
Wajah Gaby langsung ditekuk dan bibirnya mengerucut begitu mobil Jonathan meninggalkan rumah Mama Hani sebagai bentuk kekesalan yang ditahannya sejak tadi.
“Jangan manyun begitu dong, Bi, bikin aku jadi pingin nyosor,” ledek Jonathan sambil tertawa pelan dan satu tangan mengusap kepala istrinya.
“Kayak soang aja demennya nyosor,” gerutu Gaby sambil menyandarkan kepala di pintu supaya Jonathan sulit menyentuhnya.
“Nggak rela banget sih tinggal di rumah lagi, padahal tempat kamu kan memang harus di samping suami sekaligus membahagiakan mertua.”
“Konspirasi ! ini semua sandiwara Pak Nathan lagi, kan ? Bapak sengaja minta Kak Jenny menyuruh saya datang dengan alasan Mama sakit.”
“Jangan nethink gitu dong, Bi. Masalah Mama sakit itu beneran, bukan sandiwara. Mama stress sejak membaca surat gugatan cerai kamu dan tidak bisa tenang karena kamu nggak balik ke rumah meskipun gugatan itu sudah dibatalkan. Dan masalah Jenny, aku beneran nggak tahu kalau dia menghubungi kamu apalagi sampai minta kamu datang ke rumah untuk membesuk Mama. Aku baru tahu beberapa jam yang lalu, itupun dari Kendra yang memberitahu sudah membatalkan semua jadwal meetingku hari ini.”
“Sebelas duabelas,” dumel Gaby dengan bibir makin mengerucut membuat Jonathan tergelak.
“Namanya juga kakak adik, Bi, wajar kalau Jenny ingin membantuku. Om Sofian dan Kendra juga bersedia mendukungku setelah mendapatkan bukti tapi kamu masih belum percaya juga.”
“Bukan masalah percaya atau tidak,” Gaby menegakkan posisi duduknya dan menatap Jonathan dengan wajah serius.
“Saya benar-benar tidak mau melanjutkan pernikahan ini, saya ingin belajar mandiri dan tidak mau lagi membebani hidup orang lain termasuk Bapak, Mama dan Om Sofian. Selain itu….”
“Selain itu apa ?” Jonathan menyentuh lengan Gaby yang langsung menghela nafas panjang.
“Saya sudah berusaha selama hampir setahun ini dan ternyata saya tidak bisa mencintai Bapak sebagai suami. Maaf karena saya sudah menjebak Pak Nathan dan menghumbar kata-kata cinta hanya demi membuat diri saya aman dari Tante Gina.”
Jonathan tersenyum tipis dengan pandangan tetap fokus ke jalan. Mobil pun masuk ke area parkir apartemen milik Gaby.
Dasar bocah keras kepala ! Mulutmu bisa bilang tidak cinta, tapi sikapmu terang-terangan menunjukkan kalau kamu sudah mencintaiku. Aku akan ikuti sampai dimana kamu akan bertahan menyangkal perasaanmu sendiri, batin Jonathan sambil tertawa dalam hati.
“Aku tidak peduli berapa lama harus menunggu kamu mencintaiku, Gabriela. Aku akan tetap di sampingmu sesuai dengan ketentuan di awal pernikahan kita dan selama itu pula aku tidak akan berhenti mencintaimu dan menanti pintu hatimu terbuka untukku, bahkan jika suatu saat nanti kamu akan pergi atau membuangku, aku tetap akan mencintaimu.”
__ADS_1
“Jangan keras kepala !” omel Gaby dengan wajah cemberut.
“Mungkin inilah alasan mami Anna kenapa menjodohkanmu denganku meski saat itu aku masih bocah 15 tahun yang belum tahu bagaimana masa depannya. Mami Anna tehu kalau aku akan selalu mencintaimu meskipun kamu terus menjauh dariku.”
Gaby menghela nafas dan kembali membuang pandangan ke samping. Kenapa pria songong yang sering mencari ribut dengannya mendadak jadi sok romantis, melow dan keras kepala dengan cintanya ?
Keduanya berjalan ke lobby sambil bergandengan tangan. Gaby sudah berusaha melepaskan genggaman Jonathan tapi tidak berhasil, penolakannya malah jadi perhatian orang-orang di dekat mereka.’
“Gabriela !”
Gaby langsung tersenyum canggung saat melihat Om Harry berjalan menghampirinya begitu ia melewati pintu lobby. Bukan karena Om Harry melihatnya sedang bergandengan tangan dengan Jonathan, tapi ada Maya di samping pria paruh baya itu.
“Om Harry ? Kamu sudah kenal sama Om Harry ?” tanya Jonathan sambil menatap Gaby dengan alis menaut. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum kikuk.
“Sejak Gaby masih bayi.”
“Om kok bisa ada di sini ?” tanya Jonathan dengan wajah bingung, apalagi melihat penampilan Om Harry yang hanya memakai celana selutut dan kaos polo bermotif garis.
