
"Bagaimana Aini?, lamaran kami di terima kan?", tanya Pak Danu kembali melihat Aini yang menunduk.
Sebagai anak , Aini ingin melihat orang tuanya bahagia, jika ia menolak lamaran Aditya, ayahnya harus kembali menyiapkan uang untuk mengganti uangnya Pak Dirman, tapi kalau ia menerima lamarannya, berarti ia harus mengubur semua cita-cita dan cintanya.
Aini ingin melanjutkan sekolahnya, ia ingin sekolah tinggi, karena ia bercita-cita ingin menjadi Sarjana Pertanian.
Selain itu, ia juga sudah menerima Putra. Pemuda dari Kota yang sudah lebih dulu mengutarakan cinta kepadanya.
Aini tidak mungkin berkhianat, apalagi ia juga sama , menaruh rasa suka kepada Putra.
Tapi kalau ia menolak lamaran Aditya, keluarganya mungkin akan merasa malu.
"Kenapa diam?", jawablah desak Pak Danu.
"Pak, kenapa Bapak yang sedari tadi bicara, lalu mana Aditya ?", apa dia tidak berani bicara langsung?", tantang Aini.
"Oh, maaf Neng Aini, Bapak hanya mewakili saja", ucap Pak Danu.
"Sebenarnya saya ingin langsung bicara dengan Aditya. Dia kan yang punya kepentingannya di sini", ucap Aini.
"Oh, baik kalau begitu, Den...Den ...Den Aditya, coba maju ke depan, ini Neng Aini ingin bicara dengan Aden katanya", panggil Pak Danu.
Aditya yang ada di samping Pak Dirman, tiba-tiba merasa gemetar, ia paling tidak bisa bicara di depan banyak orang, ia hanya berani saat situasi sepi saja.
Saat tidak ada orang, ia bisa petantang petenteng, berjalan dengan kepala tegak, dan bicara koar-koar, tapi saat banyak orang, nyalinya ciut.
"Ayo Nak!, utarakan maksud hatimu!", desak Pak Dirman.
Lama Aditya diam, dia mengumpulkan keberanian untuk bisa berbicara di depan orang-orang yang mengantarnya.
"Aini, aku....aku.....mau....mau...belum selasai bicara, orang-orang terdengar ribut, ada rombongan lain yang datang ke Desa mereka.
Mereka memakai mobil mewah datang beriringan, selain itu mereka juga membawa han taran yang lebih banyak dengan barang-barang yang lebih mewah.
Ternyata, mereka juga sama menuju rumah Kek Ilham. Bukan itu saja, rombongan itu membawa semobil sembako yang dibagikan secara gratis kepada warga Desa Mandalajati.
Otomatis, warga-warga yang sedang mengantar Pak Dirman dan anaknya, mulai membubarkan diri, mereka lebih tertarik dengan sekantong sembako yang dibagikan secara gratis.
__ADS_1
"Ada apa ini?, pergi kemana orang-orang?", Psk Danu, Pak Dirman dan Bondan yang berada di depan merasa heran melihat warga yang mulai membubarkan diri.
"Sebentar saya cek dulu", Bondan ke luar menuju jalan. "Oh, pantesan ada pembagian sembako gratis, tapi siapa yang berani-beraninya mengacaukan acara Pak Bos",
Bondan melihat Dani dan Soleh ada di sana sedang membagikan sembako. "Oh..., tambah berani saja tuh bocah, pake ngadain acara bagi-bagi sembako segala, cari masalah saja", gerutu Bondan. Ia segera menghampiri kerumunan orang-orang.
Saat Bondan bicara dengan Dani, ia melihat seseorang turun dari sebuah mobil mewah, seorang laki-laki tegap membawa koper, diikuti seorang pemuda.
"Siapa yang bersama pemuda itu?", tanya Bondan kepada Dani.
"Oh...itu, Pak Handoko, orang yang membagikan sembako gratis ini", timpa Dani.
'Siapa dia?, sepertinya bukan orang sembarangan', pikir Bondan. Ia meninggalkan Dani yang kembali sibuk membagikan paket sembako kepada Warga.
