Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Terluka


__ADS_3

“Mau ngapain kamu di sini ?” tanya Jonathan ketus saat Gaby berjalan mendekati meja.


Maya hanya diam mengamati kejadian di depannya. Jonathan sendiri masih duduk di kursinya dengan posisi bersandar dan melipat kedua tangannya di depan dada. Wajah pria itu terihat acuh dan tidak peduli dangan ekspresi Gaby saat ini.


“”Jadi ini alasannya Mas Nathan suka pulang malam dan jarang membalas pesan Gaby ?”


Gaby berdiri di dekat Jonathan karena merasa percuma memaki wanita yang menjadi duri dalam pernikahannya. Gaby justru akan mempermalukan diri sendiri karena Jonathan tidak cemas karena ketahuan berduaan dengan mantan kekasihnya.


”Sudah berapa kali aku bilang padamu kalau aku adalah laki-laki dewasa yang normal. Rasanya aku tidak tahan diperlakukan seperti boneka.”


“Gaby tidak pernah menganggap Mas Nathan sebagai boneka di perusahaan. Mas Nathan menyesali pernikahan kita karena harus menjadi wali Gaby ?”


“Terlalu banyak persoalan di perusahaan yang membuat kepalaku pusing dan sampai di rumah yang aku temui hanya seorang anak SMA yang statusnya sebagai istri tapi tidak bisa menjalankan kewajibannya pada suami.”


Gaby menggigit bibirnya, ia paham maksud perkataan Jonathan tapi malu membahasnya karena ada wanita lain di antara mereka.


“Kenapa Mas Nathan tidak membicarakannya pada Gaby ? Kenapa Mas Narthan justru bersikap seolah-olah semua baik-baik saja ?”


Jonathan menghela nafas, wajahnya lurus ke depan tapi tidak juga rnenatap Maya yang duduk di hadapannya.


”Kamu lupa kalau sejak awal tugas kita hanya perlu bersandiwara di depan orang tapi sudah setahun berlalu dan aku tidak sanggup meneruskannya !”


Gaby menarik nafas dalam-dalam, kedua tangannya terkepal di samping berusaha menahan agar tidak ada setetes air mata keluar. Gaby sempat melirik Maya yang tersenyum bahagia melihat kehancuran Gaby.


“Jadi maunya Mas Nathan bagaimana ?”


“Aku tidak mau membahasnya sekarang. Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang makan malam ? Jangan merusak acara dan menghilangkan selera makanku.”


“Apa Mas Nathan mau kita berpisah ?”


“Sudah aku bilang aku tidak mau membahasnya sekarang !” bentak Jonathan membuat hati Gaby tambah terluka.


Gaby tersenyum getir dan menatap Jonathan dengan penuh luka lalu ia menatap Maya yang tersenyum dengan wajah angkuhnya.


“Besok Gaby akan minta Om Sofian membantu mengurus semuanya supaya Mas Nathan bisa segera melepaskan diri dari beban ini.”


Gaby berbalik dan meninggalkan ruangan dengan perasaan yang hancur lebur. Jonathan sempat menghela nafas sejenak namun enggan melihat kepergian Gaby.


”Kamu nggak nyusul ?”

__ADS_1


“Dia akan menganggap ucapanku hanya gertakan belaka kalau menyusulnya. Lagipula bagus juga dia tahu tentang kita, jadi aku tidak perlu menjelaskannnya dengan susah payah. Pikirannya masih kekanak-kanakkan. Kamu tahu sendiri kan bagaimana dia menjebakku sampai kami harus menikahinya hanya dalam waktu 2 minggu ?”


“Terima kasih, Jo,” Maya menyentuh jemari Jonathan yang ada di atas meja dan menggenggamnya.


“Aku akan segera bicara dengan Daddy untuk membujuknya bersedia menemuimu. Terima kasih karena kamu mau kembali padaku.”


Jonathan tersenyum dan balas menggenggam jemari Maya.


“Rasanya aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Daddymu untuk menyelesaikan semua masalah kita.”


*****


Gaby melihat layar handphonenya, membaca ulang pesan dari nomor tidak dikenal yang memintanya datang kalau mau tahu siapa Jonathan yang sebenarnya


Awalnya Gaby mengabaikannya sampai nomor itu mengirimkan foto dan alamat lokasi yang didatangi Jonathan dan Maya.


Gaby langsung pamit pergi, meninggalkan ruang makan usai makan malam dan naik ojol motor untuk mempersingkat waktu.


Ada perasaan lega saat menemukan jawaban atas sikap Jonathan yang berubah dratis 2 minggu ini. Bukan hanya itu, pria itu jadi sering berbohong dan tidak memberikan Gaby kesempatan untuk menanyakan alasannya. Sekarang meskipun rasanya sakit tapi setidaknya Gaby tidak lagi main tebak-tebakan.


