Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Peran seorang Ayah


__ADS_3

Semua sudah berkemas, rencananya mereka akan kembali ke kota sehabis Dzuhur. Keluarga Bu Mona dan Mirna yang lebih dulu pamit.


Sedangkan Bu Hellen masih menunggu kedatangan suaminya, Pak Handoko yang sedang dalam perjalanan menuju rumah Kek Ilham untuk menjemputnya.


Aini hanya diam, dia seperti enggan pulang lagi ke Kota, ia pasti akan menghadapi berbagai masalah di sana, terutama Risma.


"Kalau boleh ..., apa bisa kalau aku di sini dulu, untuk sementara", celetuk Aini.


Ucapan Aini membuat semua orang yang ada bersamanya menatapnya.


"Lho..., kok begitu..", Bu Hana menghampiri Aini, ia memegangi pundaknya.


"Tempat seorang istri itu ya di samping suaminya Aini..., ibu bukannya tidak mau Aini tetap tinggal di sini, tapi...ini sudah berbeda, tempatmu adalah di samping suamimu, apa pun keadaannya , mau susah, mau senang, kalian harus hadapi berdua", Senyum Bu Hana.


Putra merasa kaget sekali , ia tidak menyangka Aini bicara seperti itu.


"Iya..., Mamih akan selalu menjaga kamu seperti ibumu Aini, kalau ada apa-apa dengan anak Mamih, bicara saja, biar Mamih nanti yang akan menghukumnya", senyum Bu Hellen. Ia sangat mengerti kenapa Aini bisa bicara seperti itu.


"Aku janji, akan selalu menjaga dan melindungimu Aini, maafkan aku", Putra menghampiri Aini, dan bersimpuh dihadapan Aini sambil meraih kedua tangannya.


"Ada apa ini?, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?", Kakek Ilham memandangi Putra dan mamihnya silih berganti.


"Degh", Kini Aini yang merasa kaget, ia sudah membuat khawatir keluarganya. Bukannya ia sendiri yang meminta Putra untuk menyembunyikan masalah Risma kepada keluarganya, tapi kini malah dirinya yang hampir membongkarnya.


"Oh...tidak, bukan begitu, ini tidak ada apa-apa, Aini hanya masih kangen saja sama kalian", senyum Aini, ia berusaha mengukir senyuman agar keluarganya tidak kembali curiga.


"Ini wajar sayang, tapi tetap kamu harus pulang, nanti kalau suamimu ada waktu senggang lagi, kalian bisa berlama-lama di sini, Putra bisa ambil cuti kerja, kalau sekarang kan Putra baru saja masuk di Perusahaan, jadi belum bisa libur lama-lama", jelaskan Bu Hellen.


"Iya...maaf", Aini menunduk.


Sebuah mobil mewah memasuki pekarangan Kek Ilham, dia adalah Pak Handoko yang baru saja datang, ia langsung dari luar kota.


"Alhamdulillah..., tuh Papih sudah datang", Bu Hellen menuju luar memburu kedatangan suaminya.


Mereka tampak saling bersalaman, dan memasuki rumah Kek Ilham.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, maaf sudah membuat menunggu", Pak Handoko menyalami sayu per satu orang-orang yang ada di dalam.


"Langsung makan saja Pak, semua sudah tersedia", tawari Bu Hana.


"Iya..., terima kasih, saya masih kenyang, tadi sudah mampir di rest area",


"Senang sekali Kek, kita bisa bertemu lagi, sepanjang jalan, saya melihat banyak perubahan",


"Iya..., sekarang banyak kavling-kavling bertebaran, di Kota sudah semakin padat sepertinya, jadi mereka pada lari ke sini", kekeh Pak Handoko.


"Bagaimana Aini, sehat?", Pak Handoko melirik menantunnya.


"Alhamdulillah, srhay Pih", senyum Aini.


"Orang hamil itu happy terus, biar Dede bayinya tumbuh dengan baik", senyum Pak Handoko.


Rasanya saya baru kemarin ke sini, waktu cepat sekali berlalu, saya pertama datang ke sini untuk melamarkan Aini kepada Putra, sekarang ke sini lagi sudah mau dapat cucu", senyum Pak Handoko.


"Awas tuh, sekarang tugasmu bertambah, sudah ada Calon bayi yang harus Kamu jaga juga, selain ibunya", Pak Handoko melirik Putra.


