Prahara Cinta Di Desa Sengketa

Prahara Cinta Di Desa Sengketa
Kelulusan, mengharap Ketulusan


__ADS_3

"Neng, acara besok jadi ikut?", Hana memandang Aini yang sedang mempersiapkan baju yang akan dipakainya besok pada acara kelulusannya.


"Ya jadi Bu, itu kan acara terakhir Aini bersama teman-teman",


"Nak Putra ikut?", Arman yang sedang memilah biji jagung ikut bertanya.


"Ya...nggak lah Pak, ini acara khusus kelas Aini saja, paling ada Ibu Wali kelas saja dan guru-guru lain yang ikut", jelas Aini.


"Iya..., Ibu cuma khawatir saja , Neng kan jarang bepergian jauh, mana sendiri lagi", Bu Hana menatap Aini.


"Nggak sendiri Bu, ada teman-teman juga kan" , senyum Aini. Ia memasukkan semua barang yang akan dibawanya besok.


"Kak Putra hanya mengantar dan menjemput saja di Sekolah, do'ain saja biar Aini selamat sampai kembali pulang", senyum Aini. Ia mendekati ibunya dan memeluknya erat.


"Iya ...pasti, nggak usah dipinta juga namamu selalu ada di setiap do'a-do'a Ibu", Bu Hana mengusap lembut kepala Aini, dan mengecup pucuk kepalanya.


"Kamu ini kan mau jadi istrinya Nak Putra , jadi harus jaga diri baik-baik", timpa Arman.


"Iya, Pak...", senyum Aini.


"Ini acara terakhir Aini di Sekolah, sekaligus acara terakhir Aini sebelum resmi menjadi istrinya Kak Putra, jadi boleh dong Aini menikmati waktu terakhir bersama teman-teman Aini", Aini merajuk.


"Iya, boleh sayang", kembali Bu Hana mengelus kepala Aini.


"Bu, Aini dibelikan banyak barang-barang bagus oleh ibunya Kak Putra, Aini di bawa ke Mall yang besaaaaarr, pokoknya semua yang Aini perlukan, ada di sana, tadinya Aini mau diajak lagi ke sana, tapi biar mereka saja yang belanja, Aini malu Bu, kemarin juga sudah banyak, dan harganya mahal-mahal lagi", terang Aini.


"Kalau belanja di pasar, bisa dapat barang lebih banyak lagi padahal", senyum Aini.


"Di sana itu enak, tempatnya adem, nggak cape, karena ada escapatornya",


"Apa itu?", penasaran Bu Hana.


"Escapator itu tangga yang bisa berjalan, jadi kita tinggal naik dan diam, tangganya yang jalan", terang Aini.


"Ha...ha...ha...., lucu ya ada tangga berjalan segala", kekeh Pak Arman.

__ADS_1


"Nanti kalau Aini sudah menjadi istrinya Kak Putra, Aini bawa Bapak dan Ibu ke sana, biar bisa mencoba naik tangga berjalan", senyum Aini.


Bu Hana dan Pak Arman pun ikut tersenyum bahagia, mereka tidak menyangka anaknya akan segera menjadi mantu dari orang kaya di Kota, ini semua tidak lepas dari sikap Aini yang selalu menurut kepada mereka, Aini anak yang baik, sholeh, tidak banyak menuntut, dia selalu menerima apa pun pemberian mereka, tidak pernah meminta ini itu yang menyusahkan mereka, hingga takdirnyalah yang memberikan semua yang terbaik untuknya, calon suami dan calon mertua yang baik hati.


"Alhamdulillah, kamu anak yang baik, maka akan diberikan jodoh yang baik juga" , senyum Bu Hana.


"Rumahnya juga besar Bu, rencananya Bapak dan Ibu juga mau diajak ke sana sepulang Aini acara kelulusan besok, maaf...., Aini lupa bilang", cicit Aini.


"Besok?, Bapak dan Ibu mau di ajak ke rumahnya?, aduh membawa apa ya Bu, padahal kita bisa buat opak atau ulen dulu buat oleh-oleh", Bu Hana melihat Pak Arman.


