
Acara perpisahan berlangsung meriah, acara di buka oleh penampilan memukau dari grup karawitan dan lengser, yang menguras tawa dan air mata pada sesi sungkeman.
Sebelum acara resmi di mulai, ada sesi pembacaan Ayat suci Al-Qur'an dan shalawat oleh Aini.
Semua terpana, tidak menyangka dengan kemampuan Aini. Di akhir acara diumumkan juga mengenai lulusan terbaik tahun ini.
Dan ternyata, Aini adalah lulusan terbaik tahun ini. Semua teman-temannya memberi selamat kepada Aini.
Acara yang dinanti pun datang, semua guru dan siswa yang akan ikut study tour sudah dipersilahkan untuk memasuki bis pariwisata.
Hanya Mirna yang tidak ikut, ia hanya menyalami semua temannya. Rasanya sudah tidak ada semangat lagi begitu mendengar Aini akan segera menikah dengan Putra.
Mirna memang sudah tidak berharap lagi kepada Putra, tetapi hatinya kini hampa, karena sudah tidak ada lagi yang mengisinya. Ia memutuskan untuk ikut bersama kedua orang tuanya ke Desa.
Ada tiga bis pariwisata yang berangkat , dan dibelakang bis itu, mengikuti sebuah mobil putih yang didalamnya ada Aditya dan Bondan
Ternyata, ketiga bis itu menuju sebuah pemandian air panas yang ada di sebuah perkebunan teh.
Suasana yang sejuk membuat semua siswa dan guru betah di sana. Apalagi bagi Aini, ini adalah untuk pertama kalinya ia bisa berwisata.
Aini nampak senang sekali, ia berkeliling melihat-lihat keindahan kebun teh yang terbentang luas. Ia ditemani oleh kedua temannya.
Tidak sedikit dari temannya yang ikut berendam di kolam air panas . Aini juga bukan tidak mau, tetapi ia merasa risih bila harus berbasah - basahan di tempat umum.
Tanpa ia sadari, ada empat pasang mata yang sedari tadi memperhatikannya. Mereka menanti waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.
"Dia terlihat lebih cantik dengan pakaian itu", gumam salah seorang dari mereka.
"Kita tunggu sampai ia lengah dari temannya",
"Siap, Den Bos",
Untuk beberapa saat mereka mengintai Aini. Sampai kedua teman Aini terpisah dengannya. Mereka adalah Aditya dan Bondan yang sejak awal mengikuti bis periwisata Aini.
"Tuh...., lihat!, kesempatan mulai memihak kepada kita, Loe siap-siap!, Gue akan ke mobil, begitu lengah, Loe sikat dia, bawa ke mobil!", perintah Aditya.
"Siap Den Bos!",
Entah apa yang dilakukan Aini, ia makin menjauh dari lokasi rombongan, dan kedua temannya . Hingga dengan mudah Bondan mendekap wajahnya dengan kain hitam yang sudah diberi obat, hingga saat ia berontak dan hirup, ia langsung tidak sadarkan diri.
Bondan memangku tubuh rampingnya menuju mobil Aditya yang sudah stand by, hingga saat ia masuk dengan Aini, mobil langsung melesat menjauh dari lokasi teman-temannya berada.
Kini Aini sudah berada di dalam mobil bersama Aditya dan Bondan, ia tidak sadarkan diri. Dan semua teman-temannya pun tidak ada yang tahu, mereka asik menikmati wisatanya.
Namun ada sebuah mobil yang mengikuti mobil yang dikendarai Aditya.
__ADS_1
"Aduh...., nggak mengangka, Aditya benar-benar nekat, rasa sakit hati telah menggelapkan pikiran sehatnya", gumam Wira.
Ia nampak sedang menelepon seseorang, "Pak Bos, dia berhasil membawanya, sepertinya Den Adit menuju Villa Pak Bos",
"Iya, ini masih kami ikuti, baik, nanti akan terus kami laporkan perkembangannya", lapor Yoseph.
Kedua mobil masih beriringan, Wira berusaha menjaga jarak aman agar Aditya tidak curiga jika sedang diikuti.
"Saatnya kita pulang anak-anak, kalian kembali ke Bis masing-masing, Ibu tunggu sampai lima belas menit dari sekarang!", Suara Ibu Kepala Sekolah menggema dari Toa, memanggil semua siswa yang masih asik bermain dan berenang.
Mendengar seruan itu, seluruh siswa yang sedang berenang, bergegas menuju ruang ganti dan para Siswa yang sedang bermain foto pun segera menghentikan aktifitasnya dan bergegas menuju Bis mereka, walau masih betah, mereka menghentikan aktifitasnya dan bersiap untuk kembali pulang.
"Semua sudah lengkap?, teman-teman kalian satu bis sudah ada semua?, coba cek masing-masing ya ?", kembali suara dari Toa menggema di dalam Bis.
Semua siswa mengecek keberadaan teman satu bisnya. "Kok, Aini belum ada dii tempat duduknya!", seru teman Aini.
"Apa mungkin masih di kamar mandi?, tadi ada yang melihatnya?", Ketua rombongan Bis bertanya.
