
Aditya sudah kembali pulih, ia sudah mulai beraktifitas kembali, namun kali ini ia mulai mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bapaknya, Pak Dirman.
"Kamu harus berubah Nak, ini semua, semua yang kamu alami adalah teguran, untung saja kamu masih di beri kesempatan hidup, ini agar kamu bisa memperbaikinya, bisa saja kamu tiada saat kejadian itu", tatap Pak Dirman.
"Lihat Bapak Nak, Bapak sudah tua, kamu harapan Bapak, Bapak akan kesepian sampai tutup usia, harapan untuk bisa menimang cucu, sepertinya sirna",
"Tapi tak apa, yang terpenting sekarang kamu bantu Bapak mengelola usaha Bapak, sudah saatnya kamu yang berperan", Pak Dirman menatap Aditya lekat.
Aditya tampak menunduk, ada raut penyesalan di wajahnya. Ia menyadari semua yang ia alami kini, adalah akibat sikapnya yang keras kepala, tidak mendengar nasehat Bapaknya.
"Iya Pak, Adit Menyesal, Adit akan menuruti Bapak, tapi untuk beberapa hari ke depan, Adit mau menyelesaikan urusan Adit dulu, baru setelah itu, Adit akan fokus membantu Bapak",
"Baik..., Bapak senang, kamu mau berubah, Bapak tidak akan melarang apa pun, asalkan itu hal yang baik untuk kamu. Kamu itu sudah dewasa, sudah bisa menilai sendiri, mana yang baik, mana yang tidak baik, untuk dirimu",
"Kamu boleh ajak Bondan dan Bimo, kalau mau, walau kamu sudah dewasa, Bapak tetap khawatir , karena kamu itu anak Bapak satu-satunya, kamu itu berharga buat Bapak",
"Tidak Pak, kali ini Adit tidak mau di temani mereka, ini masalah pribadi Pak", Adit kembali menunduk.
__ADS_1
Dalam angannya ia ingin mencari Risma, wanita yang sempat ia sentuh , Adit yakin saat ini Risma sedang mengandung anaknya.
'Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama , akan banyak orang yang akan menderita akibat ulahku, terutama Aini, aku salah memendam terus rasa sakit hatiku ini', batin Aditya bicara.
"Baik, kalau itu maumu, Bapak tidak bisa melarang, kapan rencananya ?", tanyai Pak Dirman.
"Besok lusa Pak, lebih cepat lebih baik",
"Kamu pake mobil Bapak dulu, mobil kamu kan masih di bengkel", usul Pak Dirman.
"Tidak Pak, Adit berangkat dengan sepeda motor saja, biar bisa sat sit set di jalanan padat", senyum Aditya.
Mirna sudah mulai kembali masuk kantor, lagi-lagi ia dibuat heran, pagi ini Apartement Risma benar-benar sepi, tidak terlihat ada aktifitas didalamnya.
'Kemana Risma' , Mirna bicara dalam hatinya.
"Pak, apa Apartement ini masih ada yang tinggal?", tanyai Mirna begitu berpapasan dengan petugas kebersihan.
__ADS_1
"Oh...,, setahu saya sudah pindah kemarin Neng, ini sudah kosong", jawabnya sambil terus berlalu mendorong roda tempat ia mengambil sampah dari tiap kamar.
Mirna mematung, ia benar-benar kaget, kok Risma pindah diam-diam, ia tidak bicara apa pun soal rencana kepinndahannya.
'Kok Risma begitu, padahal kemarin pulang pergi bareng', pikir mirna.
"Kemana Risma, apa mungkin sudah ada di Kantor, biar ditanyain di kantor saja",, gumam Mirna. Ia bergegas menuju luar dan menaiki taxi pesanannya yang sudah siap menunggunya.
Sepanjang jalan Mirna terus menerka-nerka alasan kepindahan Risma yang tiba-tiba.
"Sudah sampai Neng", beritahu Sopir begitu sudah ada di depan Kantor.
"Oh...iya, terima kasih", Mirna keluar dari taxi dan segera masuk ke dalam, hatinya begitu penasaran, apa Risma sudah ada di sana?.
Ternyata kursinya masih kosong, 'Mungkin Risma belum datang', pikir Mirna. Ia langsung saja menuju meja kerjanya.
Sampai siang, sampai semua staf sudah pada datang, Risma belum terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
"Sepertinya Risma tidak akan masuk kantor hari ini, sudah telat begini, kemana dia?, aku telepon saja", gumam Mirna. Ia merogoh tas selempangnya yang ada di atas meja, ia deal nomer Risma, namun ternyata tidak aktif, huh...., ada apa dengan Risma?, tidak biasanya seperti ini",
Tak lama Pak Hambali datang , ia langsung memasuki ruangannya. Dan tak selang beberapa detik, Putra pun datang. Ia berjalan menuju ruangannya sambil mengedarkan pandangan ke arah para stafnya.