
“Masih belum bisa berdamai dengan Anita ?” tanya Hani saat duduk di teras depan bersama Harry.
Keduanya tengah melihat Gaby, Jonathan dan para sahabat mereka bermain kembang api sambil menunggu detik-detik pergantian tahun yang tinggal 45 menit lagi.
“Apa di wajahku ada tulisan suami yang tidak bahagia ?” Harry balik bertanya sambil tertawa.
“Begitu sulitnya melupakan Anna ? Kamu hanya membuatnya tidak tenang di alam sana. Sebelum meninggal Anna sudah menerima takdir kalau kamu bukanlah jodohnya jadi saatnya juga kamu menerima Anita sebagai istrimu.”
“Aku menerima takdirku dan menjalankan tugas sebagai ayah untuk anak-anak kami tapi untuk menjadi suami sedikit sulit.”
“Jodoh ada di tangan Tuhan, apa yang terjadi menandakan kalau kamu tidak berjodoh dengan Anna.”
“Karma sedang berbicara pada Anita. Kalau dulu Anna harus melepaskanku yang masuk dalam jebakan Anita, sekarang Anita harus menyaksikan putrinya merelakan Jonathan memilih putrinya Anna sebagai pelabuhan cintanya.
Sekeras apapun Maya berusaha menjadikan anakmu sebagai jodohnya, takdir menentukan jalan yang berbeda.”
“Aku rasa itu semua hanya kebetulan,” sahut Hani sambil tertawa.
“Tidak semua dalam hidup ini terjadi karena kebetulan. Apa yang terjadi di antara mereka bertiga membuat aku bisa bertemu dengan putrinya Anna. Jalan Tuhan memang tidak terduga.”
“Sudah lebih dari 25 tahun berlalu dan usia kita sudah tidak muda lagi. Terimalah Anita sebagai istri dan ibu kandung Maya supaya hidupmu lebih bahagia. Gaby pun bisa merasakan keresahan hatimu tapi sekalipun wajahnya begitu mirip dengan Anna, dia tidak bisa membuatmu bahagia karena dia bukanlah Anna. Kebahagiaan itu datang dari dalam hati dan diciptakan oleh kita sendiri.”
“Akan aku pertimbangkan. Sementara ini aku ingin menikmati waktuku dengan Gaby karena aku tahu kalau Hendri tidak bisa memberikannya cinta seorang ayah,” ujar Harry sambil tertawa.
”Sudah ada Jonathan yang bisa memberikan cinta yang dibutuhkan oleh Gaby.”
“Aku akan minta Jonathan berbagi sedikit kesempatan untukku,” sahut Harry sambil terkekeh.
Di sela tawanya, alis Harry menaut saat melihat Gaby menjauh bersama Jonathan. Meski tidak bisa mendengar apa yang mereka perbincangkan, tapi rasanya bahagia melihat ada seseorang yang melindungi Gaby.
“Kamu kenapa ?” Jonathan membelai kepala Gaby yang menunduk.
“Bahagia,” Gaby mendongak, tangan Jonathan terulur, mengusap pipi Gaby yang mulai basah.
__ADS_1
“Bahagia kok nangis ?”
Gaby malah memeluk Jonathan dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu.
“Bahagia karena hari ini untuk pertama kalinya Gaby menyambut tahun baru seperti ini setelah mami meninggal. Bahagia karena malam ini adalah perayaan pergantian tahun pertama kita bedua sebagai suami istri. Tahun lalu Mas Nathan sudah mulai bisa menerimaku sebagai istri tapi belum sepenuhnya.”
Jonathan mengeratkan pelukan dengan tangan kanannya lalu mencium pucuk kepala Gaby beberapa kali.
“Mulai sekarang, aku berjanji akan selalu memberikan kebahagiaan untukmu, menciptakan kenangan indah di dalam hidup kita dan mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku.”
“Romantis banget, sih,” Gaby melerai pelukannya sambil tertawa.
“Baru tahu kalau aku ini pria yang sangat romantis ? Tunggu saja kejutan-kejutan dariku, aku jamin kamu akan terharu hingga sulit berkata-kata.”
Gaby tertawa dan menatap ke langit yang mulai dipenuhi dengan kembang api dari berbagai tempat.
“Selamat tahun baru, Sayang,” bisik Jonatahan sambil mencium bibir istrinya di depan banyak orang.
