
Suara ponsel Putra berbunyi saat keduanya masih tertidur. Aini yang lebih dulu menyadari suara itu, ia tidak berani membukanya, malah ia membangunkan suaminya.
Dengan perlahan ia elus dahi Putra beberapa kali, Putra masih belum membuka matanya, mungkin dia lelah. Aini kembali mengelus pipi suaminya, kini sambil mendekatkan ponselnya yang masih berdering.
Putra terbangun juga, ia hampir terperanjat karena kaget. "Maaf..., ini sepertinya Mamah ", Aini memberikan ponselnya kepada Putra.
Tanpa pikir panjang, Putra langsung menjawab panggilan mamahnya, padahal saat itu ia terduduk di atas tempat tidur, dengan bertelanjang dada.
Putra langsung saja menerima panggilan vidio call dari mamahnya.Jelas saja pemandangan itu yang dilihat mamahnya di layar ponsel miliknya. "[Iya, wa'alaikum salam, ada apa Mah?, ini masih terlalu pagi", Putra nampak menahan mulutnya saat ia menguap.
"Kamu kok tidak memakai baju, di sana kan udaranya dingin", Bu Hellen mentautkan kedua dahinya.
"Nggak Mah, semalam justru panas, apalagi Putra habis main",
"Main apa malam- malam?", senyum Bu Hellen.
"Semalam aku habis bertanding futsal Mah , kebetulan kemarin teman-teman di Kampus ada pertandingan di sini, jadi ya.., aku ikut main saja", senyum Putra.
"Kalian bisa pulang hari ini kan, ini Mamah dan Papah ada kerjaan mendadak ke luar kota, jadi kalian nginep di rumah saja",
"Oh..., kirain ada apa, boleh..., pagi ini kami langsung siap-siap pulang Mah", jawab Putra.
"Aini mana?", Bu Hellen menanyakan Aini.
"Aini ada itu masih tidur", Putra mengarahkan ponselnya kepada Aini biar Mamahnya bisa melihat Aini.
"Eeeehhh....jangan Mas, malu aku tidak pakai kerudung", tolak Aini, ia sembunyi di bawah selimut, namun tangannya masih bisa dadah-dadah ke arah mamah Mertuanya.
Bu Hellen tersenyum, ia mengerti pasti Aini merasa malu karena ia sedang tidak berkerudung . Bu Hellen merasa senang, 'Kalau begitu, semoga saja Aini cepat mengandung , biar aku segera menggendong cucu', pikirnya.
"Ya sudah, maaf ya..., Mamah telah mengganggu, nanti kalau di rumah Mamah dan Papah sudah tidak di rumah, berarti Mamah dan Papah sudah pergi, kalian tinggal saja di rumah",
"Iya Mah...",
"Baik-baik kalian ya, Assalamu'alaikum", Bu Hellen menutup panggilan vidionya.
"Wa'alaikum salam", jawab Putra, ia menaruh kembali ponselnya di sampingnya.
__ADS_1
Bukannya bangun dan segera membersihkan diri, Putra malah kembali mendekap Aini. "Sebentar lagi shubuh Mas..., bangun gih..., shalat", Aini mengacak rambut suaminya.
"Masih ngantuk..., masih ingin begini", Putra makin mengeratkan pelukan tangannya ke tubuh Aini.
"Apa semalam tidak cukup?", senyum Aini.
"Belum..., sepertinya nggak akan pernah cukup, siap-siap saja kalau aku sering minta ya", senyum Putra, ia mengecup pucuk kepala Aini.
Perlahan ia melerai pelukannya begitu terdengar adzan subuh berkumandang. Putra bangun dan langsung berjalan menuju kamar mandi.
"Aduh Mas..., biasakan memakai handuk kenapa sih, kayak balita saja", cicit Aini yang melihat suaminya setengah berlari menuju kamar mandi dengan telanjang, karena bajunya masih berserakan di lantai.
"Biarin..., cuma ada kamu ini", teriak Putra sambil menutup pintu kamar mandi.
"Aku ke Masjid dulu", Putra berbisik di telinga Aini yang kembali terlelap begitu Putra mandi. "Oh...iya...maaf, kok malah ketiduran lagi", cicit Aini.
"Nggak apa-apa, kamu kan masih cuti shalatnya", senyum Putra, ia mencubit hidung Aini.
