
Senin pagi saat turun untuk sarapan, Jonathan tidak berani berkomentar soal makanan yang tersaji di meja meskipun Jenny sudah kembali ke Semarang sejak kemarin sore.
Jonathan hanya celingukan mencari Gabriela yang tidak ditemuinya di kamar bahkan tas sekolahnya juga sudah tidak ada.
“Istrimu sudah berangkat sejak 30 menit yang lalu, pamit sama Mama katanya ada perlu.”
“Iya, tadi dia sudah bilang kalau harus berangkat lebih pagi.”
Mama menghela nafas karena tahu kalau putranya sedang berbohong. Kalau memang Jonathan sudah tahu, tentu saja ia tidak akan melongok ke sana sini seperti mencari sesuatu atau seseorang.
“Jangan terlalu keras pada istrimu. Sama seperti dirimu, istrimu juga tidak mudah menerima semua ini apalagi di usianya yang masih sangat muda.”
“Ma,” Jonathan meletakkan sendok dan garpunya. “Bisakah Mama tidak menyebut Gaby dengan sebutan istrimu ? Seperti Mama barusan bilang kalau hatiku belum bisa menerima kenyataan ini.”
“Karena itu kamu harus mulai belajar membiasakan diri dari hal-hal sederhana seperti melarang istrimu memanggil Pak Nathan saat kalian berada di luar sekolah.”
“Ma, tolong mengerti dan beri aku waktu. Keputusan menerima perjodohan ini aku lakukan hanya demi kebahagiaan Mama dan permintaan Om Hendri jadi tolong jangan paksa aku untuk langsung membuka hatiku. Saat ini, perasaanku masih dipenuhi bayangan Maya.”
“Bisakah kamu memanggil mertuamu dengan sebutan Papi, sama seperti Gaby memanggil ayahnya ?” suara Mama sedikit meninggi, kesal karena putranya begitu keras hati.
“Selama pikiranmu masih menganggap kalau pernikahan ini hanya untuk sementara seperti perjanjian kontrak kerja, hatimu tidak akan pernah bisa terbuka untuk Gaby.”
Jonathan memilih diam dan hanya menghela nafas. Rasanya tidak nyaman berdebat dengan Mama di pagi hari seperti ini, apalagi ia yakin kalau percakapan ini akan berujung pada rasa kecewa dan sedih di hati keduanya.
“Aku jalan dulu, Ma.”
Jonathan beranjak bangun dan membawa piring kosongnya ke dapur. Ia pun mencium pipi Mama Hani yang masih duduk di kursi meja makan.
Seperti biasa, Jonathan menggunakan motornya setiap pergi mengajar. Mobil hanya dipakainya saat turun hujan atau ada keperluan lain yang membutuhkan transportasi mobil.
Hanya butuh waktu 20 menit, Jonathan sudah sampai di parkiran sekolah. Alisnya menaut saat tidak menemukan motor Gabriela terparkir di situ padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.20. Rasanya tidak mungkin Gabriela yang sudah biasa membawa motor membutuhkan waktu sampai 1 jam untuk sampai di sekolah.
Bel tanda masuk sekolah berbunyi di jam 6.50 diawali dengan acara doa bersama sebelum jam pelajaran pertama dimulai. Jonathan yang memiliki jadwal mengajar jam pertama di kelas Gabriela merasa sedikit lega saat melihat gadis itu sudah duduk di kursi paling ujung di barisan paling belakang.
Entah jam berapa Gabriela tiba di sekolah, Jonathan yang sempat penasaran berusaha menepis rasa ingin tahunya. Sangatlah memalukan kalau sampai ia menanyakan langsung pada Gabriela.
“Gimana MP-nya ?” bisik Mimi saat seisi kelas sedang serius mengerjakan latihan soal matermatika untuk persiapan PAS.
“Elo lupa kalau gue bukan pengantin biasa ?” Gabriela hanya melirik sekilas lalu kembali fokus mengerjakan latihan soal.
“Yah minimal peluk-peluk atau ngintip suami lagi ganti baju gitu. Kalau dilihat sekilas sih, tubuh Pak Nathan cukup keren meski nggak jelas kayak roti sobek atau bagelen,” ujar Mimi sambil cekikikan.
