
"Sepertinya anak-anak Kakek lebih membutuhkan uang itu", seringai Dirman, ia merasa di atas angin.
'Orang kampung, disodori uang sekoper langsung kalap', batin Dirman berkata.
"Sudah ya, Kek, sepertinya sudah tidak ada pilihan lain, uang sudah ditangan", Bondan ikut bicara.
"Sebentar, Kakek tetap tidak akan menjual tanah itu, bawa kembali uangnya!", perintah Kek Ilham.
Tapi ada tiga anak Kek Ilham yang menolak, mereka sudah memegang uang ditangannya.
"Selesaikan saja dulu, lihat anak-anak Kakek, mereka lebih membutuhkan uangnya", Dirman menunjuk ke arah Anas, Azka, dan Amina, yang sibuk menghitung uang di koper.
"Saya permisi dulu, selamat bersenang-senang Kek, selamat menikmati hari tua", ucap Dirman.
Mereka keluar dari rumah Kek Ilham. Bertepatan dengan itu, Bimo, Yoseph, dan Wira sudah bersiap di atas kendaraannya masing-masing.
Bimo mengendarai Bulldozer, Wira mengendarai exsapator, dan Yoseph sudah siap di atas motor grider.
Mereka mengarahkan semua kendaraannya ke tanah milik Kakek Ilham. Seketika terdengar kegaduhan di sana, pohon-pohon banyak yang bertumbangan.
Sontak hal itu membuat para tetangga Kek Ilham panik, mereka berteriak dan menjerit.
Kegaduhan itu pun terdengar sampai rumah Kek Ilham. "Arman , amankan uang itu!", perintah Kek Ilham."Kalian itu kenapa, Anas, Azka, Amina?, kalian seperti anak kecil, pikirkan masa depan anak-anakmu, kembalikan uang itu!", teriak Kek Ilham.
"Nggak Pak, aku lagi butuh uang ini, kenapa nggak disetujui aja sih, Bapak jual saja tanah itu, kapan lagi ada kesempatan mendapat uang sebanyak ini", Anas ngotot.
"Arman, cepat amankan sisa uangnya!", Arman dan adiknya yang lain, mengambil uang sisa yang sudah diambil oleh ketiga adiknya tadi dan segera mengamankannya.
Aini yang tadi sempat keluar saat mendengar keributan, kembali ke rumah dengan derai air mata, "Kakek...., mereka sudah mulai meratakan tanah Kakek", kabari Aini.
Sontak semua yang ada di ruangan itu terkejut, terutama Nek Husna. "Ya Allah Kek, bagaimana ini?, di kebun masih banyak palawija yang belum di panen", katanya dengan pandangan nanar.
"Kurang ajar!", transaksinya belum sah, mereka main eksekusi seenaknya saja", Arman langsung berdiri.
__ADS_1
"Kalian jaga Bapak dan Ibu, jangan keluar rumah dulu!", perintah Arman kepada Istri dan menantu wanita Kek Ilham.
Sedangkan ketiga anak Kek Ilham yang sudah membawa beberapa gepok uang segera meninggalkan rumah Kek Ilham.
Di kebun, Aini dan anak-anak Kek Ilham di bantu oleh para tetangga mencoba menyelamatkan tanaman yang belum di panen.
Arman juga berteriak menyuruh semua tetangganya yang ada di tempat itu untuk memanen apa pun yang masih bisa dipetik sebelum di ratakan oleh bulldozer.
Aini setengah menangis memetik apa pun yang ada di kebun, sebelum hancur dilindas bulldozer.
Suasana menjadi kacau, teriakan, tangisan, dan suara riuh patahan batang pohon bercampur menjadi satu.
Para tetangga saja ikut menangis histeris melihat kekacauan di sana. Bagaimana dengan Kakek dan Nenek Husna, jika mereka menyaksikan tanah hasil perjuangannya kini di rusak oleh alat-alat berat.
Pohon-pohon yang mereka tanam dan dirawat hingga besar dan berbuah, kini bertumbangan .
Butuh waktu puluhan tahun untuk menanam dan merawat pohon-pohon itu, tapi kini hancur dalam sekejap.
Yoseph bisa dengan jelas melihat Aini dan anak-anak Kakek Ilham yang lain sedang mamanen apa pun yang masih bisa di panen.
