Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Cinta yang Murni


__ADS_3

Putra dan Pak Mul hanya mengulum senyum melihat tingkah Risma. Sampai Pak Mul tidak menyadari saat mobil di depannya tiba-tiba berhenti.


Pak Mul pun cepat-cepat menginjak rem, hingga mobil terhenti mendadak.


"Astaghfirullah..., hati-hati Pak!", ingatkan Putra


"Dukkk..., aww....", Risma mengaduh karena kepalanya terantuk pintu mobil.


Risma menyadari dirinya tertidur, cepat-cepat ia betulkan posisi bajunya, ia juga mengambil tasnya, dan mengeluarkan beberapa make up andalannya, bedak, lipstik, dan parfum.


"Aduh Pak.., sakit nih, pelan-pelan dong ", teriak Risma, ia mengusap kepalanya yang terantuk pintu mobil.


Ia segera bersolek ,tidak peduli dengan Putra dan Pak Mul, yang lagi-lagi menahan tawa.


'Padahal, mau dandan secantik bidadari pun, Pak Mul dan putra sudah mengetahui sifat aslinya.


"Maaf Non, itu tadi di depan ada mobil berhenti mendadak, Bapak jadi kaget", Pak Mul melirik Risma yang cemberut.


Penampilannya kini kembali cantik setelah i memoles kembali wajahnya dengan make up andalannya.


"Pak, bisa menepi dulu , cari pom bensin terdekat, saya pengen ke kamar kecil", pinta Risma.


"Baik Non!", Pak Mul memperlambat laju mobilnya, pandangan lurus ke depan , sambil mengendara, ia juga mencari Masjid atau pom bensin terdekat.


"Di depan Pak, putra menunjuk sisi kiri jalan, setelah beberapa meter, pom bensin nampak di depan, dan Pak Mul pun segera menuju ke sana.


Risma cepat-cepat keluar dari mobil dan menuju kamar kecil. Pak Mul dan Putra pun menyusul, mereka hendak menunaikan shalat dzuhur dulu.


Risma celingukan saat tidak mendapati Pak Mul dan Putra di dalam mobil. Ia hanya ke kamar mandi saja, tidak shalat.


"Pada kemana mereka?, lama banget, kaya perempuan saja", gerutu Risma.


Ia sampai ke luar lagi dari mobil, dan membeli sebotol minuman dingin, cuaca hari ini terasa panas.


"Ya ....ampun, pada kemana mereka?", Risma mulai gelisah dan marah.


Dari kejauhan nampak Putra dan Pak Mul keluar dari Mushola yang ada disamping toilet umum. "Oh..., pantesan lama, mereka habis shalat", gumam Risma.

__ADS_1


Ia segera menuju mobil dan kembali duduk di dalam mobil. "Kamu sudah di sini lagi?", tegur Putra.


"Iya Pak, saya tadi haus, jadi beli ini", Risma menunjukan botol minuman yang ia beli .


"Oohh..., Putra kembali masuk ke mobil diikuti Pak Mul. Mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Semoga bisa sampai pas maghrib Pak, saya sudah kangen sama Aini", senyum Putra.


Risma melengos mendengar ucapan Putra tadi, hatinya kembali panas . 'Lagi-lagi Aini, memangnya tidak ada lagi yang ada dikepalamu, selain Aini?', Risma mendumel di dalam hatinya.


'Ini cowo susah banget digodanya, apa istimewanya Aini?', Risma mencibir. Ia menyedot habis minuman di dalam botol yang tadi dibelinya.


"Brukkk...,refleks ia lempar dengan kesal botol minuman itu di dalam mobil


"Ada apa Ris?", Putra menengok ke belakang, hanya Pak Mul saja yang tetap fokus mengemudi, ia takut seperti tadi, hampir menyenggol bamper mobil di depannya.


"Nggak Pak, ini botol jatuh", alasan Risma. Ia mengambil botol kosong di bawah kakinya, dan membuangnya ke dalam tempat sampah yang tersedia di mobil.


'Bodoh!, aku yang lempar, aku sendiri yang memungutnya', rutuki Risma dalam hatinya.


Sepertinya hari ini merupakan hari yang buruk baginya. Ia harus menanggung malu sendiri, apalagi jika mengingat peristiwa semalam.


