
“Apa kabar, Jo ?” sapa Maya dengan wajah sendu.
“Baik.”
Wajah Jonathan terlihat tegang karena untuk sampai ke tempat ini, ia berbohong pada Kendra bahkan
menyuruh asistennya turun di tengah jalan dengan alasan buru-buru ada janji.
Jonathan menerima pesan dari Maya saat meeting dengan klien di salah satu restoran. Dia langsung mengiyakan ajakan Maya yang seolah menjadi jawaban atas pertentangan batinnya yang ingin bertemu Maya dan meminta mantan kekasihnya itu untuk berhenti mengganggu istrinya.
Keduanya sempat terdiam dengan posisi duduk berhadapan.
“Aku….”
“Aku…”
Keduanya membuka suara bersamaan membuat Maya tertawa pelan sementara Jonathan hanya tersenyum tipis.
“Silakan duluan,” ujar Jonathan.
“Kamu dulu aja, Jo.”
Jonathan menunggu pelayan mengantarkan pesanan mereka sebelum mulai bicara.
“Tolong berhenti mengganggu Gaby dengan masalah foto di sekolah.”
“Jo, kamu menuduh aku sebagai dalang semuanya itu ? Aku bahkan baru mendengar masalah yang sedang menimpa istrimu dan perusahaan miliknya, Jo. Itu sebabnya aku langsung menghubungimu,” ujar Maya dengan wajah sedih.
Kali ini Maya menatap Jonathan lekat-lekat dengan wajah sedih dan terlihat kecewa. Ia tidak menunduk apalagi membuang muka untuk membuat Jonathan yakin kalau kesedihannya bukanlah pura-pura, padahal dalam hati Maya siap-siap bersorak karena wajah Jonathan terlihat mulai goyah.
“Jo, aku sungguh-sungguh tidak tahu dan benar-benar kaget saat mendengar semuanya. Begitu tahu, aku sudah melarang Jihan meneruskan kegilaannya di sekolah dan mengancam akan memecatnya kalau ia masih nekat, tapi untuk masalah perkebunan, aku sedikit kesulitan untuk membujuk mommy dan daddy karena sepertinya pengakuanmu soal istri membuat mommy sangat kecewa dan marah padamu.”
“Aku hanya berusaha jujur pada diri sendiri kalau aku mulai mencintai gadis kecil itu sebagai istriku,”ujar Jonathan sambil tersenyum dan wajahnya terlihat bahagia saat membayangkan wajah Gaby.
Maya menahan kesal dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja saat mendengar ucapan mantan kekasihnya itu.
“Aku akan membantu memberikan penjelasan pada mommy dan daddy namun semuanya pasti membutuhkan waktu. Bisakah saat ini kamu meminta maaf pada kedua orangtuaku dan menunjukkan kalau kamu sangat menyesal membuat mommy marah ? Ceritakan kalau kamu terpaksa menikahi gadis itu karena kondisi Om Hendri dan permintaan Tante Anna sebagai balas budi atas bantuannya untuk mamamu ?”
“Aku tidak keberatan untuk minta maaf pada kedua orangtuamu secara langsung dan siap menerima kemarahan mereka, tapi aku tidak bilang lagi kalau aku terpaksa menjalani pernikahan ini. Tolong jangan paksa aku masalah itu, Maya.”
Tiba-tiba Maya menangis sampai terisak membuat mata Jonathan membola dan mengambil tisu untuk Maya.
“Maafkan aku, tapi beginilah hidupku sekarang dan aku sudah bisa menerima takdirku,” ujar Jonathan penuh keyakinan.
__ADS_1
Maya makin terisak membuat Jonathan jengah karena beberapa pengunjung mulai menoleh ke arah mereka.
Jonathan menggeser posisi duduknya dan mengambilkan tisu lagi untuk Maya dan sebelum Jonathanmenghindar, Maya langsung menarik kemeja Jonathan lalu membenamkan kepalanya di dada pria itu sambil menangis.
