
Aini membiarkan Putra berbuat semaunya kepada dirinya, dengan perasaan takut da malu, Aini menuruti semua perintah Putra .
'Ini sudah halal , ini semua hak suamiku', pikir Aini . Ia terbuai oleh semua perlakuan putra kepada dirinya.
Ternyata Putra memperlakukannya dengan lembut, setiap sentuhannya membuai Aini. "Boleh aku buka ya?", senyum Putra, ia setengah berbisik di telinga Aini.
"Aku malu", senyum Aini.
"Kalau malu, ngumpet saja di bawah selimut, lampunya juga aku matikan ya?", senyum Putra, ia beranjak dari atas tempat tidur, lalu menghidupkan televisi dulu dan mematikan lampu kamar.
Setelah itu ia kembali menghampiri Aini, "Lebih enak begini kan?", senyum Putra.
Ia kembali masuk ke dalam selimut. "Kenapa TV nya dihiupkan?', Aini kembali bertanya kepada Putra.
"Biar orang tidak terganggu oleh suara-suara kita", senyum Putra.
"Memangnya kita mau teriak-teriak?", senyum Aini.
"Nggak..., tapi kita mau....begini", senyum Putra, ia lebih merekatkan pelukannya kepada Aini.
Aini kaget, ia hampir saja berteriak, namun Putra dengan cepat menutup mulut Aini dengan tangannya.
"Tuh...kan..., kalau ribut begini, yang di kamar sebelah akan merasa terganggu", senyum Putra.
Putra menatap lekat Aini, sampai Aini menunduk, tidak kuat beradu pandang dengan Putra, apalagi dengan jarak sedekat ini.
"Aku ini laki-laki yang beruntung, bisa mendapatkan jodoh secantik kamu, sebaik kamu", Putra mengelus lembut kepala Aini.
"Boleh ya...., aku mulai sekarang", senyum Putra. Aini hanya mengangguk saja, perasaannya seketika tak karuan. Jantungnya berdegup cepat, nalurinya menginginkan sentuhan dati Putra.
Saat Putra mulai melepas pakaiannya satu per satu, dan tangnnya mulai menggerayangi seluruh tubuhnya, Aini hanya bisa diam dan terpejam merasakan hal yang dulu dianggapnya tabu. Kini ia merasakan sendiri.
Tubuhnya mulai berkeringat, merasakan hangat yang menjalar dari setiap sentuhan dari tubuh Putra.
Nafas mereka sudah memburu, lenguhan demi lenguhan lolos dari mulut Aini dan Putra, dua insan itu sedang terlibat pergumulan panas, walau bagian inti tubuh mereka belum bisa saling bersentuhan langsung.
Aini sudah setengah telanjang, namun Putra sudah benar-benar telanjang. Ia menikmati kebersamaannya bersama Aini, walau belum seutuhnya.
Putra terkulai dalam pelukan Aini, mereka tertidur setelah selesai melakukan simulasi.
Aini sudah setengah terjaga saat tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu di bawah selimut. Aini penasaran, ia menyibak selimut sedikit demi sedikit, ia penasaran dengan apa yang tadi sempat dipegangnya.
Aini hampir menjerit saat menyadari apa yang tadi dipegangnya, benda itu sekarang tegak kembali sebagai akibat sentuhan dari tangannya. Dengan cepat Aini merapikan kembali selimutnya, hingga mereka berdua kembali tenggelam di dalam selimut.
Putra pun menggeliat, ia merasa terganggu dengan sentuhan Aini tadi, kepemilikannya jadi bangun kembali.
__ADS_1
Buru-buru Aini memejamkan matanya, ia pura-pura tidur, namun jantungnya kembali berdegup kencang saat dirasakan kembali Putra mengulangi hal yang tadi ia lakukan. Ini gara-gara Aini yang telah membangunkannya kembali.
"Kamu tidur sayang, maaf aku ganggu lagi", bisik Putra di sela-sela mencumbui Aini untuk yang kedua kalinya.
"Aini yang pura-pura tidur, ia hanya diam, menikmati kembali semua sentuhan dan perlakuan Putra, hingga ia pun tertidur kembali.
Suara Adzan Shubuh membangunkan Putra, ia membuka matanya, dilihat Aini masih tertidur di dada kanannya. Putra membelai wajah istrinya yang kembali terlihat begitu bercahaya.
Perlahan ia tidurkan Aini di bantal, dan ia beranjak untuk membersihkan dirinya. Sengaja Putra tidak membangunkan Aini, karena tahu Aini sedang tidak shalat.
Ini adalah pagi pertama setelah dirinya sah menjadi seorang suami. Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. "Room service, ada yang bisa saya bantu?", tawari seorang room service yang berdiri di ambang pintu.
"Oh...maaf, biar kami yang bereskan, terima kasih", senyum Putra. Ia menolak pelayanan room service karena tidak ingin orang itu melihat Aini masih tidur tanpa memakai kerudung.
"Oh, baik Pak kalau begitu, terima kasih", room service itu meninggalkan kamar Putra.
