Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Aini calon istriku


__ADS_3

"Kalian lihat kan?, kok dia lebih memilih si kelelawar?", sewot Mirna saat ia memasuki mobil yang menjemputnya.


"Bisa saja Aini itu saudaranya Putra kali, jadi mereka pulang bareng",


"Saudara dari mana Sin?, dari Hongkong, dari dulu yang Gue tahu ,Aini itu orang kampung, dari mana punya saudara orang kaya seperti Putra?", sangkal Aliya.


"Mungkin juga kebetulan saja mereka satu arah, jadi Putra mengajak Aini pulang bareng", Sinta membela diri.


"Sudah...sudah...sudah....!, malah bikin pusing kepala saja, mending kita jajan mie ramen aja yuk, biar seger nih otak", ajak Mirna.


"Asik....., traktiran nih", sumringah Sinta.


"Ih dasar kamu Sin , kalau soal makanan, langsung semangat", cibir Aliya


"Ih, ya iya lah, gratis pula, kapan lagi bisa seperti ini", senyum Sinta, "mumpung si cantik ini lagi berbaik hati", lirik Sinta kepada Mirna.


"Yey, Gue mah emang udah cantik dari lahir tahu", cibir Mirna.


"Pak, nanti mampir dulu di kedai ramen yang ada di depan ya!", perintah Mirna kepada Pak Idam, sopirnya.


"Baik Non", rengkuh Pak Idam.


Mobil yang ditumpangi Mirna melaju perlahan saat akan memasuki pelataran parkir sebuah kedai mie ramen.


Karena sudah jamnya makan siang, kedai itu ramai sekali, mobil diparkiran pun penuh. Untung saja ada salah satu mobil yang mau keluar dari sana.


"Mir...Mir...Mir..., itu ...itu..., bukannya mobilnya Putra?", cerocos Sinta saat sebuah mobil lewat dekat mobil yang mereka tumpangi.


"Mana?", Mirna mengedarkan pandangannya ke luar. Benar saja, ia melihatnya sendiri Putra ada di mobil itu, ia sedang tertawa saat melewatinya, sepertinya Putra dan Aini yang duduk disampingnya sedang berbincang.


"Iiih...., ngapain mereka kesini?, kok sepertinya sengaja bikin kesal terus, kok ketemu...terus", Mirna cemberut.


"Sudahlah kita makan dulu, manjakan dulu tuh perut biar makin kuat menerima kenyataan pahit", kekek Aliya.


"Ih...kamu, bisanya ngeledek terus", Mirna menjotos tangan Aliya yang masih terkekeh.


Tak lama mobil berhenti, mereka keluar dari mobil dan segera memilih tempat duduk, dan segera memesan beberapa menu makanan.


Ternyata di sana juga ada Dani, Iman dan Soleh yang sedang ngumpul sembari makan. Rupanya tadi Putra menemui mereka dulu sebelum mengantar Aini pulang.


Sinta yang lebih dulu melihat mereka. Sebelum duduk, ia tersenyum saat Dani pun tersenyum melihat kedatangan mereka.


"Gila, ada yang cakep juga ternyata", senyum Sinta saat duduk di kursinya.


"Lihat apa kamu Sin?", senang banget kayaknya", tegur Aliya yang memperhatikan Sinta.


"Itu lihat di belakang loe, ada cowo-cowo keren di sana",


Sontak Aliya dan Mirna menengok ke arah yang disebutkan Sinta.

__ADS_1


"Oh..iya..., ternyata ada lagi selain Putra, cowo keren di sini ", senyum Aliya.


"Iihh..., kalian tuh nora, malu tahu, mereka jadi memperhatikan kita", tegur Sinta, saat melihat tiga cowo di depannya melihat ke arah mereka.


"Sudah ah, makan dulu nih", Mirna melambaikan tangan memanggil pelayan, mereka memesan makanannya, dan tak lama menunggu, pesanannya pun datang.


"Nah, di sini tuh gini enaknya, pesanan cepat datang", senyum Sinta. Mereka pun segera menikmati makanannya, sambil sesekali melirik tiga cowo yang ada didepannya.


Tak lama datang seorang cowo menghampiri meja tiga cowo tadi. Dengan mulut penuh makanan, Sinta menunjuk kearahnya.


"Mir...., lihat tuh!", telunjuk Sinta menunjuk ke depan.


"Apa lagi sih, kaya lihat setan aja", kesal Mirna.


"Itu Putra ada disana", cerocos Sinta.


Mirna dan Aliya kembali melirik ke belakang, benar saja, kini sudah ada empat cowo disana, salah satunya Putra .


"Oh, mungkin itu teman-temannya, boleh juga nih, nggak dapat Putra, temannya pun boleh, keren-keren juga mereka", Sinta terus saja memperhatikan mereka.


"Berani nggak, kamu ke sana, kita kenalan!", ajak Aliya. Sinta dan Mirna saling pandang.


