Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Ijab Qabul Aini


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba, hari ini hari yang telah dinanti-nanti, hari ijab qabul nya Putra dan Aini.


Semua persiapan penyambutan rombongan calon pengantin pria pun sudah siap. Rumah Kakek Ilham di hias , halamannya pun sudah di sulap menjadi pelaminan yang indah, dengan semerbak wangi bunga melati dan bunga mawar.


Rumah Kakek Ilham sudah bak istana, buat Putra dan Aini. Begitu pun Aini , sedari ba'da shubuh, ia sudah dirias dengan riasan pengantin muslimah, cantik sekali, manglingi.


Semua keluarga sudah berkumpul, hidangan pun sudah siap tertata di atas meja saji, mengeluarkan harum yang bisa membuat perut menjerit.


Semua sudah siap, tinggal menunggu rombongan pengantin pria datang.


"Masya Allah Neng, kamu cantik sekali, Ibu sampai pangling melihatnya", Bu Hana mendekati Aini yang sedang duduk di depan meja rias.


"Ah...Ibu, Aini malu dandan seperti ini", tunduk Aini.


"Iihhh, kok malu , ini sudah tradisi, calaon pengantin ya harus dandan cantik, ini sekali seumur hidup lho...", Bu Hana memegang pundak Aini.


"Ini gerbang pertama menuju kehidupan rumah tangga, bukan hanya kali ini, tapi Neng harus selalu terlihat cantik di depan suami, membahagiakan suami itu besar pahalanya", senyum Bu Hana.


"Berhias itu tidak dilarang, asal untuk suami, bukan untuk di puji orang , atau menggoda orang", Bu Hana mengelus pundak Aini.


"Nanti, perintah suamimu yang utama , turuti selama itu baik, menurut agama, hormati juga Ibu Mertuamu, anggap dia seperti ibumu sendiri"..


"Nanti Aini bakalan kangen sama Ibu , Bapak , Nenek dan Kakek", cemberut Aini.


"Kalau kangen kan masih bisa berkunjung, tengok Ibu kalau suamimu ada waktu", senyum Bu Hana. Ia memalingkan mukanya karena ada butiran bening yang mendesak keluar dari kedua kelopak matanya.


Tidak dapat dipungkiri jika hatinya sedih, harus berpisah dengan putri satu-satunya. Pasti nanti dirinya akan kesepian, jika Aini sudah tinggal di rumah Putra.


"Ibu kenapa?", Aini memegang tangan ibunya yang masih menempel di pundaknya.


"Nggak Neng, Ibu tidak apa-apa", alasan Bu Hana. Ia berusaha menyunggingkan senyuman.


"Kalau Ibu keberatan, Aini bisa tetap tinggal di sini, Kak Putra juga pasti mengijinkan",


"Oh...jangan, nanti Neng sudah menjadi haknya Nak Putra, Ibu tidak bisa melarang, Nak Putra mau membawamu kemana saja juga", senyum Bu Hana.


"Neng, kamu bahagia dengan pernikahan ini?"

__ADS_1


Aini mengangguk. "Kalau Neng bahagia, Ibu akan rela melepaskanmu dengan Nak Putra . Dia laki-laki baik , semua kebutuhanmu akan tercukupi oleh dia" ,


Di luar terdengar suara MC memberi tahu kalau rombongan pengantin pria sudah datang.


"Alhamdulillah, tuh Nak Putra sudah datang , Ibu ke luar dulu", Bu Hana bergegas ke luar meninggalkan Aini yang masih duduk di depan meja rias memandangi dirinya.


"Ya Allah, serasa mimpi, ini aku?", Aini tersenyum memandangi dirinya yang terlihat sangat berbeda.


Alunan musik sunda bergema di luar, seperti permintaan Bu Hellen, rombongan pengantin pria disambut dengan kesenian lengser


Terdengar gelak tawa saat pemeran Aki lengser dan Ambu sedang menampilkan lawakannya.


"Hati Aini bergetar syahdu terbawa irama musik gambelan. Kerinduannya kepada Putra tiba-tiba menerpa, ya..., hampir dua pekan mereka tidak saling jumpa, komunikasi lewat ponsel pun tidak mereka benar-benar dipingit.


Suara gambelan dari kesenian lengser sudah berakhir, kini waktunnya acara seren sumeren( serah terima dari keluarga masing-masing calon pengantin.


