Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Bertemu Maya


__ADS_3

“Sudah puas sekarang ?” tanya Gaby saat mereka baru saja keluar dari ruang pemeriksaan dokter kandungan.


Jadwal pemeriksaan Gaby masih minggu depan tapi Jonathan yang sudah memberitahu mama soal kabar gembira ini ngotot mengajak Gaby melakukan pemeriksaan lebih awal.


“Sayang, rasanya beda melihat hasil cetakan foto dengan datang langsung dan melihat debay bergerak-gerak di layar monitor,” sahut Jonathan dengan wajah sumringah membuat Gaby memutar bola matanya.


“Puas sekarang ?” Jonathan mengangguk-angguk masih dengan senyuman lebarnya.


“Mama dan Jenny akan pulang ke Jakarta 2 hari lagi dan mereka minta kita tinggal di rumah. Kamu nggak apa-apa tidur di lantai 2 ? Bahaya nggak kalau bumil sering naik turun tangga ?”


“Mas Nathan jangan lebay deh ! Kalau sehari 100 kali naik turun tangganya mungkin berbahaya, tapi selama tinggal di sana kan Gaby juga nggak sering naik turun.”


“Sebetulnya aku berencana mau membelikan rumah untuk kita, tapi uangnya belum cukup bahkan untuk dp-nya. Aku janji akan bekerrja lebih giat lagi supaya bisa memberikan tempat tinggal yang layak untukmu dan anak-anak kita.”


“Rumah yang ditempati oleh Tante Gina dan Jihan sudah Gaby jual. Bagaimana kalau uangnya kita pakai untuk beli rumah ? Anggap saja uang itu hadiah pernikahan dari mami dan papi.”


“Sekarang mereka tinggal dimana ?”


“Gaby sudah minta Om Sofian membelikan rumah sederhana di sekitar Tangerang, tapi baru akan diberikan setelah Lisa lulus SMA. Untuk sementara mereka disewakan rumah kecil yang tidak jauh dari sekolah.”


“Aku benar-benar bersyukur menikahimu, Bi. Maaf di awal pernikahan kita, aku sudah sangat jahat padamu.” Jonathan merangkul Gaby dan menciumi kepala Gaby.


“Sudah lewat, jangan diungkit lagi. Mulai sekarang jangan coba-coba minum alkohol kalau lagi sendirian ! Bisa-bisa kejadian di hotel ada part 2 nya. Untung aja yang dihamili istri sendiri, gimana ceritanya kalau cewek lain ?”


“Bi, kejadian di hotel itu konspirasi Kendra sama Om Sofian. Aku udah interogasi Kendra sampai dia ngaku kalau yang kasih aku minuman keras ya dia juga. Tapi kali ini aku senang dikerjai mereka karena bisa balik lagi sama kamu plus bonus debay.”


“Mas Nathan nggak mesum begini kan di sekolah yang baru ? Awas aja coba-coba bikin murid cewek pada klepekan lagi, apalagi guru sok manis itu.”


Jonathan tertawa dan mengeratkan rangkulannya, wajah Gaby yang cemberut membuatnya seperti bocah.

__ADS_1


“Ternyata kamu bisa jadi pecemburu juga, Bi. Rasanya bikin aku melayang dicemburui sama istri.”


Gaby hanya melengos sebal lalu berjalan ke deretN bangku di depan bagian administrasi, menunggu Jonathan menyelesaikan pembayaran.


”Jojo ! Jojo !”


Bukan hanya Gaby dan Jonathan yang menoleh tapi orang-orang di sekitar situ ikut mencari sumber suara dan menatap seorang wanita yang tiba-tiba datang dan memeluk Jonathan dari samping. Spontan Gaby bangun dan mendekati suaminya yang tengah dipeluk.


“Kamu kemana aja, Jo ? Apa kamu nggak tahu kalau anak kita sudah lahir ?”


“Maya jangan begini.” Leo yang mengejar Maya berusaha melepaskan pelukan istrinya dari Jonathan.


“Tapi aku sudah menunggunya lama, Kak Leo. Berkali-kali aku mencoba meneleponnya tapi ia mengabaikan aku. Pasti gara-gara kamu kan !”


Maya yang berhasil dilepaskan oleh Leo menunjuk Gaby dengan tatapan tajamnya.


