
Jonathan batal menanyakan soal pengiriman makanan untuk Papi Hendri yang masih rutin dilakukan Gabriela. Ia tidak mau gadis itu balik bertanya soal kebohongannya masalah rapat.
Sejak pertemuan siang itu, Maya kembali gencar mengirimkan pesan bahkan sekali-sekali menelepon Jonathan. Kebiasaan baru Maya ini membuat hati Jonathan kembali terombang-ambing.
Maya begitu gigih meyakinkan Jonathan kalau ia akan menunggu dan menerima Jonathan apa adanya setelah bisa bercerai dengan istrinya, bahkan Maya berjanji kalau ia akan membuat kedua orangtuanya menyetujui hubungan mereka.
Suara bel berbunyi membuat lamunan Jonathan buyar. Terlalu hanyut akan perasaan cintanya pada Maya yang masih belum mau pergi membuat pria itu tidak sadar kalau Gabriela sempat menatapnya lama saat Jonathan duduk di depan sebagai pengawas PAS yang baru saja dimulai.
Gabriela langsung membuang muka saat Jonathan melirik ke arahnya. Ia bisa menangkap kalau guru matematika yang sudah menjadi suaminya itu sedang kasmaran, sayangnya bukan pada Gabriela yang berstatus istrinya tapi pada perempuan lain.
“Elo kenapa ?” tanya Mimi saat keduanya berjalan keluar kelas.
“Lagi berasa jadi orang bodoh sedunia,” sahut Gabriela sambil tertawa getir.
'Kenapa lagi ?”
Gabriela tidak menyahut karena mereka berpapasan dengan Jonathan di depan ruang guru yang ada di lantai 1.
Gabriela hanya mengangguk sekilas tanpa menyapa bahkan langsung bergegas meninggalkan Mimi. Jonathan sempat mengerutkan dahi melihat sikap gadis itu yang seperti sedang menghindarinya.
“Mau kemana ?” Gabriela mengerutkan dahi saat Mimi yang mengikutinya langsung duduk di atas jok motor.
“Kita cari tempat buat refreshing sejenak,” sahut Mimi sambil menaikturunkan alisnya.
“Nggak usah, gue mau pulang aja terus bocan nanti malam baru belajar.”
“Gab,” lirikan Mimi yang menuntut tidak dipedulikan oleh Gabriela.
“Beneran gue mau pulang aja. Udah janji makan siang di rumah bareng Mama, kasihan kalau sampai nggak jadi.”
Mimi baru mau memaksa lagi tapi Gabriela langsung menunjukkan layar handphonenya. Ada tulisan My Mom muncul di sana sebagai tanda panggilan masuk.
Akhirnya Mimi mengalah, padahal ia ingin memberikan kesempatan supaya Gabriela bisa mengeluarkan uneg-unegnya saat ini.
*****
Sementara Itu Jonathan yang sudsh mencari banyak alasan untuk menolak ajakan Maya untuk kesekian kalinya akhirnya harus mengalah. Wanita itu sudah berdiri di depan gerbang sekolah saat Jonathan keluar dengan membawa motornya.
Sempat melewati negosiasi alot karena Maya bersikukuh pergi satu kendaraan dengan mobilnya atau motor Jonathan. Kedua opsi itu ditolak oleh Jonathan yang mengancam lebih baik batal kalau Maya tidak mau pergi masing-masing. Akhirnya Maua gantian mengalah dan membiarkan Jonathan menunggunya di Mal berkelas yang menjadi tujuan Maya.
Dengan alasan ingin mencari kado untuk daddy-nya yang sebentar lagi akan berulangtahun, Maya mengajak Jonathan berkelililing keluar masuk toko perlengkapan pria. Pilihannya akhirnya jatuh pada satu kemeja dan dasi yang harganya bisa langsung menghabiskan gaji Jonathan sebulan.
“Terima kasih sudah menemaniku hari ini, jadi ingat saat kita masih jalan berdua,” ujar Maya saat keduanya sudah duduk di salah satu kafe yang ada di mal.
“Sama-sama,” sahut Jonathan sambil tersenyum tipis.
Perasaannya amburadul, antara bahagia bisa menikmati waktu bersama Maya lagi dan di sisi lain merasa bersalah karena harus berbohong pada Mama dan Gabriela.
