Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Over Protectif


__ADS_3

"Kenapa melihatku seperti itu", Aini menatap Putra yang duduk disampingnya.


"Kamu tambah cantik saja, ini pasti gara-gara dede bayi kita, kamu tambah gemesin saja", Putra mencubit hidung Aini.


"Sebentar lagi juga aku akan berubah, perunku buncit, tubuhku gendut, jalanku kaya bebek, pasti kamu akan benci melihatku", Aini cemberut.


"Itu kan sudah kodrat sayang, wanita hamil itu ya seperti itu, tapi aku akan tetap sayang walau kamu berubah, karena kamu berubah gara-gara aku kan, gara-gara dede bayi makin tumbuh besar", senyum Putra, ia memegang perut istrinya.


"Itu sekarang, nanti pasti beda lagi, begitu melihat aku sudah berubah", Aini membelakangi Putra.


"Jangan begitu,sampai kapan pun, kamu akan selalu cantik dimataku", Putra mengusap kepala Aini.


"Sudah..., jangan cemberut, aku mandi dulu, masih bau, nanti kan mau nengokin dede bayi", senyum Putra, ia mengelus rambut Aini sambil berlalu menuju kamar mandi.


Aini menatap punggung suaminya, " Nengokin dede bayi?, maksudnya?", Aini mencerna ucapan suaminya.


Ia pegangi perutnya yang masih rata, ia ingin segera merasakan gerakannya, ia ingin segera merasakan kehadirannya di perutnya.


"Serasa mimpi, kamu akan segera hadir di dunia ini, kamu yang akan membuat dunia Ayah dan Bunda lebih berwarna", Aini bicara sendiri sambil mengelus perutnya.


'Di kantor Mas Putra kan stafnya cantik-cantik , apa iya Mas Putra tidak akan tergoda', Aini terus bicara dalam hatinya.


Hatinya diliputi rasa takut kalau suaminya mulai melirik wanita lain di saat dirinya hamil besar nanti. Saat hamil besar nanti, dirinya pasti tidak akan bisa melayani suaminya dengan baik.


Aini membayangkan tubuhnya menjadi gemuk, dengan perut buncit, bokong gemuk, pipi , dada pun sama akan membesar, "Ondel-ondel", gumam Aini.


"Mana ondel-ondel?", Putra menghampiri Aini dengan sudah berpakaian rapi, setelan koko.


"Hmm...mau kemana sudah rapi begitu?", Aini menatap suaminya.


"Tadinya mau berjamaah ke Masjid, tapi pingin di sini saja shalatnya, bertiga", senyum Putra.


"Ayo r ke kamar mandi?", Putra mengulurkan tangan bermaksud memapah Aini ke kamar mandi.


"Sudah, biar aku sendiri saja, Mas perlakukan aku biasa saja, kalau seperti ini malah manja, aku tidak apa-apa kok, hanya perlu lebih hati-hati saja, karena aku tidak sendiri", senyum Aini. Ia menolak uluran tangan suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah, hati-hati", Putra membiarkan istrinya ke kamar mandi. Ia memandang punggung Aini dengan penuh sayang, karena sebentar lagi keturunannya akan lahir ke dunia.


"Aww...", terdengar jeritan Aini. Putra setengah berlari menuju kamar mandi. "Aini ada apa?", Putra langsung mendorong pintu kamar mandi yang tidak dikunci. "Ada apa?", ia mematung melihat ke dalam.


"Itu...aku kaget karena botol sabun mau jatuh lagi setelah aku si.pan di sana", Aini menunjuk ke arah botol yang kini sudah tergeletak di dekat bathtub.


Putra mematung karena ia melihat pemandangan yang sangat indah, ia bisa melihat tubuh istrinya di dalam bathtub yang airnya masih jernih.


Keinginannya makin kuat, hingga ia dekati Aini, ia berbisik di telinga Aini. "Kamu makin menggoda saja kalau begini" , senyum Putra.


Aini sontak meriutkan tubuhnya, menutupi bagian-bagian penting dari tubuhnnya dengan tangannya.


"Terlambat, aku sudah melihat semuanya",


"Jangan di sini, kasihan dede bayinya kedinginan kalau lama-lama di dalam air, nanti saja ya", Aini mengusap pipi suaminya.


