
"Alhamdulillsh cucu Kakek sudah datang", Kek Ilham menyambut kedatangan Aini, beliau pun langsung bersalaman dengan Aini dan Bu Hellen, begitu pun Putra.
"Hebat kamu Nak, sebentar lagi mau jadi Ayah", Kek Ilham menepuk pundak Putra.
Suasana tambah ramai begitu Bu Hana dan Pak Arman menghampiri mereka.
Aini kembali meneteskan air mata begitu menyambut hangatnya pelukan dari ibunya tercinta.
"Sudah....sudah ..., jangan menanngis, kamu itu harusnya selalu senang biar dede bayinya juga senang", senyum Bu Hana.
"Mendingan kita makan saja dulu, pasti kalian sudah pada lapar ya?", ajak Bu Hana.
"Itu yang saya tunggu, saya sudah kangen dengan masakan Ibu", senyum Putra
Tanpa meunggu lama, mereka pun segera menuju dapur. Sengaja Nek Husna menggelar tikar di lantai. Mereka makannya duduk melingkar di lantai. Makan seperti itu sungguh nikmat.
"Bersikaplah biasa sayang, kasihan Ibu dan Nenek", bisil Putra di telinga Aini.
"Percayalah..., ini semua akan segera berakhir", Putra kembali berbisik kepada Aini, kali ini sambil mengelus kepala Aini.
__ADS_1
"Sini!, makan yang banyak", Putra mengisi piring aini dengan nasi dan lauknya.
"Aduh...,kok banyak begini Mas, ini pasti tidak akan habis", Aini melirik Putra.
"Tenang saja, itu porsi berdu kan", Putra dan Aini makan satu piring berdua. Bahkan Putra dengan sengaja menyuapi Aini.
Putra kini sudah tidak merasa canggung lagi bersikap mesra terhadap Aini sekalipun di depan keluarganya.
Di luar terdengar suara deru mobil. "Siapa lagi?" Pak Arman melirik ke arah halaman.
"Mungkin Papih ya ?", Bu Hellen juga mendongakkan kepala ke arah luar.
"Alhandulillah... ,kita bisa berkumpul ", senyum Kek Ilham.
"Nah..lho .., kok suara perempuan",kekeh Putra.
Bu Hana menghampiri pintu depan dan membukanya. "Wa'alaikumsalam", Bu Hana mendapati Bu Mona dan keluarga sudah ada di sana.
"Alhamdulillah..., silahkan masuk Pak, Bu", persilahkan Bu Hana. Sebelumnya mereka salaman dulu.
__ADS_1
Suasana makin rame saja , apalagi nanti, kalau semua anak-anakya Kek Ilham sudah pada datang.
Mereka semua pun rencananya akan hadir saat syukuran empat bulanan Aini, besok malam.
Murano tampak tidak mau lepas dari Aini,dia rupanya sudah merasa kangen, setiap Aini melangkah ke mana pun.
Satu per satu anaknya Nek husna mulai berdatangan. Mereka datang dengan anak-anaknya. Hal itu membuat suasana tambah rame saja. Anak Anak sudah berlarian, mereka tampak akrab, karena memang Murano sering main ke Rumah kakek Ilham.
Para wanita sudah beralih ke dapur, mereka menyiapkan makanan untuk keperluan acara nanti malam.
Terlihat Putra sedang membalas chat dari ponselnya, entah dengan siapa ia berbalas chat, Aini tidak pernah mau ikut campur .
Aini tampak sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa, ia sedang meladeni celotehan dari para keponakannya. Mereka bermain dan saling bercanda.
Hal itu yang membuat hati ini senang, Aino tampak tertawa melihat tingkah lucu mereka.
Sampai terdengar lagi ucapan salam dari pintu depan. Aini menghampiri berniat untuk membukakan pintu.
Dan tampak dua orang wanita berdiri di sana.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam", Aini mematung begitu mengenali kedua wanita itu. Merela adalah Mirna dan yang satunya lagi, ialah Risma. Sungguh Aini tidak mengira jika wanita itu juga akan datang ke acara syukuran empat bulanan dirinya.
"Silahkan masuk!", Aini dengan suara serak mempersilahkan mereka masuk, padahal hatinya menolak, apalagi terhadap Risma.