__ADS_1
“Kenapa gue yang nikah, pikiran elo yang melantur kemana-mana ? Dasar mesum !”
Gabriela menoyor pelipis Mimi dari samping. Bukannya marah, sahabatnya itu malah tertawa pelan hingga memancing emosi Jonathan yang sudah memperhatikan mereka sejak tadi.
“Gabriela !” gelegar suara Jonathan tidak hanya membuat si pemilik nama kaget tapi mengundang perhatian hampir seluruh siswa sampai menoleh ke arah Gabriela.
Jonathan berjalan mendekati meja Gabriela dan Mimi lalu berdiri dengan posisi tangan di belakang.
“Kenapa ngobrol dan bercanda terus ?” tatapan tajam guru matematika itu tidak pernah membuat Gabriela gentar.
“Saya nggak bercanda, Pak, tadi Mimi sedang bertanya sama saya.” Jonathan pun beralih menatap Mimi yang spontan langsung menggeleng.
“Temanmu bilang tidak.” Gabriela langsung menoleh dan menautkan alisnya menatap Mimi yang tidak sejalan denahn ucapannya.
“Kalau memang kamu sudah merasa pintar dan tidak memerlukan saya untuk mengajar kamu, sebaiknya kamu keluar dari kelas saya,”
“Saya tidak merasa begitu, Pak dan beneran saya serius mengerjakan latihan soal dari Bapak.” Gabriela sampai mengangkat lembaran soal yang dibagikan untuk semua murid.
“ Saya capek berdebat dan marah-marah sama kamu, jadi kalau memang kamu tidak suka dengan saya atau pelajaran matematika, silakan kamu keluar sekarang juga.”
“Bapak mengusir saya ? Saya tidak melakukan sesuatu yang berat sampai membuat Bapak harus mengeluarkan saya dari kelas !” suara Gabriela mulai meninggi bahkan ia sampai berdiri dan mendongak membalas tatapan Jonathan.
“Berdoa saja semoga kita tidak bertemu lagi di kelas 12,” ujar Jonathan sambil tertawa sinis. “Dan sekarang daripada kamu membuat saya kesal dan merugikan teman-temanmu, lebih baik kamu mengerjakan latihan soal di luar kelas.”
Gabriela menghela nafas dan menatap Jonathan dengan perasaan kesal namun karena tidak ingin menghambat teman-teman sekelasnya, akhirnya Gabriela memilih untuk keluar kelas dan duduk di selasar depan kelas untuk melanjutkan mengerjakan latihan soalnya.
****
Seolah tidak terpengaruh dengan sikap Jonathan yang acuh, keras dan kadang-kadang kasar, Gabriela tetap menjadi anak yang ceria dan penuh semangat. Satu hal yang membuat Jonathan khawatir, Mama Hani semakin menyayangi bocah itu hingga akhirnya sering memarahi Jonathan bahkan mendiamkan putranya sendiri karena dianggap tidak bisa menjadi laki-laki yang bertanggungjawab.
“Kenapa lagi ?” tanya Kendra saat melihat wajah Jonathan kusut saat bertemu dengannya di sore ini.
“Gue curiga kalau si seribu mulut punya niat nggak baik. Dia sudah berhasil mempengaruhi Mama dan Jenny pun ikut membelanya. Entah apa lagi yang akan dia lakukan untuk membuat seolah gue ini sumber masalah.”
“Seribu mulut itu sekarang istri elo, Bro. Nggak ada niat memberi dia nama yang lebih baik ? Sayang kek, honey, baby atau yang terkesan intim gitu.”
“Jangan sok romantis. Kok gue punya feeling elo masuk dalam grup yang nge-pro sama dia ?” mata Jonathan memicing, menelisik Kendra yang malah menertawakannya.
“Lagian elo ini aneh banget, dapat istri yang bertanggungjawab biar masih muda dan bisa bikin keluarga elo bahagia malah dicurigain.”
“Gimana nggak curiga kalau setiap pagi dia berangkat subuh tapi baru sampai sekolah mepet dengan bel masuk sekolah.”
__ADS_1
“Elo udah tanya langsung alasannya ?”
