Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Walau Berat, Namun harus Kuat


__ADS_3

"Sebentar Pih, aku ingin kita membuat kesepakatan sebelum dia tinggal di sini", ucap Putra.


"Kita buat kesepakatan biar ada jaminan buat kita psemua", Putra kembali menatap Pak Handoko.


"Maksudnya bagaimana, Papih tidak mengerti, coba kamu jelaskan", pinta Pak Handoko.


"Jadi begini Pih, kita buat semacam perjanjian, pertama, masalah ini hanya kita saja yang tahu, kalau sampai ada pihak lain yang tahu, aku tidak akan langsung membawa masalah ke ranah hukum, biar para ahli yang mengungkap kebenarannya, dan kalau terbukti itu bukan anak aku, kamu akan jadi tersangka utama Risma, yang telah mencoba merusak nama baik aku dan keluargaku, bagaimana Risma, kamu setuju?", tatap Putra.


Risma diam sejenak, ia sedang mencerna ucapan Putra.


"Aku bukan bermaksud egois Pih, tapi ini untuk kebaikan kita semua, terutama Aini, karena aku berani bersumpah, itu bukan anak aku", Putra kembali melirik Risma yang masih diam.


"Ke dua, selama dalam masa menunggu, diantara aku dan Risma tidak ada ikatan apa pun, karena tidak akan ada pernikahan selama bayi itu masih belum lahir, siapa pun ayahnya dari bayi itu", lanjut Putra.


"Ketiga, aku hanya akan menjamin biaya hidup kamu sampai melahirkan, dan setelah bayi itu lahir dan sudah keluar hasil tes DNA nya, dan terbukti bukan aku ayah biologis dari bayi itu, kamu harus segera meninggalkan rumah ini",


"Tunggu....", sambar Risma.


"Tapi kalau terbukti bayi ini anak Bapak, aku ingin Bapak menikahi aku secara sah, bukan secara siri, dan Bu Aini harus menerima saya sebagai madunya", ucap Risma, ia balik menatap Putra.


"Iya..., oke..., aku bukan laki-laki pengecut",


Tampak Risma tersenyum mendengar ucapan dari Putra tersebut.


"Itu saja kesepakatan yang ingin aku buat", nanti biar jelan point-pointnya akan aku buatkan, biar ada hitam di atas putih", lanjut Putra.


"Baik..., Papih juga setuju, mulai sekarang, kamu harus segera mencari pengganti Risma", Bu Arimbi melirik Putra.


"Aku sudah ada Pih, biar Adis saja yang menggantikan posisi Risma, dan Mirna yang mengganti posisi Adis", jelas Putra.


"Baik..., Papih tidak mau masalah ini mengganggu urusan di Kantor, apalagi saat ini kamu baru menangani proyek-proyek penting",

__ADS_1


"Sudah, sekarang kamu bisa minta antar sama Pak Sopir, bawa barang-barangmu ke sini, dan mulailah tinggal di rumah sebelah, nanti ada Bi Surti yang akan membantumu beres-beres di sana", perintah Bu Hellen.


"Baik Bu, terima kasih, saya berangkat sekarang", pamit Risma, ia berdiri dan diikuti Bu Hellen. Di luar terdengar Bu Hellen memerintahkan Pak sopir untuk mengantar Risma menuju Apartementnya.


Setelah Risma pergi, Bu Hellen kembali ke dalam rumah, ia duduk di samping Aini.


"Aini..., kamu jangan khawatir, ini untuk sementara, Risma tidak akan menggantikan posisimu, kamu fokus saja pada kehamilanmu", Bu Hellen memegang pundak Aini.


"Iya Mah, Aini paham kok", senyum Aini. Lagi-lagi ia berusaha bersikap wajar, walau dalam hatinya ada rasa khawatir, dan ketakutan .


"Sudah...sana ..., ajak Aini istirahat, dia pasti lelah", perintah Bu Hellen , ia melirik Putra yang sedang membalas chat dari ponselnya.


"Iya Mah", Putra bangkit mengikuti Aini yang sudah lebih dahulu berdiri.


"Kami istirahat dulu", pamit Aini.