"Tadi bersama kita, foto-foto di kebun teh sana, tapi saat kami asik berswa foto, Aini tidak terlihat lagi, saya fikir Aini ke kamar mandi, atau sudah kembali ke sini", jelas Nia yang tadi bersama Aini.
"Kalian tetap di tempat, saya mau lapor dulu kepada Ibu Kepala Sekolah", Lia keluar Bis.
Mendengar laporan dari Lia, jajaran guru yang ikut mulai panik, mereka berkoordinasi dengan petugas keamanan di sana untuk mencari Aini.
"Kita semua do'akan Aini, semoga cepat ketemu dalam keadaan sehat, dan bisa kembali berkumpul dengan kita dan keluarganya, Aamiin", kembali suara Ibu Kepala Sekolah menggema lewat speaker yang ada di setiap Bis.
Rasa haru menyeruak, hingga tak sedikit dari teman Aini yang menitikkan air mata. Mereka tidak menyangka acara study tour di akhiri dengan kesedihan.
Sementara mobil Aditya kini sudah merapat ke sebuah Villa, ia keluar duluan, lalu menghampiri Penjaga Villanya, ia mengambil kunci dan menyuruh Penjaga itu pulang.
"Kamu bisa istirahat tiga hari, aku sudah bawa penggantimu", ucap Aditya kepada Penjaga Villa dan memberikannya amplop berisi sejumlah uang.
"Baik, Den, terima kasih", Penjaga yang tidak tahu apa-apa itu dengan senang hati menerima pemberian Aditya, dan langsung pergi dengan tersenyum senang.
Aditya mengunci kembali gerbang, dan bergegas kembali ke mobilnya.
"Hey..., jangan Loe apa-apain dia!", gertak Aditya saat kembali ke mobilnya melihat tangan Bondan mau menyentuh wajah Aini.
"Ng....nggak Den, ini tadi ada nyamuk", alasan Bondan, ia sedikit terkejut.
"Awas...., keluar Loe, biar dia Gue yang urus", teriak Aditya yang menyuruh Bondan keluar dari mobilnya.
"Sekarang Loe jaga di sana!, jangan biarkan siapa pun masuk!", perintah Aditya.
"Baik Den", Bondan menurut, ia berjalan ke arah pos jaga. Dari kejauhan ia melihat Aditya memangku tubuh Aini yang nampak masih belum sadarkan diri.
__ADS_1
'Kasihan gadis itu', pikir Bondan.
Tak lama ponselnya bergetar, ia lihat Pak Dirman meneleponnya.
"Halo, Bondan kamu bersama Aditya kan sekarang?", suara pak Dirman langsung mengintrogasinya.
"Ti...ti....tidak Pak Bos", Elak Bondan.
"Jangan bohong kamu!, aku tahu kamu sedang di Villa bersama dia, Aini juga dibawa ke sana?",
"I...I....iya...Pak Bos",aku Bondan.
"Aku Bos mu, aku yang bayar kamu!, bukan Adit!, ngerti kamu!, jadi ikuti perintahku , bukan Adit, Paham!", Suara Pak Dirman terdengar bergetar.
"I...I...iya Pak Bos, saya ngerti",
"Nanti Wira dan Yoseph akan ke sana, biarkan mereka masuk, dan selamatkan Aini, kembalikan dia kepada orang tuanya, kalau kalian tidak mau berurusan dengan pihak berwajib", perintah Pak Dirman.
"Iya Pak Bos, tapi bagaimana menghadapi Aditya?",
"Nanti Wira sudah membawa obat bius, campurkan saja dengan minumannya Adit",
"Oh...., baik Pak Bos, siap",
*****
Rombongan Bis sudah kembali ke Selolah. Nampak para penjemput pun sudah ada di Sekolah, mereka menunggu kepulangan anak-anaknya. Termasuk Putra, ia pun sudah stand by di sana.
Para siswa nampak lesu saat keluar dari Bis, bahkan ada diantara mereka yang masih terisak . Mereka membentuk barisan di halaman Sekolah untuk mengikuti acara penyerahan kembali dari pihak Sekolah kepada para orang tua mereka.
"Mohon maaf sekali, kami dari pihak Sekolah, karena ada seorang siswi kami yang hilang di lokasi Wisata. Tapi ada pihak dari kami dan para petugas di sana yang sampai saat ini masih melakukan pencarian di lokasi", Suara Ibu Kepala Sekolah terdengar berat,
Sontak pengumuman itu mengejutkan semua orang tua yang ada di Sekolah, termasuk Putra.
"Ya, Allah..., semoga saja... bukan...", gumam Putra. Ia sudah parno duluan.
"Dan siswi yang masih dalam pencarian itu adalah Aini....Aini......Aini.....Aini......", suara itu terdengar bergema di telinga Putra.
"Ya Allah Aini?", setengah berlari Putra menghampiri jajaran guru yang ada di depan barisan para siswa.
"Bu..., apa benar yang hilang itu .....A..i..n..i...?", tatap Putra.
"Iya, Nak, kami mohon maaf, tapi sampai saat ini, masih dilakukan pencarian ", Ibu Kepala Sekolah memegang tangan Putra.
"Baik Bu, terima kasih", Putra langsung berlari menuju mobilnya dan melesat menuju lokasi hilangnya Aini.
__ADS_1