Dan saat yang dinanti pun tiba, acars ijab qabul. Aini masih berada di kamarnya, ijab qabul hanya diwakilkan kepada Bapaknya.


Ada getaran dalam hati Aini begitu mendengar suara Putra yang lancar membacakan ijab qabulnya.


"Sah", terdengar suara hamdalah dari luar, ihab qabulnya sah, sekarang Aini dan Putra sudah sah menjadi sepasang suami istri.


Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, saat dirinya dipanggil untuk bertemu suaminya.


Aini masih duduk di depan cermin saat Ibu dan bibinya menghampiri. "Ayo, sudah saatnya kamu bertemu dengan suamimu", senyum Bu Hana.


Aini menunduk, ia perlahan bangkit dan berjalan menuju pelaminan.


Semua mata tertuju kepadanya begitu ia keluar dari biliknya.


Aini berjalan menunduk, ia malu jadi pusat perhatian.


"Stop!", MC bicara. Aini yang diapit Ibu dan bibinya pun berhenti, hanya beberapa langkah lagi jaraknya dengan Putra.


"Nah sekarang coba lihat, Putra, apa benar itu orangnya, orang yang baru saja nikahi, apa benar dia istrimu?", tanya MC sembari tersenyum ke arah Putra.


Putra menatap Aini yang sedang menunduk. "Sekarang coba Neng, lihat apa benar ini suamimu?", Goda Mc lagi.

__ADS_1


Aini menatap ke depan, pandangannya kini tertuju ke Putra, pandangan mereka terkunci, ada getaran yang mendera hati Putra, Aini benar-benar terlihat berbeda, lebih cantik.


Aini pun demikian, tatapan penuh kerinduan kepada Putra, dan ia pun tersenyum.


"Iya benar, dia orangnya , dia istriku", ucap Putra dengan tersenyum dan tetap menatap Aini.


"Yakin...?, apa yang membuatmu yakin kalau dia itu Aini", kembali MC bertanya.


"Ada lesung pipitnya kalau tersenyum, hanya Aini yang punya", senyum Putra.


"Oke..., coba sini kita buktkan, apa benar dia itu Aini, istrinya?", MC mendekati Aini dan menyuruhnya mendekat ke Putra.


Kini Aini dan Putra saling berhadapan. Putra tak berkedip sedikit pun, pandangannya seolah menghipnotis Aini.


Aini sudah tidak berani lagi menatapnya. Ia menunduk.


"Kalau sudah yakin itu Aini, coba sekarang pasangkan cincin nikahnya", suara MC terdengar kembali.


Ia memberikan kotak cincin kepada Putra. Putra mengambil satu dan memasangkannya kepada Aini, ini adalah kali pertama ia menyentuh Aini secara langsung, Putra memasangkan cincin di jari manis Aini, dan begitu pun sebaliknya, Aini memasangkan cincin di jari Putra.


Mereka saling memandang dengan perasaan bahagia, tangannya saling bertaut.


Di sana Putra memberikan mas kawin yang fantastis, Putra memberikan mas kawin satu set perhiasan 100 gram dan uang tunai 250 juta, sungguh jumlah yang di luar dugaan.


Padahal Aini hanya memilih perhiasan yang sederhana saja waktu ia di ajak belanja .


"Kamu cantik sekali, istriku", Bisik Putra sambil menuntun Aini duduk di pelaminan. Tangannya tak lepas menggenggam tangan Aini.


Mereka bertemu dengan semua teman dan saudara yang hadir, termasuk di sana ada Mirna. Ia hadir bersama keluarganya.


Mirna berusaha bersikap biasa, kini ia harus benar-benar bisa move on dari Putra. Apalagi ia berencana untuk melanjutkan kuliah di Austalia.


Dia ingin fokus kuliah dulu sambil menata kembali hatinya, siapa tahu di sana ia bisa melupakan Putra, dan dipertemukan dengan jodohnya.


Ada sepasang mata yang terus menatap pasangan pengantin itu, dia Aditya. Dia memandang dengan penuh kebencian.


Namun Aditya berusaha bersikap biasa, ia pun datang untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


Aini terkesiap begitu melihat Aditya sudah ada di sampingnya , ia sedang menyalami Bu Hellen, nampak ia berbisik kepadanya.


"Selamat ya Tante menantumu memang luar biasa, bikin nagih", bisik Aditya. Bu Hellen mentautkan keningnya, dan berusaha untuk tetap tersenyum saat menyalami tamu undangan yang lainnya.


__ADS_2