“Kamu tahu Jo kalau kamu memang bukan pria pertama dalam hidupku tapi kamulah satu-satunya pria yang bisa membuat hidupku berubah. Kamu lihat sendiri Jo bagaimana aku bisa melepaskan banyak kebiasaan burukku sejak kamu di sisiku.”
Jonathan menghela nafas saat Maya terisak di hingga akhirnya tangan Jonathan menepuk-nepuk punggung Maya.
”Percayalah kalau banyak pria yang lebih baik dariku dan secepatnya kamu pasti akan menemukan penggantiku sebagai jodohmu.”
Tanpa mereka sadari, Gaby yang sedang berada di tempat yang sama hanya bisa menatap di balik tembok sambil mengigit bibir bawahnya.
Sebetulnya kakinya ingin mendekati meja Jonathan dan Maya lalu memaki wanita yang selalu berusaha merebut suaminya tapi bagaimana kalau pertemuan mereka bukan karena Maya tapi keinginan Jonathan sendiri ?
Akhirnya Gaby memutuskan untuk menghubungi nomor Jonathan dan saat itu juga handphone suaminya bergetar di atas meja namun pria itu hanya melirik tanpa berniat mengangkatnya, Gaby menghela nafas. Tangannya mengetik pesan untuk Jonathan dan lagi-lagi pria itu hanya melirik sekilas dan tangannya masih fokus menepuk-nepuk punggung Maya.
Dengan lesu Gaby kembali ke meja karena Lisa sedang menunggunya di sana. Bukan karena sedang menguntit Jonathan ia berada di kafe ini.
Tadi siang mendadak Lisa menghubungi Gaby dan mengajaknya bertemu apalagi mereka sama-sama sedang libur semesteran. Kafe ini pun adalah pilihan Lisa karena bagi Gaby dimana pun selama masih di Jakarta, motor matic kesayangannya bisa membantunya sampai ke tujuan tentu saja atas seijin Jonathan sebagai suami.
Gaby sempat melihat mobil Jonathan parkir sedikit di ujung dekat dengan parkiran motor. Ia sempat berpikir kalau Lisa dan Jonathan ingin memberinya kejutan namun semua itu ditepisnya saat melihat hanya ada sosok Lisa yang sudah menunggunya di salah satu meja.
Terlalu senang karena sudah lama tidak bertemu dengan adik tirinya itu, Gaby sampai lupa menanyakan kepentingan Jonathan di kafe ini. Ia baru teringat kembali saat tidak sengaja melihat suaminya berbincang dengan mantan kekasihnya bahkan perempuan itu sampai meminjam bahu Jonathan untuk menumpahkan kesedihannya.
“Kok lama banget, Kak ?” tanya Lisa membuyarkan lamunan Gaby.
Hatinya gundah tapi ia ingin menghabiskan waktu dengan Lisa tanpa diganggu masalah pribadinya.
Handphonenya berbunyi berisi balasan pesan dari Jonathan.
Mas Nathan sedang meeting di luar, mungkin agak malam pulangnya. Kamu makan malam dulu aja sama mama dan bobo duluan kalau ngantuk.
(GABRIELA) Sama Kak Kendra juga ?
(JONATHAN) Iya, urusan kantor
Gaby hanya tersenyum tipis dan enggan membalas pesan dari suaminya lagi. Hingga 15 menit ke depan, Jonathan pun tidak mengirimkan pesan lain lagi membuat Gaby kecewa karena suaminya sudah berbohong.
“Sayang kita nggak ketemu di sekolah yang sama, Kak,” ujar Lisa membuyarkan kembali lamunan Gaby yang sedang sedih dengan sikap Jonathan.
“Iya, kalau kamu sekolah di SMP Dharma Bangsa, sudah pasti kita akan lebih sering ketemu,” sahut Gaby sambil tertawa.
“Kakak bahagia menikah muda dengan Kak Jonathan ?” tanya Lisa dengan wajah sendu.
__ADS_1
“Bahagia. Mas Nathan guru yang galak tapi seorang suami yang baik. Mama Hani juga sangat-sangat baik dan menyayangi Kakak seperti anaknya sendiri. Kakak jadi nggak terlalu sedih setelah papi pergi.”
