Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Ujian yang Sebenarnya


__ADS_3

Sudah 3 hari ini Gaby kembali tidur di kamar Jenny dengan alasan ingin mempersiapkan diri menghadapi ujian sekolah di hari Senin.


Minggu sore Jonathan pamit pergi tugas keluar kota selama 5 hari. Pria itu bahkan hanya sekedar pamit dan tidak memberikan pelukan serta ciuman untuk memberi semangat pada Gaby.


“Tumben kamu datang ? Mau protes karena Nathan harus keluar kota pas kamu ujian ?” ledek Om Sofian saat menemui Gaby di ruang tamu rumahnya.


“Ngapain protes ? Om lupa kalau Gaby udah biasa sendirian ?” Om Sofian tertawa sambil mengangguk-angguk.


“Rumah kok sepi banget, Om ?”


“Tantemu lagi pergi sama Lili dan Hendra menginap di rumah omanya. Nanti malam baru pulang.”


Gaby mengangguk sambil tersenyum lalu mengeluarkan amplop cokelat yang dibawanya. Om Sofian meraihnya dan mengeluarkan dokumen yang ada di dalamnya.


“Apa maksudnya Gaby ?” tanya Om Sofian dengan wajah terkejut saat membaca tulisan di atas kertas.


“Surat itu sudah disiapkan oleh Mas Nathan tepat di saat kami baru menikah lengkap dengan tandatangannya. Saat itu Gaby tidak mau menandatanganinya karena situasi yang Gaby hadapi tidak memungkinkan untuk melepaskan Mas Nathan. Gaby yakin kalau Papi dan Om tahu masalah yang sebenarnya, Jonathan tidak pernah mencoba memperkosa Gaby.”


“Ini baru setahun dan kamu sudah mau berpisah dengan Nathan ? Kamu sudah tahu konsekwensinya.”


“Papi pernah bilang sebelum meninggal kalau Mas Nathan sampai menyakiti Gaby maka Om Sofian bisa membantu melepaskan ikatan di antara kami. Jadi sekarang saatnya Gaby minta tolong pada Om Sofian.”


“Kenapa mendadak begini ?”


Gaby menghela nafas sebelum menceritakan masalah yang terjadi di antara dirinya dan Jonathan.


“Semula Gaby mau mengabaikan semua sikap Mas Nathan dan kebohongannya tapi begitu mendengar sendiri alasannya saat kami bertemu di restoran, Gaby memutuskan untuk melepaskannya. Minggu depan Gaby sudah 18 tahun dan beberapa bulan lagi jadi mahasiswa. Gaby berjanji akan kuliah sambil bekerja di perusahaan.”


“Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Apa kamu tidak mencoba untuk bicara langsung dengan Nathan ? Mungkin saja ini semua hanya intermezzo karena kondisi perusahaan yang sedang mengalami banyak gangguan.”


“Sejak awal Gaby sudah salah karena menjebak Mas Nathan menikahi Gaby padahal sudah jelas-jelas ia menegaskan kalau hatinya masih sangat mencintai Maya. Pernyataan cintanya hanya karena terbiasa hidup bersama tapi bukan cinta yang sesungguhnya. Gaby sadar kalau keputusan yang Gaby ambil sangat egois dan membuat Mas Nathan malah tersiksa. Tolong ijinkan Gaby mengambil keputusan sendiri, Om. Jangan biarkan Gaby hidup dalam penyesalan seperti Papi.”


Om Sofian terdiam, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kembali memasukkan dokumen itu ke dalam amplop.


“Tunggulah sebentar, Om akan bicara dulu dengan Jonathan. Setidaknya biar Om memastikan tentang sikapnya padamu.”

__ADS_1


“Jadi Om tidak mau mengurus surat perceraian ini ?”


“Berikan Om waktu bicara dengan Jonathan. Saat ini kamu fokus dulu menghadapi ujian akhir.”


Gaby menghela nafas, wajahnya terlihat kecewa karena Om Sofian masih berusaha memperbaiki hubungannya dengan Jonathan. Hati Gaby yang sudah terluka sulit melupakan ucapan Jonathan ditambah lagi rasa bersalahnya karena sudah bersikap egois.


”Kalau begitu, Gaby pulang dulu, Om.”


Om Sofian mengangguk dan mengantar Gaby sampai ke gerbang. Seperti biasa, gadis itu datang dengan motor maticnya.


****


“Kenapa ?” tanya Mimi saat keluar kelas usai mengikuti ujian hari kedua.


“Paling suami lagi sibuk dan lupa memberi semangat. Tinggal besok doang, nggak masalah suami lupa balas wa,” ledek Joni yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


“Cowok kepo !” gerutu Mimi memukul bahu Joni yang tertawa-tawa.


Raina ikut bergabung dan di bersama Joni ada Danu dan Bimbim.


