
Aditya menggeliat, matanya mulai terbuka dengan berat, perutnya terasa lapar, jelas saja dia sudah tertidur sepanjang malam dan sepanjang siang.
Dia terduduk di atas tempat tidur, seperti orang linglung. Tangannya memijit-mijit kepalanya yang terasa pening.
Sampai ia kembali mengingat Aini, seingatnya ia tertidur bersama Aini, ia melirik ke kanan dan ke kiri, namun Aini tidak ada.
'Kemana dia, apa aku ini sedang bermimpi', pikir Aditya. "Bonndan..., bondan....", Aditya berteriak, ia menyadari dirinya sedang berada di Villa, bukan di rumahnya.
Pak Dirman terlihat memasuki kamar Aditya, "Sudah bangun?", tanyanya begitu melihat Aditya duduk di atas tempat tidurnya.
"Kok, Papah ada di sini?", mana Bondan.
"Bondan?, memangnya dia sudah pulang?, dari malam Papah tidak melihat Bondan", aladan Pak Dirman.
Aditya termenung, pikirannya makin kacau saja, sepertinya pengaruh obat tidur itu masih ada.
"Sudah kamu tenang dulu, Papah ambilkan makan dulu, pasti kamu lapar kan?", Pak Dirman meninggalkan Aditya yang masih kebingungan.
Tak lama ia kembali dengan membawa nampan berisi makanan buat Aditya.
"Ini..., kamu makan dulu, biar tidak sakit", Pak Dirman memberikan makanan tersebut kepada Aditya.
Dengan cepat Aditya memakannya, perutnya yang sedari kemarin tidak terisi makanan, kini sudah penuh.
Perlahan kondisinya mulai pulih, ingatannya pun kembali normal. "Dimana Aini?, ", Kembali Aditya mengingat Aini.
"Pah..., dimana Aini?" Aditya memandangi ayahnya.
"Aini?, memangnya ada apa dengan Aini?, ini di Villa, jauh dari rumah Aini", Pak Dirman memandang Aditya, ia sedang menyelidiki perubahan raut muka Aditya.
Terlihat Aditya seperti menerawang, ia nampak sedang mengingat sesuatu.
"Kamu mimpi kali , mimpi bertemu dengan Aini",senyum Pak Dirman.
Aditya kembali merenung. Ucapan ayahnya kembali menggoyahkan ingatannya. 'Aku harus bertemu Bondan, untuk memastikan kebenaran dugaanku ini', pikir Aditya.
"Aku mau mandi Pah, ini tubuh rasanya lengket sama keringat" , adu Aditya.
__ADS_1
"Sini!, Papah antar ke kamar mandi", Pak Dirman memegang tangan Aditya.
"Nggak usah Pah , aku bisa sendiri", tolak Aditya. Ia berjalan sendiri menuju kamar mandi. Hatinya mulai merasa ada sesuatu yang janggal soal Aini.
Ingatannya masih tertuju pada Aini, ia yakin kemarin ada Aini bersamanya.
Aditya merendam tubuhnya di dalam bath tub, air kran dibiarkan mengguyur kepalanya, ia terpejam, merasakan hangatnya air shower yang menerpa tubuhnya.
'Apa yang terjadi pada aku, dan kemana Aini?', kembali Aditya membatin. Ia terpejam , ingin mengosongkan pikirannya, biar ingatan kacau yang dirasakannya segera hilang.
Sementara Pak Dirman nampak sedang mengirimi pesan kepada Bondan.
[Cepat kamu pulang, Aditya sudah sadar, dari tadi dia mencarimu, berpura-pura saja tidak tahu dulu jika dia bertanya tentang Aini] , Pak Dirman segera menghapus chat nya dengan Bondan.
"Maafkan Papah Dit, ini semua Papah lakukan untuk masa depanmu", gumam Pak Dirman.
Bondan sudah sampai di villa kembali, secepatnya ia menuju Villa begitu mendapat pesan dari Pak Dirman.
Merasa tubuhnya sudah kembali enakan, Aditya segera mengeringkan tubuhnya dan berpakaian. Ia dapati ayahnya masih duduk di sofa di dalam kamarnya.
"Pulang?", Aditya terdiam.
"Iya..., Papah masih ada kerjaan , jadi ya..., lebih baik kita segera pulang ke rumah", tegas Pak Dirman.
"Aku menunggu Bondan dulu", ucap Aditya.
"Bondan ada di bawah", kabari Pak Dirman.