“Bagaimana hubungan kalian selama ini ? Maksudku kamu dan istrimu ? Apa kamu tidak kesulitan harus membimbing istri yang masih bocah ?”
Mata Jonathan membola melihat Maya yang sedang tertawa pelan. Pesona wanita itu kembali membuat pikiran Jonathan mendadak nyangkut pada perasaan cintanya yang masih tersisa.
”Jangan kaget, aku tidak sengaja tahu kalau istrimu itu masih anak sekolah. Namanya Gabriela kan ? Apa dia murid yang kamu panggil Gaby itu ?”
__ADS_1
“Darimana kamu tahu ?”
“Tidak penting soal sumberku, yang perlu kamu jawab apa kamu senang punya istri yang masih sangat belia ? Setahu aku kamu tidak terlalu suka terlibat hubungan dengan anak-anak remaja seusia murid-muridmu. Aku tidak akan pernah lupa dengan ekspresi wajahmu yang kesal karena banyak siswi mencoba menarik perhatian dan mengganggu ketenanganmu dengan ungkapan rasa suka mereka ?”
“Mungkin ini yang namanya karma,” gumam Jonathan sambil tersenyum getir.
“Apa kalian sudah…..”
Jonathan menatap Maya dengan alis menaut dan saat melihat isyarat tangan Maya, ia langsung menggeleng.
“Kenapa ? Bukankah kalian sudah sah ? Apa dia tidak menarik buatmu karena masih terlalu kecil ?”
Jonathan masih diam dan meraih gelas minuman dinginnya. Rasanya sungkan membicarakan masalah hubungan suami istri pada mantan kekasihnya.
“Jo, berbagilah cerita denganku,” ujar Maya sambil menyentuh tangan Jonathan yang terlihat gugup.
“Kita sudah sama-sama dewasa dan aku siap untuk menjadi istrimu yang kedua setelah kalian bercerai, jadi tidak masalah kalau aku tahu bagaimana perjalanan rumah tanggamu saat ini.”
“Aku tidak suka membahas masalah privasi dengan orang lain bahkan dengan kamu ataupun Kendra.”
Maya yang tidak menyerah menggenggam jemari Jonathan lalu menempelkan tangan kekar itu ke pipinya.
“Bisakah kamu tidak menyentuh istri kecilmu itu sampai kalian bercerai ? Aku ingin menjadi yang pertama, terakhir dan satu-satunya wanita yang bisa memilikimu seutuhnya.”
“Maya aku…”
“Jonathan !”
Panggilan itu membuat Jonathan buru-buru menarik tangannya yang menyentuh pipi Maya.
“Baik,” sahut Kendra singkat dan langsung menatap sahabatnya kembali.
“Elo ada di sini juga ?” tanya Jonathan dengan suara gugup.
“Wooiii bangunan ini namanya Mal, Bro. Siapapun boleh kemari biar nggak belanja,” sindir Kendra sambil melirik beberapa kantong belanjaan yang ada di kursi satunya.
“Maksud gue…”. Jonathan makin gugup melihat tatapan Kendra yang tersenyum sinis kepadanya.
“Elo dicariin sama Pak Sofian. Pak Hendri mau ketemu. Sejak kemarin pesan dan telepon Pak Sofian nggak ditanggapi makanya dia sampai nanya ke gue.”
Jonathan mengerutkan dahi karena sampai tadi 5 menit yang lalu, Jonathan tidak menemukan ada pesan dari Om Sofian atau panggilan telepon dari Papi Hendri.
Kendra memperlihatkan layar handphonenya secepat kilat hingga Jonathan tidak sempat membacanya.
“Sekarang mereka lagi ada di sini. Gimana kalau elo ikut gue menemui mereka. Kalau sampai berkali-kali elo dihubungi berarti ada masalah penting yang mau dibahas sama elo.”
Jonathan terlihat ragu meninggalkan Maya, tapi melihat tatapan Kendra yang tersenyum penuh makna padanya, akhirnya Jonathan pamitan pada Maya.
“Jo,” Maya beranjak bangun dan menahan lengan Jonathan. “Apa Pak Hendri itu mertuamu ?”
“Ya, ia mertuaku. Maaf aku pergi duluan.”
Perlahan tangan Maya terlepas dan Jonathan pun berjalan dengan Kendra meninggalkan kafe.
__ADS_1
“Mereka ada dimana, Ken ?” tanya Jonathan saat keduanya sudah berjalan di area mal.
