Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Belajar Fokus


__ADS_3

Gaby melangkah gontai memasuki gerbang sekolah. Perasaannya galau, kalau tidak ingat hari ini ulangan semesteran rasanya kaki ingin dibawa lari ke kantor Jonathan.


“Gaby !”


Gadis itu langsung menghela nafas saat melihat Marsha dan Pingkan berdiri di ujung tangga dengan senyuman sinis dan tangan terlipat di dada.


Gaby berdiri di hadapan mereka dengan wajah datar dan mengabaikan teman-temannya yang melintas dan melirik dengan wajah kepo.


“Selamat pagi Nyonya Jonathan,” bisik Marsha dengan nada sinis. “Ternyata elo bukan sekedar ayam tapi bi**ch kelas kakap karena berhasil membuat Pak Nathan sampai harus menikah sama elo.”


Gaby sempat terkejut saat Marsha memanggilnya Nyonya Jonathan. Gadis nyinyir di depannya pasti sudah memegang bukti kalau berani membuka fakta di depan Gaby.


“Ternyata elo lebih kepo dari lambe turah,” sindir Gaby sambil tertawa sinis.


“Gue udah pernah bilang kan kalau masalah elo nggak akan selesai sampai di ruang Pak Liman karena gue yakin ada rahasia yang disembunyikan. Siap-siap aja nggak bisa tamat SMA tahun ini.”


Marsha sengaja menabrak bahu Gaby dengan bahunya sambil tertawa sinis. Gaby sendiri hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Firasatnya mengatakan kalau masalah yang datang bersamaan ini sengaja dibuat untuk menjatuhkan mentalnya dan Jonathan.


****


“Gimana ? Polisi udah mulai penyelidikan ?” tanya Jonathan di ruang kerjanya.


Usai kembali dari gudang, Jonathan sempat tertidur di ruang kerja hinggal jam 9 sebelum mandi dan siap kerja lagi dengan pakaian yang disiapkan di kantor.


“Petugas pemadam baru saja menyatakan lokasi aman tapi bisa diselidiki setelah jam makan siang. Sementara secara kasat mata, petugas di lapangan tidak menemukan bekas korsleting pada aliran listrik, tapi belum diteliti tiap sudutnya.”


“Bagaimana kalau beneran sabotase ?” gumam Jonathan, seolah berbicara pada dirinya sendiri.


“Nathan, bukannya gue nggak percaya dengan feeling lo, tapi kalau fokus ke sana akhirnya jadi bias kemana-mana. Lebih baik elo fokus dengan masalah pengiriman barang yang bakal tertunda.”


Kendra meletakkan satu map di hadapan Jonathan.


“Ini data yang dikirim dari bagian penjualan. Kalau stok belum bisa di update tapi dari pabrik sudah ada data target produksi sampai akhir bulan.”


Jonathan memeriksa data yang diberikan oleh Kendra. Ia langsung menghela nafas sambil memijat pelipisnya.


“Jangan terlalu stress dulu karena kondisi nggak seburuk itu, tinggal atur strategi aja.”


“Kalau memang dibutuhkan, kirim bantuan tenaga untuk menghitung stok dan pindahkan ke gudang yang kosong. Tolong pastikan juga rekaman CCTV di lokasi kebakaran. Semoga aja pelakunya lalai melumpuhkan CCTV.”

__ADS_1


Kendra mengangguk sambil tersenyum tipis. Sudah lebih dari 3 kali Jonathan diingatkan oleh Kendra dan Om Sofian, tapi pria itu tetap bersikukuh kalau kejadian ini ada hubungannya dengan Maya.


Jonathan berdiri menatap keluar jendela kaca dengan pemandangan bangunan dan jalan di sekitar kantor. Ia sempat menghela nafas beberapa kali, memikirkan cara menghentikan Maya mengganggu hidupnya dan Gaby.


Jonathan baru teringat dengan handphone yang belum disentuhnya sejak tiba di kantor. Nama Gaby ada di urutan kedua. Bukan hanya banyak pesan yang belum terbaca tapi ada 10 notifikasi panggilan tidak terjawab.


Dahinya berkerut saat panggilannya tidak diangkat padahal Jonathan tahu kalau Gaby sudah selesai ulangan. 5 kali Jonathan mencoba dan berakhir di kotak suara.


Jonathan kembali meneliti data yang diberikan Kendra dan mulai mengutak-atik data itu untuk bahan rapat dengan para petinggi besok pagi.


