Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Kencan


__ADS_3

“Elo apain Mister sampai nggak stop jadi cowok senggol bacok ?” bisik Mimi dari bangku belakang.


Bel pergantian jam baru saja berbunyi dan Jonathan rupanya sudah berdiri di depan pintu kelas. Tatapannya tajam dan ekspresinya kurang bersahabat. Sudah 2 minggu kelas XII IPA-2 harus menghadapi situasi tegang setiap jam pelajaran matematika.


Gabriela tidak berani menoleh, hanya mengangkat kedua bahunya. Ia sadar kalau tatapan tajam Jonathan sering tertuju padanya, padahal sudah seminggu ini Gabriela sudah pindah duduk dengan Bimbim.


Sekecil apapun pergerakan Gabriela, mata elang Jonathan selalu saja meihatnya, seolah guru matematika itu punya banyak mata di seluruh bagian tubuhnya.


“Simpan buku kalian dan kerjakan latihan soal yang akan saya bagikan !”


“Untuk nilai ulangan, Pak ?” tanya Bimbim.


“Iya !”


Hampir satu kelas menggerutu karena kesal. Dalam 2 minggu ini, ulangan dadakan seperti sudah terjadi lebih dari 2 kali.


Tidak ada yang berani melawan, termasuk Gabriela yang sudah 2 minggu ini tidak menanggapi kekesalan Jonathan malah kesannya mengabaikan.


Di rumah, Gabriela diam-diam kembali tidur di kamar Jenny yang sudah kembali ke Semarang, tidak pernah sekalipun menunggu Jonathan yang harus pulang malam karena pergi ke perusahaan selesai mengajar.


“Pak Nathan !” Gabriela menyusul gurunya saat pria itu keluar kelas usai mengajar.


Jonathan hanya diam, menunggu Gabriela menghampirinya.


“Bapak nggak lagi pms, kan ?”


Gabriela berdiri di depan Jonathan, kepalanya mendongak menatap Jonathan yang tetap melihat lurus ke depan.


“Kamu pikir saya bukan cowok tulen ?”


Gabriela mengangkat kedua bahunya dan menatap Jonathan dengan wajah dibuat semanis mungkin.


“Saya nggak tahu.”


“Mau membuktikannya nanti malam ?” bisik Jonathan persis di telinga Gabriela dengan suara sengaja dibuat mendesah.


Gabriela mengusap telinganya yang mendadak gatal karena hembusan nafas Jonathan.


“Nggak usah, buat apa harus nunggu nanti malam kalau bisa dibuktikan sekarang.”


“Kamu masih waras ?” mata Jonathan langsung membola.


“Masih, saya sangat waras. Seharusnya pertanyaan itu ditujukan pada Bapak sendiri. Kalau memang Bapak pria gentle, kenapa nggak langsung datangi penyebab kekesalan Pak Nathan dan selesaikan semuanya sampai tuntas, bukan malah menjadikan kelas kami sebagai tempat pelampiasan.”


Jonathan melengos kesal karena gadis di depannya pura-pura tidak tahu kalau dirinya lah penyebab kekesalan Jonathan.


“Balik sana ke kelas !”


Jonathan melewati Gabriela dengan wajah kakunya, namun matanya kembali membola saat tangan Gabriela menahannya.


“Bapak mau kencan sehari sama saya ? Boleh sebagai guru, suami kontrak atau calon pacar saya.”


Jonathan masih diam dan bergeming di tempatnya sementara tangan Gabriela masih memegang lengannya.


“Kamu mencoba merayu saya ?”


Gabriela mengomel tanpa suara dan mengepalkan tangan di udara, kesal karena Jonathan masih saja memunggunginya.


“Nggak, saya bukan tipe cewek yang suka merayu cowok. Saya hanya mau berterima kasih karena Pak Nathan sudah sangat baik pada saya bahkan hampir setiap hari pulang malam demi membantu saya menjaga perusahaan.”


Jonathan tersenyum tipis, hatinya mendadak seperti disembur AC 1,5 PK, sejuk, tidak panas lagi.


”Maaf kalau ajakan saya malah bikin hati bapak tambah kesal.”

__ADS_1


Gabriela melepaskan tangannya dan hendak kembali ke kelas. Sebelum kakinya sempat melangkah, tangan Jonathan gantian menahan lengannya.


“Sabtu ini, jam 4 sore.”


“Jam 4 ? Nggak kepagian, Pak ? Biasa kencan dimulai jam 6 gitu.”


