Pernikahan Rahasia Pak Guru

Pernikahan Rahasia Pak Guru
Tidak Akan Diam


__ADS_3

Gaby menghela nafas saat melihat Marsha dan Pingkan berdiri di depan kelasnya. Firasat buruknya langsung bereaksi saat tiba di parkiran motor,


Gaby melihat banyak siswa meliriknya sambil kasak kusuk


Lagi-lagi berita tentang dirinya dan Jonathan jadi bahan gibah di wa grup angkatan. Kali ini berita tentang perceraian mereka dengan bukti rekaman pembicaraan Gaby dengan kelima sahabatnya saat mereka mencoba membujuk Gaby untuk membatalkan gugatannya.


“Apa elo kurang bahagia dengan kecantikan yang lo punya sampai harus kepoin hidup gue ?” tanya Gaby sambil tersenyum sinis.


“Kepo ? Gue hanya membuka fakta supaya orang lain tahu kayak apa wajah asli putri donatur sekolah yang selama ini dikenal sebagai gadis baik-baik dan sok polos, nyatanya elo tega membeli hidup Pak Nathan dan setelah nggak dibutuhkan elo depak Pak Nathan begitu aja.”


“Hati-hati dengan ucapan elo, jangan sampai membuat elo menyesal sampai nangis gesor-gesor,” cibir Gaby sambil tertawa.


“Elo ngancam ?” Marsha mendorong bahu Gaby dengan kasar namun tidak membuat gadis itu jatuh ke lantai.


Gaby melirik Joni yang berdiri dekat pintu bersama Bimbim dan Danu. Gerakan matanya memberi isyarat pada Joni yang langsung diangguki oleh cowok itu.


“Gue punya bukti, bukan sekedar rekaman doang.”


Marsha memperlihatkan layar handphonenya dan Gaby hanya menarik satu sudut bibirnya saat melihat surat permohonan cerai lengkap dengan tandatangan keduanya.


“Gue nggak perlu menjelaskan atau klarifikasi apapun soal itu tapi yang pasti hubungan gue dan Pak Nathan baik-baik aja. Gue tahu kalau semua kelakuan elo ini karena cemburu Pak Nathan jadi suami gue, kecantikan elo nggak bisa memikat Pak Nathan.”


“B**tch ! Gue akan buat elo memohon-mohon pada semua orang di sini karena kesombongan elo !” ujar Marsha dengan suara meninggi.


Tangannya menekan tombol handphone dan beberapa detik berikutnya surat permohonan cerai beredar di wa grup sebagai bukti kedua.


Gaby menghela nafas saat banyak siswa kelas 12 yang ada di sekitar mereka kembali menatapnya setelah melihat postingan yang baru saja Marsha kirim.


“Gue udah cukup bersabar dengan orang-orang seperti elo yang menganggap uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya,” ujar Gaby dengan posisi mendekati Marsha sambil tersenyum sinis.


“Masalah hidup gue benar atau salah bukan urusan elo atau siapa pun juga, jadi jangan suka mengancam orang dengan apa yang elo lihat saat ini.”


Gaby melewati Marsha sambil menyenggol lengangadis tinggi dan semampai itu. Wajah Gaby terlihat tenang meskipun hatinya campur aduk dengan rasa kesal, marah dan ingin mengamuk.


“Elo nggak apa-apa, Gab ?” tanya Mimi yang baru saja datang dan sempat melihat adegan terakhir di depan kelas.

__ADS_1


“Gue berasa jadi kayak selebriti,” sahut Gaby sambil tersenyum.


“Selebriti somplak,” celetuk Bimbim yang membuat keempat teman Gaby langsung tertawa.


***


“Gaby ?” Jonathan tampak terkejut saat melihat istrinya sedang duduk di lobby perusahaan Om Harry.


“Kamu mau ngapain di sini ?” tanya Jonathan begitu sampai di depan Gaby yang masih duduk.


Gaby melirik Maya yang berdiri di belakang suaminya bersama Kendra membuat hatinya yang sedang panas jadi mendidih. Sayangnya Gaby tidak melihat Jihan, orang yang hendak ditemuinya siang ini.


“Ada larangan saya kemari ?” Gaby balik bertanya sambil beranjak dari sofa.


Jonathan menoleh ke samping dan menutupi mulutnya yang tersenyum. Gadis belia di depannya fixed sedang cemburu karena melihat Maya ada di belakang suaminy tapi gengsi untuk mengakuinya.


“Aku habis ketemu Om Harry, kamu mau ketemu beliau juga ?”


“Saya nggak nanya kan ngapain Bapak ada di sini, jadi Bapak nggak usah kepo ngurusin saya mau ngapain di sini.”


“Sayang, aku nanya karena mau kasih tahu kalau Om Harry udah jalan sekitar 10 menit yang lalu, jadi kamu ikut aku pulang aja.”


