Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Bertemu Papi


__ADS_3

Jonathan terlihat canggung saat Pak Liman memintanya untuk duduk di barisan depan menemani Papi Hendri yang malam ini datang bukan sekedar sebagai orangtua Jihan tapi juga tamu kehormatan karena udah menjadi donatur terbesar di SMA Dharma Bangsa.


Beberapa guru yang belum mengetahui soal statusnya sebagai menantu Papi Hendri, menatap Jonathan dengan wajah bingung atau iri karena guru muda itu baru 3 tahun mengajar di SMA Dharma Bangsa tetapi sudah diberi kesempatan menemani tamu kehormatan oleh pihak sekolah.


“Hati-hati ada nyamuk masuk ke mulutmu,” ledek Papi Hendri sambil tertawa pelan. “Gaby sudah pandai menari sejak kelas 4 SD.”


 


Wajah Jonathan langsung panas. Untung saja cahaya lampu saat ini dibuat agak redup hingga Papi tidak bisa melihat wajahnya yang memerah karena malu. Di atas panggung, Gabriela sedang melenggak lenggok .dengan gemulai membawakan Tarian Tor tor dengan kostum kain ulos.


Jonathan memang dibuat terkesima dengan penampilan istri kecilnya yang terlihat sangat berbeda. Gadis yang selalu punya cara membuatnya kesal saat mengajar di kelas sekarang sedang tersenyum manis menatap ke arah Papi Hendri.


 


“Eehh.. Iya Pi, kelihatan kalau Gaby sudah biasa menari,” sahut Jonathan dengan nada canggung.


 


“Entah kenapa sejak kecil, Gaby lebih suka mendalami tari daerah dibandingkan tari modern. Waktu kelas 7, bersama 4 orang temannya, Gaby berhasil mengharumkan nama sekolah karena menang lomba tari tradional tingkat provinsi. Sayangnya Gaby tidak lanjut menari di kelas 8 karena nilai-nilainya sempat anjlok.”


 


“Sepertinya Gaby ternasuk anak yang cerdas dan tidak pernah kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah meski tanpa les.”


 


“Masalah  Mama Gina dan Jihan cukup mengganggunya saat itu, ditambah lagi mereka membuat Chelsea sibuk dengan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh ART,” ujar Papi sambil menarik nafas berat.


 


Jonathan tersenyum sambil mengangguk-angguk lalu kembali fokus ke arah panggung saat Papi memberi isyarat supaya ia kembali menyaksikan penampilan Gabriela. Gadis itu benar-benar membuat Jonathan terpesona hingga sulit berkedip dan berkata-kata.


Berhenti mengaguminya, Nathan, awas hatimu jatuh cinta padanya, batin Jonathan pada dirinya sendiri.


Papi Hendri memberikan tepuk tangan paling keras saat Gabriela selesai menari. Dari atas panggung, gadis itu tersenyum bahagia karena bisa tampil di depan Papi.


 


“Apakah Gaby menyusahkanmu selama tinggal di sana ?” bisik Papi saat Gabriela sudah kembali ke belakang panggung.


 


“Nggak sama sekali, Pi. Gaby anak yang rajin dan bertanggunjawab soal urusan rumah, bahkan sekarang sudah menggeser posisi saya di hati mama. Gaby sudah kayak anak kandung mama dan saya jadi anak pungut,” sahut Jonathan sambil tertawa pelan.


 

__ADS_1


“Terima kasih, Nathan,” Papi menggenggam jemari kanan Nathan.


 


“Terima kasih juga pada mamamu karena mau menerima permintaan mami Anna untuk menjadikan Gaby bagian dari keluarga kalian. Maaf  sudah membuatmu harus memutuskan kekasihmu. Maaf karena sudah membebani hidupmu dengan tanggungjawab yang berat. Rasanya hati Papi lebih tenang kalau sampai harus dipanggil saat ini juga. Papi tidak akan malu saat bertemu dengan mami Anna lagi karena Gaby sudah berada di tengah keluarga yang mencintainya.”


 


“Jangan bilang begitu, Pi. Papi harus punya semangat terus demi Gaby,” sahut Jonathan sambil tersenyum.


Jangan baper Narhan, jangan terbawa suasana. Hubungan ini hanya untuk sementara jadi tidak perlu pakai hati untuk menjalaninya


Jonathan terus meningatkan dirinya saat hatinya tersentuh dengan wajah sendu Papi Hendri. Mertuanya terlihat tambah kurus dibandingkan 2 bulan lalu.


“Satu hal yang bikin Papi kangen adalah masakan Gaby. Apa dia pernah masak selama tinggal denganmu ?”


“Hampir setiap pagi Gaby menyiapkan sarapan sekaligus bekal untuk kami berdua.”


“Papi juga kebagian,” ujar Papi sambil tertawa pelan. “Meskipun Jono tidak bilang kalau tas bekal yang ada di mobil adalah titipan dari Gaby, Papi tahu kalau makanan itu adalah hasil masakan Gaby.”


Jonathan tersenyum, ingat dengan kekepoannya mengikuti Gabriela subuh-subuh. Tidak disangka ternyata gadis itu malah datang ke rumah keluarganya mengantar makanan untuk Papi.


