
Waktu berlalu dengan cepat, Aini sudah melahirkan seorang bayi laki-laki, semua merasa senang, karena itu adalah cucu pertama dari masing-masing keluarga.
"Kendra, itu nama anak kita", senyum Putra . Ia baru saja selesai membersihkan diri, itu yang kini selalu Putra lakukan, ia begitu protective terhadap bayi mungilnya itu.
"Alhamdulillah..., aku senang sekali Mas, lega rasanya sudah bisa menghadirkan Kendra untuk keluarga kita",
"Tapi aku takut Mas", lirih Aini.
"Takut?, apa yang ditakutkan?", tatap Putra.
"Takut kalau kebahagiaan ini cepat berlalu, kalau hasil test nya cocok bagaimana?",
"Tenang sayang, kamu harus yakin, kamu harus percaya sama aku",
"Kalau sampai hasil test itu cocok, aku ingin tinggal dengan Ibu saja di Desa", pinta Aini. Ia sedang memberi asi bayi kendra.
"Ya..., jangan begitu , posisi kamu tidak akan berubah, apa pun yang terjadi , ini rumah kamu, kamu tetap akan menjadi yang pertama", Putra menggenggam erat tangan Aini.
"Yakinlah..., semua akan baik-baik saja, apalagi sekarang sudah ada Kendra",
"Tak semudah itu Mas, tak sesimple pikiranmu, pokoknnya aku tidak siap jika harus berbagi dengan wanita lain, aku lebih memilih lepas dan pulang ke kampung", ucap Tiara.
"Tidak Aini, kalau begitu, kamu sama saja menyerah, membiarkan aku jatuh ke dalam lubang yang dibuat oleh Risma", Putra menatap Aini.
__ADS_1
"Iya, tapi aku tidak mau hidup berdampingan dengan dia, biar aku nanti yang mengalah, keluargaku masih komplit, masih ada Bapak, Ibu, Kakek, dan Nenek, sedangkan dia, hidup sendiri, jadi dia yang lebih membutuhkan kehadiranmu disisinya", jelas Aini. Ia keukeuh dengan pendiriannya.
Putra termenung, ia seolah mati kutu, tidak bisa bicara apa-apa lagi.
Bu Hellen yang sedang duduk di ruang keluarga , ia menunggu suaminya Pak Handoko yang sedang ada di garasi, ia sedang memanaskan mobil.
Rencananya mereka akan mengantar Risma dan anaknya, kansha. Khansa, seorang bayi perempuan yang telah dilahirkan Risma.
Selama ini Risma selalu menuruti Bu Hellen, ia tidak pernah keluar rumah, semua kebutuhannya selalu dicukupi oleh Bu Hellen.
Bahkan Dokter pribadi pun Bu Hellen siapkan untuk menangani semua urusan kesehatan Risma saat mengandung sampai melahirkan.
Semua itu Risma lakukan karena ia merasa yakin kalau Putra lah ayah dari bayinya.
Semua itu tertutup rapi, sehingga semua berjalan sesuai rencana, Perusahaan yang dipimpin Putra pun makin berkembang dengan baik.
"Semua sudah siap, kita pergi sekarang saja", usul Pak Handoko.
"Tunggu", tiba-tiba Putra datang, ia menghalau Papihnya yang baru masuk ke dalam.
"Ada apa?", ucap Pak Handoko, ia agak kaget.
"Sebaiknya Aini saja yang membawa bayinya Risma ke Rumah Sakit, bukan apa-apa sih, takutnya akan mengundang kehebohan , Risma kan sudah lama tidak tampil di tempat umum, kalau tiba-tiba dia muncul, dengan seorang bayi, diantar Papah dan Mamah, wah...., bisa heboh kan ", jelas Putra.
__ADS_1
Bu Hellen dan Pak Handoko saling pandang, ucapan Putra itu masuk akal. Jangan sampai usaha mereka yang hampir satu tahun menyembunyikan Risma, hancur dalam sehari saja.
"Iya, itu lebih baik, tapi apa Aini mau?", tatap Bu Hellen.
"Sebentar, aku bicara dulu sama Aini", Putra kembali menuju kamarnya. Di sana ia mengutarakan usulannya tadi sambil memperhatikan reaksi Aini.
"Bagaimana, mau kan?", Putra menatap Aini.
"Untuk keluarga ini, apa yang tidak bisa sih Mas", ucap Aini datar.
"Kalau tidak mau juga tidak apa-apa, jangan memaksakan", ucap Putra.
"Aku mau kok, biar sekalian aku ingin tahu hasilnya sendiri, walau nanti akan menyakitkan",
"Yakin sayang, bukan aku, harus berapa kali aku bilang",
"Iya..., kita lihat saja hasilnya, itu yang mutlak, biar semuanya cepat jelas, dan aku tidak salah memilih keputusan",
Putra mendekati istrinya, ia mendekap tubuh istrinya itu dan mengecup pucuk kepalanya.
"Terima kasih..., kamu selalu kuat menghadapi semua ini, Kendra biar di jaga Bi Surti dan aku", Putra menggandeng Aini menuju luar dan di pintu kamar, mereka berpapasan dengan Bi Surti yang akan menjaga baby Kendra.
Aini pun pergi ke Rumah Sakit membawa baby Khansa di temani Bu Hellen dan Pak Handoko.
__ADS_1