Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Nestapa Berbuah Cinta


__ADS_3

"Maaf Kek, ini tuh seperti apa kesepakatannya?, mereka membeli tanah Kakek beserta isinya, maksudnya semua tanamannya?, kalau misalnya tidak, semua tanaman yang ada diatasnya masih bisa Kakek panen, termasuk kayu-kayu yang berserakan, itu bisa Kakek ambil", jelas Putra.


"Justru itu Nak, belum ada kesepakatan apa pun, tadi mereka ke sini dengan membawa uang, dan ada tiga anak Kakek yang langsung setuju, bahkan mereka pun sudah mengambil uangnya, tapi Kakek tetap tidak akan menjual tanah itu",


"Tapi, mengapa mereka langsung mengeksekusi tanahnya, padahal transaksinya belum deal", Putra merasa heran.


"Ini bisa menjadi senjata kita buat balik menggugat mereka, karena sudah berbuat semena-mena, benar nggak Dani?", Putra melirik Dani, rekannya.


"Iya, tapi kita perlu menelusuri dulu, siapa orang atau Instansi di balik proyek ini, apa benar proyek ini milik suatu Lembaga, atau mungkin juga hanya milik perorangan", jelas Dani.


Kalau begitu, kami harus pergi dulu untuk beberapa hari, kita ke Kelurahan, ke kabupaten, atau perlu ke kodya, untuk menelusuri rencana proyek di tanah Kakek itu", lanjut Putra.


"Ya, kalau begitu,Kakek serahkan semuanya kepada Nak Putra saja, Kakek tidak begitu faham masalah seperti itu",


"Baik Kek, kalau begitu kami pamit dulu, mau siap-siap", Putra dan ketiga rekannya meninggalkan rumah Kek Ilham setelah bersalaman.


Sebelum menuju rumah Pak RW, mereka sempatkan untuk melihat kondisi terakhir dari tanah Kakek Ilham yang tadi diratakan dengan bulldozer.


Di sana tampak warga masih banyak yang berkumpul, tidak sedikit juga yang mengais sisa sayuran dan palawija yang masih tersisa.


Tidak sedikit juga dari mereka yang ikut menangis, karena sebagian dari mereka adalah buruh taninya Kek Ilham. Kalau tanahnya dihancurkan, sudah tidak ada lagi sumber pekerjaan bagi mereka.


Tapi ada pemandangan yang membuat Putra penasaran, dia melihat Pak Rw sedang berbincang dengan orang-orang yang ada di Posko itu.


Mereka terlihat sedang tertawa-tawa senang sekali. 'Ini mencurigakan', batin Putra bicara.


"Kalian lihat itu!", Putra menunnjuk ke arah Posko, sepertinya ada yang janggal, Pak RW, tampak akrab dengan mereka", curigai Putra",


"Iya..., sepertinya ada konspirasi gitu", tebak Dani


"Tepat, ayo kita ambil tas dulu, ini harus segera di lacak", ajak Putra.


Mereka berbegas menuju rumah Pak RW. Namun sayang rencana kepergian mereka ke Kota malam ini terhambat oleh hujan yang turun dengan sangat deras.


Sepertinya alam pun ikut sedih dengan apa yang menimpa Kakek Ilham, tidak hanya hujan , malam itu disertai dengan datangnya angin. Angin dan hujan deras terjadi secara bersamaan.


Ini adalah hal yang jarang terjadi di desa Mandalajati. Tenda-tenda yang menjadi Posko Bondan dan rekan-rekannya roboh terterpa angin , mereka berlarian menuju rumah warga terdekat.


Namun tidak ada satu pun dari warga yang membukakan pintu untuk mereka, alhasil mereka menuju rumah Pak RW.


Putra yang masih terjaga mengetahui kedatangan mereka. 'Rasakan, mungkin nenek moyang pemilik tanah itu tidak rela tanahnya kalian rusak', batin Putra. Ia melihat mereka dengan mengulum senyum.


Malam ini memang Putra tidak bisa terlelap dengan nyenyak, ingatannya terus tertuju kepada Aini, hatinya resah saat harus kembali ke Kota.

__ADS_1


'Aku harus selesaikan ini sebelum berangkat ke Kota', batinnya bicara.


Tepat saat adzan Subuh berkumandang, Putra segera bangun dan membersihkan diri, ia akan menemui Pak Arman selepas shalat subuh nanti.


Tanpa sepengetahuan teman-temannya, ia bergegas pergi ke Masjid. Di sana ia bertemu dengan Pak Arman.


Mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah. Saat sebelum pulang, Putra mengutarakan maksudnya, ia ingin berkunjung ke rumah Pak Arman kardna ada hal yang ingin dibicarakan.


Dengan ramah Pak Arman mempersilahkan. Mereka berdua berjalan bersama menuju rumah Pak Arman.


Sesampai di rumah, Bu Hana sedang menyiapkan sarapan di bantu Aini. Aini merasa heran ayahnya pulang bersama Putra, walau hati kecilnya senang.


Tak dapat dipungkiri, Aini pun mulai menyukai Putra, orang yang telah menyelamatkannya kemarin.


"Alhamdulillah Nak, sekalian saja kita sarapan dulu", ajak Pak Arman saat memasuki rumahnya.


"Aduh, jadi merepotkan Pak", Putra menunduk, hatinya langsung dag-dig-dug, saat bertemu Aini.


"Nggak Nak, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih Bapak karena kemarin Nak Putra sudah menolong Aini ", ucap Arman.


"Ah..., itu kan kebetulan saya ada di sana",


"Tapi maaf ya Nak, menunya sederhana, ini semua Aini yang masak", ucap Bu Hana.


"Silahkan!",


Ada ikan mas goreng, tumis kangkung, sambal dan ketimun sebagai lalapannya.


Namun demikian, rasanya begitu nikmat, apalagi tahu yang memasaknya adalah Aini, gadis pujaannya.


"Maaf Bu, saya tambah lagi", senyum Putra sast kembali mengisi piringnya dengan nasi.


"Silahkan Nak, ibu malah senang", senyum Hana.


Aini pun tersenyum geli, karena ternyata Putra orangnya tidak pemalu.


Selepas sarapan, Arman mengajak Putra ke ruang keluarga, mengingat akan ada yang ingin Putra bicarakan dengannya.


Aini kembali datang, kini ia membawa sepiring ketimus dan teh manis panas sebagai cuci mulutnya.


"Silahkan Nak, katanya ada yang ingin dibicarakan", Arman to the point.


"Iya...Pak", jawab Putra dengan jantung yang kembali deg-degan.

__ADS_1


"Ini, Pak, eh..., saya ini sebenarnya", Putra sedikit gugup.


Aini diam-diam menguping di balik tirai dapur sambil masih memegangi nampan.


"Bicara saja Nak", senyum Arman.


"Saya kan mau kembali ke Kota untuk beberapa hari, tapi sebelum itu, saya ingin mengutarakan sesuatu yang selama ini terus mengganggu",


"Saya menaruh hati kepada putri Bapak, Aini", tegas Putra.


Aini terasa tersetrum, hatinya senang mendengar ucapan Putra.


"Nak Putra mencintai Aini, anak Bapak?", Arman memperjelas ucapan Putra .


"Iya Pak", aku Putra.


"Em..., Aini masih sekolah, sekarang kelas tiga SMU, dan Bapak juga belum tahu apa Aini mau menerima Nak Putra, kalau Bapak sih bagaimana Aini saja, Aini ...Aini...., kesini Nak", panggil Arman.


Aini menunduk menghampiri ayahnya, ia duduk disampingnya.


"Aini, ini Nak Putra, silahkan Nak utarakan saja langsung kepada orangnya", senyum Arman.


Putra menarik nafas dalam-dalam, dipandangnya gadis dihadapannya yang masih menunduk menyembunyikan wajah manisnya.


Dengan segala keberaniannya ia mulai bicara,"Aini, aku meminta ijin untuk mencintaimu, boleh?", tegas Putra.


Aini diam, ia ingin langsung mengiyakan namun entah kenapa lidahnya mendadak kelu, tidak bisa berkata-kata.


"Bagaimana Aini?, kamu mau terima Nak Putra?", Arman melirik putrinya yang masih mematung.


Lagi-lagi, Aini hanya diam.


"Diam artinya mau ya,?" senyum Putra yang sudah tidak sabar menunggu jawaban dari Aini.


Aini mengangguk dengan membalas senyuman kepada Putra, dan setelah itu kembali menunduk.


"Alhamdulillah....., " sorak Putra ia menyambar tangan Arman dan mencium punggung tangannya.


"Terima kasih Pak",


Arman mengulum senyum melihat tinggah Putra


"Bukan sama Bapak, sama Aini tuh berterima kasihnya",

__ADS_1


"Oh...iya..., terima kasih Aini", senyum Putra.


Seketika hati Putra merasa lega dan bahagia, ternyata cintanya di terima oleh Aini.


__ADS_2