Putra melangkah menuju rumah Kakek Ilham diikuti oleh Pak Handoko. "Assalamu'alaikum", Putra mengucap salam. Serentak yang ada di dalam melihat ke arah Putra.
Aini yang sedari tadi diam, kini tersenyum.
"Maaf, saya tidak bisa menerima lamaran dari Pak Dirman, karena saya sudah lebih dahulu menerima dia", Aini menunjuk ke arah Putra.
"Jadi kalian memilih membayar uang, dari pada menerima lamaran anak saya, keterlaluan", Pak Dirman makin marah.
"Maaf, ada apa ini, membayar uang untuk apa?" sebuah suara mengagetkan Pak Dirman. sepertinya ia mengenali suara itu.
Ternyata ada seseorang di belakang Putra.
"Pak Handoko?", Pak Dirman setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bukannya Bapak masih di luar Kota?, silahkan masuk Pak!",
"Ini pasti Kakek Ilham ya?", Pak Handoko bersalaman dengan Kek Ilham.
"Iya, saya Ilham, Bapak ini siapa?", Kek Ilham balik bertanya.
"Saya Handoko Kek, saya yang menyuruh Pak Dirman untuk survei tanah di sini, tapi kemarin saya mendengar ada perubahan rencana, tapi sayang, tanah Kakek sudah terlanjur di ratakan",
"Oh..., jadi Pak Handoko ini yang mau membeli tanah saya, terus kalau Pak Dirman itu....", Kakek melirik Pak Dirman.
"Pak Diirman ini suruhan saya", jelas Pak Handoko.
__ADS_1
"Kemarin anak saya pulang, ia bicara soal proyek di sini, saya kira ini proyek yang berbeda, ternyata sama",
"Hanya saja saya merasa kurang yakin dengan apa yang dibicarakan Putra, ternyata benar adanya",
"Jadi Putra ini anaknya Bapak?", Pak Dirman tambah kaget. Ia hampir mencelakakam anak Bosnya.
"Iya, Putra anak saya, sedang melakukan PPL di Desa ini",
Pak Dirman makin ciut saja ia merasa takut kecurangannya ketahuan oleh Bossnya.
"Sudah, kalau begitu saya pamit duluan, ayo pergi!", perintah Pak Dirman kepada anak dan anak buahnya.
"Tapi, ini belum kelar Pak?, saya belum menerima jawaban yang pasti dari Aini", bantah Aditya.
"Sudahlah cepat!, ini sudah tidak penting lagi", Pak Dirman mengajak Rombongannya segera meninggalkan rumah Kek Ilham.
"Saya pergi dulu Kek", pamit Dirman .
Semua yang ada di dalam diam sejenak, mereka seperti terkesima dengan rentetan kejadian yang berlangsung cepat.
"Maaf, Kakek, saya ke sini mengantar anak saya Putra, ia ingin melamar Aini", Pak Handoko to the point.
"Putra, itu anak Bapak?", tanya Pak Danu yang masih ada di sana.
"Iya, jadi bagaimana Pak?", tanya Pak Handoko.
"Kalau untuk Nak Putra, dari awal juga Aini sudah menerimanya, tapi Aini masih sekolah, sebentar lagi lulus", jelaskan Arman.
"Tidak apa-apa Pak, kan Putra juga masih kuliah. Biarkan saja mereka menyelesaikan studinya dulu, gampang, yang penting Aini sudah menerima lamaran anak saya", senyum Pak Handoko.
"Oh iya Kek, saya minta maaf , atas rusaknya tanah Kakek, nanti akan saya ganti biaya kerusakannya, ini tuh ada miss komunikasi, dari pusat belum deal, tapi di lokasi sudah deal, jadi saat ada pembatalan, tanahnya sudah dieksekusi", jelas Pak Handoko.
"Jadi bukan Pak Dirman, melainkan Pak Handoko?, begitu kan Pak?", tanya Pak Danu.
"Iya, Pak Dirman itu bekerja sama saya", jelas Pak Handoko.
"Oh..., kirain punya dia, ternyata sama toh, hanya buruh?, laganya saja selangit, ternyata sama-sama orang sulit", tawa Pak Danu pecah, diikuti oleh tawa dari semua yang hadir di rumah Kakek Ilham.
__ADS_1