“Om Harry tinggal di sini juga tapi di lantai yang berbeda,” bisik Gaby menjawab pertanyaan Jonathan sebelum Om Harry menjawabnya.
“Sudah makan siang ? Atau mau ngopi bareng ?” tanya Om Harry dengan ramah.
“Maaf Om, saya harus ke rumah Mama Hani.”
“Apa kabarnya Hani ?”
“Mama lagi sakit , Om, kangen sama menantu kesayangannya,” sahut Jonathan sambil merangkul bahu Gaby.
“Kapan-kapan Om ingin ketemu dengan mama kalian, hari ini titip salam dulu.” Gaby mengangguk sambil tersenyum.
“Saya balik ke atas dulu, Om,” pamit Gaby dan diangguki oleh Om Harry.
“Jo,” Maya menahan lengan Jonathan sebelum pria itu menjauh.
__ADS_1
Langkah mereka terhenti dan ketiganya menatap ke arah Maya.
“Aku bisa minta waktumu sebentar ? Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu.”
Dahi Daddy Harry langsung berkerut mendengar ucapan putrinya sedangkan Gaby malah terlihat acuh.
“Bicarakan saja di sini karena tidak ada hal pribadi yang perlu kita bicarakan berdua. Gaby istriku, jadi aku tidak pernah menyembunyikan apapun darinya.”
Maya menghela nafas sambil melirik Gaby yang terlihat acuh.
“Bukannya istrimu lagi buru-buru ?” Nada suara Maya yang terdengar kesal membuat Daddy Harry menggelengkan kepala.
“Kalian…”
“Kita bisa cari lain waktu untuk bertemu,” potong Jonathan sebelum Gaby melanjutkan kalimatnya.
“Kalau memang bisa diselesaikan hari ini kenapa harus ditunda besok ?”
Pernyataan Gaby yang berbicara tanpa emosi membuat mata Jonathan membola lalu tersenyum. Gadis SMA ini semakin pintar menata emosinya.
“Kalian pergi bertiga saja, Om mau balik ke atas dulu, ada pekerjaan memanggil.”
Gaby dan Jonathan mengangguk sambil tersenyum saat Om Harry pamitan dan berjalan menuju lift.
***
“Aku hamil.”
Gaby nampak terkejut mendengar ucapan Maya saat ketiganya duduk berhadapan di kafe kecil yang ada di lobby apartemen.
“Aku sudah tahu dari Martin dan Leo belum tahu soal ini, kan ?”
Gaby yang tidak tahu siapa yang dimaksud Jonathan hanya diam dan menyibukkan diri dengan handphonenya.
“Martin adalah kakak kedua Maya dan Leo adalah sahabat Martin. Maya dan Leo pernah terlibat cinta satu malam dan sekarang Maya hamil,” ujar Jonathan menjelaskan pada Gaby supaya istrinya bisa mengikuti perbincangannya dengan Maya.
Gaby mendengarkan namun tatapannya tetap fokus ke handphone.
“Aku sudah dengar soal kedatangan mereka ke kantormu. Aku mohon Jo, jangan biarkan salah satu dari mereka mendekam di penjara.”
“Bukan wewenangku memutuskan siapa yang akan bertanggungjawab, masalah kebakaran gudang sudah aku serahkan pada pihak yang berwajib dan tim kuasa hukum kami.”
“Jadi kebakaran gudang itu disengaja ?” tatapan tajam Gaby membuat Maya jadi tidak nyaman.
“Mereka hanya bermaksud membalaskan rasa sakit hatiku,” sahut Maya membela diri.
“Hanya karena satu orang mereka melakukan perbuatan gila yang bisa saja melukai banyak orang ?” Wajah Gaby terlihat kesal dan menatap sinis ke arah Maya.
“Sayang, nggak usah emosi, urusan ini sudah ditangani polisi,” ujar Jonathan menggenggam tangan istrinya.
“Aku benar-benar mohon kebaikan hati kalian untuk melepaskan Kak Martin dan Leo. Aku akan minta Daddy untuk mengganti semua kerugiannya.”
“Maya, berhentilah menyelesaikan masalah dengan uang. Kerugian yang ditanggung perusahaan bukan hanya soal materi, jadi terima saja kalau Leo atau Martin harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.”
Gaby masih menatap Maya yang mulai menangis, diliriknya Jonathan yang acuh, tidak tersentuh dengan kondisi Maya.
“Berhenti jadi gadis manja yang cengeng, Maya ! Sudah waktunya kamu belajar menjadi wanita kuat demi janin yang ada di dalam rahimmu.”
Maya mengangkat wajahnya dan Jonathan menoleh. terlihat Daddy Harry dengan wajah tegasnya sudah berdiri di belakang pria itu. Hanya Gaby yang tidak bergerak dari posisinya.
__ADS_1