"Iya sayang, kamu jangan banyak pikiran , anggap saja tidak ada apa-apa, Risma hanyalah mimpi buruk, yang akan segera hilang begitu kamu bangun", senyum Bu Hellen.


"Kasihan Aini, di usia kehamilannya yang sudah mulai membesar, harus menghadapi masalah seperti ini, kalau tahu akan seperti ini, Papih tidak akan mengambil proyek yang di Bogor", terawang Pak Handoko.


"Iihh..., ini bukan keinginan kita, ini sudah jalan-Nya , mungkin ini cobaan bagi keluarga kita, kita jalani saja, pasti akan ada hikmahnya", Bu Hellen menarik nafas panjang. Ia juga bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Aini.


Mirna yang baru kembali ke Apartement nya, merasa aneh, kok sepertinya Apartement Risma sepi, tidak ada suara musik seperti biasanya saat Risma ada di dalam.


"Mungkin dia lagi tidur, atau lagi pergi ke luar", gumam Mirna. Ia yang berniat berkunjung pun kembali ke kamarnya.


"Besok juga bertemu di Kantor", kembali Mirna bicara sendiri.


Padahal, Risma sudah pindah ke rumah miliknya Pak Handoko, rumah itu biasanya disiapkan untuk para rekan bisnisnya yang datang dari luar kota.


Risma seperti mendapat angin, ia bisa bernafas lega, kini dirinya tak harus cape-cape bekerja, cukup duduk manis di rumah saja, uang bulanan sudah pasti ada, apa pun yang ia mau tinggal minta saja kepada Bi Mimi, nanti langsung disiapkan.

__ADS_1


Namun Risma sedang berfikir keras, ia ingin menjadi Nyonya muda, ia ingin menggantikan posisi Aini.


"Bagaimana kalau hasil tes DNA nya tidak cocok? , aku pasti yang harus angkat kaki dari sini",


"Tidak, aku tidak mau, aku harus cari cara biar Putra menjadi suamiku satu satunya",


Risma mulai berfikir licik.


Di dapur, Aini tampak sedang mencuci buah-buahan yang baru ia ambil dari kulkas, biasanya hal itu dikerjakan oleh Bi Mimi.


"Lho...kok..., mana Bi Mimi, malah dikerjakan sendiri?", Bu Hellen menghampiri menantunya dan ikut membantunya.


"Barusan Bibi dipanggil ke rumah sebelah , jadi Aini yang melanjutkan pekerjaannya, kasihan Bibi Mih, jadi bertambah beban pekerjaannya", jelaskan Aini.


"Oh...., sudah berani menyuruh-nyuruh Bibi juga ya, enak sekali dia, belum apa-apa, sudah banyak tingkah, padahal cuma seorang diri, bisa mungkin dikerjakan sendiri, tidak usah memanggil Bibi segala", gerutu Bu Hellen.


"Biarin saja Mih, kan dia juga lagi mengandung, lagi males ngapa-ngapain usia kandungan semuda itu", bela Aini.


"Aaaahh kamu, sudah begitu juga , masih saja di bela, beruntung kita tampung di sini juga, segala gratis",


"Iya Mih, kalau tidak kita tampung di sini, dia bisa ember mulutnya, ngoceh sana ngoceh sini, bahaya buat kita Mih", jelas Aini.


"Iya juga ya ..., jadi serba salah juga", Bu Hellen membawakan buah-buahan yang sudah di cuci ke atas meja makan.


Di sana Bu Hellen duduk bersama Aini sambil mengupaskan buah mangga untuk Aini.


"Kamu cuekkin saja dia ya, dia itu bukan apa-apa",


"Tenang saja Mih, Aini kan sudah bilang, Aini tidak apa-apa, kita punya jalan masing-masing, tidak usah saling bersinggungan", senyum Aini, ia mulai mengambil piring yang sudah berisi potongan dadu buah mangga, dan mulai menyantapnya.


"Eemmhh...., manis Mih, semoga jalan hidup Aini juga semanis buah mangga ini, walau awalnya asam", kekeh Aini.

__ADS_1


Bu Hellen ikut tertawa mendengar celotehan menantunya itu, Aini memang pintar membuat suasana kembali ceria


__ADS_2