Gaby kembali melihat layar handphonenya dan waktu baru menunjukkan pukul 8.50. Sadar kalau matanya sembap karena habis menangis sepanjang jalan di dalam taksi, Gaby minta sopir taksi itu memutar arah menuju daerah rumah keluarganya.


“Nggak baik melamun sendirian.”


Gaby menoleh saat sebuah tangan menyodorkan botol minuman dan suara cowok itu menyapanya.


“Mario ? Bukannya elo kuliah di London ?”


Cowok itu tertawa dan duduk di samping Gaby sambil meletakkan botol minuman di tangan Gaby.


”Sepertinya kontak batin sama elo makanya kaki langsung membawa gue kemari.” Gaby hanya mencebik.


“Gue serius nanyanya nih !” tanya Gaby dengan mata Gaby menyipit.


“Bokap sakit parah seminggu yang lalu makanya gue langsung diminta pulang, tapi sekarang sudah nggak di ruang ICU lagi jadi aman.”


“Semoga bokap cepat sembuh dan semuanya baik-baik aja.”


“Terus elo sendiri kenapa ? Gue nggak sengaja lihat elo baru turun dari taksi pas lewat sini.”

__ADS_1


“Habis apel Jihan, ya ?” ledek Gaby sambil terkekeh.


“Cemburu ?” Mario menyenggol bahu Gaby dan gadis itu langsung menggeleng.


“Lupa rumah gue dimana ? Lupa kalau gue suka samperin elo di sini kalau lagi melow gara-gara Jihan dan Tante Gina ?” ledek Mario sambil tertawa. Gaby tersenyum dan mengangguk-angguk.


“Sekarang ceritain kenapa elo nangis? Gue kepo banget nih dan nggak bakal pergi kalau elo nggak cerita. Ada masalah apa sama laki lo ?”


“Sotoy !”


“Udah nggak ada cerita ibu dan kakak tiri yang kejam jadi gue yakin banget penyebab elo nangis sampai bengkak begitu adalah suami lo.”


Gaby tertawa berusaha menutupi kegetiran hatinya. Mana mungkin dia bercerita pada Mario soal rumah tangganya apalagi mereka berdua sempat memiliki sejarah yang buruk.


”Benar-benar sotoy !” Gaby mencebik. “Lagipula kalau pun benar, dilarang keras seorang istri mencari cowok lain untuk jadi tempat curhatnya apalagi cowok modelan elo.”


Gaby beranjak bangun, enggan memperpanjang percakapannya dengan Mario.


“Elo masih benci sama gue ?” tangan Mario menahannya.


“Nggak benci tapi waspada,” sahut Gaby sambil terkekeh.


“Udah lebih dari setahun dan elo masih belum bisa memaafkan gue ?”


“Kalau belum maafin elo, udah pasti gue akan langsung kabur begitu melihat elo datang tapi nyatanya gue masih bisa ketawa sama elo jadi jangan nethink. Gue balik dulu.”


“Tunggu !” Mario kembali menahan lengan Gaby. “Gue lihat taksi yang bawa elo kemari udah pergi, jadi gue nggak menerima penolakan untuk nganterin elo pulang.”


“Kepo amat sih ! Rumah elo udah tinggal selangkah, ngapain juga malah harus nganter gue segala. Gue balik dulu.”


Gaby menghentakkan tangannya dan berlari kecil ke arah gerbang taman dan tanpa menoleh langsung naik salah satu ojek yang ada di pangkalan.


Mario menghela nafas sambil tersenyum tipis saat Gaby melambaikan tangan dari atas motor yang sudah melaju. Gadis itu pasti masih trauma berdekatan dengannya hingga menolak semobil dengan Mario.


Jam 9.45 Gaby sudah sampai di rumah. Berjalan mengendap takut Mama Hani masih bangun dan Gaby tidak ingin mertuanya melihat matanya bengkak ketahuan habis menangis. Hari ini ia harus berbohong, ijin pergi sama Mama dengan alasan temannya mengabarkan kalau orangtuanya sakit.


Gaby menarik nafas lega saat melihat ruang tengah sudah gelap. Tidak ada tanda-tanda Jonathan sudah pulang hingga Gaby memutuskan langsung masuk ke kamar.


Usai membersihkan diri, Gaby menghampiri meja tulis yang ada di kamar. Dengan sedikit bergetar, ia membuka laci kedua yang ada di sisi kanan dan meraih amplop cokelat yang diletakkan paling bawah.

__ADS_1


Ia menghela nafas dan tidak berpikir kalau surat itu akhirnya benar-benar harus ditandatanganinya.


__ADS_2