Kini Putra sendiri yang membereskan kamarnya, baju-baju mereka masih berserakan di samping kiri dan kanan tempat tidur. Putra mengulum senyuman sambil memunguti baju-baju tersebut, mengingat pergumulan panas dengan Aini semalam.
"Begitu ya, rasanya", gumam Putra sambil tetap mengulum senyuman.
Terdengar ketukan lagi di pintu kamarnya, cepat-cepat Putra menyimpan baju-baju kotornya ke kamar mandi, lalu ia menghampiri daun pintu danmembukanya.
"Maaf tuan, ini sarapannya", nampak seorang room boy membawakan sarapan untuk mereka.
"Terima kasih", Putra menerima makanan-makanan itu, tidak lupa ia memberikan tips untuk room boy itu.
Putra mentautkan kedua alisnya, 'Rupanya semua sudah mengetahui kalau aku dan Aini, sepasang pengantin baru', senyum Putra.
Ia menutup pintu dan menyimpan sarapannya di atas meja. Aini terlihat menggeliat, ia membuka matanya perlahan.
Aini seperti orang linglung, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Aini duduk di atas tempat tidur, ia membetulkan ikatan rambutnya yang terlepas.
Betapa kagetnya ia saat mendapati dirinya setengah telanjang."Astaghfirullah..., Aini menutup kembali tubuhnya dengan selimut. Aini tidak memperhatikan posisi Putra yang sedang menahan tawa memperhatikan tingkahnya.
"Nggak usah di tutup, aku sudah tahu semua kok", Suara Putra terdengar dari samping kanannya.
Aini menoleh , "Iiihh, ambilkan aku handuk, aku mau ke kamar mandi", rengek Aini.
"Aku ini suamimu lho...., sudah tidak ada yang bisa kamu rahasiakan dari aku", senyum Putra.
"Ya, tapi kalau dilihat langsung tetap malu", rengek Aini kembali.
"Mas nya balik badan dulu ya!, sebentar saja", senyum Aini.
Putra menurut, ia membalikkan badan, membiarkan Aini leluasa untuk pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Nanti kalau melihat aku begini, ntar bangun lagi", cicit Aini sambil setengah berlari menuju kamar mandi.
Putra tersenyum mendengar celotehan Aini tersebut.
Terdengar semburan air dari dalam kamar mandi, tak lama Aini pun kembali membuka pintu kamar mandi kepalanya menyembul , sementara tubuhnya masih bersembunyi di dalam kamar mandi
"Mas..., bisa minta tolong lagi, ambilkan baju ganti ya, tadi lupa", rengek Aini.
"Sudah dibilang , ambil sendiri saja, cuma ada aku ini kok", Putra beranjak mengambil baju ganti buat Aini.
"Maaf..., aku belum terbiasa", senyum Aini. Ia mengambil baju ganti yang diberikan Putra kepadanya.
Aini keluar tanpa memakai kerudung, rambutnya ia ikat dengan rapi. Putra memandanginya tanpa berkedip.
"Apa, ada yang salah dengan aku?", tengok Aini kepada dirinya.
"Nggak, kamu terlihat makin cantik saja, aku beruntung bisa berjodoh denganmu", senyum Putra .
"Sini !, kita sarapan dulu, hari ini kita akan jalan-jalan", senyum Putra.
"Maaf ya , aku sudah membuat berantakan acara hooney moon kita", tunduk Aini.
"Seharusnya semalam Mas mendapatkan hak Mas", Aini kembali menunduk.
"Sudah ..., jangan ungkit lagi, lagi pula semalan juga aku bahagia kok, sampai nambah, dua kali simulasi", kekeh Putra.
"Baru simulasi saja, aku sudah minta tambah, apalagi kalau beneran, bisa ketagihan, minta tiap waktu, siap nggak?", senyum Putra.
"Itu kan sudah kewajiban aku, diminta seharian di dalam kamar juga tidak akan menolak", cicit Aini. Kini ia sudah mulai berani mengimbangi candaan Putra.
Mereka menikmati sarapan dengan saling bercanda dan lengan Putra tidak lepas dari tangan Aini.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, seorang room boy berdiri di ambang pintu.
Sontak Aini terkejut, ia sembunyi di balik badan Putra. "Kalau masuk itu ketuk dulu", ketus Putra.
"Maaf tuan, kirain anda sudah meninggalkan kamar, saya mau membereskan tempat makannya", tunduk room boy, ia terkejut dengan bentakan dari Putra.
"Sudah sana!, nanti tempat makannya saya simpan di depan pintu", tegas Putra.
"Baik Tuan, sekali lagi maaf", room boy itu meninggalkan kamar Putra dengan perasaan bersalah dan menutup pintu kembali.
"Sudah, dia sudah pergi, lanjutkan lagi sarapannya", Putra menuntun Aini untuk duduk kembali di sampingnya .
"Jangan marah lagi sama room boy tadi ya, kasihan, dia juga mungkin sedang mencari nafkah untuk keluarganya", pinta Aini.
__ADS_1
"Iya..., aku cuma tidak mau wajah cantikmu di lihat orang lain", tatap Putra kepada Aini.
"Iya..., aku ngerti, terima kasih", Aini memeluk pinggang suaminya.