya di SMA. Beberapa kali Gaby mencoba mengirimkan pesan bahkan menelepon Marsha tapi tidak ada satupun pesannya dibaca dan panggilannya dijawab.


Gaby mengambil handphonenya dan kembali mencoba mengirimkan pesan lalu menelepon Marsha tapi hasilnya tetap sama.


“Apa jangan-jangan Marsha juga diminta datang ke kantor polisi ? Orang seperti Jihan tidak akan membiarkan dirinya jatuh sendirian,” gumam Gaby paa dirinya sendiri.


Gaby langsung menghubungi nomor Jonathan dan ditolak.


(Sorry 🙏)


Pesan Gaby hanya dibaca membuat gadis itu akhirnya memutuskan pergi ke perusahaan untuk menemui Om Sofian, membahas masalah Jihan dan Marsha sekaligus menanyakan perkembangan soal Leo dan pelaku pembakaran gudang.


*****


Sekitar 1 jam kemudian Gaby sudah sampai di lobby kantor. Dengan senyuman ramah ia menyapa beberapa orang yang sudah mengenalnya sebagai istri Jonathan sekaligus pemilik perusahaan.


Sampai di lantai 8, ternyata Om Sofian sedang rapat di luar kantor. Gaby melirik jam tangannya, sudah jam 11.55, waktunya makan siang.


Usai pamit, Gaby memutuskan untuk langsung naik ke ruangan Jonathan dan menunggu suaminya yang mungkin masih rapat. Siapa tahu Jonathan bisa keluar makan siang bersamanya.


Sampai di lantai 10, dahi Gaby berkerut karena tidak menemukan Kendra atau Kiki, sekretaris suaminya. Merasa tanggung sudah ada di depan ruangan, Gaby berniat menunggu Jonathan dan mengajaknya makan siang.


Perlahan ia membuka pintu ruangan dengan senyum mengembang, membayangkan Jonathan pasti terkejut melihat kedatangannya.

__ADS_1


Pintu terbuka dan mata Gaby langsung membola, pasalnya terpampang pemandangan yang membuat hatinya terguncang dan kakinya langsung lemas namun ia bergeming.


Pasangan yang tengah berpelukan dan bibirnya saling menempel tidak sadar kalau pintu ruangan dibuka.


Tubuhnya bergetar karena tangan pria itu membalas pelukan si wanita yang memeluk pinggangnya. Rasanya Gaby ingin berteriak, namun lidahnya kelu. Entah apakah ciuman bibir itu sama dengan yang dilakukannya dengan Jonathan, tapi yang pasti si pria menundukkan wajahnya dan bibirnya melekat dengan bibir si wanita.


Tidak tahan melihat adegan di depannya, Gaby membanting pintu dan langsung berlari menuju lift.


Sekuat tenaga ia berusaha menahan air mata yang sudah meronta ingin keluar. Tangannya terus menekan lift dan untung saja lift segera terbuka dan sebelum pria di dalam ruangan itu berhasil mengejarnya, pintu lift sudah tertutup.


“S**hit !” maki Jonathan pada dirinya sendiri. Ia pun menekan tombol lift berkali-kali sama seperti yang dilakukan Gaby.


“Siapa ?” tanya wanita yang menyusul Jonathan ke depan lift.


Jonathan tidak menjawab. Ia kembali memaki saat tidak menemukan handphone di saku celananya. Ia bergegas kembali ke ruangannya dan mengambil handphone yang ada di atas meja namun urung menelepon.


Menggunakan pesawat telepon yang ada di mejanya, Jonathan langsung menghubungi resepsionis di lobby utama.


“Apa ada tamu yang mencari saya ?”


“Tidak ada Pak, tapi Nona Gabriela datang ingin bertemu dengan Pak Sofian.”


“Dimana istri saya sekarang ?”


“Sudah keluar lobby, Pak. Sepertinya sedang terburu-buru.”


“Minta siapapun menghentikannya, saya akan turun sekarang !” perintah Jonathan dengan suara tinggi.


Gaby sendiri sudah meninggalkan parkiran. Takut mengganggu kesibukan Jonathan, hari ini Gaby memutuskan untuk membawa mobil sendiri padahal biasanya ia pergi naik taksi online dan pulang betsama Jonathan.


Pandangannya buram, terhalang air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Kali ini hatinya benar-benar hancur berkeping-keping melihat Jonathan berciuman dengan perempuan lain !


Tanpa melihat wajahnya, Gaby tahu siapa wanita itu. Ia memegang dadanya yang mendadak sakit.


Rasanya ingin berteriak sekuat-kuatnya. Kenapa ini harus terjadi di saat Gaby sudah menyerahkan diri sepenuhnya pada Jonathan. Apa ini alasan yang sebenarnya kenapa Jonathan melarang Gaby ikut ke kantor untuk mengisi liburannya.

__ADS_1


Gaby terus terisak dan sesekali mengusap air matanya supaya pandangannya tetap jelas. Ia mempercepat laju mobilnya dan memutuskan untuk berpisah dengan Jonathan selamanya !


__ADS_2