"Yang benar?", Aditya langsung menuju bawah, setengah berlari ia menuruni tangga. Pak Dirman pun mengikutinya dari belakang.
"Kamu dari mana saja", bentak Aditya begitu berhadapan dengan Bondan.
"Aku ada di sini, Den Bos nya saja yang dari kemarin tidur", senyum Bondan.
Aditya diam, ia seperti sedang berfikir. "Apa iya aku tidur semalaman?", gumamnya.
"Lah...itu juga baru bangun kan Den?, seharian ini juga mungkin Aden tidur terus",
__ADS_1
Aditya menggaruk-garuk kepalanya. "Terus Aini mana?", timpa Aditya masih dengan nada keras.
"Aini?, Ah...Aden mimpi kali, mana ada Aini di sini?, yang ada Pak Bos , saya, Bimo, dan Yoseph, tuh mereka lagi berjaga di depan", Bondan masih berkilah.
"Ini ....aku yang gila, apa kalian yang tidak waras sih?", bentak Aditya.
"Aku yakin, kemarin Aini ada di sini?, bukan mimpi", keukeuh Aditya.
"Dit, kalau benar Aini ada di sini?, mau ngapain?, kamu yang menculik dia ke sini?", tatap Pak Dirman.
"Kamu salah kalau sampai menculik Aini, bisa dipidanakan?", tegas Pak Dirman.
"Lagian kenapa sih kok kamu masih memaksakan kehendak, jelas-jelas Aini itu sudah punya pilihan sendiri, kalau kamu paksa, yang ada kamu bakal menyesal seumur hidup, Aini bakal tambah benci sama kamu jika sampai kamu menculik dan memaksanya", jelas Pak Dirman.
"Dit..., lihat Bapak!, semenjak ibumu meninggal, Bapak tidak tertarik lagi sama wanita lain, bukan tidak ada, tapi karena Bapak terlalu sayang samma kamu, Bapak takut Ibu sambungmu tidak sayang sama kamu, apalagi Bapak sering kerja di luar Kota, Bapak memilih membawa kamu kemana pun Bapak dapat tugas", Pak Dirman menerawang.
"Sekarang kamu, masa gara-gara di tolak Aini saja langsung gelap mata, masih banyak gadis lain di luar sana yang tidak kalah cantik dari Aini, penolakan Aini itu seharusnya menjadi motivasi bagi kamu untuk berubah menjadi lebih baik, biar nantinya Aini menyesal telah menolak kamu, masa depanmu masih panjang, jangan hancurkan hanya gara-gara Aini", tegas Pak Dirman.
"Kamu anak Bapak satu-satunya, masa ciut gara-gara ditolak Aini. Mending kejar cita-citamu, kuliah yang benar, biar kamu nanti jadi idaman para gadis, bukan kamu yang mengejar, tapi mereka",
Aditya mematung, ia berusaha mencerna ucapan Bapaknya. 'Iya benar Pak, Adit yang salah, Adit yang egois, Adit yang hampir mencelakakan kita', Aditya membatin.
"Sudah, mulai sekarang lupakan Aini, kamu fokus saja mengejar cita-cita, kalau mau kuliah ke luar negri, boleh, Bapak dukung", Pak Dirman menepuk pundak Aditya.
Aditya terdiam, 'Apa iya, aku ambil kuliah di luar negri saja, biar tidak terus kepikiran Aini', pikir Aditya.
"Ingat ya Dit, kamu penerus Bapak satu-satunya, kamu yang akan mengurus semua bisnis Bapak, kalau ada apa-apa dengan kamu, bagaimana nasib Bapak, Bapak tidak ingin menua dalam kesepian", lirih Pak Dirman.
Membayangkannya saja Pak Dirman sudah sedih.
"Lihat Bapak Dit!, Bapak sudah tua, Bapak hanya punya kamu, jadi kamu tetap sehat dan selamat , biar ada yang menjaga Bapak jika Bapak sudah renta", Pak Dirman kini menunduk, ia tak kuasa lagi menahan air matanya.
Aditya terkesiap melihat raut kesedihan yang melingkupi wajah Bapaknya. Memang benar ia hampir berbuat tolol, yang akan merusak masa depannya.
"Iya Pak, Adit akan belajar menerima keadaan, Adit akan belajar bersikap baik dan lebih mengutamakan Bapak ", senyum Aditya.
Hati Aditya luluh melihat tangisan bapaknya. 'Iya..., aku harus melupakan Aini, aku harus merelakan Aini dengan Putra", Aditya membatin.
__ADS_1