“Jangan cemburu kalau istri kamu masih perhatian sama Papi,” ledek Papi sambil tertawa.


“Kamu siap-siap saja menerima banyak kejutan dari Gaby saat tinggal bersamanya.”


Jonathan tersenyum tipis sambil mengangguk. Berharap kejutan dari Gabriela tidak akan menggoyahkan perasaannya untuk bertahan tanpa cinta.


**


“Papi !”


Papi Hendri yang sedang mengambil makanan ditemani Pak Liman langsung menoleh.


Putrinya sudah kembali dengan penampilannya tanpa make up.


Gabriela menganggukan kepala pada Pak Liman dan tanpa rasa canggung membiarkan Papi meragkul bahunya.


“Titip putri kesayangan saya di kelas 12 nanti, Pak. Silakan dihukum saja kalau nakal dan malas belajar,” ujar Papi sambil tertawa pelan.


“Sudah ada pawang pribadinya, Pak, pasti aman.”


“Bukannya Pak Nathan belum pernah mengajar di kelas 12, Pak ?” tanya Gabriela dengan perasaan harap-harap cemas.


“Kalau tidak pernah dimulai maka Pak Nathan tidak akan belajar. Lagipula saya yakin kalau kamu akan menjadi pemberi semangat yang spesial buat Pak Nathan.”

__ADS_1


“Kalau memang begitu keputusannya, saya akan lebih tenang lagi karena menantu saya yang langsung mengawasi Gaby,” ujar Papi Hendri sambil tertawa bahagia.


Dari kejauhan Jihan yang sejak tadi memperhatikan Papi Hendri dan Gabriela mengepalkan kedua tangannya di samping.


“Sabar Sayang, waktunya tidak akan lama lagi. Biarkan Cinderella menikmati dulu masa bahagianya, kamu harus bisa menahan diri supaya Papimu tidak berubah pikiran,” nasehat Mama Gina yang sejak tadi memperhatikan kekesalan putrinya.


Gabriela pun meninggalkan Papi dan Pak Liman untuk bergabung dengan Mimi dan teman-temannya. Dari kejauhan, tanpa sadar Jonathan memperhatikan semua gerak gerik Gabriela.


Pikiran dan tubuhnya sudah tidak bisa sejalan. Perasaannya menolak keras pesona Gabriela sementara matanya susah berhenti menatap ke arah gadis itu.


“Awas naksir, Pak,” ledek Mimi yang tahu-tahu sudah berdiri di samping Jonathan, ikut mengambil potongan buah.


Jonathan tersenyum sinis seolah ucapan Mimi itu hanya candaan receh.


“Tunggu matahari terbit di barat,” sahut Jonathan dengan nada sinis.


“Hati-hati dengan ucapan Bapak, ada pepatah yang bilang kalau cinta itu biasanya dari mata turun ke hati dan cinta bisa hadir karena biasa,” ledek Mimi sambil cekikikan.


Jonathan melengos sebal dan berjalan menjauhi Mimi. Dari kejauhan gantian Gabriela yang menertawakan Jonathan. Bukannya tidak tahu kalau sejak di panggung hingga sekarang, guru matematikanya itu sering mencuri-curi pandang.


**


Gabriela mengintip dari jendela kamar Jenny saat mendengar suara mesin mobil Nathan. Jam 12.15.


Mereka memang tidak pulang bersama karena acara pesta malam ini hanya dikhususkan untuk semua siswa kelas 12 didampingi beberapa guru.


Mata Gabriela membola saat melihat seorang perempuan langsung memeluk Jonathan begitu pria itu sampai di depan gerbang.


Gabriela merasa kecolongan karena tidak mendengar kedatangan Maya yang parkir di seberang rumah. Hatinya harus kembali merasakan sakit saat melihat Jonathan balas memeluk wanita itu sambil menepuk-nepuk punggungnya. Meski tidak lama, tapi bagi Gabriela sikap Jonathan menunjukkan kalau mantan kekasih suaminya itu masih memiliki tempat di hatinya.


“Belum tidur ?” tanya Jonathan saat keduanya berpapasan di dapur.


Gabriela hanya menggeleng tanpa ingin menatap Jonathan. Selesai mengisi botol minumnya, Gabriela berniat kembali ke kamar Jenny, namun tanpa terduga Jonathan menahan lengannya.


“Ternyata kamu punya 2 kepribadian,” ejek Jonathan. “Gabriela yang tampil di panggung sangat berbeda dengan siswa pembangkang yang suka mendebat saya di kelas.”


Gabriela menghela nafas, ucapan Jonathan memancing emosinya yang sedang berantakan.


“Tidak usah pusing saya mau punya 2 atau sejuta kepribadian karena itu semua tidak akan membuat Bapak bisa mencintai saya dan menerima pernikahan kita sebagai takdir.”


Gabriela menghentakkan lengannya dengan kasar hingga pegangan Jonathan terlepas. Tanpa menoleh ia meninggalkan Jonathan yang terkejut dengan sikap Gabriela.


Dahi Jonathan berkerut menatap punggung Gabriela yang menjauh dan naik ke lantai 2.


“Dasar ababil, emosinya lebih menyeramkan dari petasan banting,” gerutu Jonathan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2