"Wooii, awas!", teriak Wira saat ada batang pohon yang akan menimpa Yoseph dan kendaraannya.
Yoseph berhasil menghindar. Dan kembali melanjutkan kegiatannya.
Kegaduhan sampai juga ke telinga Pak RW Danu, dan oleh keempat Pemuda Kota yang sedang menginap dirumahnya.
Putra diikuti ketiga temannya menuju lokasi, mereka pun tak kalah kagetnya saat melihat tanah yang awalnya rimbun dengan pepohonan, kini menjadi hancur berserakan.
Putra bisa melihat keberadaan Aini dan Arman. Putra segera menghampiri mereka, "Pak, kenapa bisa begini?, apa sudah deal transaksinya?", tanya Putra.
"Kakek tetap tidak mau menjual tanahnya, tapi tadi sempat terjadi keributan di rumah, kerena datang dengan membawa uang, dan tiga anak Kakek langsung setuju untuk menjual tanah dan mereka mengambil uangnya", jelas Arman.
Tapi setelah itu, tahu-tahu mereka sudah melakukan ini", Arman berkaca-kaca melihat tanah orang tuanya kini diratakan secara paksa.
__ADS_1
"Ini tidak bisa dibiarkan Pak, jual belinya belum sah, mereka sudah bertindak seperti ini", Putra melihat kekacauan itu dengan perasaan geram.
Saat itulah ia melihat ada sebuah pohon yang akan tumbang tepat di belakang Aini.
"Awas....", teriak Putra, ia berlari menyambar tubuh Aini untuk menghindar dari tumbangan pohon.
Hanya berjarak beberapa meter saja pohon itu tumbang disamping tubuh Aini dan Putra yang terjatuh .
Arman segera memburu putri kesayangannya itu dengan wajah pucat pasi, apa yang akan terjadi pada Aini jika Putra tidak cepat menyelamatkannya.
Aini pun tidak kalah kagetnya, ia tidak memperhatikan sekitar, hingga tidak menyadari ada pohon tumbang dibelakangnya.
Aini melihat Putra dan segera menggeser tubuhnya yang jatuh menimpa Putra.
"Ini sudah berbahaya, lebih baik kita cepat menjauh dari lokasi ini", usul Putra.
Alhasil semua hanya bisa menyaksikan kerusakan itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya derai air mata dari semua yang ada di sana. Jangankan pemilik tanah, para tetangga yang menyaksikan pun ikut menitikkan air mata.
Hanya dalam hitungan jam saja, pepohonan yang ada sudah rata dengan tanah.
Dengan lemas Arman dan adik-adiknya kembali ke rumah Kakek Ilham, diikuti oleh Putra dan ketiga rekannya.
Kakek Ilham terlihat sudah pasrah, ia terlihat tegar walau sebenarnya menyembunyikan kesedihan yang mendalam. Bagaimana tidak, tanah yang diperolehnya dengan kerja keras, dirawat bertahun-tahun, kini hancur dalam sekejap.
Arman menghampiri Kakek Ilham, ia bersimpuh dan memeluk tubuh renta ayahnya "Bapak yang sabar, yang ikhlas, maafkan Arman dan adik-adik tidak bisa melindungi harta Bapak", tangis Arman pun pecah.
Hatinya sangat hancur karena ketidakberdayaannya melindungi hak ayahnya.
"Nggak apa-apa Man , ini sudah takdir dari Gusti Allah, kamu simpan baik-baik sisa uangnya, sampai kapan pun, Bapak tidak akan menerimanya, karena Bapak tidak menjual tanah itu, mereka saja yang membelinya dengan paksa", jelas Kakek Ilham dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Pak, semoga kita masih bisa membatalkan jual beli ini", ucap Arman. Ia melihat ke arah Putra dan rekannya.
"Nanti saya bisa membantu menelusuri alur dari transaksi ini, dan mencari tahu sebenarnya ada apa dibalik ini semua, siapa pemilik uangnya, proyek apa yang dikerjakan di sini, itu masih belum jelas kan", jelas Putra.
__ADS_1
Sesekali ia melirik ke arah Aini yang secara diam-diam juga mencuri pandang kearahnya.