"Tapi nanti begitu aku pulang dari Masjid, kamu harus sudah dandan cantik ya",
Setelah Putra pergi ke Masjid, Aini pun bergegas membersihkan diri, ia telah menyiapkan setelan gamis dan kerudungnya hingga saat ke luar kamar mandi, ia sudah terlihat rapi.
Aini membuka tas kecilnya, ia merias wajahnya tipis-tipis. Tempat tidur pun sudah ia rapikan, lalu Aini pun menyemprotkan wewangian.
Tidak lupa Aini menyiapkan dua gelas teh manis dan roti tawar untuk mereka sarapan. Putra yang membuka pintu sepulang dari Masjid, mendapatkan suasana yang berbeda .
Aroma wangi langsung menyeruak, Putra mengulum senyuman, ini pasti ulah istrinya. Ia berjalan mencari keberadaan Aini, dan ia melihat istrinya sedang duduk di sofa, memantengi televisi .
Putra melingkarkan tangannya ke leher Aini dari belakang sambil mengecup pucuk kepalanya. "Sudah siap?, kita pulang hari ini", setengah berbisik Putra bicara kepada Aini.
"Sudah", Aini mengecup tangan suaminya yang masih melingkar di lehernya."Kita sarapan dulu, masih ada roti tawar sisa semalam, aku sudah menyiapkannya", Aini melirik suaminya.
"Putra terpana melihat Aini, ia baru pertama melihaynya berias setelah menikah. Aini hanya memoles tipis bibirnya dengan lipstik, dan memakai cela mata saja, tapi sungguh, riasan sederhana itu menampilkan kecantikan alaminya menjadi lebih terpancar.
"Ada apa?", Aini membalas tatapan suaminya sambil tersenyum. "Masya Allah..., kamu terlihat cantik ", Putra menghampiri Aini. Kini mereka sudah berhadap-hadapan.
"Ternyata kamu bisa dandan juga", senyum Aini.
__ADS_1
"Ini kan demi menyenangkan suami tercinta, ", Aini membalas senyuman Putra.
"Melihat kamu begini, aku jadi mau lagi", kekeh Putra.
"Boleh..., sekarang ?", tantang Aini. Tapi lebih bail sarapan dulu saja, kita kan mau pulang ", Aini mengedipkan matanya.
"Aduh..., istri cantikku sudah pintar menggoda sekarang", kekeh Putra, ia menuntun Aini menuju meja kecil tempat mereka sarapan.
Benar saja, disana Aini sudah menyiapkan sarapan sederhana, roti tawar selai coklat dan teh manis hangat sudah tersedia di sana.
"Maaf..., cuma ada ini, ini pun sisa semalam", senyum Aini.
"Ini juga sudah cukup, terima kasih", senyum Putra.
"Aku mau kamu tetap begini di depan aku",
"Maksudnya?", Aini menatap Putra merasa tidak paham dengan ucapan Putra.
"Kamu hanya boleh bedandan seperti ini, buat aku saja", senyum Putra.
"Jadi ini harus dihapus lagi kalau mau keluar, gitu?", tatap Aini.
"Ya...nggak begitu juga, tapi aku takut ada orang yang tertarik lagi dengan kamu, jika kamu tampil cantik begini", senyum Putra.
"Nggak dandan saja aku sudah cantik kok", cicit Aini.
"Iya..., kamu memang wanita tercantik yang pernah aku temui", Putra tersenyum sambil mencubit pipi Aini.
"Sudah cantik, pintar memasak, pintar membuat suaminya senang, pokonya tidak ada duanya", senyum Putra.
"Aduh...sudah...sudah..., jangan bikin baper terus, kita pulang sekarang saja", Aini mengalihkan pembicaraan.
"Iya...tuan puteri, aku sungguh tidak bisa diam terpesona olehmu", kekeh Putra. Ia berdiri diikuti Aini, mereka mulai membereskan barang-barang miliknya. Semua sudah siap, tinggal cek out saja dan menunggu room boy yang akan membawa barang -barang mereka kembali .
Sedari keluar dari kamar sampai ke parkiran, Putra tidak melepas genggaman tangannya dari tangan Aini, ia tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikannya.
Seolah Putra ingin mempertegas kepada semua orang, kalau Aini adalah miliknya.
__ADS_1