"Yang gampang saja Bu, besok pagi Bapak ke sawah, kita bawakan sayuran segar saja, ada pisang juga yang baru matang di pohon", terang Pak Arman.


"Oh, ya sudah itu saja", senyum Bu Hana.


"Sebenarnya di sana juga pasti sudah banyak sayuran dan buah-buahan Bu",


"Ya..., ini kan beda lagi, sayur dan buah tanda cinta ", senyum Bu Hana.


"Ih..., Ibu apa sih", Aini tersipu .


"Tapi, kadang Aini merasa malu Bu, kita ini orang biasa, jauh berbeda dengan Kak Putra. Rumah kita ini, sama dengan ukuran kamar mandinya saja" ,


"Makanya Neng harus banyak-banyak bersyukur, dipertemukan dengan Nak Putra dan keluarganya, yang baik dan mau menerima kita apa adanya, jarang orang kaya yang begitu", Bu Hana kembali mengelus kepala Aini.


"Neng harus jaga sikap, harus menurut sama suami dan Ibu Mertua, nanti mertuamu itu pengganti Ibu di sana. Sama, Neng juga harus patuh, taat, dan hormat padanya", ucap Pak Arman.


"Walau kita orang Desa, orang tidak punya, yang terpenting kita itu harus punya budi pekerti yang baik dan sikap yang jujur", lanjut Pak Arman.


"Sudah, sana cepat istirahat, biar besok tidak kesiangan, dan awas jangan lupa perlengkapan buat besok jangan sampai ada yang tertinggal", ingatkan Bu Hana.


Aini masuk ke dalam kamarnya , meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terjaga.


"Ting", sebuah notif masuk lewat ponsel Aini. Aini yang baru hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, segera mengambil ponselnya, saat di buka, nampak pesan dari Putra, [besok pagi aku jemput, tapi maaf tidak bisa ikut hadir diacara perpisahannya, ada kegiatan juga dii Kampus, tapi aku akan menjemput kembali, WA saja jika kamu sudah nyampai di Sekolah kembali], begitu pesan dari Putra.


Aini tetsenyum dan membalasnya singkat,[ya, ], dan diakhiri emot smile, Aini memang paling tidak bisa berbasa-basi, ia hanya bicara apa yang dianggapnya perlu saja.

__ADS_1


Setelah itu ia berbaring sambil memeluk ponselnya hingga terlelap.


****


"Rano sayang ke sini Nak!", Bu Mona memanggil murano yang nampak asik dengan ponselnya. Ia tidak merespon panggilan Mamahnya.


Bu Mona menggelengkan kepala, ia mendekati Murano. "Kamu mau ikut Mamah ke Desa kembali, yang waktu itu Rano mau menangkap jangkrik?", Bu Mona mengelus pundak Murano.


"Wah...jangkring Mah, Rano mau, mau...mau ikut, Rano ingin main di sawah, di sawah juga ada belutnya, ada ikan juga", antusias Murano.


"Wah..., Rano pintar, iya benar, di sawah ada belut, dan ikan", Bu Mona mengecup kepala anaknya.


"Sekarang, Rano tidur dulu biar besok bisa bangun lebih cepat, sini ponselnya Mamah simpan ya", Bu Mona mengambil ponsel dari tangan anaknya.


Kali ini Murano menurut, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Sepertinya rencana kita akan berhasil Pah", Bu Mona menghampiri Pak Purnawan.


"Apanya yang berhasil" ,


"Rano nampak antusias dengan rencana kita berkunjung ke Desa besok", senyum Bu Mona.


"Tadi dia langsung mau melepas ponselnya , begitu Mamah bilang jangkrik", senyum Bu Mona.


"Bagus kalau begitu", Pak Purnawan masih nampak asik dengan ponselnya.


"Jadi besok sepulang dari Sekolah Mirna, kita langsung ke desanya Kakek Ilham ya",


"Iya..., siapkan saja semuanya, biar besok tinggal berangkat", pinta Pak Purnawan.


****


"Besok jangan lupa, Loe siap-siap saja, biar saat Gue hubungi sudah siap, kita langsung berangkat", perintah Aditya saat berpapasan dengan Bondan.


"Iya, siap ", Bondan merengkuhkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2