"Gimana?, berani nggak?", tantang Aliya.


"Ayo, siapa takut!", Mirna lebih dulu berdiri dan berjalan menuju meja Putra.


"Halo, Kak Putra, kebetulan bertemu di sini, ini pasti teman-temannya, boleh sekalian kenalan?", Mirna tersenyum mendekati mereka.


"Nggak, itu sama teman-teman", Mirna melirik ke arah Sinta dan Aliya yang menghampirinya.


"Oh, sebentar", Putra agak memiringkan kepalanya. "Yang ini pasti Sinta dan ini Eh...Aliya yah", tebaknya. Ia menunjuk ke arah yang salah, ia menunjuk Sinta saat menyebut Aliya, dan sebaliknya.


Sinta dan Aliya cemberut. "Kenapa ,salah ya?", kekeh Putra.


"Aduh...., baru tadi pagi kenalan, sudah lupa lagi", Sinta menepuk jidatnya.


"Aku yang Sinta, dan ini Aliya, Kak",


"Oh...salah ya?, maaf", kembali Putra terkekeh.


"Iya, gimana sih, belum satu hari saja sudah lupa, jangan-jangan, nama aku juga ikut lupa lagi", lirik Mirna.


Putra memandangi Mirna yang membuat Mirna baper, padahal Putra hanya sedang mengingat-ingat namanya.


"Nah, itu dia, dari tadi lagi mikir, siapa ya?",


"Tuh...kan lupa juga, masa sama aku juga lupa, ck...ck...ck", Mirna menggelengkan kepala.


"Biar tidak lupa, kenalan lagi aja, sekalian saya Dani", celetuk Dani. Ia langsung mengajak salaman dengan ketiga anak SMA dihadapannya. Dilanjutkan oleh Sholeh dan Iman.

__ADS_1


"Oh...iya, Mirna, baru ingat sekarang", celetuk Putra.


"Ah...loe Put, mentang-mentang lagi bucin, pasti ingatan loe sama si dia terus", celoteh Iman. Ia mengerling kepada Putra.


Putra hanya masam mesem aja, memang benar, hati dan pikirannya hanya tertuju pada Aini.


Mendengar celotehan iman, Mirna merasa gerah. 'Jadi benar, Putra sudah mempunyai pacar, siapa?', batin Mirna bicara.


"Ah...Loe ngeledek ", timpa Putra.


"Ayo duduk attu, sekalian mau gabung?", ajak Dani, yang sedari tadi mencuri pandang kepada Aliya.


"Gimana Mir?", Sinta meminta pendapat Mirna.


"Emh.., kita disana aja, takut mengganggu, sepertinya lagi ada obrolan serius, kita pasti ribut", senyum Mirna.


"Ya, sudah, kita kembali ke meja sana, kalau ketemu di luar, jangan cuekin kita ya?", pinta Mirna, ia segera meninggalkan meja Putra dan kembali ke meja mereka.


"Iya, semoga kita bisa bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik", celetuk Dani. Ia melayangkan senyuman kepada Aliya.


Setelah itu mereka menikmati pesanan masing-masing.


"Kenapa, kamu tertarik ya sama eh..Aliya?" , tebak Putra, karena dari tadi Dani terus memperhatikan Aliya.


"Emh..., sepertinya begitu, dia itu unik", senyum Dani,


"Lah, unik apa cantik?", kekeh Iman.


"Ya..., gitulah", kalau sudah ada cinta, apa pun akan terlihat indah, bukan begitu Put?", Sholeh melirik Putra.


"Yooii", senyum Putra, ia tampak fokus dengan ponselnya.


"Kalau dia mah anteng saja , kan sudah mengantongi restu, tinggal menghitung waktu saja", celetuk Iman.


"Apa tidak sebaiknya selesaikan dulu kuliah, baru married", lirik Dani kepada Putra.


"Menikah, bukan berarti cita-cita berhenti kan, aku bahkan akan ambil S2, dan Aini juga kalau mau, dia bisa melanjutkan kuliah", senyum Putra.


"Aini oh Aini, rupanya dirimu telah membuat temanku ini tua sebelum waktunya", tawa Sholeh.


Candaan Sholeh bisa terdengar oleh Mirna , Aliya, dan Sinta yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari meja mereka.


"Aini?, mereka sedang membicarakan Aini, apa Aini si kelelawar ?", Sinta setengah berbisik bicara.


"Bukan ah, masa Aini si kelelawar, baru ketemu tadi kan sama Kak Putra juga", sanggah Mirna.


"Terus , mereka sedang membicarakan Aini yang mana?", Aliya bengong.


"Aini tuh bukan satu di dunia ini, masih banyak Aini-Aini lain, norak ih", Mirna melotot.

__ADS_1


Hatinya kembali resah, karena ia yakin Putra sudah ada yang memiliki.


__ADS_2