“Gue belum segila itu untuk nanya langsung soal beginian. Bisa-bisa dia gede kepala dan salah kaprah sama gue. Elo tahu sendiri kan kalau cewek seumur dia gampang baperan.”
“Terus elo mau hidup dalam rasa penasaran ?”
“Rencananya hari Senin atau Selasa gue mau ikutin dia, cari tahu kemana dia pergi sebelum ke sekolah.”
“Atau jangan-jangan elo mulai cemburu ?” mata Kendra menyipit, gantian menelisik ekspresi wajah Jonathan. Senyuman Kendra meledek Jonathan yang langsung melotot.
“Matahari bakal terbit di barat kalau gue sampai cemburu sama si seribu mulut. Bawaanya aja ngajak berantem melulu, semoga aja gue nggak kena darah tinggi di umur segini.”
“Kenapa elo harus pikirin Gaby mau ngapain kalau memang elo nggak peduli dan bakal menceraikan dia ? Seharusnya elo bersyukur kalau sampai dia berselingkuh karena artinya dia sudah bisa mendapatkan pengganti elo dan selanjutnya elo bisa bebas dari tanggungjawab wasiat nyokapnya.”
“Mana mungkin segampang itu , Kendra,” sahut Jonathan dengan gemas. “Elo nggak ingat waktu pas baru nikah gur disuruh tandatangan surat pernyataan soal kewajiban yang mengikat untuk menjadi wali sah seribu mulut sampai dia berumur 21 ?”
“Ya udah, kalau begitu elo tinggal milih antara tanya langsung ke Gaby atau membuntuti dia diam-diam terus langsung temuin aja kalau memang dia ketahuan berselingkuh.”
Jonathan menghela nafas lalu meraih gelas minuman dinginnya dan meneguknya hingga tandas.
*****
Senin berikutnya Jonathan buru-buru mandi saat Gabriela sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Sesudah itu dia masuk lagi ke tempat tidur seolah belum terbangun. Begitu Gabriela selesai mandi dan masuk ke kamar sudah berpakaian seragam lengkap, Jonathan yang berpura-pura acuh bergegas ke kamar mandi hanya untuk berganti baju.
“Kamu mau kemana ?” tanya Mama yang bingung melihat anaknya turun dengan terburu-buru sepagi ini dan sudah berpakaian rapi.
“Mau menemani Gaby dulu, Ma. Aku khawatir juga dia kenapa-napa. Jalan dulu, Ma.”
Kedua ujung bibir Mama langsung tertarik saat mendengar ucapan Jonathan karena menganggap putranya itu mulai memberi perhatian dan merasa khawatir dengan istrinya.
Rumah keluarga Papi Hendri !
Tampak seorang pria dan wanita baya sudah menunggunya dan langsung menghampiri begitu Gabriela tiba. Terlihat dengan jelas bagaimana gadis itu memberikan 2 kotak bekal untuk sepasang orangtua yang menemuinya. Ketiganya sempat berbincang cukup akrab.
Hanya 15 menit Gabriela di sana dan bergegas ia kembali melajukan motornya setelah menyerahkan satu kantong kertas pada si pria baya itu. Setelah gadis itu sudah menjauh, didorong oleh rasa penasaran, Jonathan pun mendekati keduanya sebelum mereka kembali ke dalam rumah.
“Tuan muda ?” sapa si pria dengan dahi berkerut. “Tuan suaminya Non Gaby, kan ?”
Jonathan terkejut saat pria itu mengenali dirinya sebagai suami Gabriela. Kepalanya pun menggangguk mengiyakan.
“Tuan nyusul Non Gaby ? Barusan Non sudah pergi ke sekolah,” ujar si pria kembali.
__ADS_1
Tidak ingin membuang waktu, Jonathan pun langsung menanyakan maksud kedatangan Gabriela ke situ setiap pagi dan meminta keduanya supaya jangan bercerita pada istrinya kalau ia sempat datang dan bertanya.
Setelah mendengar cerita Pak Jono dan Bik Aisah, satpam dan pelayan yang sudah lama bekerja di tempat itu, Jonathan pun pergi ke sekolah dengan perasaan yang campur aduk.