
“Jangan kangenin Mas Nathan tiap hari, ya,” ledek Jonathan sambil mencubit hidung Gaby.
Pagi ini Jonathan memaksa mengantar istrinya ke sekolah sebelum pergi meninjau perkebunan kopi di Kendal dan Bawen, yang dikabarkan terserang hama penggerek.
Om Sofian mewajibkan Jonathan ikut karena sebagai pimpinan tertinggi di perusahaan, pria itu wajib tahu soal perkebunan dan tidak hanya duduk di balik meja. Apalagi perkebunan kopi ini adaah bahan utama untuk kelangsungan perusahaan.
“Lupa kalau ada ini ?” Gaby menggoyangkan handphonenya. Jonathan mengangguk sambil tertawa.
“Semangat belajarnya, sebentar lagi PAS terus lanjut dengan persiapan ujian.”
“Mas Nathan juga semangat kerjanya, jangan lupa bagi cerita sama Gaby karena suatu saat kita akan menjalani perusahaan bareng-bareng.”
Jonathan kembali mengangguk sambil tersenyum. Tangannya membelai kepala Gaby penuh cinta. Rasanya bahagia saat mendengar istrinya tidak lagi bicara formal padanya.
“Gaby turun dulu, sebentar lagi bel masuk. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai di perkebunan.”
Jonathan menahan lengan Gaby sebelum gadis itu membuka pintu. Ia langsung memeluk Gaby dan menciumi rambut gadis itu.
”Masa turun begitu aja, nggak cium suami dulu.”
“Mas Nathan apaan sih, malu tuh ada Pak Oding di depan.” Gaby berusaha melepaskan diri dari Jonathan yang malah mempererat pelukannya.
“Sebentar aja, 1 menit. Rasanya belum jauh aja udah kangen.”
“Gombal.”
Gaby tersenyum dalam pelukan Jonathan, menenangkan hatinya yang berdebar. Sebetulnya perasaannya sama dengan Jonathan, tapi malu untuk mengungkapkannnya.
“Jangan nakal selama aku pergi !”
Jonathan sudah melerai pelukannya dan menangkup wajah Gaby.
“Nggak pernah nakal di sekolah ! Lagian udah nggak ada guru matematiks yang bisa diajak berantem.”
Gaby terkekeh dan membiarkan Jonathan mencium keningnya beberapa saat.
Tangan Gaby sudah siap membuka pintu, ia melarang Jonathan mengantarnya turun. Terlihat helaan nafas panjang sebelum Gaby terbalik dan menarik kemeja Jonathan lalu mencium bibir pria itu sekilas.
__ADS_1
“Yang semangat kerjanya !”
Gaby tidak menunggu tanggapan Jonathan yang terkejut. Ia bergegas turun dan menjauhi mobil. Jonathan senyum-senyum sendiri sambil memegang bibirnya. Ini kedua kalinya Gaby berinisiatif menciumnya terlebih dahulu. Rasanya luar biasa.
Perlahan mobil yang ditumpangi Jonathan berjalan meninggalkan sekolah Dharma Bangsa.
“Cie cie yang diantar suami ,” ledek Mimi yang langsung merangkul lengan Gaby sebelum keduanya mencapai gerbang gedung SMA.
“Maksa nganter soalnya mau ditinggal ke luar kota.”
“Ce cie… ada yang mulai terbuai suami bucin nih,” ledek Mimi sambi menoel-noel pipi Gaby.
“Apaan sih !” Mimi langsung tertawa saat melihat Gaby cemberut sambil melotot.
“Jangan bohong, mulut bilang nggak, muka elo merah sambil malu malu meong.”
Gaby hanya diam dan membiarksn Mimi tertawa-tawa meledeknya.
“Lama perginya ?”
“Belum tahu. Kemarin siang ada kabar dari perkebunan kalau tanaman kopi diserang hama, katanya lumayan parah. Jadi belum tahu berapa lama keluar kotanya.”
Gaby hanya memutar bola matanya padahal dalam hati ia mulai merindukan Jonathan yang baru beberapa menit pergi meninggalkannya.
***
“Gimana kabar masalah Tante Anita ?” tanya Kendra saat mobil yang mereka tumpangi sudah melewati kota Cirebon.
Sejak Kendra diangkat menjadi asisten pribadi Jonathan sebulan yang lalu, sahabatnya itu hampir setiap waktu menemani Jonathan mengurus pekerjaan.
“Sejauh ini Maya nggak pernah menghubungi gue untuk membahas masalah itu dan Gaby sudah mulai membaik emosinya.”
“Asal elo ingat aja kalau orang kayak Maya nggak akan diam begitu aja apalagi Tante Anita pasti memarahinya habis-habisan begitu tahu kalau Maya masih aja ngejar meski tahu kalau elo udah nikah.”