“Gue nggak tahu,” Kendra mengangkat kedua bahunya.
“Loh tadi elo bilang mereka ada di sini.”
Kendra menghela nafas dan memberi isyarat pada Jonathan untuk mengikutinya masuk ke restoran ala Indonesia yang agak sepi.
Keduanya hanya memesan makanan ringan dan teh hangat.
“Lupa kalau di rumah sudah punya istri ?” tanya Kendra sambil tersenyum sinis.
“Gue hanya nemenin Maya cari kado buat bokapnya bukan check in ke hotel,” sahut Jonathan balas tersenyum sinis karena kesal saat tahu Kendra membohonginya.
“Kenapa ? Kesal karena nggak bisa lanjut selingkuh dengan mantan pacar ?”
Jonathan hanya melengos kesal dan mengambil teh hangatnya.
“S**it !” maki Jonathan saat teh panas itu menyentuh lidahnya.
“Lidah nggak bertulang, Bro. Dia lagi diberi pelajaran karena udah berani berbohong sama istri dan ibu sendiri,” ejek Kendra.
“Udah gue bilang…”
“Iya gue tahu kalau elo hanya nemenin dia belanja, mata gue masih awas buat melihat banyak kantong belanjaan branded. Elo bangga karena dipandang orang sebagai cowok kaya yang bisa belanjain pacarnya dengan barang-barang mewah ?”
“Kenapa elo begitu nggak sukanya sama Maya ? Jangan bilang elo dendam karena pernah dtolak sama dia.”
“Bukan level gue cari selingkuhan model Maya, perempuan nggak setia dan materialistis. Gue lebih tertarik menjadikan istri elo jadi selingkuhan gue.”
“Dasar gila !” omel Jonathan. “Apa maksud elo soal nggak setia ? Memangnya Maya pernah selingkuh ?”
“Elo kenal gue udah lama, Bro. Dia nggak semanis aroma parfum yang dipakainya, banyak hal yang elo nggak tahu karena otak lo itu hanya penuh dengan rumus matematika dan idealisme, mirip kayak murid-murid elo. Gue nggak pernah asal jeplak tanpa melihat bukti di depan mata. Tapi biar pun kita sahabatan, gue nggak punya hak untuk melarang elo, lah nyokap elo aja nggak didengar.”
“Dimana elo ketemu Maya berselingkuh ? Apa gue kenal sama cowoknya ?”
“Semuanya udah bukan urusan gue,” Kendra mengangkat kedua tangannya.
“Gue hanya bisa memberi nasehat : fokus sama istri yang udah ada di samping elo, tapi fokusnya bukan menunggu waktu kapan bisa cerai dari Gaby. Karena begitu elo melepas dia, gue akan jadi orang pertama yang akan mengobati luka hatinya dan melindungi Gaby.”
“Jadi ceritanya kutunggu jandamu ?” ledek Jonathan sambil tersenyum mengejek.
“Kalau elo udah kelewatan sama Gaby, bukan lagi kutunggu jandamu tapi kurebut istrimu.”
“Dasar gila ! Coba aja kalau elo bisa membuat Om Hendri merubah wasiat Tante Anna,” ejek Jonathan.
“Saat ini tanpa terduga perusahaan tempat gue kerja lagi menjalin kerjasama dengan perusahaan Om Hendri. Buat jaga-jaga kalau elo benar-benar udah muak sama Gaby, pelan-pelan gue akan ngomong sama mertua elo supaya membuat wasiat baru, mengijinkan Gaby nikah sama gue.”
“Silakan aja,” tantang Jonathan sambil tersenyum mengejek.
“Silakan tertawa, Jo. Gue bukan orang yang sembarangan mengambil keputusan. Saat gue bisa mendapatkan apa yang gue mau, jangan harap gue akan melepaskannya !”
Jonathan kembali tertawa karena hatinya merasa sedikit lega kalau memang Kendra akan memperjuangkan cintanya pada Gabriela.
__ADS_1
“Gue doakan semoga cepat terwujud supaya gue nggak perlu nunggu 4 tahun hanya demi surat perianjian konyol itu,” tegas Jonathan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Kendra.
Jangan sampai tawa elo berubah jadi air mata, Jo. Akan gue buktikan kalau Gabriela lebih berharga daripada sepuluh orang kayak Maya, batin Kendra.