Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Pria Baru


__ADS_3

“Gabriela ?”


Tuan Harry tampak tercengang melihat penampilan gadis mungil yang sehari-harinya jarang memakai make up.


“Om Harry,” sapa Gaby sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Kamu tampak berbeda malam ini, semakin mirip Anna.”


“Bukan aneh kan, Om ?” Om Harry tertawa dan menggeleng.


“Sepanjang perjalanan kemari, sudah lebih dari sepuluh kali Gaby bertanya apakah dia kelihatan aneh atau tidak dan jawaban saya sama dengan Tuan Harry,” timpal Om Sofian ikut tertawa.


“Boleh saya pinjam Gaby sebentar, mau saya perkenalkan dengan kedua putra saya.”


Om Sofian mengangguk dan berjalan ke meja yang sudah diatur oleh pihak penyelenggara.


“Mario, Martin, kenalkan ini Gabriela,”


Kedua pria tampan yang sedang berbincang dengan dua pria lainnya yang tidak kalah tampannya menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh ke arah Om Harry.


“Ternyata benar-benar imut,” komentar satu pria yang ada di situ.


“Saya sempat mendengar kabar soal putri Om Hendri yang masih muda dan imut menjadi penerus Yuanyang dan ternyata berita itu bukan hoax. Brian.”


Pria itu langsung mengulurkan tangan mengajak Gaby berkenalan.


“Gabriela.”


Martin bertatapan dengan Daddy Harry sambil tersenyum, keduanya sudah sepakat memenuhi permintaan Om Sofian untuk tidak memberitahu publik status Gaby yang sebenarnya. Mario, kakak Martin tidak terlalu mengikuti kasus Maya, Jonathan dan Gaby.


”Gabriela, ini Mario anak Om yang tertua dan Martin anak kedua baru setelah itu Maya.”


“Hai, Gabriela.” Dengan senyuman ramah Gaby menyalami satu persatu putra Om Harry dan yang terakhir pria bernama Putra, teman dari ketiga pria tampan di depannya.


Mereka berbincang sejenak sebelum pembawa acara meminta semua tamu untuk menempati kursi masing-masing.


“Sepertinya kita berjodoh.”


Gaby mendongak, sosok Brian sedang menarik kursi di sampingnya. Gaby pun melirik nama yang diletakkan dekat peralatan makan. Brian Iskandar.


“Mungkin,” sahut Gaby sambil tertawa pelan. “Aku sedikit lega karena yang duduk di samping kiri kananku adalah orang yang aku kenal. Silakan Pak Brian.”


“No Pak, panggil nama saja. Aku lebih suka dipanggil nama apalagi oleh gadis cantik seperti kamu.”

__ADS_1


“Gombal !” Gaby mencibir sedangkan Brian malah tertawa.


Dari meja lain, Mario, mantan kekasih Jihan hanya menatap pasangan yang sedang bercengkrama sambil tertawa. Sebelum acara dimulai, Om Sofian yang melihatnya dulu langsung mendekatinya seraya memperingati Mario supaya tidak mengekori Gaby sepanjang acara, padahal begitu melihat Gaby masuk ruangan, Mario langsung menghampiri staf EO, berniat duduk di sebelah Gaby.


“Jadi kamu kuliah sambil bekerja di perusahaan ?”


“Officially aku belum diijinkan bekerja sebagai pimpinan di perusahaan karena faktor usia tapi kenyataannya seperti ucapanmu barusan, aku kuliah sambil belajar di perusahaan.”


“Boleh minta nomor handphonemu ? Siapa tahu perusahaan kita bisa bekerjasama supaya aku selalu punya alasan untuk menghubungimu dan mengajakmu bertemu.”


“Modus !” Brian terkekeh mendengar omelan Gaby sekaligus senang karena gadis itu malah mengambil handphonenya dan meminta nomor Brian


“Itu nomorku tapi sebaiknya kamu wa dulu sebelum telepon. Kalau nggak penting, jangan harap aku akan mengangkatnya.”


“Kalau begitu aku akan selalu mengirimkan pesan yang membuatmu tidak bisa menolak teleponku.”


”Dasar playboy cap kuda terbang.” Lagi-lagi Brian hanya tertawa.


Acara makan malam pun dimulai. Om Sofian sempat mengenalkan Gaby pada beberapa oramg yang duduk satu meja dengan mereka. Jujur saja kalau Gaby belum bisa menghafal nama-nama mereka yang terlihat kaku dan sangat forimal.


“Kenapa ?” tanya Om Sofian saat melirik Gaby melamun dan hanya mengaduk makanan di piringnya.