“Ya ampun Pak Nathan, bikin daku tambah patah hati aja,” celetuk Joni yang tidak sengaja melihat kemesraan suami istri itu.
“Mari kita berdoa semoga tahun depan kita bisa move on dan menemukan cinta yang baru, tentu saja yang lebih baik dari Gaby,” ujar Doni sambil merangkul bahu Joni.
“Saya dukung harapan kalian,” tegas Jonathan. “Awas aja kalau sudah dapat yang lebih baik, kalian masih mengganggu istri saya !”
“Pawang beraksi, Bro !” ledek Kendra.
Joni dan Doni saling menatap dan menganggukan kepala membuat yang lainnya tergelak lalu menatap ke langit yang dipenuhi dengan sinar kembang api sambil mengucapkan doa-doa pengharapan dalam hati mereka.
Sementara itu di rumah sakit, mommy Anita masih gelisah bolak balik di depan ruang IGD. Maya hanya duduk di dekat situ sambil berusaha menghubungi Martin, daddy Harry dan Leo. Sempat Maya mencoba menghubungi Jonathan tapi sepertinya pria itu sudah memblokir nomornya.
“Tidak ada yang menjawab panggilanmu ?” Maya menggeleng.
Mommy Anita memeriksa handphonenya dan satu pesan masuk dari asisten daddy Harry yang mengabarkan kalau bossnya tidak ada di apartemen.
__ADS_1
Tidak lama dokter keluar mengabarkan kalau Gavra mengalami infeksi di saluran pencernaan dan perlu dirawat malam ini . Tanpa minta persetujuan Maya, mommy langsung mengiyakan dan mengurus administrasi kamar.
“Jangan sampai kamu menyesal telah menyia-nyiakan putramu sendiri. Kalau Gavra bisa memilih, mommy yakin ia tidak mau dilahirkan oleh seorang perempuan yang enggan mengakuinya sebagai anak. Jangan jadi pengecut ! Gavra hanyalah buah yang harus kamu petik sebagai hasil perbuatanmu sendiri !”
Maya hanya diam dan memgikuti mommy menuju ruang PICU. Dokter memutuskan akan lebih baik kalau bayi itu dirawat di sana sampai demamnya turun dan bisa minum susu seperti biasa lagi.
Maya diijinkan masuk sejenak. Tangannya terulur menyentuh jemari putranya yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Beberapa kali Maya menghela nafas, teringat akan permintaan dokter di depan ruang UGD.
“Akan sangat membantu kalau ibu bersedia memberinya ASI langsung dari sumbernya.”
Ucapan dokter dan mama bergantian menganggu pikiran Maya, membuat hati kecilnya sedikit terusik.
***
“Gavra dibawa ke rumah sakit.”
Leo hanya menatap sahabat sekaligus kakak iparnya dengan wajah datar dan senyuman getir.
“Sebaiknya elo segera menemui mereka di sana,” sahut Leo dengan wajah datar.
Martin menghela nafas. Keduanya sedang menghabiskan waktu di kafe yang ada di hotel dekat tempat tinggal Leo. Pria itu sendiri masih dalam pengawasan pihak kepolisian.
”Elo nggak mau ikut ? Biar bagaimana kalian berdua masih berstatus orangtua Gavra. Atau elo berubah pikiran karena Gavra bukan anak kandung lo ?”
Leo tersenyum getir dan meneguk habis minuman yang dipesannya.
“Elo tahu bagaimana dalamnya cinta gue pada Maya sampai gue rela menjalani semua ini untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada si Jojo itu. Tapi elo lihat sendiri kan kalau perbuatan gue salah dan bukannya membuat Maya menjadi lebih baik malah semakin buruk karena ia sendiri tidak mau mengakui anaknya.”
“Sampai detik ini, gue dan daddy masih percaya kalau hanya elo yang bisa membuat Maya berubah.”
“Biarkan waktu yang berbicara dan gue akan sabar menanti. Gue akan menunggu Maya datang sendiri menemui gue tanpa disuruh elo, daddy atau mommy. Meski saat itu dia belum bisa mencintai gue sepenuh hati tapi keberaniannya menemui gue merupakan suatu tanda kalau ia akan belajar berubah.”
__ADS_1
“Gue dukung apapun keputusan elo, Bro,” ujar Martin sambil mengangkat gelasnya.
“Selamat Tahun Baru !”