Wajah sumringah Gaby membuat Lisa bisa menarik nafas lega. Lisa tahu soal Maya karena beberapa kali ia pernah ikut mendengar saat Jihan bercerita pada mami Gina.
“Maaf karena mami dan Kak Jihan banyak menyakiti Kak Gaby dan Lisa hanya anak kecil yang tidak punya keberanian menghalangi mami dan Kak Jihan,. Kalau saja mami dan Kak Jihan tidak jahat pada Kak Gaby, mungkin saat ini kita masih tinggal serumah dan Lisa nggak akan kesepian.”
“Jangan menyesal dengan jalan hidup yang kita jalani saat ini. Fokus belajar karena sebentar lagi kan kita berdua mau ujian. Semangat sekolahnya biar semua selesai tepat waktu. Kakak akan bahagia banget saat menghadiri wisuda Lisa, semua itu akan mengalahkan rasa sakit yang pernah kakak rasakan saat tinggal di rumah itu.”
“Maaf Kak,” lirih Lisa sambil menyentuh jemari Gaby.
“Semuanya sudah lewat, yang harus kita pikirkan bagaimana langkah ke depannya. Biarkan masa lalu yang pahit itu jadi pelajaran bukan penghalang.”
Lisa mengangguk dan ikut tersenyum bersama Gaby. Kakak tirinya ini memang selalu lebih kuat daripada Lisa. Di saat mami Gina dan Kak Jihan menyakiti Gaby, Lisa cuma bisa menangis sampai sesunggukan dan memohon pada mami atau kak Jihan supaya jangan terlalu keras pada Gaby.
“Kamu pulang sama siapa ?” tanya Gaby saat melihat handphonenya sudah menunjukkan piukul 8 malam.
“Atau mau kakak antar sampai rumah ? Kakak bawa motor plus helm cadangan.”
“Nggak usah, Kak, rencananya Kak Jihan akan menjemput Lisa di sini setelah pulang kuliah.”
“Kak Jihan tahu kalau Lisa ketemuan kakak di sini ?”
Gaby mengerutkan dahi, perasaanya langsung tidak enak.
“Tahu Kak, malah waktu Lisa nanyain tempat, Kak Jihan yang menyarankan kemari.”
Gaby tersenyum tipis sambil menghela nafas. Sepertinya Gaby dan Jonathan memang sengaja dipertemukan di tempat ini oleh Jihan dan Maya, bukan kebetulan tapi sudah terencana.
Sayangnya yang membuat Gaby kecewa, Jonathan sudah berbohong padanya.
(GABRIELA) Mas Nathan meeting dimana ? Gaby bisa minta jemput ? Gaby habis ketemuan Lisa dan nggak bawa motor.
“Kakak udah dicariin sama Kak Nathan ?” tanya Lisa saat melihat Gaby sibuk mengetik di handphonenya.
“Nggak, Mas Nathan lagi meeting juga, santai aja.”
Baru selesai bicara, notifikasi handphone Gaby kembali terdengar dan nama Jonathan terpampang di layar dengan deretan kalimat pesan balasan.
(JONATHAN) Sorry nggak bisa jemput, Gab karena kliennya minta didrop di hotel. Apa mau dijemput sama sopir ?
(GABRIELA) Nggak usah, Gaby bisa pulang sendiri.
Dari dalam mobil yang terparkir di luar kafe, Jihan tertawa mengejek melihat ekspresi wajah adik tirinya yang terlihat kesal.
__ADS_1
Semuanya memang sudah direncanakan oleh Maya dan Jihan, termasuk membuat Gaby melihat Maya sedang menangis dalam pelukan Jonathan.
Jihan yang memperhatikan dari dalam mobil langsung memberi isyarat ke handphone Maya supaya bossnya itu berakting begitu Gaby beranjak dari kursinya. Jihan yakin kalau Gaby pergi ke toilet dan posisi duduk yang dipilih Maya pasti terlihat oleh siapapun yang melintas menuju kamar kecil.