“Jangan samakan saya dengan cowok-cowok mantan kamu.”


“Saya belum pernah pacaran !” tegas Gabriela


“Makanya saya berasa rugi, baru pertama kali jatuh cinta udah disuruh nikah tapi suami saya bilangnya pernikahan kami hanya di atas kertas, yang masa berlakunya hanya sampai saya berumur 21 tahun,” gerutu Gabriela.


Jonathan mengigit bibirnya untuk menahan tawanya melihat wajah Gabriela bergerak kiri kanan dan bibirnya mengerucut karena sibuk menggerutu.


“Kamu telat masuk kelas hampir 10 menit, ayo saya antar supaya nggak kena hukuman.”


Gabriela menghela nafas dan menuruti perintah Jonathan yang mengantarnya sampai ke depan kelas, ijin pada Pak Anjas dengan alasan yang sudah pasti hanya bohong belaka


*****


“Mama kok senyum-senyum terus ? Aku kelihatan aneh ?”


Wajah Gabriela tersipu karena sejak tadi mama Hani menatapnya dengan wajah berbinar. Jam 15.45 Gabriela sudah menunggu Jonathan di meja makan.


“Nggak aneh, malah cantik. Tentu saja Mama bahagia mendengar Nathan akan mengajakmu pacaran.”


“Bukan pacaran, Ma, kencan. Jaman now pengertiannya beda,” sahut Gabriela sambil tertawa.


“Mirip-mirip artinya,”’sahut Mama ikut tertawa.


Deheman pria dari balik tembok ruang makan membuat keduanya berhenti tertawa. Gabriela langsung bangun dan berbalik badan. Tubuhnya membeku dan matanya membola.


“Waahh ganteng banget.”


“Kedip Nathan,” ledek Mama.


Wajah Jonathan merona, malu karena ketahuan sedang terpaku menatap istrinya.


“Awas ngeces itu, Pak…eeehh Mas Nathan,” timpal Gabriela sambil cekikikan.


Jonathan memutar bola matanya dan menggerutu sebal lalu meninggalkan ruang makan.


“Udah sana susul suami kamu.” Gabriela mengangguk lalu mencium pipi Mama.


“Dah Mama.”


Jonathan pun pamit dan langsung masuk ke kursi pengemudi, tidak ada acara membukakan pintu untuk Gabriela.


“Katanya kencan, tapi saya ditinggal begitu aja,” gerutu Gabriela sambil memasang sabuk pengaman.


“Saya hanya memenuhi permintaan kamu. Daripada kepala saya pusing mendengar rengekan kamu.”


Gabriela memutar bola matanya dan melirik Jonathan sambil mendengus kesal.


“Kita mau kemana ? Kok lewat tol ini ? Jangan bilang Bapak mau ajak saya keluar kota.”


“Nggak bisa duduk diam dan terima aja kemana pun saya akan membawa kamu. Satu lagi, hari ini acara kita kencan, jadi saya kasih dispensasi untuk memanggil saya dengan sebutan selain bapak. Jangan buat saya merasa lagi selingkuh sama karyawan di kantor.”


“Bapak..maksud saya Mas Nathan nggak ada niat membawa saya keluar Jakarta, menyiksa saya di rumah kosong terus membuang saya di pinggir jalan tol kan ?”


“Otak kamu itu sebetulnya diisi apa, sih ? Status pelajar tapi pikirannya negatif terus bahkan sampai membayangkan kriminal.”


“Namanya juga waspada. Biasanya kan Mas Nathan cuek, kesannya membenci saya dan selalu memperingati saya soal pernikahan sementara, selain itu menganggap saya orang ketiga yang membuat cinta Mas Nathan harus terpisah.

__ADS_1


Sekarang tiba-tiba Mas Nathan mengajak saya kencan tapi tujuannya jauh dari tempat tinggal. Di berita banyak cerita kalau cinta bisa membuat orang melakukan aksi nekat, misalnya melenyapkan pelakor atau pebinor.”


Jonathan hanya tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala.


“Kamu tahu kalau status kita masih guru dan murid. Bukan masalah bagi saya kalau ketahuan menikah dengan murid sendiri, toh saya jadi bisa konsen di perusahaan kamu. Tapi akan jadi kendala dan bisa menghancurkan masa depanmu kalau sampai ketahuan menikah dengan guru, itu sebabnya saya cari tempat kencan yang jauh, supaya probablitas ketemu orang yang kita kenal semakin kecil.”