Putra sesekali mencuri pandang ke Risma, ia melihat ada yang berbeda dengan sikap Risma , ia terlihat sangat kacau. Emosinya meledak-meledak. 'Kenapa dia?', bicara Putra dalam hatinya.


Mobil yang dikendarai Pak Mul sudah keluar dari perbatasan Bogor. Sebentar lagi mereka akan sampai ke kantor Putra.


"Pak, di depan ada salon spa, saya turun di sana saja, mau perawatan dulu, ini badan rasanya sudah tidak karuan", pinta Risma.


Pak Mul menurut, ia menepikan mobilnya ke sebuah salon perawatan. Yang ini Non?", Pak Mul melirik Risma .


"Iya, di sini Pak, Risma pun turun, ia pamit kepada Putra dan Pak Mul , lalu masuk ke dalam . Di sana Risma memilih beberapa perawatan yang diinginkannya.


Yang pertama ia pilih adalah ratus. Ratus ini merupakan perawatan khusus untuk bagian intim wanita, Risma sadar, semalam bagian itu sudah diobrak abrik orang asing.


Perawatan wajah, lulur, dan spa yang ia pilih. Entah berapa rupiah yang ia keluarkan untuk itu semua. Namun Risma tampak puas dengan hasil yang didapat dari semua perawatan itu.


Ia keluar dari salon dengan penampilan yang sempurna. Ia sudah di tunggu taxi online yang tadi dipesannya.

__ADS_1


Taxi itu meluncur membawa Risma menuju rumahnya. Ini merupakan perjalanan terburuk bagi Risma.


"Langsung ke rumah ssja Pak", pinta Putra, ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu Aini.


Mobil Pak Mul sampai juga di pintu luar rumah Putra. Tanpa di klakson pun Mang Karman dengan cepat membuka pintu gerbang, ia tersenyum saat berpapasan dengan mobil yang membawa Putra.


"Alhamdulillah ...Aden sudah pulang", Bi Surti yang sedang menyapu halaman, menghampiri Putra yang baru keluar dari dalam mobil.


"Alhamdulillah Bi, bagaimana di rumah, baik-baik semua?", Putra tersenyum melihat Bi Surti .


"Alhamdulillah Den, baik", senyum Bi Surti


Putra segera memasuki rumah, ia sudah tidak sabar ingin bertemu Aini dan calon bayinya.


"Assalamu'alaikum...", Putra mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam..., Alhamdulillah..., anak Mamih sudah pulang", Bu Hellen memburu Putra, ia memeluknya, walau sudah mau punya anak, tetapi tidak menyurutkan rasa sayangnya kepada anak tunggalnya itu.


"Alhandulillag, Mih , semuanya lancar", senyum Putra.


Ia menyalami Ayah dan Ibu mertuanya juga. Hanya Aini yang tidak ada di sana.


"Aini di kamar, mungkin sedang tidur, tadi Ibu yang menyuruhnya istirahat", senyum Bu Hellen. Ia seolah mengerti dengan keinginan anaknya.


"Kalau begitu Putra ke atas dulu, itu ada okeh-oleh di sa na, buka saja", senyum Putra. Ia segera berlalu untuk menemui Aini di kamarnya.


Putra mempercepat langkah kakinya, agar segera bisa melihat istri selama ini ia rindukan.


Benar saja, Aini terlihat sedang berada di atas tempat tidur membelakanginya sambil memeluk guling.


Perlahan Putra hampiri dan duduk disampingnya, ia menengoknya perlahan, ternyata Aini memang sedang tidur.


Putra urungkan niatnya untuk memeluk Aini, ia takut membangunkan tidur istrinya.


Putra ikut berbaring di samping Aini dan mulai memejamkan matanya, hingga terlelap. Dengan sekejap deru napasnya terdengar.


Aini merasakan kehadiran seseorang dibekakangnya, perkahan ia menengok dan langsung tersenyum saat didapatinya Putra sudah terlelap.

__ADS_1


Perlahan Aini raih tangannya dan ia kecup punggung tangan suaminya itu, "Mas...sudah pulang", gumam Aini, ia pun tidak berani membangunkan suaminya, Aini terus memandangi wajah lelah suaminya itu dengan tersenyum.


"Semoga lelahmu menjadi berkah", senyum Aini.


__ADS_2