“Kalau dia langsung berhadapan dengan gue nggak masalah. Gue khawatir kalau Gaby yang jadi korban pembalasan dendamnya, apalagi ada Jihan di samping Maya.”
“Gaby gadis tangguh, gue yakin dia bisa menghadapi mereka asal elo sungguh-sungguh mencintai dia, nggak bimbang lagi kayak sebelumnya.”
__ADS_1
“Kalau soal itu elo udah tahu jawabannya. Gue udah mencintai Gaby dan nggak akan gampang berubah.”
Kendra tersenyum tipis sambil mengangguk-angguk.
Tidak terasa mobil sudah keluar dari tol dan masuk kawasan kota Kendal. Om Sofian mengajak mereka makan siang dulu sebelum pergi ke perkebunan.
Sekitar jam 2 siang, mobil yang membawa Jonathan, Kendra, Om Sofian dan Pak Hasbi, salah satu staf perusahaan, sampai di kawasan perkebunan kopi yang cukup luas.
Pak Imam sebagai penanggungjawab di sana langsung menyambut kelimanya. Tanpa menunda lama-lama, mereka diajak berkeliling.
Untuk pertama kalinya Jonathan mengunjungi perkebunan kopi milik keluarga mami Anna. Dahinya berkerut memperhatikan banyak buah kopi muda jatuh di atas tanah serta bagian batang dan ranting tampak kering.
“Baru seminggu yang lalu seluruh pohon di sini selesai diberi pupuk ulang dan dipangkas supaya tidak terjadi penumpukan batang pohon dan tidak ditemukan adanya hama di salah satu pohon. 2 hari yang lalu, saat pekerja mulai turun ke perkebunan, mereka terkejut karena menemukan adanya hama penggerek ini di banyak pohon. Akhirnya saya meminta mereka untuk memastikan berapa banyak pohon yang disersang hama. Kami sangat terkejut karena lebih dari separuh perkebunan diserang hama penggerek.”
“Apa mungkin dalam waktu singkat hama itu menyerang banyak pohon sekaligus, Pak ? Maksud saya seperti wabah,” tanya Jonathan yang masih buta soal tanaman kopi.
“Tidak secepat itu menyebarnya, Tuan. Dan kalau memang wabah, saat saya meminta beberapa pekerja menanyakan pada perkebunan tetangga, mereka pasti akan menemukan adanya kasus yang sama pada pohon mereka.”
“Jadi ada kemungkinan ini semua buatan manusia ?” tanya Om Sofian.
Jonathan yang masih belum paham menatap Om Sofian penuh tanda tanya. Terlihat pria paruh baya itu geram dan rahangnya mengeras.
“Sabotase maksudnya, Bro,” ujar Kendra menjawab kebingungan Jonathan.
“Jadi hama itu sengaja disebar di perkebunan ini ?” tegas Jonathan untuk memastikan penangkapannya.
“Sepertinya begitu,” ujar Pak Hasbi. “Kalau memang wabah, bukan hanya perkebunan ini yang diserang dan tidak akan secepat ini hama itu menyebar di satu lokasi saja.”
“Apa tidak ada CCTV di kawasan perkebunan, Om ?” tanya Jonathan sambil mengedarkan pandangannya, mencari titik-titik kamera yang mungkin terpasang di kawasan perkebunan.
“Ada Tuan, tapi kami tidak menemukan ada orang lain yang masuk ke perkebunan untuk menyebarkan hama itu,” sahut Pak Imam.
“Boleh kami melihatnya ?” tanya Jonathan.
Om Sofian diam saja dsn berjalan di belakang Jonathan dan Kendra yang mengikuti Pak Imam kembali ke kantor pengelola perkebunan.
“Apa kejadian seperti ini sudah pernah dialami sebelumnya, Pak ?” tanya Jonathan sambil berjalan di samping Pak Imam dan Kendra tetap di belakang mereka.
__ADS_1
“Pernah sekali tapi sudah puluhan tahun yang lalu saat Nona Anna masih hidup dan saya belum lama bekerja di sini. Selebihnya sesekali serangan hama dan gangguan jamur biasa terjadi tapi tidak langsung meyerang lebih dari separuh perkebunan.”
Jonathan mengangguk tanda mengerti. Pikirannya langsung dipenuhi berbagai dugaan. Menarik untuk dicari tahu tapi sempat membuat Jonathan menghela nafas. Masalah persaingan bisnis mungkin saja menjadi penyebabnya dan nyatanya Jonathan harus siap menjalani hal baru yang berbeda dengan persaingan yang dialaminya selama menjadi guru.