“Nggak tahu Om, tiba-tiba perasaan saya nggak enak lagi.”


“Mungkin karena suasana baru dan sejak awal kamu memang kurang minat untuk datang ke acara ini.”


Usai makan malam, para tamu diberikan kesempatan untuk berbaur dengan tamu-tami yang berada di meja lainnya sambil menikmati alunan musik hidup dan makanan ringan.


“Kamu bosan, nggak ?” Gaby menoleh dan matanya membola saat wajah Brian begitu dekat dengannya.


”Eh..ngg… sedikit.”


Gaby mundur dua langkah dan wajahnya merona karena merasakan hembusan nafas Brian begitu hangat menyapu wajahnya.


“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat.”


“Masih di sini atau di luar ? Kalau di luar aku…”


“Tidak perlu naik mobil untuk melihat tempat yang aku maksud dan dijamin pasti nggak akan nyesel.”


Sebelum Gaby menolak, Brian sudah menarik tangannya keluar dari ruangan acara menuju lift. Beberapa karyawan hotel menganggukan kepalanya memberi hormat pada Brian membuat Gaby mengertukan dahinya.


“Brian, kamu nggak bermaksud mengajak aku check in kan ?” tanya Gaby dengan wajah khawatir.

__ADS_1


“Dasar anak kecil,” Brian meyentil kening Gaby sambil tertawa dan Gaby hanya cemberut sambil mengusap keningnya.


“Apa tampangku seperti cowok yang suka dengan hubungan satu malam ?”


“Entahlah,” Gaby mengangkat kedua bahunya. “Kadang penampilan luar bisa menipu.”


“Rupanya kamu punya pengalaman buruk dengan lelaki,” Brian melirik Gaby yang tertawa getir.


Lift sudah berbunyi dan pintu terbuka. Tangan Brian yang masih menggandeng Gaby menariknya keluar.


“Biasanya tamu-tamu enggan menginap di lantai 13 tapi secara realita angka itu tidak bisa dihindari hanya saja tidak ditulis di lift tadi. Aku minta papi supaya diberikan kepercayaan untuk mengolah lantai 13 ini menjadi tempat yang berbeda hingga orang tidak memikirkan mitos itu.”


“Jadi kamu pemilik hotel ini ?”


“Bukan aku, masih papi,” sahut Brian sambil tertawa.


Kedua lesung pipit di wajah Brian menambah ketampanannya membuat Gaby tersenyum tipis karena mengingat seseorang.


“Wow !” Gaby berdecak kagum menatap satu lantai yang luas dan dikellingi dinding kaca dengan design ruangan minimalis dan meja bar di salah satu sudut sedangkan bangku dan meja baru belum ditata, masih tersusun dan dibungkus plastik.


“Pemandangan di sini sangat indah, tidak terlalu tinggi dan rendah. Rencananya sehari-hari tempat ini akan menjadi executive lounge dan bisa disewa untuk acara ulangtahun atau pernikahan. Bagaimana menurutmu ?”


“Keren !” Gaby memberikan jempol dan berkeliling menatap pemandangan ke luar jendela.


“Jakarta seperti dipenuhi dengan kunang-kunang.”


“Memangnya anak seusiamu masih sempat melihat kunang-kunang di Jakarta ?”


“Bukan di Jakarta tapi saat acara sekolah dimana kami harus menginap di alam pedesaan selama beberapa hari.” Brian mengangguk-anggukan kepalanya.


Pria itu menjelaskan panjang lebar tentang rencana dan impiannya untuk menjadikan lantai 13 sebagai tempat istimewa.


Handphone Gaby bergetar dan terlihat nama Om Sofian di layar.


“Brian, sepertinya aku harus kembali ke ballroom. Om Sofian mencariku.”


“Oke, kita balik ke sana. Aku akan mengundangmu jadi tamu spesial saat pembukaan tempat ini.


“Jangan menjadikan aku terlalu spesial, Brai,” ujar Gaby saat keduanya sudah kembali ke dalam lift.


“Kenapa ? Apa kamu sudah punya kekasih, tunangan atau jangan-jangan suami ?” tanya Brian sambil terkekeh.


“Sepertinya begitu,” sahut Gaby sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


”Terima kasih atas kejujuranmu,” ujar Brian sambil tertawa. “Tapi semua itu tidak akan menghalangiku untuk menjadikanmu tamu istimewa saat pembukaan nanti.”


Gaby hanya tersenyum dan menunggu lift tiba di lantai dasar.


__ADS_2