"Tidak mudah ya Kek, jadi seorang Ayah", senyum Pak Handoko, ia melirik ke arah Kakek Ilham.


"Kakek ini ayah dari sepuluh orang anak, tiap anak memiliki sifat yang berbeda-beda, bisa terbayang bagaimana repotnya Kakek mengurus mereka semua", senyum Kek Ilham.


"Nah...Kakek ini yang harus kita tiru, bisa membesarkan kesepuluh anaknya, bagaimana tuh Kek?", Senyum Pak Handoko.


"Kuncinya Ikhlas saja, dan yakin, semua masalah itu akan ada solusinya, setiap anak itu membawa rizkinya sendiri-sendiri, dan memang benar, setiap mau diberi keturunan, ada saja pesanan datang, entah yang memesan ikan, memesan kayu, atau memesan gabah ya Nek?", Kek Ilham melirik Nek Husna.


"Iya...Alhamdulillah, selalu di beri kemudahan juga saat Nenek melahirkan anak-anak dulu, padahal dulu masih jarang Bidan, mau ke Rumah Sakit pun jaraknya jauh, kalau ada yang sakit itu di tandu dari sini, diperjalanan saja hampir satu jam, banyak yang sakit keras itu sampai tidak tertolong", Nek Husna menerawang.


"Jadi Nenek dulu melahirkan di rumah?", tatap Aini penuh penasaran.


"Iya Neng, Nenek di bantu Mak Paraji",


"Mak Paraji itu, dukun beranak", senyum Bu Hana.

__ADS_1


"Dulu waktu Ibu melahirkan Aini juga dibantu Mak Paraji",


"Oh...", Aini tersenyum.


"Kakek itu hanya jualan hasil kebun ke Kota, dari sini di pikul, jalan kaki, berangkat subuh, pulang bisa Isya", Kakek menerawang.


"Dulu tidak ada angkutan umum memangnya Kek?", Putra menatap Kek Ilham.


"Tidak ada Nak, jalankan juga masih jalan setapak, dulu, ini desa terpencil, tidak ada akses ke mana-mana",


"Kalau pulang jualan, Kakek selalu membeli oleh-oleh kerupuk", senyum Kakek.


"Kerupuk, Kek?", kekeh Putra.


"Iya..., wah ...sudah senang anak-anak diberi kerupuk juga",


"Kakek itu mendidik anak-anak untuk hidup sederhana, bukan tidak ada uang, uangmah selalu ada ya Nek?, tapi kan uang itu di simpan untuk kebutuhan yang lebih penting".


"Buktinya Kakek bisa membeli tanah di beberapa tempat, sawah juga", senyum Kek Ilham.


"Nah....kalian juga walau banyak uang, tidak kekurangan, jangan biasakan manjain anak, sewajarnya saja", senyum Kakek Ilham.


"Dan yang terpenting itu, pendidikan, memang dulu Kakek tidak bisa menyekolahkan anak -anak sampai jenjang yang tinggi, apalagi anak perempuan, mereka keburu ada yang melamar", kekeh Kakek Ilham.


"Terus Kakek nikahkan mereka?", tatap Putra, ia begitu antusias mendengar cerita Kakek Ilham.


"Iya..., kalau sudah ada jodohnya, dan mereka sudah saling suka, apalagi, Kakek nikahkan saja", senyum Kakek.


"Tugas terakhir seorang Ayah itu, ya menikahkan anak-anaknya, Kakek itu tidak pernah mematok harus dapat jodoh seperti apa, tidak usah mencari jodoh yang kaya, cukup yang tanggung jawab saja dan pekerja keras", senyum Kakek.


"Dan Alhamdulillah, Aini cucu pertama Kakek yang mendapat jodoh dari Kota, dan lebih Alhamdulillah lagi, orang yang terpandang pula", senyum Kakek.


"Sekarang..., tinggal bagaimana kalian mempertahankan pernikahan kalian, tidak mudah berumah tangga itu, pasti akan ada saja cobaan-cobaan datang",


"Yang harus kalian pegang itu, janji, janji kalian sama Allah, karena pernikahan itu suatu perjanjian dengan Allah, yang harus kalian jaga, makanya Allah membenci perceraian",

__ADS_1


Kakek Ilham bicara panjang lebar, ia seolah bisa membaca ada gelagat tidak baik di antara Aini dan Putra.


Aini dan Putra saling menatap, mereka seolah tertampar oleh ucapan Kakek Ilham.


__ADS_2