Dengan tangkas Putra menangkap tangan yang melintas di pipinya, dan mengecupnya. "Iya..., aku ngerti, cepetan mandinya, atau mau aku mandiin?", goda Putra.


"Ihh...jangan, nanti malah bangun lagi, sana tunggu saja di luar, aku mau cepetan kok", senyum Aini.


Aini lupa tidak membawa baju ganti, ia masih malu jika harus keluar kamar mandi hanya memakai handuk saja.


"Mas...", panggil Aini dengan menyembulkan kepalanya di balik daun pintu.


"Apa?", Putra menjawab dengan tanpa melirik istrinya.


"Mas... tolong ambilin baju ganti, aku lupa", ulangi Aini. Bukannya mengambil baju ganti, putra malah menuju kamar mandi dan membuka pintunya.


Aini kaget "Mana baju gantinya?", Aini menatap tangan kosong Putra.


"Kamu gemesin, aku sudah tidak tahan, sini!", Putra langsung menggendong Aini yang hanya memakai handuk dan menidurkannya di atas tempat tidur.


"Eh...eh...eh..., Mas mau ngapain?", Aini duduk di atas tempat tidur dengan tangan memegang ujung handuk di dadanya.


Putra menutupkan selimut ke tubuh Aini dan ia ikut berbaring disampingnya, sebelumnya ia lepas dulu baju koko yang sedang dipakainya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak tahan, ingin nengokin dede bayi dulu", kekeh Putra. Ia banyak bicara lagi ia mulai mencumbui Aini, dan kali ini ia lakukan dengan hati-hati, karena takut menyakiti Aini dan calon bayinya yang masih ada di perut Aini.


Putra mengecup pucuk kepala Aini begitu selesai, "Terima kasih, sakit nggak", bisiknya di kuping Aini.


Aini tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia tidur di lengan kanan Putra. "Jadi maksudnya ini, nengokin dede bayi itu", senyum Aini. Ia mengelus-elus dada suaminya.


"Iya, kan di sana sudah ada calon bayi kita", kekeh Putra.


"Ada-ada saja Mas ini", cicit Aini.


Namun tiba-tiba Aini merasa mual, ia menutup mulutnya. "Kenapa?" Putra terperanjat kaget.


"Kok , agak mual ya", Aini meringis.


"Apa ini gara-gara aku, dede bayi merasa terganggu oleh Papah?", Putra mengelus perut Aini.


"Maaf ya, tapi Papah kangen, ingin nengokin dede di sana, baik-baik sayang, jangan bikin Bunda sakit ya?", Putra bicara sambil terus mengelus perut Aini.


"Sudah Mas, kita mandi saja, sudah tidak mual lagi", senyum Aini. Ia merasa lucu dengan tingkah suaminya.


Tidak banyak bicara, Putra kembali menggendong Aini menuju kamar mandi, kini mereka berendam bersama di dalam bathtub.


"Aku ingin selalu seperti ini, bersama kamu dan anak-anak kita", Putra memeluk tubuh Aini.


"Iya, Mas juga harus selalu setia, bagaimana pun aku nanti, jangan pernah berpaling", tatap Aini. Ia membalas pelukan suaminya.


Terdengar perut Aini berbunyi, "lapar ya?", Putra melirik Aini.


" Iya, tadi kan belum makan,nungguin Mas pulang", tunduk Aini.


"Ya, ampun kenapa tidak bilang, besok-besok kalau mau makan jangan tunggu Mas pulang ya, makan saja duluan, ingat ada dede bayi yang juga ikut makan",


Putra segera membilas tubuh Aini dan tubuhnya, ia segera membawa Aini ke ruang walk in closet, di sana mereka memakai baju ganti


Setelah itu Putra segera membawa Aini ke meja makan. Di sana sudah ada Bu Hellen, Pak Arman dan Bu Hana. Mereka menatap kedatangannya dengan senyuman.

__ADS_1


"Kirain tidak akan turun, Mamih tadinya mau menyuruh Bi Surti untuk membawakan makanan ke atas", senyum Bu Hellen


__ADS_2