“Gimana kalau makan siang sama aku ?”


Gaby menoleh dan melirik ke arah Maya yang senyum-senyum, membuat hatinya jadi tambah panas.


“Berdua doang, Kendra akan aku suruh pulang naik taksi aja,” bisik Jonathan sambil merangkul pinggang istrinya. Tanpa sadar Gaby mengangguk membuat Jonathan langsung tersenyum bahagia.


Tangan kirinya mengggenggam jemari Gaby dan tangan kanannya terulur untuk menyalami Maya.


“Saya balik dulu, Bu Maya. Maaf saya tidak jadi lanjut makan siang dengan anda tapi Kendra akan menemani anda makan siang. Saya permisi dulu.”


Kendra melotot, ia paling malas berurusan dengan Maya bahkan sejak statusnya masih kekasih Jonathan.


“Maaf saya juga harus kembali ke kantor, Bu Maya, ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Kami pamit dulu.”

__ADS_1


Kendra bergegas jalan duluan meninggalkan Jonathan yang kesal dengan asistennya. Niatnya mau berdua dengan Gaby langsung gagal karena kunci mobil ada di tangan Kendra.


Gaby hanya menganggukan kepala tanpa tersenyum dan membalas genggaman jemari Jonathan membuat pria semakin melebarkan senyumnya.


Kamu sangat mencintainya, Jo. Aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta seperti itu saat kita masih pacaran. Semoga kamu bahagia, Jo, batin Maya sambil menatap ketiga tamunya pergi meninggalkan lobby.


“Jihan kemana, Kak Kendra ?” tanya Gaby saat ketiganya sudah di dalam mobil.


Kendra duduk di kursi pengemudi sedangkan Jonathan dan Gaby duduk di kursi penumpang belakang.


“Tadi Maya bilang lagi cuti. Mungkin lagi siap-siap pindah rumah sama mami dan adiknya, Gab. Kamu ke situ mau ketemu dia ?” Kendra bertanya balik.


“Hmmm,” sahut Gaby sambil menyenderkan kepalanya pada pintu.


“Bi, ada masalah apa lagi sampai kamu nyamperin Jihan ?” tanya Jonathan sambil menyentuh jemari istrinya.


Gaby menggeleng tanpa menoleh, pandangannya masih ke arah samping jendela. Jonathan menghela nafas dan melempar isyarat mata dengan Kendra lewat spion tengah tapi sahabatnya itu menggeleng sambil menggerakan kedua bahunya.


Mata Gaby terpejam meski tidak tidur. Ia enggan membahas masalahnya dengan Jonathan.


Ingatan Gaby melayang pada pertemuan dengan Om Harry dan keluarganya beberapa hari lalu, saat pria baya itu bergeming menantapnya dan memanggil Gaby dengan nama Anna.


Ternyata dress yang diberikan oleh mama Hani untuk dikenakan Gaby adalah milik mami Anna. Pakaian kesukaan mami Anna yang merupakan pemberian Om Harry. Saat tahu Om Harry harus menikahi Tante Anita yang tengah hamil, pakaian itu dibuang oleh mami tapi diam-diam disimpan oleh mama Hani.


“Kamu benar-benar mirip dengan Anna, Gabriela,” ujar Om Harry saat kembali dari lamunanya.


“Namanya juga anaknya, Mas Harry,” sahut mama Hani sambil terkekeh.


“Tapi dengan memakai pakaian ini, aku seperti melihat Anna kembali. Kalian begitu mirip,” ujar Om Harry sambil mengusap pipi Gaby yang merasa canggung.


Om Harry terlihat sangat bahagia malam itu karena bisa bertemu dengan mama Hani dan melihat Gaby yang hadir sebagai sosok mami Anna.


Tante Anita tidak banyak bicara, selama ini ia sudah tahu siapa Jonathan dan Gaby. Itu sebabnya, ia tidak pernah merestui hubungan Maya dengan Jonathan dan bagaimana ia sangat marah saat tahu kalau putrinya Anna adalah istri Jonathan.


Maya dan Martin pun sama-sama tidak banyak bicara. Posisi mereka sedang di ujung tanduk dan hanya Daddy Harry yang bisa mencari jalan keluar yang terbaik.

__ADS_1


Terlalu lama melamun sambil memejamkan mata akhirnya Gaby benar-benar tertidur. Jonathan tersenyum melihat istrinya yang pulas hingga sulit dibangunkan.


Dengan wajah bangga, Jonathan menggendong Gaby menuju ruangannya. Gadis belia itu benar-benar lelah dan tidak terganggu sedikit pun saat Jonthan memeluknya di tempat tidur yang ada di dalam ruang kerja Jonathan.


__ADS_2