“Sejak dulu kamu selalu berusaha merebut Jojo dariku sampai berbuat keji seolah Jojo mau memperkosamu dan sekarang… hhhmmm…hmmmm.”


“Ada apa ini Leo ?” tanya Om Harry dengan dahi berkerut.


“Maya langsung lari dari kursi roda begitu melihat Jonathan,” sahut Leo yang berusaha membawa Maya menjauh. Martin pun akhirnya membantu adik iparnya itu.


“Maafkan Maya , Gaby, Jo. Beberapa hari ini emosinya kembali tidak terkendali dan tidak mau makan sama sekali, jadi kami membawanya ke rumah sakit, jaga-jaga siapa tahu dia perlu dirawat,” ujar Om Harry dengan wajah sedih.


Beberapa orang yang sempat melihat kejadian itu mulai kasak kusuk. Mereka pasti berpikir kalau Gaby memang seorang pelakor. Dari bentuk tubuh dan wajahnya orang pasti menyangka kalau Gaby masih anak sekolah sekitar SMP atau SMA kelas 1


“Nggak apa-apa, Om. Tadi kaget aja karena Mbak Maya bilang kalau Mas Nathan adalah ayah dari bayinya,” sahut Gaby.


“Maya masih belum mau menyentuh anaknya sendiri,” ujar Tante Anita sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


“Kita duduk di sana dulu saja Om biar tidak mengganggu orang yang mau mengurus adimihistrasi,” ujar Jonathan sambil merangkul bahu Gaby.


“Apa kehadiran Kak Leo tetap tidak bisa membantu kesembuhan Mbak Maya, Om ?”


Om Harry menarik nafas dalam-dalam sementara Tante Anita masih meneteskan air mata.


“Sejak Leo kembali dan berulang kali bilang kalau ia tidak mempermasalahkan soal bayi yang Maya lahirkan, kondisi Maya sempat membaik meskipun dia belum mau menyentuh anaknya.”


“Maya mulai bersikap tenang, bisa diajak bicara biasa, duduk di meja makan untuk makan bersama bahkan sempat mau tidur sekamar lagi dengan Leo,” timpal Tante Anita di sela tangisnya.


“3 hari yang lalu Maya kembali menunjukkan sikap cemas, lama-lama seperti orang ketakutan. Terus terang beberapa kali ia pernah minta dipertemukan denganmu, Nathan. Saat Om tanya untuk apa, Maya tidak mau menjawab.”


“Tapi saya berani sumpah kalau saya tidak pernah menyentuh Maya sejauh itu. Gaby adalah yang pertama dan sampai detik ini jadi wanita satu-satunya dalam hidup saya,” sahut Jonathan dengan nada sedikit emosi.


“Om yakin dan percaya padamu kalau soal itu,” ujar Om Harry sambil tertawa pelan.


Tidak lama Martin datang menghampiri mereka dengan wajah yang terlihat cemas bercampur lelah.


“Maya sudah diberi penenang dan dibawa ke kamar rawat inap. Dokter Hasbi dan dokter Ismah ingin bertemu, termasuk denganmu juga Jo.”


Jonathan mengerutkan dahi dan wajahnya terlihat kesal namun Gaby langsung menggenggam jemarinya.


“Lebih baik kita temui dokter, Gaby akan menemani Mas Nathan.”


“Aku malas kalau mereka ingin menanyakan soal kebenaran ucapan Maya tadi, Bi. Aku berani sumpah demi apapun, aku tidak pernah menyentuh Maya lebih dari sekedar pelukan.”


“Gaby percaya sama Mas Nathan.” Gaby tersenyum dan mencium pipi suaminya di depan Om Harry, Tante Anita dan Martin.


“Kita dengarkan dulu apa pendapat dokter. Kalau memang dokter memaksa Mas Nathan mengiyakan ucapan Maya hanya untuk membantunya, Gaby adalah orang pertama yang akan menentangnya.”

__ADS_1


Jonathan masih terlihat enggan dan dahinya masih berkerut karena kesal. Gaby mempererat genggamannya hingga membuat Jonathan menoleh ke arahnya. Melihat senyuman dan anggukan Gaby, akhirnya Jonathan mengalah dan menuruti permintaan Martin untuk menemui dokter bersama keluarga Maya lainnya.


__ADS_2