“‘Memang beda ngobrol sama guru matematika, semua masalah pasti bisa diselesaikan asal tahu rumus matematikanya,” sahut Gabriela sambil tertawa pelan.


Jonathan hanya tersenyum tipis dan kembali fokus mengemudi di jalan tol yang agak padat.


Hampir 40 menit keduanya baru sampai di tempat makan bernuansa alam di wilayah Bogor.


“Ini bukan Jakarta lagi, Pak,” ujar Gabriela.


“Panggil saya bapak lagi beneran saya turunin di pinggir jalan tol.”


“Maaf,” Gabriela hanya nyengir kuda saat mata Jonathan begitu tajam menatapnya.


“Kamu mau pesan apa ?” tanya Jonathan menyodorkan buku menu saat keduanya sudah duduk di meja.


“Saya suka semua jenis makanan terutama yang pedas. Saya hanya makan seafood, sapi dan ayam, nggak suka kambing. Jadi saya serahkan pada Mas Nathan.”


Jonathan tidak bertanya lagi, pusing dengan jawaban Gabriela yang panjang.


“Bapak sudah sering kemari ? Kok bisa tahu tempat begini bagus ? Romantis pula.”


“Nggak bisa mengajukan pertanyaan atau memberi jawaban yang singkat, padat dan jelas ? Dari tadi saya nanya 1, jawaban kamu lebih dari 5 poin. Sekarang nanya grosiran.”


“Lusinan lebih murah daripada beli satuan, Mas,” sahut Gabriela sambil terkekeh.


“Mas Nathan…”


“Stop !” Nathan mengangkat telapak tangannya. “Kita lagi kencan, nggak usah banyak tanya kayak polisi lagi interogasi maling. Nggak bisa ngobrol santai dan bahas yang ringan-ringan aja ?”


“Saya belum pernah punya pacar jadi nggak pernah kencan jadi nggak tahu apa yang biasa dibicarakan saat kencan.”


“Lupa kalau semua bisa dicari tahu cukup pakai ini ?” Jonathan mengangkat handphonenya.


“Otak saya mendadak lemah karena jantung saya berdegup tidak karuan sejak Mas Nathan mengajak saya kencan. Sepertinya oksigen di dalam tubuh saya tidak mengalir dengan baik,” sahut Gabriela tertawa.


Jonathan menatap gadis di depannya yang bicara terlalu apa adanya, membuat jantungnya ikut merasakan debar aneh juga.


Gabriela bercerita tentang banyak hal sepanjang mereka menikmati makanan dan sesekali bertanya soal kehidupan Jonathan, namun tidak ada satu pun cerita tentang sikap kejam Mama Gina dan Jihan.


“Kamu yakin udah kenyang ?” tanya Jonathan saat keduanya kembali ke mobil.


“Apa tampang saya tidak kelihatan kenyang dan puas ?”


Jonathan hanya tesenyum tipis sambil masuk ke dalam mobil.


“Sejak tadi kamu nggak berhenti ngoceh, jadi saya nggak yakin kalau makanan yang masuk bisa menggantikan tenaga yang keluar.”


“Memangnya berapa banyak kalori yang keluar kalau saya bercerita ? Mas Nathan terganggu ?”


Jonathan hanya diam tanpa ekspresi apapun. Matanya menatap lurus ke depan, membelah jalan yang mulai gelap disinari cahaya lampu jalan yang berjarak.


Tidak lama handphone Jonathan berbunyi dan Gabriela sempat melihat nama Maya di layar. Ia berharap Jonathan akan menolak panggilan itu, tapi harapannya sia-sia karena pria di sampingnya langsung menjawabnya.


Entah apa yang dibicarakan, wajah Jonathan berubah panik dan reflek kakinya menekan lebih dalam pedal gas.


“Kenapa ?” tanya Gabriela memegang sabuk pengamannya.


“Kita ke rumah sakit sekarang. Maya baru saja dibawa ke sana. Ia mencoba bunuh diri.”

__ADS_1


Gabriela menghela nafas sambil menatap ke samping. Jantungnya berdebar tidak karuan bukan gara-gara suasana kencan tapi khawatir karena Jonathan mengemudikan mobil seperti orang kesetanan dan kecewa karena nama Maya masih bisa membuat pria itu panik dan melupakan sosok Gabriela yang ada di sampingnya.


__ADS_2