“Langsung pulang ?” tanya Mimi saat mereka sampai di lantai satu. “Atau mau makan dulu ? Besok kan tinggal matematika, belajar nggak belajar sama pusingnya, tinggal tebak-tebakan dan berharap Dewi Fortuna datang.”


“Nah itu tahu,” sahut Raina sambil terkekeh.


Kelimanya berhenti saat melihat sosok Jihan beridiri di dekat jalan menuju parkiran motor.


“Aku mau bicara !” tegasnya sambil menatap tajam Gaby.


“Kita ikut,” bisik Mimi.


“Nggak usah pada kepo. Ini urusan keluarga, jadi nggak perlu kalian sok peduli,” ketus Jihan.


Gaby memberi isyarat kalau ia akan menuruti permintaan Jihan dan meminta kelima temannya untuk membiarkannya pergi.


“Hati-hati,” pesan Raina.

__ADS_1


“Tekan nomor gue kalau ada apa-apa, Gab,” timpal Danu.


Gaby mengangguk sambil tersenyum. Ia bergegas memakai helm dan menyalakan motornya, mengikuti mobil Jihan yang mulai meninggalkan parkiran sekolah.


Butuh 15 menit untuk sampai di tempat yang dituju. Gaby mengerutkan dahi karena melihat Maya duduk di salah satu meja, menunggu kedatangan mereka berdua.


“Sebetulnya yang mau bicara Kak Jihan atau Bu Maya ?” tanya Gaby menahan lengan Jihan yang berjalan di depannya.


“Nggak ada gunanya bicara dengan orang yang bisanya hanya mengancam Mamiku,” ketus Jihan sambil meghentakkan tangan Gaby dengan kasar.


Gaby menghela nafas. Hatinya enggan bertemu Maya apalagi duduk satu meja dan bicara soal Jonathan.


“Apa yang mau dibahas ?” tanya Gaby saat duduk satu meja dengan Jihan dan Maya. Ia menolak tawaran Maya untuk memesan minuman.


“Jojo sudah melamarku.”


Mata Gaby sempat membola saat melihat satu cincin bermata berlian kecil tersemat di jari manis Maya.


”Tolong jangan menghambat proses perceraian kalian. Aku tidak yakin Jojo sudah membicarakannya denganmu karena dia mendadak harus ke Singapura.”


Gaby berusaha tenang padahal degup jantungnya sudah tidak karuan karena Maya pun tahu semua aktivitas suaminya.


”Setelah pekerjaannya beres, aku akan mengajaknya menemui kedua orangtuaku. Sengaja aku memberitahumu supaya kamu tidak terlalu kaget saat Jojo memintamu menandatangani surat perceraian kalian.”


Gaby tersenyum tipis dan memberanikan diri bertatapan dengan Maya yang terlihat sombong. Sesekali ia memandangi cincinnya sambil senyum-senyum.


“Selama kalian belum resmi menikah, Jonathan masih suami saya dan hubungan kalian hanya perselingkuhan. Jangan terlalu percaya diri untuk bertindak lebih jauh karena bisa saja saya melaporkan hubungan kalian pada pihak yang berwajib. Jangan terlalu yakin hanya dengan sebuah cincin. Seharusnya sebagai wanita dewasa yang sudah berpengalaman, Bu Maya akan berpikir ulang untuk menerima Jonathan. Dia yang memuja Ibu dan bilang cintanya tulus akhirnya beralih ke saya hanya karena setiap malam kami menghabiskan malam-malam penuh gairah. Sekarang Joanthan ingin kembali lagi pada Ibu hanya karena menghadapi banyak tekanan dalam pekerjaan. Apa Ibu yakin bisa membuatnya bertahan saat menghadapi masalah baru setelah kalian bersama ?” ejek Gaby dengan senyuman sinis.


”Aku tidak peduli dengan ceritamu,” sahut Maya dengan wajah sama sinisnya.


“Jonathan sudah merasakan bagaimana hidupnya begitu menderita saat jauh dariku, itu sebabnya ia memilih kembali padaku.”


“Kalau begitu tidak ada gunanya kita memperpanjang pembicaraan ini,” Gaby beranjak dari kursinya. “Rasanya tidak sabar menunggu akhir cerita ini.”


Gaby meninggalkan kedua wanita yang tertawa bahagia melihat penderitaan gadis SMA itu. Mereka menangkap kalau Gaby sangat terpukul dengan kenyataan yang harus dihadapinya.

__ADS_1


”Rasanya saya bahagia banget melihat bocah ingusan itu menahan diri untuk tidak menangis. Terima kasih karena Ibu sudah membantu membalaskan rasa sakit hati saya.”


“Dia benar-benar bocah seperti yang Jojo bilang, begitu mudah percaya hanya dengan melihat cincin ini. Aku senang karena Jojo pasti akan lebih mudah membuatnya menyetujui perceraian mereka.”


__ADS_2