***


Gaby berlari kecil menaiki tangga lobby kantor danhandphonenya masih dalam posisi hening. Tujuannya datang ke kantor ini bukan ingin memberi kejutan tapi membicarakan masalah Marsha.


Om Sofian yang sudah dihubungi Gaby menunggu gadis itu di lobby.


“Mau langsung ke ruangan Nathan atau mau bicara di ruang meeting ?”


“Mas Nathan nggak sibuk, Om ? Takut bikin Mas Nathan tambah beban.”


“Dia suami kamu, sudah sepantasnya dia tahu permasalahanmu, apalagi masih ada kaitannya dengan Nathan.”


Gaby mengangguk dan mengikuti Om Sofian masuk ke dalam lift. Tangannya mengeluarkan handphone dari dalam tas, ternyata Jonathan sudah membalas pesan dan telepon Gaby.


“Khawatir sama suami yang nggak balas pesan dan jawab telepon,” sahut Gaby sambil menggoyangkan handphonenya membuat Jonathan tersenyum tipis.


“Dasar istri manja.”


Ada rasa tenang saat melihat Gaby berada di depannya. Ia pun menggandeng Gaby masuk dan mengerutkan dahi melihat Om Sofian ikut masuk.


“Maaf kalau ada hal penting lain yang mau Gaby bicarakan.”


“Masalah apa ?”


Kendra menyusul masuk atas permintaan Om Sofian sambil membawa laptop miliknya.


Berempat mereka duduk di sofa dan Gaby menghela nafas sebelum menceritakan kejadian Marsha serta rasa khawatirnya tentang ancaman Marsha soal dirinya yang tidak bisa menyelesaikan SMA.


“Maaf, Gaby malah datang membawa masalah lain,” lirih Gaby saat Jonathan merangkulnya untuk memberi semangat.

__ADS_1


“Jangan khawatir, kita akan segera cari sumbernya supaya masalah ini tuntas sampai ke akarnya. Tugasmu adalah fokus pada masalah ulangan dan ujian sekolah.”


“Bagaimana kalau Gaby tidak bisa sampai ke sana ?”


“Jangan terlalu khawatir begitu Gab, aku dan Om Sofian akan membahas dengan tim hukum. Kamu cukup menuruti permintaan suami, fokus belajar untuk ujian akhirmu.”


“Lalu bagaimana masalah kebakaran ?” tanya Gaby menatap ketiga pria itu satu persatu.


“Sementara masih akan diselidiki oleh polisi serta pihak asuransi jadi belum bisa mengambil kesimpulan saat ini,” sahut Om Sofian.


“Apa perlu Gaby menemui Tante Gina lagi, Om ?”


“Sementara belum ada bukti kalau semua ini dilakukan oleh Jihan, kan ? Sabar saja dulu dan ikuti apa kata suami,” Kendra senyum-senyum sambil melirik Jonathan yang masih merangkul istrinya.


“Ngiri boss?” lirik Jonathan sambil tersenyum mengejek sahabatnya.


“Gaby masih pelit kenalin gue ke teman-temannya,” Kendra tersenyum sambil melirik Gaby.


“Kapan Kak Kendra minta kenalan sama teman Gaby ? Mau sama Marsha ? Siapa tahu Marsha mendadak anteng kalau Kak Kendra ajak dia nikah muda juga.”


“Kamu mau jadikan aku tumbal ?” mata Kendra membola.


“Bukan tumbal tapi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Membantu teman dan mendapatkan jodoh sekaigus. Marsha termasuk murid favorit, Mas Nathan aja sempat tergoda juga,” ujar Gaby melirik suaminya.


“Memangnya enak ketahuan belangnya sama istri ?”cebik Kendra sambil tergelak, Om Sofian juga ikut tertawa.


“Siapa bilang aku sempat tergoda ?” protes Jonathan.


“Mata Mas Nathan nggak bisa bohong lah ! Bukan Gaby doang yang lihat, tapi murid lain juga.”


“Perlu didatangkan saksi, Pak Jonathan ? Saya dan Pak Sofian bisa mengundang mereka.”


“Dengan senang hati saya membantu demi Gaby,” timpal Om Sofian.


“Sepertinya kalian mengalami efek samping akibat terlalu banyak menghirup asap. Kita makan siang aja yuk, Sayang.”


Jonathan beranjak bangun sambil menggenggam tangan Gaby yang ikut tertawa pelan.


“Berdua doang nih, gue sama Om Sofian nggak diajak ?”

__ADS_1


“Bayar sendiri !”


Ketiganya tertawa melihat kelakuan Jonathan yang mulai hilang tegangnya.


__ADS_2